Review: Novel Perempuan Penyulam Sabar, Mengajarkan Arti Sabar dan Syukur yang Sesungguhnya

Assalamualaikum Sobat Bunda...
Wah, gak terasa 4 bulan lamanya blog ini tak terjamah. Dengan alasan kesibukan yang meningkat dan segala printhilan alasan lain, sukses membuat blog ini terasing di belantara digital. Upss istilahnya lebay yak, hwkwkwk. Intinya cuma mau bilang, selama 4 bulan ini blog gak keurus, hikss... Setelah sekian lama gak nulis di sini, akhirnya muncul juga kerinduan untuk menumpahkan segala curhatan di blog, hwkwkwkk. Nah, hari ini kangen nulis, makanya buru-buru tengokin blog yang sudah mulai dihuni sarang laba-laba.
Hari ini Bundamami mau nulis tentang review novel, yang berjudul "Perempuan Penyulam Sabar". Baca novel ini, sukses bikin aku butuh tissue dan nangis bombay di beberapa bagian. Bagaimana tidak, perasaan pembaca dicampur aduk bak naik rollercoaster (agak lebay sih :p), lalu dengan ending yang sama sekali di luar dugaan.
Awalnya aku menemukan novel ini di FB. Saat itu sodara sepupuku menulis status tentang novel ini. Dari baca status sodara sepupuku inilah, aku tertarik membaca novel tersebut. Akhirnya dapatlah gratisan, karena dibeliin sodara sepupuku, hehehe (ngompasin sodara sendiri gapapa ya kan, hwkwkk). Ternyata, penulis novel tersebut adalah adik dari teman sepupuku itu. Takjub aku dibuatnya, ada orang dari kampung halamanku (sesama dari Situbondo) yang jadi penulis novel sekeren ini?!? Jadi ikutan bangga, nih.
Novel ini bercerita tentang seorang wanita yang menurutku, objek penderita banget. Pokoknya segala macam masalah dan ujian datang silih berganti. Buku ini terdiri dari 4 Bab. Pada 3 Bab pertama, masing-masing Bab memiliki fokus tokoh seorang wanita yang berbeda. Dan, di bab terakhir barulah ketiga tokoh wanita tersebut menjadi 1 kesatuan cerita dan konflik yang utuh, dengan satu tokoh utama yaitu wanita bernama Mutiara.  

Dikisahkan, Mutiara adalah seoang wanita tangguh yang dengan tegar menghadapi satu-persatu ujian hidup yang menghampiri. Tak melulu soal percintaan, tapi juga mengangkat eksotisme kecantikan alam beberapa kota di Indonesia dan Singapura. Cinta, pengorbanan, dan pengabdian pada keluarga serta dibalut untaian kalimat sistematis nan indah membuat novel ini layak bersaing dengan jajaran novel-novel keren di toko buku sana.

Sayang sekali, karena diterbitkan secara indie dan dengan kualitas penerbit indie yang kurang mumpuni, ada kesalahan-kesalahan kecil yang menghampiri di beberapa bagian. Maaf, ini penyakit editor, kalo baca buku gini ini, malah matanya sambil ngedit, perhatikan typo dan kesalahan-kesalahan yang lolos, trus gemes sendiri, hwakwkawkawkkk.

Selain ide dan jalan cerita yang menurutku menarik, novel ini juga menampilkan kepiawaian penulis yaitu Puspa Seruni dalam merangkai untaian kalimat yang menurutku cukup efektif, sistematis, tapi tetap indah. Keterampilan yang cukup sulit dan butuh jam terbang menulis yang tinggi lho. Karena menurut saya, banyak penulis novel lain yang tulisannya puitis banget tapi malah membuat inti cerita gak jelas dan terkesan muter-muter doang. Namun, berbeda dengan karya Puspa Seruni yang satu ini. Puspa Seruni sangat cermat meletakkan kalimat per kalimat hingga membentuk kesatuan cerita yang cukup 'bernyawa'. Ini saya cuplik sedikit kalimatnya di halaman persembahan.
Kupersembahkan karya ini...
Untuk para perempuan yang berjuang menegakkan kepala dan mengusap air matanya sendiri.
Untuk para perempuan yang sepenuh hati belajar ridho atas ketidaknyamanan takdir yang kerap datang bertandang.
Untuk sumber kekuatanku, Rania dan Tita, yang menjadi pelecut semangat bagiku terus belajar tentang sabar dan syukur.
Juga untukmu, seseorang yang kusebut dalam hening malam dan kesendirianku, yang kepada-Nya kupinta segala kebaikan bagimu dan juga bagiku.
-Puspa Seruni-

Buat saya, novel ini mengajarkan arti sabar dan syukur yang sesungguhnya. Hidup itu simple aja, cukup sabar dan syukur, insya Allah kehidupan akan selalu on the track sesuai dengan tujuan awal manusia diciptakan, yaitu untuk beribadah, seperti yang termaktub dalam Al Quran.

 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)
Gimana, penasaran dengan cerita keseluruhan? Saya gak akan ceritain di sini. Silakan beli bukunya langsung ke Mbak Puspa Seruni (Cari di FB ya). Bukan ke saya lho, karena saya cuma review, bukan jualan, hahaha.
Oke, see u next time sobat Bundamami semua...
Wassalamualaikum

#AyoHijrah Jauhi Riba Hidup Berkah Bersama Bank Muamalat Indonesia


Assalamualaikum wr. wrb.

Hai hai sobat Bunda, kali ini saya ingin membahas mengenai pengalaman menggunakan layanan perbankan dari sebuah bank syariah terkemuka di Indonesia. Bank mana, tuh? Pastinya hanya Bank Muamalat Indonesia, bank yang pertama kali menerapkan sistem murni syariah di Indonesia. Sejak didirikan pada 1992, PT. Bank Muamalat Indonesia, Tbk. berkomitmen untuk menjadi bank syariah terbaik dan termasuk dalam 10 besar bank di Indonesia yang eksistensinya diakui di tingkat regional.

Pertama kali menggunakan layanan perbankan dari Bank Muamalat Indonesia ini, saat saya akan membuka tabungan haji. Berbeda dengan suami saya, yang sudah menjadi nasabah Bank Muamalat Indonesia sejak masih kuliah, sudah lama banget, dong. Pelayanan di Bank Muamalat Indonesia ini memang benar-benar kualitas premium menurut saya. Petugasnya ramah dan sopan banget. Gak jutek sama sekali. Produk layanannya juga sangat beragam dan mampu memenuhi kebutuhan semua segmentasi masyarakat. Dari mulai tabungan biasa, tabungan pendidikan, deposito, hingga untuk keperluan ibadah. Komplit banget.

Kisah di balik upaya kami untuk menggenapi tabungan haji agar bisa mencapai nominal 25 juta/orang sehingga dapat diajukan untuk memperoleh nomor antrian keberangkatan di Departemen Agama, sungguh bukanlah sesuatu yang mudah. Kami mengumpulkannya sedikit demi sedikit dari penghasilan dengan berhemat di sana-sini dan sekuat tenaga menahan diri dari segala godaan belanja yang terkutuk, hehehe.

Kami juga meningkatkan porsi sedekah dan ibadah kami. Menurut beberapa ustadz yang terkenal di TV itu, jika ingin doa kita lebih cepat dikabulkan oleh Allah, maka tambah lagi sedekahnya. Awalnya sih saya tidak 100% percaya, (ya iyalah, kita gak boleh percaya sama ustadz, kita hanya boleh 100% percaya pada Allah dan rasulNYA, hehe). Menurut saya itu mungkin hanya berlaku untuk para ustadz dan alim ulama, yang ilmu agama serta kualitas ibadahnya sudah tingkat tinggi, yang sudah sangat dekat dengan Allah. Wah, kalau begitu apa kabar dengan saya, yang ibadahnya pas-pasan gini, ustadzah bukan, alim ulama juga bukan. Apa iya bisa mengikuti anjuran mereka untuk bersedekah dengan jumlah yang fantastis agar doanya cepat terkabul? Kayaknya gak mungkin deh. Tapi, rasa penasaran itu ada.

Penasaran ingin membuktikan validitas ceramah para ustadz tentang sedekah itu, perlahan kami tambah pos-pos sedekah. Meski tidak banyak (bahkan terbilang sangat kecil), tapi kami usahakan konsisten jumlah dan waktunya. Sambil terus berdoa tanpa kenal lelah. Kemudian kami juga berusaha mendirikan shalat tepat waktu. Meski cukup sulit di awal adaptasi, namun akhirnya bisa terbiasa. Dan juga 1 hal yang paling kami hindari yaitu riba.

Jika kami ingin membeli barang, kami memilih untuk menabung terlebih dahulu, setelah dirasa dananya cukup di tabungan, kami baru membeli secara cash. Bahkan, untuk mobil yang saat itu memang kami butuhkan, karena cuaca di daerah kami cukup anomali kadang hujan dan tiba-tiba panas kembali, sementara jika kami berkendara dengan sepeda motor sudah tidak memungkinkan lagi, (naik motor sekeluarga yang cuma 4 orang ini sudah berasa kayak beruang sirkus naik sepeda roda 1, belum lagi kalau tiba-tiba hujan, semakin bikin ngakak tuh beruang sirkus, hahaha).
Saat itu, kami sudah cukup bahagia dengan membeli mobil bekas, karena dana yang ada saat itu memang cukup untuk sebuah mobil bekas nan imut. Gapapalah bekas, tapi kondisi masih mulus karena memang baru 1 tahun dipakai oleh pemilik yang pertama, semua masih berfungsi optimal, dan yang terpenting kami tidak terlilit hutang riba, karena kami sungguh ngeri membaca efek dari riba tersebut. Menurut ceramah para ustadz di TV dan youtube, riba itu diharamkan bahkan sejak dahulu sebelum islam hadir. 
Allah SWT berfirman, “Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya.” (QS. An Nisaa’: 161).  Maksudnya adalah riba ini sudah dilarang sejak dahulu pada syari’at sebelum Islam. (Mughnil Muhtaj, 6/309)
Sudah banyak ulama yang menyerukan untuk menghindari riba, karena dosa riba itu sungguh tidak main-main pembalasannya. Beneran ngeRIBAnget, lho.
Rasulullah SAW bersabda,

“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Bahkan yang menurut saya paling ngeRIBAnget itu, jika praktik riba sudah merajalela di suatu negeri, maka secara tersirat negeri tersebut layak mendapat azab dari Allah. Ya ampun, naudzubillahimindzalik. Semoga Indonesia bukan termasuk negeri yang layak diazab. Aamiiin.
Rasulullah SAW bersabda,

Apabila telah marak perzinaan dan praktek ribawi di suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan diri mereka untuk diazab oleh Allah.” (HR. Al-Hakim. Beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Imam Adz-Dzahabi mengatakan, hadits ini shahih. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi, sebagaimana disebut dalam Shahih At-Targhib wa Tarhib, no. 1859)
Sejak 2 tahun lalu, dengan segala daya upaya mendekatkan diri pada Allah dan menjauhi riba, akhirnya saya dan suami mempunyai tabungan haji di Bank Muamalat Indonesia. Sudah terdaftar ke Departemen Agama dan mendapat nomor antrian keberangkatan pula. Meski keberangkatannya masih beberapa tahun lagi (masih lama banget), namun kami sudah cukup bahagia dengan hal ini. Setidaknya kami sudah berusaha melangkah mempersiapkan dan memantaskan diri untuk menjadi tamu di Baitullah.


Mengapa harus Bank Muamalat, sih?

Untuk keperluan menabung, mendaftar haji dan deposito, sengaja saya pilih bank syariah yang sudah terbukti kualitas pelayanannya, yaitu Bank Muamalat Indonesia. Kan, banyak tuh bank-bank syariah sekarang ini, lantas mengapa harus Bank Muamalat, sih? Karena:
  • Bank Muamalat merupakan bank pertama yang murni syariah di Indonesia.
  • Bank Muamalat tidak menginduk dari bank konvensional lain, jadi sudah terjamin kemurnian sistem syariah yang digunakan.
  • Pengelolaan dana di Bank Muamalat ini didasarkan pada prinsip ekonomi syariah yang diawasi langsung oleh Dewan Pengawas Syariah.
  • Bank Muamalat memiliki produk dan layanan keuangan cukup lengkap dan ditunjang berbagai fasilitas canggih hingga ke luar negeri. Fasilitas tersebut antara lain: Mobile Banking, Internet Banking, jaringan ATM, dan kantor cabang yang tersebar di banyak daerah di Indonesia.



#AyoHijrah Berani Lebih Baik


Pada Oktober 2018 lalu, Bank Muamalat meluncurkan kampanye #AyoHijrah. Dalam kampanye tersebut, Bank Muamalat Indonesia mengajak masyarakat Indonesia untuk berubah menjadi lebih baik dalam menjalankan ajaran Islam yang sempurna dan menyeluruh (kaffah). Berhijrah di sini maksudnya tidak hanya aktivitas yang menyangkut ibadah lho. Tetapi juga aktivitas keseharian lainnya, termasuk pengelolaan keuangan, khususnya dalam layanan perbankan.

Hijrah itu memiliki makna berpindah, dengan tujuan untuk menjadi lebih baik tentunya. Hijrah bisa diterapkan pada segala sesuatu yang lebih luas maknanya. Mulai dari menghijrahkan diri secara lahir maupun batin. Misalnya secara lahir, dari yang tak berjilbab berhijrah menjadi berjilbab. Secara batin, dari yang suka gosipin orang, berhijrah lebih menahan diri tidak berghibah, memanfaatkan waktunya untuk fokus pada hal-hal yang lebih produktif sehingga tidak sempat memikirkan untuk menggunjingkan orang lain, dan masih banyak lagi. Dalam dunia perbankan, juga dikenal hijrah dengan beralih menggunakan jasa layanan perbankan yang menggunakan sistem syariah, seperti yang sedang dikampanyekan oleh Bank Muamalat Indonesia itu.


Kampanye #AyoHijrah ini bentuknya apa saja sih?

Bank Muamalat Indonesia itu kreatif banget lho mengemas pesan kampanye #AyoHijrah dalam kegiatan-kegiatan yang menarik. Misalnya seminar dan edukasi mengenai perbankan syariah, membuka booth di tempat-tempat acara yang melibatkan masyarakat luas, mengadakan kajian islami dengan para ulama sebagai narasumbernya, membantu memberdayakan masjid-masjid untuk menjadi agen perbankan syariah, dan masih banyak lagi.

Selain mengadakan kegiatan-kegiatan tersebut di atas, Bank Muamalat juga melengkapi kampanye #AyoHijrah ini dengan berbagai perubahan layanan yang insya Allah akan lebih berkah dan produktif. Benar-benar totalitas yang patut ditiru kampanye #AyoHijrah ini. Perubahan layanan itu berhubungan dengan beberapa nama layanannya, misalnya: tabungan iB Hijrah, tabungan iB Hijrah Haji dan Umrah, tabungan iB Hijrah Rencana, tabungan iB Hijah Prima, tabungan iB Hijrah Prima Berhadiah, Deposito iB Hijrah, Giro iB Hijrah, dan Pembiayaan Rumah iB Hijrah. Tambah keren kan nama-nama produk Bank Muamalat Indonesia kini?!?

Meski hanya penambahan kata "Hijrah" pada semua nama layanannya, namun tidak menampik bahwa perubahan nama itu juga diikuti peningkatan kualitas layanan serta memberi efek positif bagi nasabahnya. Setidaknya jadi lebih tenang dan tentram di hati, karena sudah berusaha berhijrah melalui penggunaan layanan perbankan syariah ini.

Dengan kampanye #AyoHijrah ini, Bank Muamalat Indonesia bercita-cita menjadi pusat Ekosistem Ekonomi Syariah dan turut serta membangun industri halal di Indonesia melalui pemanfaatan teknologi terkini. Semoga segera terwujud. Aamiiin.

Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai program #AyoHijrah ini, kalian bisa berkunjung ke sini, atau ke Media sosialnya di FacebookInstagramTwitterYoutube.

Jika kalian sudah ada niat untuk berhijrah, (berhijrah dalam hal apapun itu, termasuk untuk layanan perbankan), maka segerakanlah. Jangan menunggu lagi. Karena yakinlah Allah akan menyertai, membimbing, dan menolong jika niat kalian murni karena Allah. Jangan patah semangat jika di tengah proses berhijrah Allah mengujimu dengan berbagai cobaan. Mungkin Allah ingin membersihkan dirimu dari dosa-dosa terdahulu. Jadi ketika kamu sudah mantap di jalan hijrah, kamu akan memasuki kehidupan baru yang berkah, tentram, dan tidak lagi bergelimang dosa. Insya Allah.

Semangat #AyoHijrah, Berani Lebih Baik, Jauhi Riba, Hidup Berkah!

Wassalamualaikum wr. wb.


Sumber ayat dan hadist: www.rumaysho.com

Review Buku: Agar Suami Tak Mendua


Assalamualaikum Sobat Bunda,
Malam ini, saya pengen me-review sebuah buku. Kenapa? Karena saya sedang membaca sebuah buku yang, menurut saya, isinya sarat manfaat dan insya Allah membawa berkah bagi siapapun yang membaca dan menyerap serta mempraktikkan ilmu di dalamnya.

Saking pengennya ilmu di dalam buku tersebut tidak hanya bermanfaat untuk saya pribadi, tetapi juga untuk saudara saya tercinta. Akhirnya saya terpikir menjadikannya kado di hari ulang tahun pernikahan mbak ipar saya. Alhamdulillah mbak ipar saya hepi banget menerimanya. Selain karena pengemasan kadonya yang cantik (ini saya minta tolong seorang sahabat yang baik hati dan berdomisili sama dengan rumah mbak ipar saya, untuk membelikan buku tersebut kemudian dikemas cantik beserta buket bunga segar dan dikirim ke rumah mbak ipar saya), juga karena isinya yang Masya Allah menginspirasi banget.

Jadi penasaran sama bukunya, kan?
Buku ini berjudul "Agar Suami Tak Mendua", ditulis oleh Mbak Muyassaroh, pemilik blog muyass.com dan sekaligus founder ESTRILOOK, sebuah laman kece yang berisi artikel berbagai tema khusus wanita.

Saat pertama kali membaca judulnya, jujur saya sempat mengernyitkan kening. Kok judulnya gitu banget, sih? Jadi ingat ketika saya masih bekerja sebagai editor di sebuah penerbit di Jogja. Setiap ada buku yang akan naik cetak, pasti kami para editor diminta mengkritisi dan mencari judul yang pas serta memiliki segmen jangkauan pembaca yang seluas-luasnya.

Menurut saya pribadi, judul "Agar Suami Tak Mendua" sudah cukup 'eye catching' ya. Menarik dan bikin penasaran. Tapiiiii, sayang sekali judul tersebut memiliki jangkauan segmen pembaca yang terbatas. Di situ menyebut kata suami, berarti target pembaca untuk wanita yang sudah menikah atau memiliki suami. Padahal, jika dilihat lebih jauh ke dalam isinya, buku tersebut tidak hanya cocok dibaca oleh wanita yang sudah bersuami. Buku tersebut juga perlu dan sangat bermanfaat jika dibaca oleh calon pengantin wanita dan semua wanita yang sudah berniat untuk menikah. Mengapa? Karena isi bukunya mengajarkan buanyak ilmu yang bisa dipraktikkan dalam bahtera rumah tangga. Jika sebelum memasuki jenjang pernikahan calon mempelai wanita sudah membekali diri dengan aneka ilmu di dalam buku ini, tentunya dia akan memasuki gerbang pernikahan dengan mantap, penuh percaya diri, dan insya Allah akan lebih terarah dalam menjalani setiap fase pernikahannya. Itu dari segi judul ya... 

Next..., dari segi layout isi.
Nah, setelah dahi saya mengerut saat membaca judul. Saat membuka bagian isi, saya tersenyum bahagia. Hepi banget lihatnya. Layout isinya benar-benar cantik dan memanjakan mata. Saya paling suka pemilihan jenis hurufnya. Sampai-sampai saya menanyakan pada penulisnya, "Itu pakai font apa ya, mbak?" Dan penulisnya pun gak tau itu font apa. Oke, gapapa, emang font itu urusan layouter dan editor, sih. Hehehe.

Selain layout yang rapi dan nyaman dibaca, gaya menulis dan pola isinya juga sangat menarik, gak bikin bosan. Buku-buku tentang pernikahan yang ada selama ini kebanyakan agak membosankan. Beda banget dengan Agar Suami Tak Mendua (ASTM). ASTM ini menurut saya 2in1 (macam iklan sampo aja ya, hehe). Iya bener 2in1, fiksi dan nonfiksi bergabung menjadi satu. Ada penggalan kisah fiksi yang menginspirasi dan bikin penasaran endingnya, tapi juga disertai bagian nonfiksi yang sarat ilmu (bahkan beberapa bagian dilengkapi dengan rujukan penggalan ayat dan hadist shahih) yang mudah dipahami bahasanya dan tidak terkesan menggurui.

Topik bahasan sangat lengkap dan gaya bahasanya mengalir banget. Di sini, sengaja saya tidak membahas detail isinya atau spoiler ya, biar kalian penasaran dan membaca sendiri bukunya. Saya jamin, tidak akan menyesal beli dan baca buku ini.

Akhirnya, semoga buku ini dapat menebar manfaat sebanyak-banyaknya dan membuat keluarga Indonesia semakin sakinah mawaddah warahmah. Insya Allah yang nantinya akan berefek pada kemampuan mencetak generasi penerus Indonesia yang berakhlak mulia, berprestasi, dan percaya diri, semuanya dimulai dari keluarga-keluarga sakinah itu tadi.
Aamiin.

Wassalamu'alaikum. Selamat membaca bukunya yaaa... Oiya, buku ini bisa kalian beli di seluruh cabang Toko Buku Gramedia. Harganya cukup terjangkau kok, jika dibanding dengan manfaatnya yang luar biasa besar. So, cusss beli bukunya dan mulai serap semua ilmu di dalamnya.

5 Tips Produktif Menulis ala Bundamami


Assalamualaikum Sobat Bunda,

Hari ini saya mau cerita tentang bagaimana cara untuk tetap produktif menulis. Sebenarnya, saya juga belum produktif-produktif amat sih nulisnya, masih sering mepet-mepet jadwal deadline, masih sering menunda-nunda dan lebih suka nongkrongin Asian Food Channel daripada nulis, hwkwkwkk.. dan kegiatan-kegiatan lain yang kadang jadi prioritas lebih utama selain menulis.

Trus, ngapain saya pede banget sharing tips produktif menulis? Kesannya saya sok tau banget yak, bakalan digetok sama blogger dan penulis profesional nih kayaknya... hwkwkwkwkk... Sebenarnya saya menuliskan tips ini, tak lain dan tak bukan untuk pengingat diri saya sendiri. Setelah dipikir lagi, daripada cuma ngendon di pikiran dan lama-kelamaan jadi lupa, lebih baik saya tuliskan di blog. Jika ada teman-teman Sobat Bunda yang merasa tips ini bermanfaat, ya monggo dicoba saja.
Seperti apa tips-nya? Yuk, cekidot Sob!

1. Atur prioritas

Atur prioritas kegiatanmu. Kalo masih anak kuliahan, mungkin prioritasnya urusan kuliah ya. Jadi menulis bisa dikerjakan setelah tugas-tugas kuliah dan aktivitas di kampus beres. Beda lagi jika kita seorang ibu rumah tangga, utamakan mengurus anak dan rumah dulu baru kemudian kerjakan aktivitas menulismu. Setiap tahap usia dan peran kehiudpan masing-masing orang pasti punya prioritas tersendiri. Dan, prioritas ini bisa berubah-ubah, lho. Memang sudah selayaknya prioritas itu ditinjau ulang setiap rentang waktu tertentu.
Jika dulu waktu masih awal menikah, prioritas kita adalah berusaha memiliki momongan dan bekerja lebih giat menyiapkan pundi-pundi tabungan untuk menyambut kelahiran putra pertama, maka pada rentang usia perkawinan selanjutnya prioritas kita tentu berubah, misalnya menjadi lebih fokus mengurus dan memerhatikan tumbuh kembang anak, mulai menyiapkan dana pendidikan anak, kemudian pada tahap selanjutnya mulai menyiapkan dana pensiun, dan sebagainya. Idealnya, minimal setiap tahun kita dapat mengevaluasi prioritas hidup dan kehidupan kita.
Kembali ke produktivitas menulis, atur prioritas maksudnya kita harus bisa menempatkan aktivitas menulis ini di urutan prioritas ke berapa, bergantung pada kondisi kehidupan masing-masing, dan hanya pelaku kehidupan itulah yang bisa menyusun prioritas tersebut. Jadi, pandai-pandailah mengatur prioritas ya Sob. Jika memang menulis merupakan prioritas utamamu, maka kamu akan menempatkannya di atas kegiatan-kegiatan lainnya. Dan, akhirnya kamu akan meluangkan lebih banyak waktu dan perhatian untuk kegiatan menulis tersebut.


2. Kuatkan niat awal

Menukil sebuah hadist yang maknanya bahwa segala amal perbuatan dinilai dari niatnya. Niat awal kamu menulis itu apa? Tanyakan pada dirimu sendiri. Jujurlah pada diri sendiri.
Jika niatmu menulis hanya untuk mengisi waktu luang, maka tentunya kamu akan melakukan aktivitas menulis hanya saat memiliki waktu luang, begitu kan logikanya? Lain halnya jika niatmu menulis adalah untuk menebar kebaikan dan manfaat, menyalurkan hobi dan passion. Jika seperti ini maka kamu akan selalu produktif menghasilkan tulisan, misalnya sesibuk apapun aktivitas harianmu, pasti kamu meluangkan waktu untuk menulis, rajin meng-update ilmu tentang menulis, rajin membaca referensi yang sesuai tema yang sedang kamu tulis, dan sebagainya.
Akan berbeda halnya jika menulis hanya sekedar pengisi waktu luang, atau kamu niatkan sebagai kegiatan sampingan. Kamu mengerjakannya seadanya dan semampunya.
Nah, dari niat itu bisa dibedakan produktivitasnya, kan? Yang memiliki niat baik atau kokoh, serta tekad kuat, pasti melahirkan produktivitas menulis yang tinggi pula.

3. Fokus

Fokus ini memiliki 2 area cakupan yang sedikit berbeda satu sama lain. Pertama, fokus secara fisik dalam arti mengerjakan 1 pekerjaan dengan penuh konsentrasi dan perhatian. Kedua, fokus dalam hal benar-benar menekuni kegiatan tersebut dalam kehidupan hariannya.
Misalnya fokus secara fisik, saat menulis benar-benar full konsentrasi, tidak menghiraukan berbagai gangguan di luar kegiatan menulis saat itu. Contoh fokus kedua, memiliki hobi menulis dan menyanyi, tetapi memilih fokus pada menulis saja, sedangkan hobi menyayi hanya sebagai selingan saat ada waktu luang.
Jika kita fokus menekuni dunia menulis, maka produktivitas akan seiring meningkat. Begitu pula jika saat aktivitas menulis, kita tidak mudah tergoda untuk mengerjakan pekerjaan lainnya, mengecek Hp misalnya, maka pekerjaan menulis kita akan berjalan efektif, dan membuat produktivitas meningkat pula. Naskah tulisan cepat selesai, jadi semakin produkti berkarya, kan?

4. Siapkan referensi memadai

Nah, faktor referensi ini bisa menyebabkan seseorang rajin atau malas menulis. Kelengkapan referensi akan membuat kita lebih rajin menulis. Kita tidak perlu bolak-balik membuka buku atau sumber online untuk mencari referensi tambahan. Dengan kelengkapan referensi pula, tentunya akan membuat hasil tulisan kita lebih "kaya" pembahasan dari berbagai sudut pandang.
Jadi, untuk meningkatkan produktivitas menulis kita harus siap sedia segala macam referensi/bahan tulisan. Lebih baik lagi jika referensi itu sudah tertanam di kepala kita, artinya sudah dibaca dan dipahami oleh penulis, sehingga tinggal proses kreatif dalam mengolah referensi menjadi bahasan-bahasan baru di buku yang akan kita tulis sesuai ciri khas penulisan masing-masing.

5. Siapkan tempat, diri, dan "sesaji"nya

Menyiapkan tempat untuk menulis, akan berefek besar bagi peningkatan produktivitas menulis. Jika tempat menulis kita nyaman, berpenerangan cukup, bersih, sirkulasi udara lancar dan segar, tentunya akan membuat kita betah di tempat tersebut, membuat ide mengalir lancar, dan produktivitas pun seiring meningkat.
Oiya, yang tak kalah penting juga, atur posisi duduk yang benar dan baik untuk kesehatan. Posisi duduk yang benar yakni punggung tegak lurus, dengan pandangan mata juga tegak lurus ke arah layar komputer/laptop. Seperti gambar ini, nih Sob.
sumber: www.dekoruma.com

Jadi, produktivitas itu juga berbanding lurus dengan kesehatan. Jika posisi duduk kita benar, tentunya kesehatan akan terjaga optimal, dan semakin produktif menulis menghasilkan karya-karya selanjutnya.

Selain tempat menulis yang harus memenuhi beberapa persyaratan tadi, yang tak kalah penting juga kondisi badan penulis sendiri. Kondisi tubuh yang bersih, wangi, dan segar tentunya akan membuat nyaman berlama-lama menuangkan ide di depan komputer/laptop, kan?
Jadi, penting untuk diingat, jika ingin produktif menulis, mulailah aktivitas menulismu dalam kondisi badan yang sudah mandi, wangi dan segar, serta berpakaian yang bersih dan nyaman. Gak perlu rapi-rapi amat sih kalau memang nulisnya di rumah, yang penting nyaman. Ingat, tingkat kenyamanan pakaian bagi tiap orang berbeda-beda, lho ya. Kalau saya pribadi sangat nyaman berpakaian yang santai semacam kaos dan celana panjang yang semuanya berbahan katun. Rasanya nyaman banget.
Yang harus diperhatikan selanjutnya adalah "sesaji". Hehehe, maksudnya apaan sih, pakai sesaji segala? Saya nulisnya pakai tanda kutip kan, jadi maksudnya bukan beneran sesaji yang untuk persembahan ritual-ritual mistis gitu, lho. Sesaji di sini maksud saya berupa persediaan makanan dan minuman di samping tempat menulis.
Cemilan dan minuman saat menulis itu penting banget, lho. Kenapa? Karena menulis membutuhkan proses berpikir, dan proses berpikir ini melibatkan otak, yang bahan bakarnya berupa glukosa dan zat-zat gizi lain termasuk air. Jadi, intinya kalau mau konsen menulis, penuhi dulu kebutuhan perut. Setelah kenyang, jangan lupa siapkan snack dan minum di samping komputer/laptop.
Biasanya saat kita sudah asyik menulis, akan malas beranjak ke tempat lain, kalau memang tidak benar-benar darurat, seperti mau ke toilet misalnya.
Untuk menghindari dehidrasi dan menunjang performa berpikir, maka selalu sediakan minimal sebotol air minum dan snack yang jika dimakan tidak menimbulkan banyak remah. Snack yang tidak menimbulkan banyak remah ini tentatif ya. Sesuai selera masing-masing. Kalau saya, sukanya snack yang tidak menimbulkan banyak remah, karena biar remah-remahnya tidak mengotori sela-sela keyboard laptop. Kalau keyboard kalian sudah dilindungi oleh penutup silicon, tidak masalah sih makan snack apapun, kan sudah aman, tidak akan tercecer masuk ke sela-sela keyboard laptop/komputer.

Nah, itu dia 5 tips produktif menulis ala saya. Semuanya kembali pada kebiasaan, kondisi, dan karakter masing-masing orang lho, ya. Jika memang setuju dan cocok diterapkan untuk kalian, monggo silakan dicoba. Selamat mencoba!

Yuk, Belajar dari Pengalaman Orang Lain


Assalamualaikum Sobat Bunda,

Hari ini saya ingin sharing tentang pengalaman pijat, mumpung belum terlalu lama berlalu, jadi belum lupa, hehe.

Beberapa hari yang lalu, suami saya mengeluh leher kaku dan pegal-pegal, mungkin karena terlalu lama duduk di depan laptop atau menyetir. Akhirnya diputuskan semalam suami saya ingin pijat menggunakan jasa tukang pijat yang dapat dipanggil ke rumah. Kebetulan, masih 1 kompleks dengan tempat tinggal kami, ada sebuah penyedia jasa pijat tuna netra, namanya Enzo Klinik Pijat. Selain lokasinya yang sangat dekat, pemesanannya juga mudah, hanya melalui pesan Whatsapp. Sangat praktis untuk era zaman now yang serba online. Ini kali kedua suami saya memesan jasa pijat tuna netra dari Enzo. Yang pertama sekitar 2 bulan lalu, dan kami cukup puas dengan kualitas pelayanannya.

Kemarin, kami memesan jasa pijat sport massage. Pada kesempatan pertama dulu, kami memesan jenis shiatshu massage. Entahlah apa bedanya, suami saya yang tahu, hehe.
Semalam kami memesan sore hari, untuk waktu pemijatan setelah maghrib. Di Enzo ini cukup disiplin dalam hal waktu, lho. Jam 18.15 WIB pemijat sudah hadir di depan pagar dengan 1 tas peralatan lengkap dan diantar pihak manajemen Enzo tentunya, karena pemijatnya kan tuna netra.

Oiya sebelumnya sekilas saya jelaskan tentang Enzo, ya. Enzo ini diprakarsai oleh beberapa mahasiswa Unpad yang sedang membuat program usaha (mungkin awalnya tugas dari dosen, kemudian dikerjakan dengan serius dan profesional akhirnya menjadi usaha Enzo Klinik Pijat ini). Tujuan utama usaha tersebut untuk memberdayakan saudara-saudara kita yang tuna netra. Mulia sekali niatnya, lho!

Setelah bertemu pelanggan, maka pihak pengantar (manajemen Enzo) akan menjelaskan segala ketentuannya, termasuk memberikan semacam kartu pelanggan, ada stempel kecil di kolom tertentu setiap kita memesan jasa pijat tersebut. Nantinya kartu ini berfungsi semacam loyalty card member (keren kan, kayak belanja di mall2 dan mart2 kekinian itu, hahaha), yang akan memberikan benefit berupa promo, diskon, dan segala kemudahan lainnya.

Kemudian, setelah berbasa-basi sejenak, sambil Bapak Pemijat menyiapkan peralatan, dimulailah waktu pijat, dan sebelum memulai Bapak Pemijat akan mengucap bismillah, kemudian mengaktifkan semacam alarm di ponselnya, untuk menentukan durasi waktu pemijatan yang akan berlangsung. Untuk sport massage, durasinya 90 menit. Semalam, suami mulai dipijat jam 18.30 dan berakhir jam 20.00.

Peralatan yang dibawa Bapak Pemijat cukup lengkap, lho. Alas perlak berukuran 2 m x 60 cm, pas untuk rebahan ukuran 1 badan. Menurut Bapak Pemijat, alas perlak ini untuk melindungi seprai/kasur tempat pijat dari tumpahan minyak pijat. Meski minyak pijat yang digunakan sudah didesain agar tidak mudah tumpah, yaitu minyak di dalam botol spray. Namun pihak manajemen tetap mengantisipasinya dengan membawakan alas perlak tersebut. Selain minyak dan perlak, Bapak Pemijat juga dibekali handuk kecil, tissue basah, dan alat aromaterapi elektrik. Handuk kecil dan tissue basah digunakan untuk mengusap badan setelah proses pemijatan selesai. Aromaterapi elektrik, diisi essential oil yang wanginya membuat badan lebih relaks dan menenangkan. Lengkap dan mantap, kan!

Saat memulai proses pemijatan, Bapak Pemijat akan menanyakan terlebih dahulu keluhan yang dirasakan pelanggan, semacam anamnesa kalau di dunia kedokteran yak, hihihi... Setelah diketahui keluhannya, bagian mana yang sakit atau pegal, dll kemudian Bapak Pemijat akan mencoba memijat bagian betis terlebih dahulu, sambil menanyakan pada pelanggan, apakah tekanan pijatnya sudah cukup, terlalu keras, atau kurang terasa tekanannya. Semua tergantung selera pelanggan. Keren banget, kan!

Semalam, kebetulan suami saya pijatnya di ruang keluarga, di depan TV. Karena memang di situ sudah ada kasur kecil yang biasa digunakan anak-anak saat menonton TV. Selain itu, juga untuk memudahkan Bapak Pemijat, agar tidak perlu naik ke kamar tidur di lantai 2.

Ruang keluarga atau ruang TV kami yang agak menyatu dengan ruang makan, membuat sebagian besar aktivitas kami berpusat di situ. Jadi, suami saya dipijat sambil dikelilingi suara meriah duo bocah yang lagi makan, sambil ngobrol, dan pake acara rebutan pula, hahaha. Rumah kami Alhamdulillah selalu dimeriahkan dengan celoteh lucu duo bocah dengan apapun yang bisa jadi medan perebutan, termasuk bundanya juga sering jadi rebutan, hwkwkwkkk.

Sambil menyuapi anak-anak, saya mendengarkan dan sesekali ikut nimbrung obrolan suami dengan Bapak Pemijat. Dia bercerita tentang awal mula mengalami kebutaan hingga segala aktivitasnya saat ini. Dari segi usia, Bapak Pemijat ini masih cukup belia. Tebakanku, mungkin dia berusia sekitar 20-an akhir. Masih muda kan, setidaknya dibanding kami berdua yang berusia pertengahan 30 dan sudah mendapati beberapa helai rambut ajaib berwarna nyentrik alias uban, hahaha.

Bapak ini mengalami kebutaan saat berusia 19 tahun. Menurut ceritanya, pada saat itu dia sedang belajar di sebuah pondok pesantren. Waktu itu dia mengalami demam hingga kejang/step. Setelah kejang demam berlalu, dia anggap itu demam biasa saja. Namun, tidak lama kemudian perlahan penglihatannya menurun dan akhirnya mengalami kebutaan. Entah diagnosa dokter apa, dan proses terjadinya kebutaan bagaimana, dia tidak menceritakan secara detail.

Dia menceritakan bagaimana dia merasa terpuruk dan sempat putus asa di awal masa mengalami kebutaan. Saya yang mendengar ceritanya seolah ikut hanyut merasakan kesedihannya, hingga tak terasa mata ini berkaca-kaca. Setelah fase putus asa itu, akhirnya dia sadar dan bangkit. Pernyataannya yang membuat saya terharu, "Allah memberikan kekurangan, pasti juga memberikan kelebihan". Dia sangat yakin itu. Mungkin kalimat tersebut terdengar klise dan biasa saja bagi kita yang tidak mengalaminya, tetapi bagi dia, kalimat itu menjadi semacam mantra penyemangat untuk lepas dari keterpurukan dan mulai menerima kondisi kebutaannya.

Saat ini, selain aktif menjadi mitra kerja Enzo Klinik Pijat, dia juga aktif di pesantren dan masjid-masjid untuk mengajar tahsin. Kemudian juga ikut komunitas semacam nasyid, gambus, atau band islami (entahlah apa namanya), dia sebagai vokalisnya. Masya Allah, dia benar-benar mengeksplorasi bakat dan minatnya sebagai anak muda dan tidak merasa terhalang sedikit pun dengan keterbatasan fisiknya. Termasuk belajar ilmu memijat di sebuah tempat kursus. Dia menekuni semua aktivitasnya dengan semangat, rajin, dan penuh rasa syukur. Barakallah Bapak Pemijat.

Dari kisah Bapak Pemijat tersebut, banyak pelajaran yang dapat dipetik. Salah satunya adalah dia begitu ikhlas menjalani segala ketentuan Allah dengan penuh rasa syukur.

Malu rasanya diri ini, Ampuni kami Ya Allah...
Dengan segala karunia, fasilitas, serta kemudahan dari Allah, kadang masih saja mengeluh dan kurang bersyukur. Sementara hamba Allah yang lain, di tengah keterbatasannya masih bisa bersyukur bahkan menebar manfaat untuk orang di sekelilingnya. Masya Allah.

Setelah proses pijat selesai dan Bapak Pemijat sudah dijemput manajemen Enzo, kami sekeluarga mulai sesi bercerita pada duo bocah. Kami menceritakan kembali kisah Bapak Pemijat tadi dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak. Sekaligus kami beri pemaknaan yang sesuai untuk usia mereka dan mengajarkan bagaimana akhlak yang baik jika bertemu saudara-saudara yang tuna netra. Harapannya, duo bocah menjadi anak-anak yang berempati dan peka serta berakhlak baik terhadap orang-orang yang tidak seberuntung mereka.

Akhir kata, terima kasih Bapak Pemijat, darimu kami belajar banyak hal, begitu pula anak-anak kami. Apapun dan siapa pun di sekitar kita, bisa menjadi media pembelajaran untuk diri sendiri maupun anak-anak kita. Tidak ada yang sia-sia di dunia ini. Semua memiliki peran dan kontribusi masing-masing bagi dunia bahkan untuk tabungan di akhirat kelak.

9JKL Drama Komedi yang Sarat Pesan Moral


Assalamualaikum Sobat Bunda,
Pagi ini, setelah tugas negara menyiapkan keberangkatan orang-orang tercinta ke kantor dan sekolah selesai, sementara Tuan Putri kecil masih tertidur pulas di kamar, inilah saatnya Bunda selonjoran sarapan sambil nonton TV tanpa terinterupsi acara kartun, hwkwkwkk...

Setelah cari-cari channel TV yang menarik, akhirnya terdamparlah di channel FOXLife, yang kebetulan menayangkan drama komedi berjudul 9JKL.
Sekilas akan saya jelaskan tentang drama komedia 9JKL ini. Drama komedi ini cukup menarik karena mengangkat tema-tema ringan dalam kehidupan sehari-hari. Meski dibawakan dengan dialog-dialog dan ekspresi wajah yang konyol, namun banyak memberikan pesan moral di dalamnya.

Drama komedi ini menceritakan sebuah keluarga dalam 1 gedung yang sama, namun berbeda unit apartemen. Di unit apartemen pertama tinggal Mr. Harry Roberts dan Mrs. Judy Roberts. Pasangan yang menikmati usia senja dengan bahagia dan sedikit bumbu-bumbu pertengkaran kecil. Sementara di unit apartemen kedua, tinggallah Andrew Roberts (anak pertama dari Mr dan Mrs Roberts) bersama istri (Eve Roberts) dan bayi kecilnya. Andrew dan Eve sama-sama berprofesi sebagai dokter. Dan di unit apartemen ketiga tinggallah Josh Roberts, anak kedua Mr dan Mrs Roberts. Josh sudah bercerai dengan istrinya, jadi dia hanya tinggal sendiri dan berprofesi sebagai aktor.

Masalah-masalah kecil setiap harinya selalu digambarkan dengan sangat kocak dan menggelikan. Di salah satu potongan episode yang kebetulan saya tonton pagi itu, diceritakan bahwa Mrs. Judy Roberts sedang mengeluh tidak enak badan. Kemudian menantunya, Eve, menyarankan untuk berkonsultasi ke dokter dan menjalani general check up. Tapi, sesuai tipe orang tua kebanyakan, selalu merasa lebih baik tidak tahu sedang sakit apa, daripada tahu penyakitnya kemudian jadi beban pikiran terus-menerus hingga menurunkan kualitas dan produktivitas hidupnya.

Akhirnya dengan segala cara, Andrew mengajak Mrs. Judy Roberts untuk menjalani general check up, dan berhasil. Namun, hingga di klinik tempat mengambil darah, Mrs. Judy menolak diambil darahnya. Sebagai anak, Andrew berusaha membujuk dan mengajak Mrs. Judy berdialog agar mau diambil darahnya. Dengan segala obrolan dan guyonan akhirnya Mrs. Judy Roberts tanpa terasa telah berhasil diambil darahnya.

Setelah hasil general check up keluar, ada salah satu angka hasil lab yang menunjukkan ketidaknormalan. Hal ini bisa disebabkan karena proses pengukuran yang salah atau memang terdeteksi adanya penyakit/gangguan tertentu. Untuk memastikan kembali, maka Mrs. Judy disarankan mengulang proses pengambilan darah.

Selama rentang waktu menunggu hasil pengambilan darah yang kedua, Mrs. Judy merasa bahwa dia memiliki penyakit tertentu dan mulai mempersiapkan diri menghadapi kematian. Misalnya, membagikan set piring kesayangan pada menantunya, Eve, kemudian meminta maaf pada beberapa teman lamanya yang pernah dia sakiti, berubah menjadi istri dan ibu yang perilakunya jauh lebih baik, dan sebagainya. Otomatis kondisi tersebut membuat seluruh keluarga heran dan merasa aneh dengan tingkah laku Mrs. Judy yang sangat mellow dan mendadak sangat bijaksana. Justru di situlah letak aneka kekonyolan terjadi.

Terlepas dari detail jalan cerita seutuhnya, pada episode tersebut dapat dipetik hikmah atau pelajaran, bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Tanpa memandang usia, masih muda atau sudah tua. Dicontohkan oleh Mrs. Judy, untuk mempersiapkan kematian yang dianggapnya akan segera menghampiri, dia mulai mengubah perilakunya menjadi jauh lebih baik, mulai mengakui dan meminta maaf atas kesalahannya di masa lampau, dan mengisi sisa usianya dengan berbuat pada orang-orang di sekitarnya, dan masih banyak lagi kebaikan yang dapat dilakukan. Intinya, setiap manusia memiliki salah dan dosa yang tidak dapat dihindari sepanjang hidupnya. Dengan selalu mengingat kematian, kita akan menjadi insan yang selalu berusaha memperbaiki diri, introspeksi diri, dan semakin mawas diri agar tidak terjerumus pada kesalahan dan dosa baru yang dibuat.

Nah, itu sekelumit hikmah dari tontonan ringan yang kebetulan saya saksikan. Semoga bisa memberi pelajaran untuk saya pribadi khususnya dan untuk pembaca semua pada umumnya, agar menjadi insan yang selalu berbenah diri berupaya menjadi lebih baik, lebih baik lagi, dan jauh lebih baik setiap hari, seiring berjalannya waktu dan berkurangnya jatah usia di dunia ini.
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca dan semoga bermanfaat, Sobat Bunda!

PESAN (Pekan Sarapan Nasional), Sudahkah Anda Sarapan Hari Ini?


Assalamualaikum Sobat Bunda,

I'm not hate monday, yeayy!!!
Kenapa saya awali dengan statement itu? Karena ini hari senin, dan senin identik dengan ikhtiar melawan malas untuk kembali beraktivitas (kerja, sekolah, dll), dan saya ingin mengajak sobat Bunda semua untuk tidak membenci hari Senin dan semakin produktif dalam beraktivitas. Salah satu upaya untuk semakin bersemangat dan produktif mengawali hari, yaitu sarapan yang bergizi. Nyambung gak sih? Yaudah lah, disambung-sambungin aja ya, hahaha.
Intinya, saya mau bahas tentang sarapan, uwis kui thok, gawe pembukaan kok mubeng-mubeng yo?!?!? Hwkwkwkwkk...

PESAN, bukan kata 'pesan' seperti yang tertulis di KBBI, yang artinya amanat, perintah, permintaan, atau nasihat lho, ya. Pesan di sini maksudnya akronim dari Pekan Sarapan Nasional. Kapankah itu? Untuk tahun ini, PESAN dilaksanakan pada 14-20 Februari 2019. Wow barengan sama Valentine Day, dong. Entahlah, saya gak paham soal valentine, soalnya saya juga gak ngerayain, saya taunya 14 Februari itu bertepatan dengan tanggal saat saya dilamar secara pribadi sama calon suami saya, 9 tahun yang lalu, hihihi.

Oke, lanjut bahas PESAN aja ya, jangan bahas saya dilamar, hahaha.
PESAN ini dideklarasikan oleh 4 organisasi yang bergerak dalam penanganan masalah pangan dan gizi, yaitu:
  1. Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI),
  2. Perhimpunan Peminat Gizi dan Pangan (Pergizi Pangan) Indonesia,
  3. Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI)
  4. Perhimpunan Dokter GIzi Klinik Indonesia (PDGKI)

Pendeklarasian ini dilakukan di Jakarta pada 14-20 Februari 2013, jadi sudah 6 tahun yang lalu ya. Lalu, mengapa pemerintah harus capek-capek membuat pekan sarapan untuk rakyatnya? Sarapan aja pake disuruh-suruh, memangnya pada gak suka sarapan ya? Mungkin itu yang ada di benak teman-teman, termasuk saya waktu pertama kali tahu soal PESAN ini. Bukannya begitu, maksudnya diadakan PESAN ini dalam rangka selalu mengingatkan masyarakat Indonesia akan pentingnya sarapan dalam aktivitas sehari-hari.

Menurut informasi, PESAN ini dilaksanakan berdasarkan hasil kajian-kajian yang menunjukkan bahwa kebiasaan masyarakat Indonesia sangat buruk, dari segi jumlah porsi maupun jenisnya. Sedih, ya! 

Memang berdasarkan hasil penelitian terkini, anak usia sekolah dan remaja sebanyak 16,9-59% tidak terbiasa sarapan pagi. Sedangkan pada orang dewasa sebanyak 31,2% yang tidak terbiasa sarapan. Sebanyak 44,6% dari anak yang terbiasa sarapan belum menerapkan sarapan yang sehat dan bergizi, jadi cuma asal sarapan saja. Asal sarapan itu gimana sih? Misalnya, bangun kesiangan, mandi dan siap-siap. Karena waktu mepet, keburu telat, akhirnya nyomot aja sekeping biskuit terus minum kopi, terus udah kabur ke sekolah/kantor/tempat aktivitas hariannya. Nah gitu tuh yang dimaksud cuma asal sarapan aja, tidak memerhatikan komposisi kandungan gizi dan jumlah porsinya.

Secara gampang nih, sarapan itu harus memenuhi 25%-30% kebutuhan kalori harian masing-masing individu. Lantas, berapa sih kebutuhan kalori asupan gizi harian kita? Kalau mau akurat dan spesifik ya kudu dihitung, dong. Banyak faktor yang memengaruhinya, misal jenis kelamin, aktivitas fisik, berat badan, tinggi badan, kondisi kesehatan secara umum, dan sebagainya. Nah, kalau mau yang praktis tapi secara umum saja (tidak spesifik dan tidak detail), yaaa kira-kira aja kebutuhan harian orang dewasa standarnya 1500-2000 kalori.

Kalau ambil contoh kebutuhan asupan gizi harian 2000 kalori, berarti untuk sarapan saja kita membutuhkan sebanyak 25% dari 2000 kalori, yaitu 500 kalori, ya. Nah, 500 kalori itu terwakili dari makanan apa saja? Yuk, kita lanjut penjelasannya.

Asupan sebanyak 500 kalori itu tidak bisa terpenuhi hanya dengan segelas kopi/teh dan 1-2 keping biskuit lho ya, harus diingat itu Bund/Bu/Mam/Mih/Mak... Untuk memenuhi kebutuhan sarapan 500 kalori itu, kita bisa menyantap 1 porsi nasi dengan lauk lengkap (lauk lengkap di sini maksudnya beneran lengkap dari segi jenis dan jumlah ya). Misalnya, nasi putih, sayur sop, tempe goreng, telur dadar, segelas susu, dan sepotong buah berukuran 100 gram. Nah, lengkap kan.

Kalo jenis sarapan ala western, bisa diwakili dengan roti isi (sandwich, kalo bahasa bulenya). Roti gandum dioles butter, kemudian ditambah isian daging/ikan/ayam, ditambah tomat dan sayuran lain (lettuce, timun, bayam, dll), kemudian diberi mayonnaise/saus tomat/jenis saus lainnya. Dilengkapi dengan segelas susu, dan buah-buahan segar. Jika ingin yang lebih praktis, cukup semangkuk sereal/oatmeal, diberi potongan buah segar, kemudian disiram susu. Tambahkan jus buah sebagai pelengkap.

Intinya, sarapan tidak boleh dilewatkan apa pun alasannya. Waktu makan terpenting adalah saat sarapan, mengapa? Karena sarapan menyediakan energi untuk memulai hari dan beraktivitas. Menunjang kemampuan berpikir, bekerja, dan seabrek aktivitas harian lainnya. Selain itu, uniknya, ternyata sarapan membantu tubuh kita berada dalam kondisi normal, tidak terlalu gendut, tidak pula terlalu kurus, kok bisa ya? Karena sarapan mencegah kekurangan atau kelebihan gizi. Itulah mengapa, meski sedang diet jangan pernah menghilangkan sarapan dari jadwal harianmu, ya! Jadi, masyarakat Indonesia memang perlu selalu diingatkan tentang pentingnya sarapan, melalui event semacam PESAN ini.

Buat bunda-bunda, ibu-ibu, mak-emak, mama-mama, mami-mami, umi-umi... Penting untuk diperhatikan ya. Jangan lupa sediakan selalu sarapan sehat dan bergizi dengan porsi dan jenis yang lengkap untuk keluarga kalian, demi mencetak generasi penerus bangsa yang sehat dan memiliki performa prestasi optimal nan gemilang.

Siapin sarapan lengkap saat pagi hari bikin ribet gak sih? Gak juga. Semua bisa diatur dan bisa dipersiapkan sejak malam sebelumnya. Misalnya nih, ingin menyediakan sarapan dengan menu nasi dan sayur tumisan serta ikan goreng. Siapkan sayuran dan bumbu untuk tumisan semuanya pada malam sebelumnya. Potong-potong semua sayur seolah-olah akan dimasak saat itu juga, tapi jangan dicuci ya. Karena akan memicu pembusukan yang lebih cepat. Setelah dipotong-potong, masukkan dalam kontainer plastik kedap udara. Begitu pula bumbunya, semua sudah dikupas dan dipotong-potong kemudian masukkan ke kontainer kedap udara. Simpanlah dalam kulkas. Keesokan harinya, setelah selesai shalat Subuh, kamu siap mencuci aneka sayuran kemudian mulai menumisnya. Sayur tumisan merupakan pilihan masakan yang cukup praktis sekaligus sehat, karena tidak butuh waktu pemasakan yang lama dan hanya membutuhkan bumbu yang minimalis. Jadi, manfaat utama sayur tetap bisa dinikmati secara optimal di dalam tubuh.

Untuk lauk ikan goreng, jika ingin menyajikan pada pagi hari, jangan lupa untuk mengungkep atau marinade terlebih dahulu dengan bumbu-bumbu pada malam sebelumnya. Kemudian simpan dalam kontainer kedap udara di dalam kulkas. Jadi saat pagi hari hanya tinggal menggoreng, membakar, atau bahkan mengukusnya. Praktis kan!
Untuk nasi, sudah tidak diragukan lagi kepraktisannya, tinggal cuci beras dan masukkan rice cooker, setelah menunggu sekitar 30 menit, nasi hangat nan pulen siap disantap.

So, semua bisa dilakukan lebih praktis dan cepat jika dipersiapkan sejak malam sebelumnya, kan. Pastikan kamu bangun lebih pagi, ya. Jadi, tidak ada lagi alasan untuk tidak bisa menyajikan sarapan sehat untuk seluruh keluarga.

Selamat berkreasi membuat menu sarapan sehat, Sobat Bunda!

7 Aturan Sosial, Bikin Kamu Nyaman Bergaul!



Assalamualaikum Sobat Bunda,

Setelah bertapa sekian jam dan mendaki gunung lewati lembah (Ninja Hattori kali), akhirnya saya putuskan kali ini akan mengulik tentang aturan dalam pergaulan sosial. Meski tampak sepele, namun ada saja orang yang tidak sengaja atau terpaksa melakukan kesalahan dalam aturan sosial pergaulan sehari-hari.
Aturan sosial ini sebenarnya tidak tertulis, namun sudah menjadi hal yang lazim dalam pergaulan manusia, terutama di dunia Internasional. Karena sudah diterapkan dari generasi ke generasi dengan berbagai budaya dan ras. Jika kita melanggarnya tidak akan ada sanksi berupa denda, hanya sanksi sosial seperti merasa canggung dengan teman dalam pergaulan tersebut, tatapan aneh dari orang sekitar, dan sebagainya yang justru membuat pelaku pelanggaran ini semakin merasa tersudut dan tidak nyaman. Berikut beberapa aturannya:

1. Gunakan "3 magic word" dalam interaksi sosial

Ini sudah menjadi hal yang sangat umum dalam pergaulan manusia. Bahkan sejak bayi, orang tua pasti mengajarkan dan melatih anak-anaknya untuk membiasakan diri mengucapkan "3 magic word". Ketiga magic word itu adalah: terima kasih, tolong, dan maaf (thanks, please, sorry). Sangat mudah diucapkan namun perlu pembiasaan yang konsisten agar menjadi karakter dalam diri seorang anak. Saya pribadi juga mengajarkan magic word tersebut pada anak-anak saya sejak dini.
Menurut pengalaman saya merantau 2 tahun di negeri Kangguru, saya merasa bahwa sebagian orang Asia (kebanyakan orang melayu, Indonesia, India, China) ternyata cukup sulit untuk mengucapkan 3 magic word itu dalam interaksi sehari-hari (seperti di kendaraan umum, di toko, di kampus, di taman, di lift, dan sebagainya) jika dibanding dengan orang-orang bule (orang bule di sini maksudnya non Asia ya, seperti orang Australia, New Zealand, Amerika, Eropa, dan sebagainya).
Orang-orang bule itu sangat mudah menggunakan ketiga magic word tersebut dalam interaksi sehari-hari. Misalnya, saat di halte bus mereka tidak sengaja menyenggol saya mereka langsung meminta maaf (maklum badan saya kan mini, jadi berada di antara orang bule yang segede kulkas 2 pintu gitu seringnya saya kegencet atau kesenggol, meski mereka senggolnya pelan, tapi karena perbedaan dimensi badan jadi berasa ke saya kenceng, hahaha, tapi saya yakin mereka tidak sengaja melakukannya).
Misalnya lagi, saat berpapasan dengan orang bule di tempat umum yang mengharuskan melalui pintu, pasti si orang bulenya akan membukakan dan menahan pintu itu sampai saya selesai masuk/keluar dengan sempurna (make sure saya kagak kejedot), tentunya saya tak lupa mengucapkan terima kasih dong.
Ada lagi saat orang bule berjalan-jalan bersama anjingnya kemudian berpapasan dengan saya yang terlihat mengenakan jilbab, pasti mereka menarik tali leher si anjing agar merapat ke dirinya sendiri dan mengatakan maaf pada saya. Padahal saya sih santai aja jalannya, gak tampak ketakutan dengan si anjing, karena saya tahu si bule sudah menggenggam tali leher anjingnya.
Jadi, mengapa orang bule lebih disiplin mengucapkan terima kasih, tolong, dan maaf sesuai konteks kondisi sehari-hari, dibanding sebagian orang non bule?
Saya sendiri orang non bule kan, Alhamdulillah saya selalu tanamkan dalam pikiran untuk senantiasa mengingat mengucap 3 magic word sesuai konteks kejadian dalam interaksi keseharian saya.


2. Jangan Bertanya Mengenai Hal Sensitif

Nah, ini yang kadang bikin orang jadi super duper baper. Hehe. Orang-orang Indonesia yang terkenal akan keramahannya, terkadang suka berbasa-basi jika bertemu teman, saudara, atau koleganya. Namun, kadang basa-basi ini yang menimbulkan kebaperan tingkat dewa. Bagaimana tidak, biasanya dalam basa-basi itu memasukkan pertanyaan-pertanyaan yang basi banget kalo dipikir, hahaha.
Misalnya nih, kalo masih kuliah basa-basinya ditanya kapan wisuda, kemudian kalo sudah wisuda ditanya kerja di mana, terus tahap setelahnya, sudah mapan dan punya pekerjaan lalu kapan mau menikah.
Ketika sudah menikah, ditanya kapan punya anak. Saat sudah punya anak pun, masih ditanya kapan punya anak kedua, ketiga, dst. Basi banget, kan?
Padahal semua jawaban dari pertanyaan itu tadi membutuhkan campur tangan takdir dari Yang Maha Kuasa, tidak hanya ikhtiar manusianya saja. Setiap orang pasti sudah berikhtiar yang terbaik, namun takdir tidak bisa ditolak, ya kan.
"Setiap manusia menghadapi medan pertempurannya sendiri,
tak perlu risau bagaimana dia akan menghadapinya,
Tuhan sudah menyertakan akal pikiran,
untuk membuatnya kuat menghadapi medan pertempuran itu."
-Bundamami-
Perlu diingat, setiap manusia memiliki medan pertempurannya sendiri, memiliki permasalahan masing-masing. Tidak ada manusia yang bebas dari masalah. Jika memang orang itu ingin memberitahu masalah dirinya pada orang lain, dia akan menceritakannya sendiri, tak perlu diinvestigasi dengan aneka pertanyaan tadi.
Jika orang tidak ingin membicarakan topik tersebut, berarti memang topik itu membuatnya tidak nyaman untuk dibahas. Tak perlu dipaksa untuk menjawab pertanyaan basa-basi dan konyol tadi, ya.
Oiya, satu lagi pertanyaan sensitif yang tidak perlu ditanyakan yaitu usia dan berat badan. Terutama pada wanita, tolong jangan tanyakan itu jika kamu ingin selamat, hahaha.

3. Jangan Menatap Aneh Orang yang Sedang Mengalami Masalah

Pernah melihat seseorang tidak sengaja menyenggol dan menjatuhkan tumpukan snack di supermarket? Jika memang berniat ikut membantu membereskan, segera dekati dan tawarkan bantuan. Jika tidak berniat membantu, segera tinggalkan dan jangan berlama-lama memberi tatapan aneh yang menyudutkan dan membuat orang semakin panik serta merasa bersalah.
Contoh lain, seorang ibu dengan balita yang sedang tantrum di tempat umum, jangan memberinya tatapan aneh dan menghakimi. Cukup tinggalkan saja, sang ibu biasanya sudah memiliki pola dan strategi untuk menyelesaikan sendiri kebiasaan tantrum anaknya. Jika kamu berlama-lama menatapnya, akan membuat ibunya tidak nyaman dan balita tersebut semakin menjadi-jadi tantrumnya.

4. Tahu Diri Jika Ditraktir

Sesekali ditraktir makan oleh teman, saudara, atau kolega memang menyenangkan, namun tetap harus ada sopan santunnya, ya.
Jika ditraktir makan, mintalah si pentraktir untuk memilihkan menu untuk kamu. Dilarang protes apapun yang dipesankan, kecuali memang berkaitan dengan gangguan kesehatan yang kamu miliki, misalnya gak ngopi karena hipertensi, maka tolaklah secara halus dan jelaskan alasannya dengan jujur.
Jika pentraktir menyerahkan pemilihan menu padamu, pilihlah menu dengan harga murah atau standar. Jangan memilih menu yang paling mahal, mentang-mentang ditraktir/gratis.
Jika ditraktir bayar taksi atau menonton film, jangan lupa next time gantian kamu yang mentraktir temanmu itu.

5. Perhatikan Aturan Mengobrol

Ini nih, hal penting yang sering terlupakan. Jika kita sedang berbicara dengan teman, sering kita tidak sabar ingin segera menanggapi atau bertanya tentang sesuatu dalam topik pembicaraan kita.
Nah, perlu diingat bahwa kita harus menahan diri untuk tidak menginterupsi/memotong pembicaraan orang, jika tidak benar-benar darurat.
Darurat di sini, contohnya ketika kita tidak memotong pembicaraan tersebut akan terjadi sesuatu yang mengancam jiwa, seperti memberitahu teman yang berbicara bahwa ada kendaraan bergerak ke arahnya dan kemungkinan akan menabrak dia, maka kita diperbolehkan memotong pembicaraannya. Atau bisa juga, ketika kita kebelet buang air kecil, sementara teman kita masih berbicara panjang kali lebar kali tinggi, maka kita bisa segera memotong pembicaraan tersebut, agar tidak terjadi insiden toilet pindah ke tempat kita berbicara alias ngompol, hehe.
Untuk pembicaraan melalui telpon, selain kita tidak boleh memotong pembicaraan kecuali darurat, ada juga aturan menelpon orang lain.
Jika kamu menelepon orang lain, pada panggilan pertama tidak ada jawaban, maka kamu hanya boleh menelepon lagi berturut-turut maksimal 2 kali. Setelah 2 kali tetap tidak ada jawaban, maka hentikan. Pastinya orang tersebut punya alasan penting lain sampai dia tidak bisa menjawab teleponmu. Beri jeda waktu. Jika memang benar-benar penting, tentunya dia akan menelepon balik saat dia sudah tidak sibuk. Atau kamu dapat menelepon lagi selang 2 jam berikutnya.
Selain kedua aturan mengobrol di atas, ada 1 aturan lagi, yaitu tataplah orang yang sedang berbicara denganmu. Jangan berbicara dengan orang lain sambil memainkan ponselmu. Hal itu sangat tidak sopan. Saat berbicara dengan orang lain, beri respon di waktu yang tepat dan tidak menghakimi. Jangan lupa gunakan pilihan kata yang baik dan sopan, ya.

6. Beri Pujian di Depan Umum & Beri Kritik/Nasihat Secara Pribadi

Aturan satu ini masih juga banyak yang melanggar. Entah karena belum tahu, tidak sengaja karena kondisi dan situasi, atau memang sengaja melakukannya untuk tujuan tertentu. Bahkan ulama besar pernah menuliskan,
"Nasihatilah diriku di kala aku sendiri.
Jangan kau nasihati aku di tengah keramaian.
Karena nasihat di muka umum,
adalah bagian dari penghinaan,
yang aku tak suka mendengarnya.
Jika kau enggan dan tetap melanggar kata-kataku ini,
maka jangan heran jika aku pun enggan mematuhi nasihatmu."
-Imam Syafi'i-
Dari quote itu kita bisa tahu, bahwa setiap manusia pasti enggan dinasihati di hadapan orang lain. Siapapun dan apapun alasannya, semua sama, enggan dipermalukan di muka umum. Untuk itu, penting diingat bahwa jika ingin menasihati atau menyampaikan kritik, sampaikanlah secara pribadi, jangan di depan orang lain.
Di era zaman now ini, yang dimaksud muka umum sama saja dengan medsos ya. Jika memang ada informasi yang harus diluruskan, maka sampaikan pesan pribadi langsung pada orang yang dimaksud. Jangan menyampaikannya di grup WA, atau di postingan Facebook atau Instagram, dan sebagainya.
Hal ini berlaku sebaliknya terhadap pujian. Jika memang seseorang layak mendapat pujian, maka sampaikanlah di muka umum atau khalayak ramai. Karena pujian sifatnya positif, yakni membangun kepercayaan diri orang tersebut dan membuat orang lain bersemangat untuk meneladani kebaikan, kiprah, atau prestasi yang membuat dia layak menerima pujian.
Sebagai emak/bunda/ibu/mama/mami, pernah gak sih kadang kita kelepasan marah/ngomelin anak di hadapan orang lain/di luar rumah?
Saya pernah, biasanya marah/ngomelnya gak kenceng sih, dengan kode mata melotot dan bisikan-bisikan maut, hahaha. Sebenarnya ini sebuah kesalahan. Ya, namanya juga manusia tidak luput dari salah dan dosa, hiks.
Ketika sudah reda amarahnya, saya sering menyesal dan sedih mengingat raut wajah anak saya saat dimarahin. Ya, inilah salah satu kekurangan saya, kurang sabar. Kadang maksud saya ingin segera memberitahu kesalahan anak agar tidak terulang di kemudian hari, dan agar saya gak keburu lupa juga. Kalo sudah sampai rumah, tertumpuk dengan aktivitas lain, terus lupa mau menasihati apa. Jangan ditiru ya buibu, makemak, bubunda, mamama semua. Hahaha.

7. Beri Perlakuan Sama Baiknya pada Semua Orang

Ini maksudnya, kita tidak boleh membeda-bedakan orang ya. Apakah itu CEO perusahaan terkenal, petugas cleaning service, asisten rumah tangga, pedagang keliling, dokter, dan sebagainya, semua berhak diperlakukan secara baik, sopan, dan adil.
Jangan mentang-mentang sedang berbicara dengan seorang CEO lalu kamu melembutkan suara, menunduk dengan hormat, dan sebagainya. Namun ketika memperlakukan petugas cleaning service kamu bentak-bentak kasar, melotot, dan berlaku tidak sopan.
Kamu tidak akan turun derajat atau jabatan jika memperlakukan petugas cleaning service dengan baik, sopan, dan manusiawi. Justru kamu akan mendapat banyak teman dan menarik simpati orang-orang.
Siapapun itu, perlakukanlah dengan objektif, tidak berdasarkan jabatan, harta, kedudukan, apalagi ganteng atau cantiknya, hahaha. Jangan sampai ya.

Nah, itu dia 7 aturan sosial yang tak tertulis, namun ampuh efek sanksi pelanggarannya. Semoga kita semua bisa istiqomah dan konsisten dalam mematuhi aturan itu, di manapun serta dalam kondisi apapun. Aamiin.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Challenge SETIP with Estrilook #day6

Custom Post Signature