Mudik Seru Akhir Tahun Part 2





Lanjuttt kisah mudik seru akhir tahun yaaaa....

Untuk Mudik Seru Akhir Tahun Part 1, bisa baca di sini.


Sesampainya di Jogja, kami beristirahat dan lanjut merencanakan eksplorasi Jogja untuk keesokan harinya. Tujuan yang sudah tertulis di buku kecil catatan perjalanan si sulung, destinasi pertama adalah Kraton Jogja.
Kenapa Kraton Jogja? Karena beberapa bulan terakhir, si sulung sedang hobi berkunjung ke museum. Setelah diceritakan sekilas bahwa di Jogja ada istana raja yang dulunya bekas kerajaan Mataram dan hingga saat ini istananya masih menyimpan benda-benda bersejarah dan banyak dikunjungi wisatawan, dia pun sangat tertarik ingin berkunjung juga.

Oiya, sebelumnya kuinformasikan dulu ya, bahwa liburan kali ini, kami memberikan tugas liburan kepada si sulung, untuk membuat catatan perjalanan selama liburan di Jogja. Nah, saat proses packing si sulung sudah semangat banget menyiapkan buku catatan dan segala peralatan yang ingin dia bawa ke Jogja.
Buku kecil dan pensil (yang juga kecil hehe), selalu dia bawa di saku celananya setiap kali keluar rumah selama di Jogja. Kasian juga sih melihat dia kesusahan membawanya di saku dan selalu kerepotan ingin menulis saat di area wisata ataupun saat masuk mobil. Tapi tak apalah, itung-itung untuk memberi dia pengalaman membuat catatan perjalanan berdasarkan liburan, belajar jadi jurnalis cilik euy.

Nah, saat saya intip catatan si sulung di buku kecilnya, destinasi yang ingin dia kunjungi saat mudik ke Jogja adalah: Kraton Jogja, Taman Pintar, Museum, dan Zoo.
Ahamdulillah kami bisa mewujudkan 3 di antaranya. Destinasi terakhir yakni zoo (Kebun Binatang Gembiraloka Jogja) terpaksa skip dulu karena alasan kenyamanan dan lalu-lintas, hehe. Sebenernya sih alasan utama lebih ke bunda dan ayah yang sudah gempor dan kepanasan kalau kebanyakan muter-muter Kota Jogja, hahaha.

Sekian tahun tinggal di rantau yang bercuaca dingin seperti Australia dan Bandung (Jatinangor sebenernya termasuk Bandung coret, hiks), begitu mudik Jogja problemanya selalu kepanasan. Bukan karena nggaya atau gimana, tapi mungkin tubuh sudah beradaptasi dengan cuaca dingin, jadi kena panas dikit aja sudah kebingungan minta yang adem-adem, haha. Nggaya, wis gak opo-opo lah sing penting sehat to.


Kraton Jogja


Kami berangkat ke kraton sepagi mungkin untuk mengantisipasi macet dan antrian di loket masuk kraton. FYI, Jogja di musim liburan itu kondisi lalu-lintasnya gak jauh beda dengan Jakarta di hari kerja, macet parah.


Oiya, kami berenam (aku, suami, ayahku, si sulung, si bungsu, dan ponakan) berangkat dari rumah mengendarai mobil. Sampai di sekitaran Pasar Beringharjo, kami parkir mobil, dan lanjut memesan taksi online untuk melanjutkan perjalanan hingga kraton. Mengapa harus naik taksi online? Karena kami khawatir tidak dapat parkir di area sekitar kraton, lagi-lagi karena musim liburan, pengunjung tempat wisata di Jogja seringnya membeludak. Nah, daripada repot dan pusing cari parkir, mending mobil parkir di area parkir tengah kota yang jelas-jelas memadai lokasinya, kemudian lanjutkan pakai taksi online. Simple kan.

Setelah sampai di kraton, ternyata benar. Pengunjung membeludak dengan wisatawan lokal maupun mancanegara. Mari rapatkan barisan, jangan sampai terpisah. Dengan formasi 3 dewasa dan 3 anak, berarti 1 orang dewasa bertanggung jawab menjaga 1 anak. Cukup rasional untuk menembus kerumunan pengunjung yang berjubel di area dalam kraton tanpa khawatir gandengan tangan dengan anak terlepas. Sebenarnya ayah, bunda, dan kakek sudah malas berkeliling saat melihat pengunjung yang berjubel begitu, tapi apalah daya, si sulung tetap bersikeras ingin masuk. Ya sudahlah mari kita lalui, lebih cepat selesai akan lebih baik haha...

Sampai di dalam kraton, dimulailah petualangan kami menyelusuri ruangan demi ruangan. Ayah dan Bunda merangkap sebagai guide, menjelaskan pada si sulung dan sepupunya tentang segala hal yang dilihatnya. Tentu saja ayah dan bunda punya backup informasi yang mumpuni yaitu mbah google dan buku dari Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya Kota Yogyakarta. Hehehe.

Kraton Jogja ini didirikan pada tahun 1775 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I. Meski sekarang Jogja sudah masuk sebagai salah satu provinsi di Indonesia, namun hingga kini Jogja tetap mempertahankan beberapa sistem aturan dan adat istiadat yang berlaku sejak jaman Kasultanan Jogjakarta, misal tata cara adat upacara tertentu, dan masih banyak lainnya.

Kompleks area kraton ini cukup luas (cukup bikin gempor lah ya kalau harus muterin semua bangunannya). Seperti yang terpampang pada gambar di atas (perhatikan baik-baik ya, jadi teman-teman ada sedikit gambaran denah lokasi area dalam kompleks kraton). Di dalam area kraton dibagi menjadi beberapa bangunan yang mempunyai fungsi dan koleksi benda-benda bersejarah yang berbeda satu sama lain.

Bangunan-bangunan itu antara lain:
- Trajumas: menyimpan aneka tandu tradisional
- Bangsal Sri Manganti: tempat untuk menerima tamu-tamu penting dari dalam maupun luar negeri, di dalamnya tersimpan aneka koleksi gamelan.
- Patehan: lazim disebut museum cangkir, karena di dalamnya tersimpan aneka koleksi cangkir dan peralatan makan dan minum teh dan jamu dalam berbagai acara untuk raja serta anggota kerajaan lainnya. Setiap kedudukan keluarga kerajaan memiliki peralatan tersendiri, berbeda dari segi model maupun warnanya. Cangkir minum teh untuk raja berbeda dengan cangkir untuk pangeran, dan berbeda pula dengan cangkir untuk abdi dalem.
- Bangsal Kesatriyan: di dalamnya tersimpan koleksi lukisan raja-raja Kraton Jogja.
- Museum souvenir: menyimpan aneka souvenir dari tamu-tamu kraton dari dalam dan luar negeri.
- Museum Batik dan Wayang: koleksi batik dan wayang milik kraton tersimpan rapi dan masih bagus.

Setiap harinya, pihak kraton menyediakan pagelaran yang berbeda-beda untuk pengunjung kraton. Ada wayang kulit, wayang klithik, karawitan, sendratari, gamelan, dan lain sebagainya. Saat kami berkunjung, kebetulan sedang berlangsung pagelaran karawitan. Seperangkat alat musik tradisional Jawa sedang dimainkan oleh sekelompok abdi dalem kraton dan lengkap dengan busana tradisional Jawa yang dikenakan. Sungguh menarik dan spesial bagi orang luar kota yang jarang sekali menyaksikan acara seperti itu.

Setelah puas berkeliling di sebagian besar bangunan dan ruangan di dalam kompleks kraton, kami menuju kantin. Di dalam area kraton ini terdapat satu taman, dengan pepohonan yang tinggi dan sejuk, kemudian bangku-bangku taman mempercantik area, di bagian tepinya berderet etalase aneka cemilan dan lemari pendingin berpintu kaca yang berisi aneka minuman dingin menyegarkan.
Kombinasi yang pas banget, duduk di bangku taman, di antara pepohonan rindang dan sejuk, menikmati minuman dingin dan snack, sembari meluruskan kaki sejenak setelah puas berkeliling di dalam kompleks kraton. Selesai melepas lelah, kami lanjutkan perjalanan. Keluar dari kompleks kraton, tujuan kami selanjutnya yaitu Masjid Gede Kauman Jogja, untuk menunaikan salat zuhur. Setelah salat, tujuan selanjutnya yaitu Taman Pintar Yogyakarta.


Taman Pintar Yogyakarta


Oiya, sebelumnya kujelaskan dulu, bahwa kami mengunjungi Taman Pintar ini hanya mengandalkan sisa-sisa energi setelah berkeliling di Kraton tadi. Jadi, bisa dibayangkan gimana kondisi kami yang sudah hampir gempor, sementara anak-anak masih energik, berasa batre full. Memang usia tidak bisa membohongi, hahaha....

Saat pertama kali masuk area Taman Pintar, kami lihat pengunjung sudah berjubel di area depannya dan antrian mengular di pintu loket. Langsung menciut deh nyali Bunda untuk menembus antrian, mengingat ini sudah sisa-sisa energi berkelana di kraton tadi. Namun, lagi-lagi si sulung memompa semangat dan kekeuh ingin masuk. Baeklah, Bismillah mari kita lalui saja.

Setelah tiket terbeli, mulai kami antri di pintu masuk. Tak berapa lama saat mulai mendekati pintu masuk, si ponakan tiba-tiba berbisik, "Tante aku takut lewat pintu masuk yang ini karena ada Dinosaurusnya buesaarrr. Aku mau lewat pintu lain minta dianter Pak Satpam aja". Haduh mulai celingukan deh cari pak Satpam.
Oke, akhirnya si kakek dan ponakan serta aku keluar antrian untuk mencarikan pak satpam yang mau anter lewat pintu lain. Untungnya kami berenam, jadi suami dan si sulung masih stay di dalam antrian. Lumayan nanti saat selesai mencarikan Satpam, saya (sabil menggendong si kecil) gak perlu antri dari awal lagi, langsung menyusul suami aja yang sudah lebih dulu antri di situ. Gak termasuk menyerobot antrian kan, guys?!?! Hehe

Sesampainya di pintu masuk, ternyata selain Dinosaurusnya besar, juga suaranya menggelegar memekakkan telinga, pantesan si ponakan takut, hihi... Dan si kecilku juga takut ternyata, untungnya dia di dalam gendongan, jadi dia langsung peluk kenceng Bundanya dan ngumpet di dalam gendongan, haha.. Setelah Dinosaurus terlewati dengan aman, kami berada di gedung berbentuk lingkaran yang di sekelilingnya banyak percobaan science yang menarik banget. Mulai deh kami jelajahi satu-persatu itu meja percobaan science. Di setiap pos percobaan, kami yang dewasa selalu menjelaskan ulang pada anak-anak dengan bahasa yang lebih sederhana agar mereka lebih paham.

Puas berkeliling dan mulut serta kaki ini rasanya sudah pegel banget. Mulut pegel jelasin dan kaki pegel berkeliling, hehe. Maka kami putuskan menyudahi kunjungan kali ini. Tak sanggup rasanya menunggu lebih lama lagi, pengen buru-buru duduk di dalam mobil dan cuss pulang ke rumah, haha.


Museum Dharma Wiratama

Museum Dharma Wiratama Yogyakarta

Museum ini merupakan museum milik TNI AD, jadi isinya segala pernak-pernik yang berkaitan dengan TNI. Kebetulan saat berkunjung ke museum ini, saya dan si bungsu tidak ikut karena ada keperluan lain. Nah, saat si sulung bosan di rumah, maka ayahnya mengajak ke museum ini. Jadi mereka boys time katanya. Saya hanya melihat dari foto-fotonya saja.

Dari foto-foto yang saya lihat, ada berbagai barang peninggalan bersejarah yang dipajang begitu saja, namun ada pula barang bersejarah yang penampilannya dikemas secara modern. Misalnya ada mobil kuno zaman perang (tentunya sudah susah diapa2in ya, tapi masih tampak bagus dan terawat. Kemudian ada area semacam dapur umum zaman perang yang dikemas apik dengan bantuan teknologi terkini. Jadi, orang yang berfoto di situ dapat seolah benar-benar berada di dapur tersebut dan memegang barang-barang di situ yang tampak nyata dengan segala atribut zaman itu (topi, senjata, alat masak, dll).
Beberapa Patung di Dalam Museum



Ada koleksi aneka seragam tentara dari zaman ke zaman. Ada banyak ornamen peninggalan zaman Belanda, patung-patung pejuang perang kemerdekaan, dan lain sebagainya.

Di museum ini anak-anak dapat mempelajari sejarah Indonesia dengan cara yang lebih menyenangkan dan interaktif. Tentunya orang tua juga harus proaktif menjelaskan segala sesuatunya dengan bahasa yang lebih sederhana dan dipahami anak ya.
Puas berkeliling dan berfoto di museum tersebut, mereka lanjut wisata kuliner ke Mie Panda yang terkenal yummy di Jogja itu. (Bundamami dan si bungsu gak diajakin makan mie, hiks).
Oke, sekian petualangan libur akhir tahun kami, semoga bermanfaat menambah informasi untuk teman-teman semua yang akan berkunjung ke tempat yang kebetulan sama yaitu Kraton, Taman Pintar, dan Museum Dharma Wiratama.
Semoga lain kali bisa liburan ke tempat-tempat yang lebih nge-hits dan instagrammable (tapi emang dasarnya kurang suka pepotoan, jadi seringnya lupa mau foto, baru inget pas udah di mobil mau pulang, parah, hwkwkwkwkkk).
Be First to Post Comment !
Post a Comment

Silakan tinggalkan jejak melalui komentar di sini yaaa.
Terima kasih sudah mampir di Bundamami Story.

Custom Post Signature