Review: Novel Perempuan Penyulam Sabar

Review Novel Perempuan Penyulam Sabar



Assalamualaikum Sobat Bunda...


Wah, enggak terasa 4 bulan lamanya blog ini tak terjamah. Dengan alasan kesibukan yang meningkat dan segala alasan lain, sukses membuat blog ini terasing di belantara digital. Upss istilahnya lebay yak, hehe. Intinya cuma mau bilang, selama 4 bulan ini blog enggak terurus, hiks... 


Setelah sekian lama enggak menulis di sini, akhirnya muncul juga kerinduan untuk menumpahkan segala cerita di blog, haha. Nah, hari ini kangen menulis, makanya buru-buru menengok blog yang sudah mulai dihuni sarang laba-laba.


Hari ini Bundamami mau menulis tentang review novel, yang berjudul Perempuan Penyulam Sabar. Baca novel ini, sukses bikin aku butuh tissue dan menangis Bombay di beberapa bagian. Bagaimana tidak, perasaan pembaca dicampur aduk bak naik rollercoaster (saya agak lebay sih, haha) lalu dengan ending yang sama sekali di luar dugaan.



Novel Siapa, nih?


Awalnya aku menemukan novel ini di FB. Saat itu saudara sepupuku menulis status tentang novel ini. Dari baca status saudara sepupuku inilah, aku tertarik membaca novel tersebut. Akhirnya dapatlah gratis karena dibelikan saudara sepupuku, hehehe. Ternyata, penulis novel tersebut adalah adik dari teman sepupuku itu. Takjub aku dibuatnya, ada orang dari kampung halamanku (sesama dari Situbondo) yang jadi penulis novel sekeren ini?!? Jadi ikutan bangga, nih.



Sinopsis Novel


Novel ini bercerita tentang seorang wanita yang menurutku, objek penderita banget. Pokoknya segala macam masalah dan ujian datang silih berganti. 


Buku ini terdiri dari 4 Bab. Pada 3 Bab pertama, masing-masing bab memiliki fokus tokoh seorang wanita yang berbeda. Dan, di bab terakhir barulah ketiga tokoh wanita tersebut menjadi 1 kesatuan cerita dan konflik yang utuh, dengan satu tokoh utama yaitu wanita bernama Mutiara.



Pendapatku...


Dikisahkan, Mutiara adalah seorang wanita tangguh yang dengan tegar menghadapi satu-persatu ujian hidup yang menghampiri. Tak melulu soal percintaan, tapi juga mengangkat eksotisme kecantikan alam beberapa kota di Indonesia dan Singapura. 


Cinta, pengorbanan, dan pengabdian pada keluarga, serta dibalut untaian kalimat sistematis nan indah. Menurut saya, novel ini layak bersaing dengan jajaran novel-novel keren di toko buku sana.


Sayang sekali, karena diterbitkan secara indie dan dengan kualitas penerbit indie yang kurang mumpuni, ada kesalahan-kesalahan kecil yang menghampiri di beberapa bagian. Maaf, ini penyakit editor. Kalau baca buku memang begini ini, malah matanya sambil mengedit, perhatikan typo dan kesalahan-kesalahan yang lolos, terus gemas sendiri, haha.


Selain ide dan jalan cerita yang menurutku menarik, novel ini juga menampilkan kepiawaian penulis yaitu Puspa Seruni dalam merangkai untaian kalimat yang menurutku cukup efektif, sistematis, tapi tetap indah. Keterampilan yang cukup sulit dan butuh jam terbang menulis yang tinggi, lho


Menurut saya, banyak penulis novel lain yang tulisannya puitis banget, tapi malah membuat inti cerita enggak jelas dan terkesan muter-muter doang. Namun, berbeda dengan karya Puspa Seruni yang satu ini. Puspa Seruni sangat cermat meletakkan kalimat per kalimat hingga membentuk kesatuan cerita yang cukup 'bernyawa'. Ini saya cuplik sedikit kalimatnya di halaman persembahan.


Kupersembahkan karya ini... Untuk para perempuan yang berjuang menegakkan kepala dan mengusap air matanya sendiri. Untuk para perempuan yang sepenuh hati belajar rida atas ketidaknyamanan takdir yang kerap datang bertandang. Untuk sumber kekuatanku, Rania dan Tita, yang menjadi pelecut semangat bagiku terus belajar tentang sabar dan syukur. Juga untukmu, seseorang yang kusebut dalam hening malam dan kesendirianku, yang kepada-Nya kuminta segala kebaikan bagimu dan juga bagiku. -Puspa Seruni-



Kesimpulan


Buat saya, novel ini mengajarkan arti sabar dan syukur yang sesungguhnya. Hidup itu simple aja, cukup sabar dan syukur, insya Allah kehidupan akan selalu on the track sesuai dengan tujuan awal manusia diciptakan, yaitu untuk beribadah, seperti yang termaktub dalam Al Quran.


 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz Dzariyat: 56)


Gimana, penasaran dengan cerita keseluruhan? Saya enggak akan cerita di sini. Silakan beli bukunya langsung ke Mbak Puspa Seruni (Cari di FB, ya). Bukan ke saya lho, karena saya cuma review, bukan jualan, hahaha.


Oke, see u next time sobat Bundamami semua...


Wassalamualaikum


#AyoHijrah Jauhi Riba Hidup Berkah Bersama Bank Muamalat Indonesia

Ayo Hijrah Jauhi Riba Hidup Berkah

Assalamualaikum wr. wrb.


Hai hai sobat Bunda, kali ini saya ingin membahas mengenai pengalaman menggunakan layanan perbankan dari sebuah bank syariah terkemuka di Indonesia. Bank mana, tuh? Pastinya hanya Bank Muamalat Indonesia, bank yang pertama kali menerapkan sistem murni syariah di Indonesia. 


Sejak didirikan pada 1992, PT. Bank Muamalat Indonesia, Tbk. berkomitmen untuk menjadi bank syariah terbaik dan termasuk dalam 10 besar bank di Indonesia yang eksistensinya diakui di tingkat regional.


Pertama kali menggunakan layanan perbankan dari Bank Muamalat Indonesia ini, saat saya akan membuka tabungan haji. Berbeda dengan suami saya, yang sudah menjadi nasabah Bank Muamalat Indonesia sejak masih kuliah, sudah lama banget, dong. 


Pelayanan di Bank Muamalat Indonesia ini memang benar-benar kualitas terbaik menurut saya. Petugasnya ramah dan sopan banget. Gak jutek sama sekali. Produk layanannya juga sangat beragam dan mampu memenuhi kebutuhan semua segmentasi masyarakat. Dari mulai tabungan biasa, tabungan pendidikan, deposito, hingga untuk keperluan ibadah. Komplit banget.



Tabungan Haji Impian


Kisah di balik upaya kami untuk menggenapi tabungan haji, agar bisa mencapai nominal 25 juta/orang, sehingga mendapat nomor antrian keberangkatan di Departemen Agama, sungguh bukanlah sesuatu yang mudah. Kami mengumpulkannya sedikit demi sedikit dari penghasilan dengan berhemat di sana-sini dan sekuat tenaga menahan diri dari segala godaan belanja yang terkutuk, hehehe.



Sedekah


Kami juga meningkatkan porsi sedekah dan ibadah kami. Menurut beberapa ustadz yang terkenal di TV itu, jika ingin doa kita lebih cepat dikabulkan oleh Allah, maka tambah lagi sedekahnya. 


Awalnya sih saya tidak 100% percaya. Ya iyalah, kita gak boleh percaya 100% pada ustadz, kita hanya boleh 100% percaya pada Allah dan rasul-Nya, hehe. 


Menurut saya, itu mungkin hanya berlaku untuk para ustadz dan alim ulama, yang ilmu agama serta kualitas ibadahnya sudah tingkat tinggi, yang sudah sangat dekat dengan Allah. Wah, kalau begitu apa kabar dengan saya, yang ibadahnya pas-pasan gini, ustadzah bukan, alim ulama juga bukan. 


Apa iya bisa mengikuti anjuran mereka untuk bersedekah dengan jumlah yang fantastis, agar doanya cepat terkabul? Kayaknya gak mungkin deh. Namun, rasa penasaran itu ada.


Penasaran ingin membuktikan validitas ceramah para ustadz tentang sedekah itu, perlahan kami tambah pos-pos sedekah. Meski tidak banyak (bahkan terbilang sangat kecil), tetapi kami usahakan konsisten jumlah dan waktunya. Sambil terus berdoa tanpa kenal lelah. Kemudian kami juga berusaha mendirikan shalat tepat waktu. Meski cukup sulit di awal adaptasi, namun akhirnya bisa terbiasa. Dan juga 1 hal yang paling kami hindari yaitu riba.



Jauhi Riba


Jika kami ingin membeli barang, kami memilih untuk menabung terlebih dahulu. Setelah dirasa dananya cukup di tabungan, kami baru membeli secara cash


Bahkan, untuk mobil yang saat itu memang kami butuhkan, karena cuaca di daerah kami cukup anomali, kadang hujan dan tiba-tiba panas kembali. Sementara, jika kami berkendara dengan sepeda motor sudah tidak memungkinkan lagi karena naik motor sekeluarga yang cuma 4 orang ini, sudah berasa mirip beruang sirkus naik sepeda roda 1, penuh gaesss. Belum lagi kalau tiba-tiba hujan, semakin bikin ngakak tuh beruang sirkus, hahaha.


Saat itu, kami sudah cukup bahagia dengan membeli mobil bekas, karena dana yang ada saat itu memang cukup untuk sebuah mobil bekas nan imut. Gapapalah bekas, tapi kondisi masih mulus karena memang baru 1 tahun dipakai oleh pemilik yang pertama. Semua masih berfungsi optimal dan yang terpenting kami tidak terlilit hutang riba.


Kami sungguh ngeri membaca efek dari riba tersebut. Menurut ceramah para ustadz di TV dan Youtube, riba itu diharamkan, bahkan sejak dahulu sebelum islam hadir.


Allah SWT berfirman, “Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya.” (QS. An Nisaa’: 161).  Maksudnya adalah riba ini sudah dilarang sejak dahulu pada syari’at sebelum Islam. (Mughnil Muhtaj, 6/309)


Sudah banyak ulama yang menyerukan untuk menghindari riba karena dosa riba itu sungguh tidak main-main pembalasannya. Beneran ngeRIBAnget, lho.


Rasulullah SAW bersabda, yang artinya:
“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini shahih)


Bahkan, yang menurut saya paling ngeRIBAnget itu, jika praktik riba sudah merajalela di suatu negeri. Maka, secara tersirat negeri tersebut layak mendapat azab dari Allah. Ya ampun, naudzubillahimindzalik. Semoga Indonesia bukan termasuk negeri yang layak diazab. Aamiiin.


Rasulullah SAW bersabda, yang artinya:
“Apabila telah marak perzinaan dan praktik ribawi di suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan diri mereka untuk diazab oleh Allah.” (HR. Al-Hakim. Beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Imam Adz-Dzahabi mengatakan, hadits ini shahih. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi, sebagaimana disebut dalam Shahih At-Targhib wa Tarhib, no. 1859)


Sejak 2 tahun lalu, dengan segala daya upaya mendekatkan diri pada Allah dan menjauhi riba, akhirnya saya dan suami mempunyai tabungan haji di Bank Muamalat Indonesia. Sudah terdaftar ke Departemen Agama dan mendapat nomor antrian keberangkatan pula. 


Meski keberangkatannya masih beberapa tahun lagi (masih lama banget), namun kami sudah cukup bahagia dengan hal ini. Setidaknya kami sudah berusaha melangkah, mempersiapkan, dan memantaskan diri untuk menjadi tamu Allah di Baitullah.



Mengapa Harus Bank Muamalat?


Untuk keperluan menabung, mendaftar haji dan deposito, sengaja saya pilih bank syariah yang sudah terbukti kualitas pelayanannya, yaitu Bank Muamalat Indonesia. Kan, banyak tuh bank-bank syariah sekarang ini, lantas mengapa harus Bank Muamalat, sih? Karena:

  1. Bank Muamalat merupakan bank pertama yang murni syariah di Indonesia.
  2. Bank Muamalat tidak menginduk dari bank konvensional lain, jadi sudah terjamin kemurnian sistem syariah yang digunakan.
  3. Pengelolaan dana di Bank Muamalat ini didasarkan pada prinsip ekonomi syariah yang diawasi langsung oleh Dewan Pengawas Syariah.
  4. Bank Muamalat memiliki produk dan layanan keuangan cukup lengkap dan ditunjang berbagai fasilitas canggih hingga ke luar negeri. Fasilitas tersebut antara lain: Mobile Banking, Internet Banking, jaringan ATM, dan kantor cabang yang tersebar di banyak daerah di Indonesia.



#AyoHijrah Berani Lebih Baik


Pada Oktober 2018 lalu, Bank Muamalat meluncurkan kampanye #AyoHijrah. Dalam kampanye tersebut, Bank Muamalat Indonesia mengajak masyarakat Indonesia untuk berubah menjadi lebih baik dalam menjalankan ajaran Islam yang sempurna dan menyeluruh (kaffah). 


Berhijrah di sini maksudnya tidak hanya aktivitas yang menyangkut ibadah, lho. Namun, juga aktivitas keseharian lainnya, termasuk pengelolaan keuangan, khususnya dalam layanan perbankan.


Hijrah itu memiliki makna berpindah, dengan tujuan untuk menjadi lebih baik tentunya. Hijrah bisa diterapkan pada segala sesuatu yang lebih luas maknanya. Mulai dari menghijrahkan diri secara lahir maupun batin. Misalnya secara lahir, dari yang tak berjilbab berhijrah menjadi berjilbab. Secara batin, dari yang suka gosipin orang, berhijrah lebih menahan diri tidak berghibah, memanfaatkan waktunya untuk fokus pada hal-hal yang lebih produktif, sehingga tidak sempat memikirkan untuk menggunjingkan orang lain, dan masih banyak lagi. 


Dalam dunia perbankan, juga dikenal hijrah dengan beralih menggunakan jasa layanan perbankan yang menggunakan sistem syariah, seperti yang sedang dikampanyekan oleh Bank Muamalat Indonesia itu.



Apa Saja Bentuk Kampanye #AyoHijrah ini?


Bank Muamalat Indonesia itu kreatif banget mengemas pesan kampanye #AyoHijrah dalam kegiatan-kegiatan yang menarik. Misalnya seminar dan edukasi mengenai perbankan syariah, membuka booth di tempat-tempat acara yang melibatkan masyarakat luas, mengadakan kajian islami dengan para ulama sebagai narasumbernya, membantu memberdayakan masjid-masjid untuk menjadi agen perbankan syariah, dan masih banyak lagi.


Selain mengadakan kegiatan-kegiatan tersebut di atas, Bank Muamalat juga melengkapi kampanye #AyoHijrah ini dengan berbagai perubahan layanan yang insya Allah akan lebih berkah dan produktif. Benar-benar totalitas yang patut ditiru kampanye #AyoHijrah ini. 


Perubahan layanan itu berhubungan dengan beberapa nama layanannya, misalnya: tabungan iB Hijrah, tabungan iB Hijrah Haji dan Umrah, tabungan iB Hijrah Rencana, tabungan iB Hijah Prima, tabungan iB Hijrah Prima Berhadiah, Deposito iB Hijrah, Giro iB Hijrah, dan Pembiayaan Rumah iB Hijrah. Tambah keren kan nama-nama produk Bank Muamalat Indonesia kini?!?


Meski hanya penambahan kata "Hijrah" pada semua nama layanannya, tetapi tidak menampik bahwa perubahan nama itu juga diikuti peningkatan kualitas layanan serta memberi efek positif bagi nasabahnya. Setidaknya jadi lebih tenang dan tenteram di hati karena sudah berusaha berhijrah melalui penggunaan layanan perbankan syariah ini.


Dengan kampanye #AyoHijrah ini, Bank Muamalat Indonesia bercita-cita menjadi pusat Ekosistem Ekonomi Syariah dan turut serta membangun industri halal di Indonesia melalui pemanfaatan teknologi terkini. Semoga segera terwujud. Aamiiin.


Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai program #AyoHijrah ini, kalian bisa berkunjung ke Media sosialnya di Facebook, Instagram, Twitter, Youtube.



Kesimpulan

Jika kalian sudah ada niat untuk berhijrah, (berhijrah dalam hal apapun itu, termasuk untuk layanan perbankan), maka segerakanlah. Jangan menunggu lagi. Yakinlah Allah akan menyertai, membimbing, dan menolong, jika niat kalian murni karena Allah. 


Jangan patah semangat jika di tengah proses berhijrah, Allah mengujimu dengan berbagai cobaan. Mungkin Allah ingin membersihkan dirimu dari dosa-dosa terdahulu. Jadi, ketika kamu sudah mantap di jalan hijrah, kamu akan memasuki kehidupan baru yang berkah, tenteram, dan tidak lagi bergelimang dosa. Insya Allah.


Semangat #AyoHijrah, Berani Lebih Baik, Jauhi Riba, Hidup Berkah!


Wassalamualaikum wr. wb.



Referensi:
Sumber ayat dan hadist: www.rumaysho.com


Review Buku: Agar Suami Tak Mendua

Review Buku Agar Suami Tak Mendua

Assalamualaikum Sobat Bunda,
Malam ini, saya ingin me-review sebuah buku. Kenapa? Karena saya sedang membaca sebuah buku yang isinya sarat manfaat dan insya Allah membawa berkah bagi siapa pun yang membaca, menyerap, serta mempraktikkan ilmu di dalamnya. 


Saking inginnya ilmu di dalam buku tersebut tidak hanya bermanfaat untuk saya pribadi, tetapi juga untuk saudara saya tercinta. Akhirnya saya terpikir menjadikan buku tersebut sebagai kado di hari ulang tahun pernikahan Mbak Ipar saya.


Alhamdulillah Mbak Ipar saya happy banget menerimanya. Selain karena pengemasan kadonya yang cantik (ini saya minta tolong seorang sahabat yang baik hati dan berdomisili sama dengan rumah Mbak Ipar saya, untuk membelikan buku tersebut, kemudian dikemas cantik beserta buket bunga segar dan dikirim ke rumah Mbak Ipar saya), juga karena isinya yang Masya Allah menginspirasi banget. Jadi penasaran sama bukunya, kan?


Review Judul

Buku ini berjudul "Agar Suami Tak Mendua", ditulis oleh Mbak Muyassaroh, pemilik blog muyass.com dan sekaligus founder Estrilook, sebuah laman keren yang berisi artikel berbagai tema khusus wanita.


Saat pertama kali membaca judulnya, jujur saya sempat mengernyitkan kening. Kok judulnya begitu banget, sih? Jadi ingat, ketika saya masih bekerja sebagai editor di sebuah penerbit di Jogja. Setiap ada buku yang akan naik cetak, pasti kami para editor diminta mengkritisi dan mencari judul yang pas serta memiliki segmen jangkauan pembaca yang seluas-luasnya.


Menurut saya pribadi, judul "Agar Suami Tak Mendua" sudah cukup 'eye catching,' ya. Menarik dan bikin penasaran. Namun, sayang sekali judul tersebut memiliki jangkauan segmen pembaca yang terbatas. 


Di situ menyebut kata suami, berarti target pembaca untuk wanita yang sudah menikah atau memiliki suami. Padahal, jika dilihat lebih jauh ke dalam isinya, buku tersebut tidak hanya cocok dibaca oleh wanita yang sudah bersuami. Buku tersebut juga perlu dan sangat bermanfaat jika dibaca oleh calon pengantin wanita dan semua wanita yang sudah berniat untuk menikah. 


Mengapa? Karena isi bukunya mengajarkan banyak ilmu yang bisa dipraktikkan dalam bahtera rumah tangga. Jika sebelum memasuki jenjang pernikahan calon mempelai wanita sudah membekali diri dengan aneka ilmu di dalam buku ini, tentunya dia akan memasuki gerbang pernikahan dengan mantap, penuh percaya diri, dan insya Allah akan lebih terarah dalam menjalani setiap fase pernikahannya. Itu dari segi judul ya...


Review Layout

Next, dari segi layout isi. Nah, setelah kening saya mengernyit saat membaca judul. Saat membuka bagian isi, saya tersenyum bahagia. Happy banget melihatnya. Layout isinya benar-benar cantik dan memanjakan mata. 


Saya paling suka pemilihan font/jenis hurufnya. Sampai-sampai saya menanyakan pada penulisnya, "Itu pakai font apa ya, Mbak?" Dan penulisnya pun enggak tahu itu font apa. Oke, gapapa, memang font itu urusan layouter dan editor, sih. Hehehe.


Selain layout yang rapi dan nyaman dibaca, gaya menulis dan pola isinya juga sangat menarik. Enggak bikin bosan. 


Buku-buku tentang pernikahan yang ada selama ini kebanyakan agak membosankan. Beda banget dengan Agar Suami Tak Mendua (ASTM). ASTM ini menurut saya 2in1 (macam iklan sampo aja, hehe). 


Iya bener 2in1, fiksi dan nonfiksi bergabung menjadi satu. Ada penggalan kisah fiksi yang menginspirasi dan bikin penasaran ending-nya, tetapi juga disertai bagian nonfiksi yang sarat ilmu (bahkan beberapa bagian dilengkapi dengan rujukan penggalan ayat dan hadis shahih) yang mudah dipahami bahasanya dan tidak terkesan menggurui.


Review Isi

Topik bahasan sangat lengkap dan gaya bahasanya mengalir banget. Di sini, sengaja saya tidak membahas detail isi atau spoiler ya, biar kalian penasaran dan membaca sendiri bukunya. Saya jamin, tidak akan menyesal beli dan baca buku ini.


Kesimpulan

Akhirnya, semoga buku ini dapat menebar manfaat sebanyak-banyaknya dan membuat keluarga Indonesia semakin sakinah mawaddah warahmah. Insya Allah yang nantinya akan berefek pada kemampuan mencetak generasi penerus Indonesia yang berakhlak mulia, berprestasi, dan percaya diri, semuanya dimulai dari keluarga-keluarga sakinah itu tadi. Aamiiin...


Selamat membaca bukunya ya... O iya, buku ini bisa kalian beli di seluruh cabang Toko Buku Gramedia. Harganya cukup terjangkau, jika dibanding dengan manfaatnya yang luar biasa besar. So, cusss beli bukunya dan segera serap semua ilmu di dalamnya.



5 Tips Produktif Menulis ala Bundamami

5 Tips Produktif Menulis ala Bundamami

Assalamualaikum Sobat Bunda,


Hari ini saya mau cerita tentang bagaimana cara untuk tetap produktif menulis. Sebenarnya, saya juga belum produktif-produktif amat sih menulisnya, masih sering mepet-mepet jadwal deadline, masih sering menunda-nunda dan lebih suka menonton Asian Food Channel daripada menulis dan kegiatan-kegiatan lain yang kadang jadi prioritas lebih utama selain menulis.


Terus, kenapa saya pede banget sharing tips produktif menulis? Kesannya saya sok tahu banget ya? Bakalan digetok sama blogger dan penulis profesional nih kayaknya, hahaha. 


Sebenarnya saya menuliskan tips ini, tak lain dan tak bukan untuk pengingat diri saya sendiri. Setelah dipikir lagi, daripada cuma disimpan di pikiran dan lama-kelamaan jadi lupa, lebih baik saya tuliskan di blog. Jika ada teman-teman Sobat Bunda yang merasa tips ini bermanfaat, ya silakan dicoba. Seperti apa tips-nya? Yuk, cekidot Sob!



1. Atur Prioritas

Atur prioritas kegiatanmu. Kalo masih kuliah, mungkin prioritasnya urusan kuliah, ya. Jadi menulis bisa dikerjakan setelah tugas-tugas kuliah dan aktivitas di kampus beres. 


Beda lagi jika kita seorang ibu rumah tangga, utamakan mengurus anak dan rumah dulu, baru kemudian kerjakan aktivitas menulismu. Setiap tahap usia dan peran kehidupan, setiap orang pasti punya prioritas tersendiri. Dan, prioritas ini bisa berubah-ubah, lho. Memang sudah selayaknya prioritas itu ditinjau ulang setiap rentang waktu tertentu.


Jika dulu waktu masih awal menikah, misalnya prioritas kita berusaha memiliki momongan dan bekerja lebih giat menyiapkan pundi-pundi tabungan untuk menyambut kelahiran putra pertama. Maka, pada rentang usia perkawinan selanjutnya, prioritas kita tentu berubah. Misalnya menjadi lebih fokus mengurus dan memperhatikan tumbuh kembang anak, mulai menyiapkan dana pendidikan anak. Kemudian pada tahap selanjutnya, mulai menyiapkan dana pensiun, dan sebagainya. Idealnya, minimal setiap tahun kita dapat mengevaluasi prioritas hidup dan kehidupan kita.


Kembali ke produktivitas menulis, atur prioritas maksudnya kita harus bisa menempatkan aktivitas menulis ini di urutan prioritas ke berapa, bergantung pada kondisi kehidupan masing-masing. Hanya pelaku kehidupan itulah yang bisa menyusun prioritas tersebut. 


Jadi, pandai-pandailah mengatur prioritas ya, Sob. Jika memang menulis merupakan prioritas utamamu, maka kamu akan menempatkannya di atas kegiatan-kegiatan lainnya. Dan, akhirnya kamu akan meluangkan lebih banyak waktu dan perhatian untuk kegiatan menulis tersebut.



2. Kuatkan Niat Awal

Menukil sebuah hadis yang maknanya bahwa segala amal perbuatan dinilai dari niatnya. Niat awal kamu menulis itu apa? Tanyakan pada dirimu sendiri. Jujurlah pada diri sendiri.


Jika niatmu menulis hanya untuk mengisi waktu luang, maka tentunya kamu akan melakukan aktivitas menulis hanya saat memiliki waktu luang, begitu kan logikanya? Lain halnya jika niatmu menulis adalah untuk menebar kebaikan dan manfaat, menyalurkan hobi dan passion. Jika seperti ini maka kamu akan selalu produktif menghasilkan tulisan, misalnya sesibuk apa pun aktivitas harianmu, pasti kamu meluangkan waktu untuk menulis, rajin meng-update ilmu tentang menulis, rajin membaca referensi yang sesuai tema yang sedang kamu tulis, dan sebagainya.


Akan berbeda halnya jika menulis hanya sekedar pengisi waktu luang, atau kamu niatkan sebagai kegiatan sampingan. Biasanya kamu akan mengerjakan seadanya dan semampunya.


Nah, dari niat itu bisa dibedakan produktivitasnya, kan? Yang memiliki niat baik atau kokoh, serta tekad kuat, pasti melahirkan produktivitas menulis yang lebih tinggi pula.



3. Fokus

Fokus ini memiliki 2 area cakupan yang sedikit berbeda satu sama lain. Pertama, fokus secara fisik dalam arti mengerjakan 1 pekerjaan dengan penuh konsentrasi dan perhatian. Kedua, fokus dalam hal benar-benar menekuni kegiatan tersebut dalam kehidupan hariannya.


Misalnya fokus secara fisik, saat menulis benar-benar full konsentrasi, tidak menghiraukan berbagai gangguan di luar kegiatan menulis saat itu. Contoh fokus kedua, memiliki hobi menulis dan menyanyi, tetapi memilih fokus pada menulis saja, sedangkan hobi menyanyi hanya sebagai selingan saat ada waktu luang.


Jika kita fokus menekuni dunia menulis, maka produktivitas akan seiring meningkat. Begitu pula jika saat aktivitas menulis, kita tidak mudah tergoda untuk mengerjakan pekerjaan lain, misalnya mengecek ponsel. Maka, pekerjaan menulis kita akan berjalan efektif dan membuat produktivitas meningkat pula. Naskah tulisan cepat selesai, jadi semakin produktif berkarya, kan?



4. Siapkan Referensi Memadai

Nah, faktor referensi ini bisa menyebabkan seseorang rajin atau malas menulis. Kelengkapan referensi akan membuat kita lebih rajin menulis. Kita tidak perlu bolak-balik membuka buku atau sumber online untuk mencari referensi tambahan. Dengan kelengkapan referensi pula, tentunya akan membuat hasil tulisan kita lebih "kaya" pembahasan dari berbagai sudut pandang.


Jadi, untuk meningkatkan produktivitas menulis kita harus siap sedia segala macam referensi/bahan tulisan. Lebih baik lagi jika referensi itu sudah tertanam di kepala kita, artinya sudah dibaca dan dipahami oleh penulis, sehingga tinggal proses kreatif dalam mengolah referensi menjadi bahasan-bahasan baru di buku yang akan kita tulis sesuai ciri khas penulisan masing-masing.



5. Siapkan Tempat, Badan, dan "Sesaji"

Jangan lupa untuk memperhatikan kenyamanan tempat, badan, dan kebutuhan "sesaji" selama proses menulis. Persiapkan semuanya sebelum mulai menulis, ya. 


Tempat

Menyiapkan tempat untuk menulis, akan berefek besar bagi peningkatan produktivitas menulis. Jika tempat menulis kita nyaman, berpenerangan cukup, bersih, sirkulasi udara lancar dan segar, tentunya akan membuat kita betah di tempat tersebut, membuat ide mengalir lancar, dan produktivitas pun seiring meningkat.


Posisi Mengetik yang Ergonomis
sumber: www.dekoruma.com
O iya, yang tak kalah penting juga, atur posisi duduk yang benar dan baik untuk kesehatan. Posisi duduk yang benar yakni punggung tegak lurus, dengan pandangan mata juga tegak lurus ke arah layar komputer/laptop. Seperti gambar ini, nih Sob.


Jadi, produktivitas itu juga berbanding lurus dengan kesehatan. Jika posisi duduk kita benar, tentunya kesehatan akan terjaga optimal, dan semakin produktif menulis menghasilkan karya-karya selanjutnya.


Badan

Selain tempat menulis yang harus memenuhi beberapa persyaratan tadi, yang tak kalah penting juga kondisi badan penulis sendiri. Kondisi tubuh yang bersih, wangi, dan segar tentunya akan membuat nyaman berlama-lama menuangkan ide di depan komputer/laptop, kan?


Jadi, penting untuk diingat, jika ingin produktif menulis, mulailah aktivitas menulismu dalam kondisi badan yang sudah mandi, wangi dan segar, serta berpakaian yang bersih dan nyaman. Enggak perlu rapi-rapi amat sih kalau memang menulisnya di rumah saja, yang penting nyaman. 


Ingat, tingkat kenyamanan pakaian bagi tiap orang berbeda-beda, lho ya. Kalau saya pribadi sangat nyaman berpakaian santai semacam kaos dan celana panjang yang semuanya berbahan katun. Rasanya nyaman banget.


"Sesaji"

Yang harus diperhatikan selanjutnya adalah "sesaji". Duh, maksudnya apaan sih, pakai sesaji segala? Saya nulisnya pakai tanda kutip kan, jadi maksudnya bukan beneran sesaji yang untuk persembahan ritual-ritual mistis gitu. Sesaji di sini maksud saya berupa persediaan makanan dan minuman di samping tempat menulis.


Camilan dan minuman saat menulis itu penting banget, lho. Kenapa? Karena menulis membutuhkan proses berpikir dan proses berpikir ini melibatkan otak, yang bahan bakarnya berupa glukosa dan zat-zat gizi lain, termasuk air. 


Jadi, intinya kalau mau konsen menulis, penuhi dulu kebutuhan perut. Setelah kenyang, jangan lupa siapkan snack dan minum di samping komputer/laptop.


Biasanya saat kita sudah asyik menulis, akan malas beranjak ke tempat lain, kalau memang tidak benar-benar darurat, seperti mau ke toilet.


Untuk menghindari dehidrasi dan menunjang performa berpikir, maka selalu sediakan minimal sebotol air minum dan snack yang jika dimakan tidak menimbulkan banyak remah. 


Snack yang tidak menimbulkan banyak remah ini tentatif, ya. Sesuai selera masing-masing. Kalau saya, sukanya snack yang tidak menimbulkan banyak remah karena biar remah-remahnya tidak mengotori sela-sela keyboard laptop. Kalau keyboard kalian sudah dilindungi oleh penutup silicon, tidak masalah sih makan snack apapun, kan sudah aman, tidak akan tercecer masuk ke sela-sela keyboard laptop/komputer.



Kesimpulan

Nah, itu dia 5 tips produktif menulis ala saya. Semuanya kembali pada kebiasaan, kondisi, dan karakter masing-masing orang lho, ya. Jika memang setuju dan cocok diterapkan untuk kalian, monggo silakan diterapkan. Selamat mencoba!



Yuk, Belajar dari Pengalaman Orang Lain

Belajar dari Pengalaman Tunanetra

Assalamualaikum Sobat Bunda,
Hari ini saya ingin sharing tentang pengalaman pijat, mumpung belum terlalu lama berlalu, jadi belum lupa, hehe.


Beberapa hari yang lalu, suami saya mengeluh leher kaku dan pegal-pegal, mungkin karena terlalu lama duduk di depan laptop atau menyetir. Akhirnya diputuskan, suami saya ingin pijat menggunakan jasa tukang pijat yang dapat dipanggil ke rumah. Kebetulan, masih 1 kompleks dengan tempat tinggal kami, ada sebuah penyedia jasa pijat tunanetra, namanya Enzo Klinik Pijat Tunanetra. 



Enzo Klinik Pijat Tunanetra

Enzo Klinik Pijat Tunanetra ini, selain lokasinya yang sangat dekat, pemesanannya juga mudah, hanya melalui pesan Whatsapp. Sangat praktis untuk era zaman now yang serba online. Ini kali kedua suami saya memesan jasa pijat tunanetra dari Enzo. Yang pertama sekitar 2 bulan lalu, dan kami cukup puas dengan kualitas pelayanannya.


Kemarin, kami memesan jasa pijat sport massage. Dulu, pada kesempatan pertama, kami memesan jenis shiatshu massage. Entahlah apa bedanya, suami saya yang tahu, hehe.


Kemarin, kami memesan sore hari, untuk waktu pemijatan setelah magrib. Di Enzo ini cukup disiplin dalam hal waktu, lho. Jam 18.15 WIB pemijat sudah hadir di depan pagar dengan 1 tas peralatan lengkap dan diantar pihak manajemen Enzo tentunya, karena pemijatnya kan tunanetra.


Oiya sebelumnya sekilas saya jelaskan tentang Enzo, ya. Enzo ini diprakarsai oleh beberapa mahasiswa Unpad yang sedang membuat program usaha (mungkin awalnya tugas dari dosen, kemudian dikerjakan dengan serius dan profesional akhirnya menjadi usaha Enzo Klinik Pijat ini). Tujuan utama usaha tersebut untuk memberdayakan saudara-saudara kita, para tunanetra. Mulia sekali niatnya, lho!



Tahap Pemijatan

Setelah bertemu pelanggan, maka pihak pengantar (manajemen Enzo) akan menjelaskan segala ketentuannya, termasuk memberikan semacam kartu pelanggan, ada stempel kecil di kolom tertentu setiap kita memesan jasa pijat tersebut. Nantinya kartu ini berfungsi semacam loyalty card member (keren kan, kayak belanja di mall2 dan mart2 kekinian itu, hahaha), yang akan memberikan benefit berupa promo, diskon, dan segala kemudahan lainnya.


Kemudian, setelah berbasa-basi sejenak, sambil Bapak Pemijat menyiapkan peralatan, dimulailah waktu pijat. Oiya, sebelum memulai, Bapak Pemijat akan mengucap bismillah, kemudian mengaktifkan semacam alarm di ponselnya, untuk menentukan durasi waktu pemijatan yang akan berlangsung. Untuk sport massage, durasinya 90 menit. Suami saya mulai dipijat jam 18.30 dan berakhir jam 20.00.


Peralatan yang dibawa Bapak Pemijat cukup lengkap, lho. Alas perlak berukuran 2 m x 60 cm, pas untuk rebahan ukuran 1 badan. Menurut Bapak Pemijat, alas perlak ini untuk melindungi seprai/kasur tempat pijat dari tumpahan minyak pijat. Meski minyak pijat yang digunakan sudah didesain agar tidak mudah tumpah, yaitu minyak di dalam botol sprayNamun, pihak manajemen tetap mengantisipasinya dengan membawakan alas perlak tersebut. 


Selain minyak dan perlak, Bapak Pemijat juga dibekali handuk kecil, tissue basah, dan alat aromaterapi elektrik. Handuk kecil dan tissue basah digunakan untuk mengusap badan setelah proses pemijatan selesai. Aromaterapi elektrik, diisi essential oil yang wanginya membuat badan lebih relaks dan menenangkan. Lengkap dan mantap, kan!


Saat memulai proses pemijatan, Bapak Pemijat akan menanyakan terlebih dahulu keluhan yang dirasakan pelanggan, semacam anamnesis kalau di dunia kedokteran yak, hihihi... Setelah diketahui keluhannya, bagian mana yang sakit atau pegal, kemudian Bapak Pemijat akan mencoba memijat bagian betis terlebih dahulu, sambil menanyakan pada pelanggan, apakah tekanan pijatnya sudah cukup, terlalu keras, atau kurang terasa tekanannya. Semua tergantung selera pelanggan. Keren banget, kan!



Terima Kenyataan

Semalam, kebetulan suami saya pijatnya di ruang keluarga, di depan TV. Karena memang di situ sudah ada kasur kecil yang biasa digunakan anak-anak saat menonton TV. Selain itu, juga untuk memudahkan Bapak Pemijat, agar tidak perlu naik ke kamar tidur di lantai 2.


Ruang keluarga atau ruang TV kami yang agak menyatu dengan ruang makan, membuat sebagian besar aktivitas kami berpusat di situ. Jadi, suami saya dipijat sambil dikelilingi suara meriah duo bocah yang lagi makan, sambil ngobrol, dan pake acara rebutan pula. Rumah kami Alhamdulillah selalu dimeriahkan dengan celoteh lucu duo bocah dengan apa pun yang bisa jadi medan perebutan, termasuk bundanya juga sering jadi rebutan, hahaha.

Sambil menyuapi anak-anak, saya mendengarkan dan sesekali ikut nimbrung obrolan suami dengan Bapak Pemijat. Dia bercerita tentang awal mula mengalami kebutaan, hingga segala aktivitasnya saat ini. 


Dari segi usia, Bapak Pemijat ini masih cukup belia. Tebakanku, mungkin dia berusia sekitar 20-an akhir. Masih muda kan, setidaknya dibanding kami berdua yang berusia pertengahan 30 dan sudah mendapati beberapa helai rambut ajaib berwarna nyentrik alias uban, hahaha.


Bapak ini mengalami kebutaan saat berusia 19 tahun. Menurut ceritanya, pada saat itu dia sedang belajar di sebuah pondok pesantren. Waktu itu dia mengalami demam hingga kejang/step. Setelah kejang demam berlalu, dia anggap itu demam biasa saja. Namun, tidak lama kemudian perlahan penglihatannya menurun dan akhirnya mengalami kebutaan. Entah diagnosa dokter apa, dan proses terjadinya kebutaan bagaimana, dia tidak menceritakan secara detail.


Dia menceritakan bagaimana dia merasa terpuruk dan sempat putus asa di awal masa mengalami kebutaan. Saya yang mendengar ceritanya seolah ikut hanyut merasakan kesedihannya, hingga tak terasa mata ini berkaca-kaca. 



Fase Bangkit dari Keterpurukan

Setelah fase putus asa itu, akhirnya dia sadar dan bangkit. Pernyataannya yang membuat saya terharu, "Allah memberikan kekurangan, pasti juga memberikan kelebihan". Dia sangat yakin itu. Mungkin kalimat tersebut terdengar klise dan biasa saja bagi kita yang tidak mengalaminya. Namun, bagi dia kalimat itu menjadi semacam mantra penyemangat untuk lepas dari keterpurukan dan mulai menerima kondisi kebutaannya.


Saat ini, selain aktif menjadi mitra kerja Enzo Klinik Pijat, dia juga aktif di pesantren dan masjid-masjid untuk mengajar tahsin. Kemudian juga ikut komunitas semacam nasyid, gambus, atau band islami (entahlah apa namanya), dia sebagai vokalisnya. 


Masya Allah, dia benar-benar mengeksplorasi bakat dan minatnya sebagai anak muda dan tidak merasa terhalang sedikit pun dengan keterbatasan fisiknya. Termasuk belajar ilmu memijat di sebuah tempat kursus. Dia menekuni semua aktivitasnya dengan semangat, rajin, dan penuh rasa syukur. Barakallah Bapak Pemijat.



Asah Empati dan Ajarkan Syukur

Dari kisah Bapak Pemijat tersebut, banyak pelajaran yang dapat dipetik. Salah satunya adalah dia begitu ikhlas menjalani segala ketentuan Allah dengan penuh rasa syukur. 


Malu rasanya diri ini. Ampuni kami Ya Allah... Dengan segala karunia, fasilitas, serta kemudahan dari Allah, kadang masih saja mengeluh dan kurang bersyukur. Sementara hamba Allah yang lain, di tengah keterbatasannya masih bisa bersyukur, bahkan menebar manfaat untuk orang di sekelilingnya. Masya Allah.


Setelah proses pijat selesai dan Bapak Pemijat sudah dijemput manajemen Enzo, kami sekeluarga mulai sesi bercerita pada duo bocah. Kami menceritakan kembali kisah Bapak Pemijat tadi dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak. Sekaligus kami beri pemaknaan yang sesuai untuk usia mereka dan mengajarkan bagaimana akhlak yang baik jika bertemu saudara-saudara yang tunanetra. Harapannya, duo bocah menjadi anak-anak yang berempati dan peka serta berakhlak baik terhadap orang-orang yang tidak seberuntung mereka.



Mutiara Hikmah

Akhir kata, terima kasih Bapak Pemijat, darimu kami belajar banyak hal, begitu pula anak-anak kami. Apa pun dan siapa pun di sekitar kita, bisa menjadi media pembelajaran untuk diri sendiri maupun anak-anak kita. Tidak ada yang sia-sia di dunia ini. Semua memiliki peran dan kontribusi masing-masing bagi dunia, bahkan untuk tabungan di akhirat kelak.


9JKL Drama Komedi yang Sarat Pesan Moral

9JKL Drama Komedi yang Sarat Pesan Moral


Assalamualaikum Sobat Bunda,

Pagi ini, setelah tugas negara menyiapkan keberangkatan orang-orang tercinta ke kantor dan sekolah selesai, sementara Tuan Putri kecil masih tertidur pulas di kamar, inilah saatnya Bunda selonjoran sarapan sambil menonton TV tanpa terinterupsi acara kartun, hehe...


Setelah cari-cari channel TV yang menarik, akhirnya terdamparlah di channel FOXLife, yang kebetulan menayangkan drama komedi berjudul 9JKL.



Drama 9JKL di FOXLife

Sekilas akan saya jelaskan tentang drama komedia 9JKL ini. Drama komedi ini cukup menarik karena mengangkat tema-tema ringan dalam kehidupan sehari-hari. Meski dibawakan dengan dialog-dialog dan ekspresi wajah yang konyol, namun banyak memberikan pesan moral di dalamnya.


Drama komedi ini menceritakan sebuah keluarga dalam 1 gedung yang sama, namun berbeda unit apartemen. Di unit apartemen pertama tinggal Mr. Harry Roberts dan Mrs. Judy Roberts. Pasangan yang menikmati usia senja dengan bahagia dan sedikit bumbu-bumbu pertengkaran kecil. 


Sementara di unit apartemen kedua, tinggallah Andrew Roberts (anak pertama dari Mr dan Mrs Roberts) bersama istri (Eve Roberts) dan bayi kecilnya. Andrew dan Eve sama-sama berprofesi sebagai dokter. 


Dan di unit apartemen ketiga tinggallah Josh Roberts, anak kedua Mr dan Mrs Roberts. Josh sudah bercerai dengan istrinya, jadi dia hanya tinggal sendiri dan berprofesi sebagai aktor.


Masalah-masalah kecil setiap harinya selalu digambarkan dengan sangat kocak dan menggelikan. Di salah satu potongan episode yang kebetulan saya tonton pagi itu, diceritakan bahwa Mrs. Judy Roberts sedang mengeluh tidak enak badan. 


Kemudian menantunya, Eve, menyarankan untuk berkonsultasi ke dokter dan menjalani general check up. Tapi, sesuai tipe orang tua kebanyakan, selalu merasa lebih baik tidak tahu sedang sakit apa, daripada tahu penyakitnya, kemudian jadi beban pikiran terus-menerus, hingga menurunkan kualitas dan produktivitas hidupnya.


Akhirnya dengan segala cara, Andrew mengajak Mrs. Judy Roberts untuk menjalani general check up, dan berhasil. Namun, hingga di klinik tempat mengambil darah, Mrs. Judy menolak diambil darahnya. Sebagai anak, Andrew berusaha membujuk dan mengajak Mrs. Judy berdialog agar mau diambil darahnya. Dengan segala obrolan dan guyonan akhirnya Mrs. Judy Roberts tanpa terasa telah berhasil diambil darahnya.


Setelah hasil general check up keluar, ada salah satu angka hasil lab yang menunjukkan ketidaknormalan. Hal ini bisa disebabkan karena proses pengukuran yang salah atau memang terdeteksi adanya penyakit/gangguan tertentu. Untuk memastikan kembali, maka Mrs. Judy disarankan mengulang proses pengambilan darah.


Selama rentang waktu menunggu hasil pengambilan darah yang kedua, Mrs. Judy merasa bahwa dia memiliki penyakit tertentu dan mulai mempersiapkan diri menghadapi kematian. Misalnya, membagikan set piring kesayangan pada menantunya, Eve, kemudian meminta maaf pada beberapa teman lamanya yang pernah dia sakiti, berubah menjadi istri dan ibu yang perilakunya jauh lebih baik, dan sebagainya. Otomatis kondisi tersebut membuat seluruh keluarga heran dan merasa aneh dengan tingkah laku Mrs. Judy yang sangat mellow dan mendadak sangat bijaksana. Justru di situlah letak aneka kekonyolan terjadi.



Hikmah Ingat Mati Berbalut Komedi

Terlepas dari detail jalan cerita seutuhnya, pada episode tersebut dapat dipetik hikmah atau pelajaran, bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Tanpa memandang usia, masih muda atau sudah tua. Dicontohkan oleh Mrs. Judy, untuk mempersiapkan kematian yang dianggapnya akan segera menghampiri, dia mulai mengubah perilakunya menjadi jauh lebih baik, mulai mengakui dan meminta maaf atas kesalahannya di masa lampau, dan mengisi sisa usianya dengan berbuat pada orang-orang di sekitarnya, dan masih banyak lagi kebaikan yang dapat dilakukan. 


Intinya, setiap manusia memiliki salah dan dosa yang tidak dapat dihindari sepanjang hidupnya. Dengan selalu mengingat kematian, kita akan menjadi insan yang selalu berusaha memperbaiki diri, introspeksi diri, dan semakin mawas diri agar tidak terjerumus pada kesalahan dan dosa baru yang dibuat.



Kesimpulan

Nah, itu sekelumit hikmah dari tontonan ringan yang kebetulan saya saksikan. Semoga bisa memberi pelajaran untuk saya pribadi khususnya dan untuk pembaca semua pada umumnya, agar menjadi insan yang selalu berbenah diri berupaya menjadi lebih baik, lebih baik lagi, dan jauh lebih baik setiap hari, seiring berjalannya waktu dan berkurangnya jatah usia di dunia ini.


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca dan semoga bermanfaat, Sobat Bunda!

Pekan Sarapan Nasional, Sudah Sarapan Pagi Ini?

PESAN (Pekan Sarapan Nasional), membahas pentingnya sarapan pagi
PESAN (Pekan Sarapan Nasional) 2019

Assalamualaikum Sobat Bunda,

I'm not hate monday, yeayy!!!
Kenapa saya awali dengan statement itu? Karena ini hari Senin dan Senin identik dengan ikhtiar melawan malas untuk kembali beraktivitas (kerja, sekolah, dll). Jadi, saya ingin mengajak sobat Bunda semua untuk tidak membenci hari Senin dan semakin produktif dalam beraktivitas. 


Salah satu upaya untuk semakin bersemangat dan produktif mengawali hari, yaitu sarapan yang bergizi. Nyambung gak sih? Yaudah lah, disambung-sambungin aja ya, hahaha. Intinya, saya mau bahas tentang sarapan, uwis kui thok, gawe pembukaan kok mubeng-mubeng yo?!?!? Hwkwkwkwkk...


Apa sih PESAN itu?

PESAN, bukan kata 'pesan' seperti yang tertulis di KBBI, yang artinya amanat, perintah, permintaan, atau nasihat lho, ya. Pesan di sini maksudnya akronim dari Pekan Sarapan Nasional. 


Kapan Pelaksanaannya? 

Untuk tahun ini, PESAN dilaksanakan pada 14-20 Februari 2019. Wow berbarengan dengan Valentine Day, dong. Entahlah, saya gak paham soal valentine, soalnya saya juga gak ngerayain. Setahu saya, 14 Februari itu bertepatan dengan tanggal saat saya dilamar secara pribadi sama calon suami saya, 9 tahun yang lalu, hihihi.


Oke, lanjut bahas PESAN aja ya, jangan bahas saya dilamar, hahaha.
PESAN ini dideklarasikan oleh 4 organisasi yang bergerak dalam penanganan masalah pangan dan gizi, yaitu:

  1. Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI),
  2. Perhimpunan Peminat Gizi dan Pangan (Pergizi Pangan) Indonesia,
  3. Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI)
  4. Perhimpunan Dokter GIzi Klinik Indonesia (PDGKI)


Pendeklarasian ini dilakukan di Jakarta pada 14-20 Februari 2013. Jadi, sudah 6 tahun yang lalu, ya. Lalu, mengapa pemerintah harus capek-capek membuat pekan sarapan untuk rakyatnya? Sarapan aja pake disuruh-suruh, memangnya pada gak suka sarapan ya? 


Mungkin itu yang ada di benak teman-teman, termasuk saya waktu pertama kali tahu soal PESAN ini. Bukannya begitu, maksudnya diadakan PESAN ini dalam rangka selalu mengingatkan masyarakat Indonesia akan pentingnya sarapan dalam aktivitas sehari-hari.


Menurut informasi, PESAN ini dilaksanakan berdasarkan hasil kajian-kajian yang menunjukkan bahwa kebiasaan masyarakat Indonesia sangat buruk, dari segi jumlah porsi maupun jenisnya. Sedih, ya! 


Memang berdasarkan hasil penelitian terkini, anak usia sekolah dan remaja sebanyak 16,9-59% tidak terbiasa sarapan pagi. Sedangkan pada orang dewasa sebanyak 31,2% yang tidak terbiasa sarapan. Sebanyak 44,6% dari anak yang terbiasa sarapan belum menerapkan sarapan yang sehat dan bergizi. Jadi hanya asal sarapan saja. 


Asal sarapan itu gimana sih? 

Misalnya, bangun kesiangan, mandi dan siap-siap. Karena waktu mepet, keburu telat, akhirnya nyomot aja sekeping biskuit terus minum kopi, terus udah kabur ke sekolah/kantor/tempat aktivitas hariannya. Nah, gitu tuh yang dimaksud cuma asal sarapan aja, tidak memerhatikan komposisi kandungan gizi dan jumlah porsinya.


Jadi, yang benar adalah...

Secara gampang nih, sarapan itu harus memenuhi 25%-30% kebutuhan kalori harian masing-masing individu. Lantas, berapa sih kebutuhan kalori asupan gizi harian kita? Kalau mau akurat dan spesifik ya kudu dihitung, dong. 


Banyak faktor yang memengaruhinya, misal jenis kelamin, aktivitas fisik, berat badan, tinggi badan, kondisi kesehatan secara umum, dan sebagainya. Nah, kalau mau yang praktis tapi secara umum saja (tidak spesifik dan tidak detail), yaaa kira-kira aja kebutuhan harian orang dewasa standarnya 1500-2000 kalori.


Kalau ambil contoh kebutuhan asupan gizi harian 2000 kalori, berarti untuk sarapan saja kita membutuhkan sebanyak 25% dari 2000 kalori, yaitu 500 kalori, ya. 


Nah, 500 kalori itu terwakili dari makanan apa saja? Yuk, kita lanjut penjelasannya.
Asupan sebanyak 500 kalori itu tidak bisa terpenuhi hanya dengan segelas kopi/teh dan 1-2 keping biskuit lho ya, harus diingat itu Bunda... 


Untuk memenuhi kebutuhan sarapan 500 kalori itu, kita bisa menyantap 1 porsi nasi dengan lauk lengkap (lauk lengkap di sini maksudnya benar-benar lengkap dari segi jenis dan jumlah, ya). Misalnya, nasi putih, sayur sop, tempe goreng, telur dadar, segelas susu, dan sepotong buah berukuran 100 gram. Nah, lengkap kan.


Kalo jenis sarapan ala western, bisa diwakili dengan roti isi (sandwich, kalo bahasa bulenya). Roti gandum dioles butter, kemudian ditambah isian daging/ikan/ayam, ditambah tomat dan sayuran lain (lettuce, timun, bayam, dll), kemudian diberi mayonnaise/saus tomat/jenis saus lainnya. Dilengkapi dengan segelas susu, dan buah-buahan segar. Jika ingin yang lebih praktis, cukup semangkuk sereal/oatmeal, diberi potongan buah segar, kemudian disiram susu. Tambahkan jus buah sebagai pelengkap.


Intinya, sarapan tidak boleh dilewatkan apa pun alasannya. Waktu makan terpenting adalah saat sarapan, mengapa? Karena sarapan menyediakan energi untuk memulai hari dan beraktivitas. Menunjang kemampuan berpikir, bekerja, dan seabrek aktivitas harian lainnya. 


Selain itu, uniknya, ternyata sarapan membantu tubuh kita berada dalam kondisi normal, tidak terlalu gendut, tidak pula terlalu kurus, kok bisa, ya? Karena sarapan mencegah kekurangan atau kelebihan gizi. Itulah mengapa, meski sedang diet jangan pernah menghilangkan sarapan dari jadwal harianmu, ya! Jadi, masyarakat Indonesia memang perlu selalu diingatkan tentang pentingnya sarapan, melalui event semacam PESAN ini.


Buat bunda-bunda, ibu-ibu, mak-emak, mama-mama, mami-mami, umi-umi... Penting untuk diperhatikan ya. Jangan lupa sediakan selalu sarapan sehat dan bergizi dengan porsi dan jenis yang lengkap untuk keluarga kalian, demi mencetak generasi penerus bangsa yang sehat dan memiliki performa prestasi optimal nan gemilang.


Menyiapkan Sarapan dengan Menu Lengkap

Siapin sarapan lengkap saat pagi hari bikin ribet gak sih? Gak juga. Semua bisa diatur dan bisa dipersiapkan sejak malam sebelumnya. 

Misalnya nih, ingin menyediakan sarapan dengan menu nasi dan sayur tumisan serta ikan goreng. Siapkan sayuran dan bumbu untuk tumisan semuanya pada malam sebelumnya. Potong-potong semua sayur seolah-olah akan dimasak saat itu juga, tapi jangan dicuci ya. Karena akan memicu pembusukan yang lebih cepat. 


Setelah dipotong-potong, masukkan dalam kontainer plastik kedap udara. Begitu pula bumbunya, semua sudah dikupas dan dipotong-potong kemudian masukkan ke kontainer kedap udara. Simpanlah dalam kulkas. 


Keesokan harinya, setelah selesai shalat Subuh, kamu siap mencuci aneka sayuran kemudian mulai menumisnya. Sayur tumisan merupakan pilihan masakan yang cukup praktis sekaligus sehat, karena tidak butuh waktu pemasakan yang lama dan hanya membutuhkan bumbu yang minimalis. Jadi, manfaat utama sayur tetap bisa dinikmati secara optimal di dalam tubuh.


Untuk lauk ikan goreng, jika ingin menyajikan pada pagi hari, jangan lupa untuk mengungkep atau marinade terlebih dahulu dengan bumbu-bumbu pada malam sebelumnya. Kemudian simpan dalam kontainer kedap udara di dalam kulkas. Jadi saat pagi hari hanya tinggal menggoreng, membakar, atau bahkan mengukusnya. Praktis kan!


Untuk nasi, sudah tidak diragukan lagi kepraktisannya, tinggal cuci beras dan masukkan rice cooker, setelah menunggu sekitar 30 menit, nasi hangat nan pulen siap disantap.


So, semua bisa dilakukan lebih praktis dan cepat jika dipersiapkan sejak malam sebelumnya, kan. Pastikan kamu bangun lebih pagi, ya. Jadi, tidak ada lagi alasan untuk tidak bisa menyajikan sarapan sehat untuk seluruh keluarga.


Selamat berkreasi membuat menu sarapan sehat, Sobat Bunda!

Custom Post Signature