Gizi Seimbang Prestasi Gemilang Mulai dari KELUARGA


Assalamualaikum teman-teman...
Hari ini, 25 Januari 2019 bertepatan dengan Hari Gizi Nasional ke-59, saya mau coba ngobrol sedikit tentang gizi, mumpung sesuai moment yaaa...

Nah, sebagai warga negara Indonesia, teman-teman tahu gak sih, permasalahan gizi apa aja yang saat ini dihadapi negara kita tercinta ini? Pastinya banyak yang sudah paham ya, bahwa Indonesia sudah lama menghadapi beban ganda masalah gizi (malnutrisi). Kenapa beban ganda? Ganda putra atau ganda campuran? Upss, emang badminton, hehe.

Maksudnya beban ganda masalah gizi apaan sih? Beban ganda di sini maksudnya, banyak penduduk Indonesia yang mengalami status gizi kurang bahkan gizi buruk. Hal ini merupakan rentetan gagalnya pemenuhan gizi pada 1000 hari pertama kehidupan anak yang berujung pada stunting, saya pernah mengulasnya di sini.
Tetapi di sisi lain, jika kita ikuti perkembangan anak yang mengalami stunting ini, di usia dewasanya berisiko mengalami masalah gizi lebih alias obesitas, dan penyakit-penyakit degeneratif lainnya. Masalahnya jadi ganda kan?!? Bahkan dengan 2 kutub yang berbeda, gizi kurang dan gizi lebih.

Oiya, berdasar hasil kerja dan temuan-temuan dari Kemenkes, arah pembangunan kesehatan di Indonesia saat ini berfokus pada tindakan promotif dan preventif. Kenapa? Karena akan memberi dampak yang lebih luas dan lebih efektif, serta lebih efisien/hemat dari segi ekonomi. Setelah beberapa tahun ini pemerintah menggenjot pembangunan infrastruktur, maka sudah saatnya negara kita berinvestasi besar pada pembangunan sumber daya manusianya. Untuk itu, pembangunan kesehatan yang berkesinambungan jadi fokus yang penting banget saat ini, salah satunya didukung dari pemenuhan gizi yang tepat dan seimbang.

Balik lagi ke Hari Gizi Nasional (HGN) ke-59, Kemenkes menetapkan tema besar peringatan HGN tahun ini yaitu "Membangun Gizi Menuju Bangsa Sehat Berprestasi". Sub tema "Keluarga Sadar Gizi, Indonesia Sehat dan Produktif", dengan slogan, "Gizi Seimbang Prestasi Gemilang".

Nah, untuk mengaplikasikan slogan "Gizi seimbang, prestasi gemilang" itu, kita perlu paham dulu apa itu gizi seimbang. Masih ingat gak, zaman dulu sering dengar/baca slogan 4 sehat 5 sempurna? Dulu, anak TK sampai orang dewasa pasti paham dan familiar dengan slogan 4 sehat 5 sempurna itu. Kalau sekarang, kenapa diganti jadi Gizi Seimbang? Bedanya apa sih? Yuk, lanjut baca lagi.
Perbedaan mendasar konsep lama "4 sehat 5 sempurna" dibandingkan dengan konsep baru "Pedoman Gizi Seimbang (PGS)", antara lain:

A. Penekanan Pesan

Konsep lama (4 sehat 5 sempurna), menekankan pada kategori makanan yang dikonsumsi berupa makanan pokok, lauk-pauk, sayur, buah, dan susu sebagai andalan pamungkasnya. Sedangkan konsep baru (Pedoman Gizi Seimbang), selain makanan yang dikonsumsi harian, juga ditekankan 4 prinsip penting yang menyertai PGS ini, antara lain:

1. Membiasakan mengonsumsi makanan yang beragam.
Negara kita merupakan negara yang kaya akan sumber pangan lokal dari masing-masing daerah. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote semua memiliki kekhasan masing-masing. Kemenkes mungkin ingin melibatkan kearifan lokal dalam pengaplikasian konsep baru ini. Selain melibatkan kekayaan sumber pangan dari berbagai daerah, diharapkan penduduk Indonesia menjadi lebih kreatif dalam mengolah bahan pangan yang ada di daerah masing-masing. Misalnya jika di Bandung punya sarapan khas bubur ayam, maka saudara-saudara di Manado pun punya bubur tinutuan khas Manado sebagai menu sarapan. Meski sama-sama bubur, tapi berbeda bahannya, yang mungkin disesuaikan dengan kondisi ketersediaan bahan pangan daerah setempat. Itu cuma salah satu contoh kecil saja ya. Masih banyak menu makanan di Indonesia yang khas sesuai dengan ketersediaan pangan lokal masing-masing daerah. Silakan googling!

2. Menjaga pola hidup bersih.
Nah, dari sini nampak sekali perbedaan konsep lama yang hanya merujuk pada apa yang dikonsumsi. Sedangkan konsep baru seakan ingin melihat secara global, termasuk pola hidup bersih yang menyertai makanan tersebut. Baik dari saat proses produksi hingga tersaji. Kemudian perilaku harian juga diharapkan mengacu pada pola hidup bersih, yang tentunya akan banyak berpengaruh pada derajat kesehatan manusianya.

3. Pentingnya pola hidup aktif dan olah raga.

Lebih jauh lagi Pemerintah ingin menghimbau warganya agar perlahan meninggalkan sedentary lifestyle (pola hidup kurang gerak). Pemerintah juga tidak sembarang menganjurkan hal ini lho. Semua mengacu pada hasil riset kesehatan yang menunjukkan bahwa penduduk Indonesia sudah mulai mengarah pada perubahan pola penyakit. Dari yang zaman dulu banyak mengalami penyakit menular, kini berubah menjadi penyakit tidak menular, terutama penyakit degeneratif. Mengapa? Pasalnya, pola hidup kurang gerak (sedentary lifestyle) telah mendominasi aktivitas harian penduduk kita saat ini, terutama di perkotaan ya. Nah, dari pola hidup kurang gerak itu muncullah berbagai penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes mellitus, jantung koroner, gagal ginjal, dan lain sebagainya. Dalam konsep Pedoman Gizi Seimbang (PGS) ini, pemerintah seolah berkata, "Kalau ingin hidup sehat, yuk bergerak lebih aktif dan jangan tinggalkan olah raga". Setuju?

4. Pentingnya memantau berat badan.


Akhirnya, prinsip penting yang keempat ini mendarat di topik yang cenderung sensitif. Ya, berat badan kadang menjadi hal yang sangat sensitif untuk ditanyakan bagi sebagian orang, terutama bagi wanita.
Kenapa pemerintah sampai begitu ribetnya mengajak kita untuk memantau berat badan? Eitss, jangan sewot dulu ya buibu dan makemak.
Pasalnya, berat badan ini memegang kontrol yang penting untuk menentukan derajat kesehatan seseorang. Banyak penyakit degeneratif yang ujung pangkal penyebabnya adalah masalah berat badan yang berlebih atau pola makan yang cenderung tidak sehat.
Memantau berat badan harus menjadi kebiasaan baik yang mulai diterapkan dalam keluarga. Dari lingkup terkecil dalam keluarga inilah, kontrol berat badan akan lebih efektif dan lebih ekonomis dilakukan. Setelah tahu berat badan kita berapa, lantas gimana caranya kita tahu sudah sehat dan aman dari penyakit atau belum?
Nah, angka berat badan itu kita masukkan pada rumus IMT (Indeks Massa Tubuh). Hasil penghitungan IMT inilah yang dapat dijadikan tolak ukur kita tergolong kurus, normal, atau gemuk. Setelah tahu kita berada di golongan yang mana, tentunya ada usaha untuk membuatnya lebih baik, kan.
Jika masih tergolong kurus, maka usahakan menambah berat badan hingga IMT menjadi normal. Jika sudah normal, pertahankan pola makan sehat selama ini. Jika tergolong gemuk, maka bekerja keraslah menurunkan berat badan hingga IMT berada di kategori normal. Rumus dan klasifikasi IMT bisa dilihat pada gambar ya.

B. Susu Bukan Penyempurna

Pada konsep lama (4 sehat 5 sempurna), susu merupakan penyempurna dan berada dalam kelompok yang berbeda dengan bahan makanan lain. Sedangkan pada konsep baru (PGS), susu masuk dalam kelompok lauk-pauk, karena kandungannya dominan protein dan sedikit mineral, jadi ikut dalam kelompok lauk-pauk seperti telur, daging, ikan, ayam, dan lain-lain.
Nah, jika dalam menu makanan sudah mengonsumsi lauk seperti telur, daging, ikan, ayam, dll. maka tidak perlu minum susu tidak apa-apa.
Efek pentingnya di sini, bagi buibu dan makemak yang punya anak balita, biasanya sering pusing dan memaksakan diri membeli susu yang mahal hanya agar merasa tenang anaknya sudah mengonsumsi cukup makanan sehat. Padahal, jika pola makan putra putri buibu dan makemak semua sudah bagus dan teratur, mau makan nasi lengkap dengan lauk sayur dan buah, maka tidak minum susu pun tak apa. Tapi, jika anaknya termasuk picky eater, susah mengonsumsi makanan yang beragam, maka bisa ditambah konsumsi susu untuk melengkapi asupan hariannya.

C. Penjelasan Mengenai Porsi

Perbedaan mencolok tampak pada aspek ke-3 ini, yaitu penjelasan mengenai porsi. Pada konsep lama (4 sehat 5 sempurna), hanya menjelaskan mengenai jenis kelompok bahan makanan, seperti makanan pokok, lauk, sayur, buah, dan susu.
Sedangkan pada konsep Pedoman Gizi Seimbang (PGS), semua dijelaskan lengkap hingga jumah porsinya. Mengapa? Karena jumlah porsi ini ternyata sangat memengaruhi kondisi kesehatan seseorang. Zaman dahulu, asal ada timun seiris, atau selada selembar, sudah dianggap memenuhi pola makan sehat. Tidak begitu dengan konsep PGS saat ini.
Kebutuhan tubuh tiap orang berbeda. Jadi, jangan ditelan mentah-mentah informasi tentang jumlah porsi tiap bahan pangan ya. Semua harus melalui perhitungan yang disesuaikan dengan fakta dan realita kondisi tubuh di lapangan.
Untuk lebih jelasnya mengenai jumlah porsi yang disarankan untuk orang normal sehat, bisa lihat di gambar ya. Jika tubuh mengalami kondisi khusus, jumlah porsi ini tentunya bisa berubah mengikuti hasil perhitungan dan analisa saat itu, misalnya sedang sakit, hamil, menyusui, masa pertumbuhan, lansia, dan sebagainya.

D. Pentingnya Minum Air Mineral

Nah, ini satu aspek yang juga sangat berbeda dibanding konsep lama (4 sehat 5 sempurna). Pada konsep lama tidak disebutkan seberapa banyak kita harus memenuhi kebutuhan cairan tubuh harian. Apakah seharian cukup minum segelas susu tiap kali makan? Tentu tidak! Tubuh kita butuh lebih dari 3 gelas cairan per hari.
Untuk itu, pada konsep PGS ini, disarankan mengonsumsi cairan minimal 8 gelas per hari. Lagi-lagi itu untuk kebutuhan minimal, orang dewasa normal dan kondisi sehat ya. Jika mengalami kondisi khusus, harus dilakukan perhitungan serta analisa lagi agar sesuai dengan kebutuhan cairan harian tiap orang. Misalnya kondisi setelah berolah raga berat, maka kebutuhan cairan meningkat, begitu pula pada kondisi sakit demam. Namun akan berbeda hitungan kebutuhan cairannya jika pada kondisi pasien penyakit ginjal dan luka bakar. Ingat, semua ada aturan penghitungannya, agar dicapai kondisi normal dan sehat ya.

Oke, setelah baca seluk-beluk konsep PGS, teman-teman jadi lebih paham dong!
Kalau kita lihat kembali sub tema Hari Gizi nasional tahun ini, di situ menyebutkan "Keluarga Sadar Gizi, Indonesia Sehat dan Produktif". Dari pernyataan tersebut terlihat jelas bahwa agen perubahan untuk membuat Indonesia lebih sehat dan produktif ya dari keluarga. Mulai dari lingkup yang paling kecil dan paling dekat, yaitu keluarga.
Jika diamati lebih teliti lagi, di situlah Ibu/Emak/Bunda/Umi/Mama/Mami/Mamak/dll memiliki andil, peran, dan tanggung jawab paling besar untuk membuat keluarganya menjadi keluarga Sadar Gizi seperti yang diharapkan dalam sub tema HGN 2019 ini.
Oleh karena itu, wahai wanita berlabel Ibu/Emak/Bunda/Umi/Mama/Mami/Mamak/dll, ayo kita galang kepedulian dan kita tingkatkan komitmen untuk bersama-sama membangun keluarga sadar gizi, menuju bangsa Indonesia sehat, produktif, dan berprestasi.
Semangattt!!!

Akhirnya, Selamat Hari Gizi Nasional ke-59. Semoga kita semua bisa berpartisipasi aktif membangun Indonesia menjadi lebih sehat, lebih produktif, dan berprestasi gemilang. Semuanya dimulai dari KELUARGA!

Mudik Seru Akhir Tahun Part 2





Lanjuttt kisah mudik seru akhir tahun yaaaa....

Untuk Mudik Seru Akhir Tahun Part 1, bisa baca di sini.


Sesampainya di Jogja, kami beristirahat dan lanjut merencanakan eksplorasi Jogja untuk keesokan harinya. Tujuan yang sudah tertulis di buku kecil catatan perjalanan si sulung, destinasi pertama adalah Kraton Jogja.
Kenapa Kraton Jogja? Karena beberapa bulan terakhir, si sulung sedang hobi berkunjung ke museum. Setelah diceritakan sekilas bahwa di Jogja ada istana raja yang dulunya bekas kerajaan Mataram dan hingga saat ini istananya masih menyimpan benda-benda bersejarah dan banyak dikunjungi wisatawan, dia pun sangat tertarik ingin berkunjung juga.

Oiya, sebelumnya kuinformasikan dulu ya, bahwa liburan kali ini, kami memberikan tugas liburan kepada si sulung, untuk membuat catatan perjalanan selama liburan di Jogja. Nah, saat proses packing si sulung sudah semangat banget menyiapkan buku catatan dan segala peralatan yang ingin dia bawa ke Jogja.
Buku kecil dan pensil (yang juga kecil hehe), selalu dia bawa di saku celananya setiap kali keluar rumah selama di Jogja. Kasian juga sih melihat dia kesusahan membawanya di saku dan selalu kerepotan ingin menulis saat di area wisata ataupun saat masuk mobil. Tapi tak apalah, itung-itung untuk memberi dia pengalaman membuat catatan perjalanan berdasarkan liburan, belajar jadi jurnalis cilik euy.

Nah, saat saya intip catatan si sulung di buku kecilnya, destinasi yang ingin dia kunjungi saat mudik ke Jogja adalah: Kraton Jogja, Taman Pintar, Museum, dan Zoo.
Ahamdulillah kami bisa mewujudkan 3 di antaranya. Destinasi terakhir yakni zoo (Kebun Binatang Gembiraloka Jogja) terpaksa skip dulu karena alasan kenyamanan dan lalu-lintas, hehe. Sebenernya sih alasan utama lebih ke bunda dan ayah yang sudah gempor dan kepanasan kalau kebanyakan muter-muter Kota Jogja, hahaha.

Sekian tahun tinggal di rantau yang bercuaca dingin seperti Australia dan Bandung (Jatinangor sebenernya termasuk Bandung coret, hiks), begitu mudik Jogja problemanya selalu kepanasan. Bukan karena nggaya atau gimana, tapi mungkin tubuh sudah beradaptasi dengan cuaca dingin, jadi kena panas dikit aja sudah kebingungan minta yang adem-adem, haha. Nggaya, wis gak opo-opo lah sing penting sehat to.


Kraton Jogja


Kami berangkat ke kraton sepagi mungkin untuk mengantisipasi macet dan antrian di loket masuk kraton. FYI, Jogja di musim liburan itu kondisi lalu-lintasnya gak jauh beda dengan Jakarta di hari kerja, macet parah.


Oiya, kami berenam (aku, suami, ayahku, si sulung, si bungsu, dan ponakan) berangkat dari rumah mengendarai mobil. Sampai di sekitaran Pasar Beringharjo, kami parkir mobil, dan lanjut memesan taksi online untuk melanjutkan perjalanan hingga kraton. Mengapa harus naik taksi online? Karena kami khawatir tidak dapat parkir di area sekitar kraton, lagi-lagi karena musim liburan, pengunjung tempat wisata di Jogja seringnya membeludak. Nah, daripada repot dan pusing cari parkir, mending mobil parkir di area parkir tengah kota yang jelas-jelas memadai lokasinya, kemudian lanjutkan pakai taksi online. Simple kan.

Setelah sampai di kraton, ternyata benar. Pengunjung membeludak dengan wisatawan lokal maupun mancanegara. Mari rapatkan barisan, jangan sampai terpisah. Dengan formasi 3 dewasa dan 3 anak, berarti 1 orang dewasa bertanggung jawab menjaga 1 anak. Cukup rasional untuk menembus kerumunan pengunjung yang berjubel di area dalam kraton tanpa khawatir gandengan tangan dengan anak terlepas. Sebenarnya ayah, bunda, dan kakek sudah malas berkeliling saat melihat pengunjung yang berjubel begitu, tapi apalah daya, si sulung tetap bersikeras ingin masuk. Ya sudahlah mari kita lalui, lebih cepat selesai akan lebih baik haha...

Sampai di dalam kraton, dimulailah petualangan kami menyelusuri ruangan demi ruangan. Ayah dan Bunda merangkap sebagai guide, menjelaskan pada si sulung dan sepupunya tentang segala hal yang dilihatnya. Tentu saja ayah dan bunda punya backup informasi yang mumpuni yaitu mbah google dan buku dari Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya Kota Yogyakarta. Hehehe.

Kraton Jogja ini didirikan pada tahun 1775 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I. Meski sekarang Jogja sudah masuk sebagai salah satu provinsi di Indonesia, namun hingga kini Jogja tetap mempertahankan beberapa sistem aturan dan adat istiadat yang berlaku sejak jaman Kasultanan Jogjakarta, misal tata cara adat upacara tertentu, dan masih banyak lainnya.

Kompleks area kraton ini cukup luas (cukup bikin gempor lah ya kalau harus muterin semua bangunannya). Seperti yang terpampang pada gambar di atas (perhatikan baik-baik ya, jadi teman-teman ada sedikit gambaran denah lokasi area dalam kompleks kraton). Di dalam area kraton dibagi menjadi beberapa bangunan yang mempunyai fungsi dan koleksi benda-benda bersejarah yang berbeda satu sama lain.

Bangunan-bangunan itu antara lain:
- Trajumas: menyimpan aneka tandu tradisional
- Bangsal Sri Manganti: tempat untuk menerima tamu-tamu penting dari dalam maupun luar negeri, di dalamnya tersimpan aneka koleksi gamelan.
- Patehan: lazim disebut museum cangkir, karena di dalamnya tersimpan aneka koleksi cangkir dan peralatan makan dan minum teh dan jamu dalam berbagai acara untuk raja serta anggota kerajaan lainnya. Setiap kedudukan keluarga kerajaan memiliki peralatan tersendiri, berbeda dari segi model maupun warnanya. Cangkir minum teh untuk raja berbeda dengan cangkir untuk pangeran, dan berbeda pula dengan cangkir untuk abdi dalem.
- Bangsal Kesatriyan: di dalamnya tersimpan koleksi lukisan raja-raja Kraton Jogja.
- Museum souvenir: menyimpan aneka souvenir dari tamu-tamu kraton dari dalam dan luar negeri.
- Museum Batik dan Wayang: koleksi batik dan wayang milik kraton tersimpan rapi dan masih bagus.

Setiap harinya, pihak kraton menyediakan pagelaran yang berbeda-beda untuk pengunjung kraton. Ada wayang kulit, wayang klithik, karawitan, sendratari, gamelan, dan lain sebagainya. Saat kami berkunjung, kebetulan sedang berlangsung pagelaran karawitan. Seperangkat alat musik tradisional Jawa sedang dimainkan oleh sekelompok abdi dalem kraton dan lengkap dengan busana tradisional Jawa yang dikenakan. Sungguh menarik dan spesial bagi orang luar kota yang jarang sekali menyaksikan acara seperti itu.

Setelah puas berkeliling di sebagian besar bangunan dan ruangan di dalam kompleks kraton, kami menuju kantin. Di dalam area kraton ini terdapat satu taman, dengan pepohonan yang tinggi dan sejuk, kemudian bangku-bangku taman mempercantik area, di bagian tepinya berderet etalase aneka cemilan dan lemari pendingin berpintu kaca yang berisi aneka minuman dingin menyegarkan.
Kombinasi yang pas banget, duduk di bangku taman, di antara pepohonan rindang dan sejuk, menikmati minuman dingin dan snack, sembari meluruskan kaki sejenak setelah puas berkeliling di dalam kompleks kraton. Selesai melepas lelah, kami lanjutkan perjalanan. Keluar dari kompleks kraton, tujuan kami selanjutnya yaitu Masjid Gede Kauman Jogja, untuk menunaikan salat zuhur. Setelah salat, tujuan selanjutnya yaitu Taman Pintar Yogyakarta.


Taman Pintar Yogyakarta


Oiya, sebelumnya kujelaskan dulu, bahwa kami mengunjungi Taman Pintar ini hanya mengandalkan sisa-sisa energi setelah berkeliling di Kraton tadi. Jadi, bisa dibayangkan gimana kondisi kami yang sudah hampir gempor, sementara anak-anak masih energik, berasa batre full. Memang usia tidak bisa membohongi, hahaha....

Saat pertama kali masuk area Taman Pintar, kami lihat pengunjung sudah berjubel di area depannya dan antrian mengular di pintu loket. Langsung menciut deh nyali Bunda untuk menembus antrian, mengingat ini sudah sisa-sisa energi berkelana di kraton tadi. Namun, lagi-lagi si sulung memompa semangat dan kekeuh ingin masuk. Baeklah, Bismillah mari kita lalui saja.

Setelah tiket terbeli, mulai kami antri di pintu masuk. Tak berapa lama saat mulai mendekati pintu masuk, si ponakan tiba-tiba berbisik, "Tante aku takut lewat pintu masuk yang ini karena ada Dinosaurusnya buesaarrr. Aku mau lewat pintu lain minta dianter Pak Satpam aja". Haduh mulai celingukan deh cari pak Satpam.
Oke, akhirnya si kakek dan ponakan serta aku keluar antrian untuk mencarikan pak satpam yang mau anter lewat pintu lain. Untungnya kami berenam, jadi suami dan si sulung masih stay di dalam antrian. Lumayan nanti saat selesai mencarikan Satpam, saya (sabil menggendong si kecil) gak perlu antri dari awal lagi, langsung menyusul suami aja yang sudah lebih dulu antri di situ. Gak termasuk menyerobot antrian kan, guys?!?! Hehe

Sesampainya di pintu masuk, ternyata selain Dinosaurusnya besar, juga suaranya menggelegar memekakkan telinga, pantesan si ponakan takut, hihi... Dan si kecilku juga takut ternyata, untungnya dia di dalam gendongan, jadi dia langsung peluk kenceng Bundanya dan ngumpet di dalam gendongan, haha.. Setelah Dinosaurus terlewati dengan aman, kami berada di gedung berbentuk lingkaran yang di sekelilingnya banyak percobaan science yang menarik banget. Mulai deh kami jelajahi satu-persatu itu meja percobaan science. Di setiap pos percobaan, kami yang dewasa selalu menjelaskan ulang pada anak-anak dengan bahasa yang lebih sederhana agar mereka lebih paham.

Puas berkeliling dan mulut serta kaki ini rasanya sudah pegel banget. Mulut pegel jelasin dan kaki pegel berkeliling, hehe. Maka kami putuskan menyudahi kunjungan kali ini. Tak sanggup rasanya menunggu lebih lama lagi, pengen buru-buru duduk di dalam mobil dan cuss pulang ke rumah, haha.


Museum Dharma Wiratama

Museum Dharma Wiratama Yogyakarta

Museum ini merupakan museum milik TNI AD, jadi isinya segala pernak-pernik yang berkaitan dengan TNI. Kebetulan saat berkunjung ke museum ini, saya dan si bungsu tidak ikut karena ada keperluan lain. Nah, saat si sulung bosan di rumah, maka ayahnya mengajak ke museum ini. Jadi mereka boys time katanya. Saya hanya melihat dari foto-fotonya saja.

Dari foto-foto yang saya lihat, ada berbagai barang peninggalan bersejarah yang dipajang begitu saja, namun ada pula barang bersejarah yang penampilannya dikemas secara modern. Misalnya ada mobil kuno zaman perang (tentunya sudah susah diapa2in ya, tapi masih tampak bagus dan terawat. Kemudian ada area semacam dapur umum zaman perang yang dikemas apik dengan bantuan teknologi terkini. Jadi, orang yang berfoto di situ dapat seolah benar-benar berada di dapur tersebut dan memegang barang-barang di situ yang tampak nyata dengan segala atribut zaman itu (topi, senjata, alat masak, dll).
Beberapa Patung di Dalam Museum



Ada koleksi aneka seragam tentara dari zaman ke zaman. Ada banyak ornamen peninggalan zaman Belanda, patung-patung pejuang perang kemerdekaan, dan lain sebagainya.

Di museum ini anak-anak dapat mempelajari sejarah Indonesia dengan cara yang lebih menyenangkan dan interaktif. Tentunya orang tua juga harus proaktif menjelaskan segala sesuatunya dengan bahasa yang lebih sederhana dan dipahami anak ya.
Puas berkeliling dan berfoto di museum tersebut, mereka lanjut wisata kuliner ke Mie Panda yang terkenal yummy di Jogja itu. (Bundamami dan si bungsu gak diajakin makan mie, hiks).
Oke, sekian petualangan libur akhir tahun kami, semoga bermanfaat menambah informasi untuk teman-teman semua yang akan berkunjung ke tempat yang kebetulan sama yaitu Kraton, Taman Pintar, dan Museum Dharma Wiratama.
Semoga lain kali bisa liburan ke tempat-tempat yang lebih nge-hits dan instagrammable (tapi emang dasarnya kurang suka pepotoan, jadi seringnya lupa mau foto, baru inget pas udah di mobil mau pulang, parah, hwkwkwkwkkk).

Mudik Seru Akhir Tahun



Assalamualaikum...

Tahun Baru, Semangat Baru!!!

Selamat tahun baru 2019. Semoga di tahun ini, segala hal berkembang menjadi lebih baik lagi. Semua target dan doa diijabah Allah. Aamiiin...

Mulai hari ini, selama bulan Januari 2019, insyaAllah saya mau ikutan ODOP (One Day One Posting) dari Estrilook Community, doakan semoga dimulai dengan baik dan berakhir dengan baik pula (gak menyerah di tengah jalan macam yang telah lalu haha).
Semoga tujuan saya ikutan ODOP ini bisa tercapai, yakni produktif mengisi blog dengan hal-hal yang bermanfaat, membiasakan diri menulis setiap hari, mengasah kemampuan menulis saya, serta membantu manajemen waktu untuk menulis.

Postingan pertama di tahun 2019 ini, saya mau sharing tentang pengalaman perjalanan libur akhir tahun. Liburan akhir tahun 2018 ini, tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, saya isi dengan mudik ke kampung halaman, karena memang kampung halaman kami termasuk destinasi wisata yang cukup menarik untuk semua kalangan usia, yaitu Kota Jogja.

Kami berangkat dari Jatinangor menuju Jogja pada tanggal 21 Desember 2018 dan kembali ke Jatinangor pada tanggal 30 Desember 2018. Banyak teman dan saudara di Jogja yang menanyakan kenapa liburannya sebentar dan tidak sekalian sampai tahun baru? Pertimbangan kami, berkendara saat tahun baru kemungkinan kurang nyaman karena jalanan pasti padat merayap oleh pemudik. Arus mudik maupun arus balik mudik tahun baru. Oleh karena itu, kami memilih pulang ke Jatinangor sebelum tahun baru. Selain menghindari padatnya arus lalu-lintas, kami juga perlu mempersiapkan diri dan rumah sebelum aktivitas masuk kantor dan masuk sekolah dimulai pada 2 Januari 2019.
Saat kami sampai rumah pada 30 Desember 2018, kami masih punya setidaknya 2 hari untuk beres-beres rumah dan mengistirahatkan badan dan pikiran dari hiruk-pikuk euforia liburan akhir tahun di kampung halaman Jogja.

Kami berlima (saya, suami, si sulung, si bungsu, dan ayah saya/kakeknya anak-anak), 3 orang dewasa dan 2 bocah, berangkat ke Jogja, dengan segala persiapan dan barang bawaan bejibun. Makanya kami memilih untuk mengendarai mobil pribadi, karena barang bawaannya itu lho, kayak mau pindahan, haha.
Kami sengaja memilih memulai perjalanan pada jam 1 dini hari. Harapannya, jalanan akan lancar, sepi, udara masih segar, dan anak-anak masih tidur nyenyak. Alhamdulillah ternyata benar. Jalanan masih sepi lancar dan anak-anak tenang dibuai mimpi, hehe.

Memasuki setengah perjalanan, anak-anak mulai kami bangunkan, bersiap untuk turun, istirahat, sekaligus shalat subuh dan sarapan (mungkin lebih mirip sahur kali ya hehe).
Setelah shalat subuh kami melanjutkan perjalanan dengan suasana meriah di dalam mobil.
Oiya, untuk mengantisipasi agar anak tidak bosan saat berkendara dalam waktu lama, coba siapkan aneka mainan, cemilan, dan aktivitas kesukaan anak. Misalnya buku bacaan kesayangan, peralatan menggambar dan mewarnai, mainan, kertas origami, cemilan kesukaan, musik kesukaan anak, sampai aneka tebak-tebakan serta permainan seru yang memungkinkan dimainkan di tempat duduk dalam mobil. Alhamdulillah cara ini berhasil untuk kedua anak saya yang berusia 7 tahun dan 2 tahun. Mudik lancar semua hepiii. Kebayang kan, kalau di dalam mobil ada dua bocah, pasti seru ramenya, ada yang nyanyi, tebak-tebakan, nanya macem-macem apa yang dilihat di perjalanan, sampai rebutan mainan dan cemilan. Semua keseruan itu berakhir menjelang jam tidur siang, karena saat mereka tidur, jadi sepi, hehehe.

Dalam perjalanan mudik kali ini, kami mencoba rute baru. Jika biasanya menggunakan jalur selatan, lewat jalan Daendels (Masuk di Kebumen dan keluar di Wates Kulon Progo). Nah kali ini kami mencoba jalan di sebelah selatan Daendels. Lokasinya tidak jauh berbeda dengan jalan Daendels, hanya agak sedikit ke selatan. Google maps menyebutnya Jalan Lintas Selatan. Karena memang posisinya yang berada di paling selatan, sangat dekat dengan area pantai selatan pulau jawa.
Oiya, saat melewati suatu tempat yang bersejarah, (dibantu informasi hasil browsing di google) kami mencoba menjelaskan tentang sejarah atau cerita latar belakang tempat tersebut, misalnya tentang jalan Daendels ini. Jadi, harapannya perjalanan kami dapat menambah wawasan, manfaat, dan pengalaman berkesan untuk anak-anak.

Kami mencoba jalan tersebut karena mendapat info dari seorang teman. Kabarnya jalan tersebut baru dibangun dan masih mulus serta lebih nyaman karena masih sepi. Setelah kami coba, ternyata benar. Jalanan lebar, mulus terbentang, dengan pemandangan vegetasi khas pantai menghiasi di kanan kirinya. Sayangnya kami tidak turun untuk berfoto di jalanan tersebut, kami lebih memilih menikmatinya dari balik kaca jendela mobil. Wow, kami takjub, berasa nostalgia saat perjalanan Family Camping di Noosa, Brisbane, Queensland, Australia pada Januari 2015 silam, saat kami sekeluarga masih merantau di Brisbane.
Jarang-jarang ada jalanan mulus, rapi, dan sepi macam itu di Indonesia, jadi kami bisa memacu kendaraan hingga hampir 100km/jam, kayak di tol ya, hehe...
Semoga ke depannya, jalan lintas selatan ini tetap mulus, nyaman, dan terawat meski sudah banyak pengendara yang menggunakannya.

Menjelang jam 1 siang Alhamdulillah kami sampai di tujuan, Jogja tercintaaaa... Berarti total perjalanan kami sekitar 12 jam, sudah termasuk beberapa kali mampir toilet sana sini.
Sebelum sampai rumah, kami mampir makan siang dulu, mengobati kangen Jogja dengan sajian soto bening khas jogja dan gudeg. Kelar makan siang, langsung cuss menuju rumah.

Sampai rumah, langsung bongkar muatan (barang-barang udah berantakan, beneran mirip pindahan, haha). Sore menjelang, saatnya beristirahat sambil ngobrol santai dengan seluruh keluarga di Jogja dan update kabar ini itu. Perjalanan yang menyenangkan, Alhamdulillah lancar... tinggal recharge energi untuk memulai petualangan selanjutnya esok hari.

Tunggu kisah liburan kami esok hari ya....

Tulisan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Estrilook Community Day 1.
#odop #estrilookcommunity #day1


Custom Post Signature