5 Cara Membuat Anak Lebih Mandiri


Assalamualaikum...
Apa kabar sobat Bunda? Semoga sobat Bunda dalam kondisi yang aman, sejahtera, dan sehat wal afiat semua ya. Hari ini, saya ingin membahas mengenai berpisah dengan anak. Pernah gak sih, para Bunda, mama, dan ibu-ibu merasakan berpisah dengan anak, minimal sehari semalam? Pastinya pernah dong, ya. Mungkin beberapa sobat Bunda menganggap saya aja yang lebay, berpisah dengan anak aja heboh dan dibikin postingan segala. Tapi ya sudahlah, kan ini blog saya, suka-suka saya dong mau nulis apa. Eh, kok saya yang sewot, hahahaha, maaf.

Jadi, postingan ini berisi beberapa tips berdasarkan sekelumit pengalaman pertama saya berpisah dengan anak selama sehari semalam, karena anak saya camping, hahaha. Ceritanya, anak mbarep (anak pertama) saya, harus ikut camping dalam rangka Ujian Fisik Mental dari ekskul taekwondo. Ujian Fismen tahun ini mengambil tempat di sebuah bumi perkemahan di daerah Pengalengan Jawa Barat. Ujian fismen ini diwajibkan bagi anggota club taekwondo yang sudah mengikuti latihan rutin minimal 1 tahun, dalam rangka memperoleh kartu anggota club taekwondo tersebut. Fokus cerita bukan pada kartu anggotanya, ya. Tapi pada bagaimana mempersiapkan anak (secara fisik dan mental) agar anak lebih mandiri dan siap berangkat camping tanpa ortu untuk pertama kalinya. Dan juga mempersiapkan mental ortu untuk berpisah dengan anak, hehehe. Karena yang mellow mau berangkat camping itu gak cuma anaknya, ternyata ortunya juga mewek, hahaha.

Oiya, sebenarnya aktivitas camping sudah bukan hal baru bagi anak-anak saya. Kami sekeluarga memang menyukai aktivitas camping, karena saya dan suami sama-sama jebolan aktivis Pramuka sejak SMA. Kami pun pertama kali bertemu dalam aktivitas Pramuka, hihihi. Saat anak pertama kami berusia 3 tahun, kami pernah camping bersama beberapa keluarga lain, ketika kami masih tinggal di Brisbane, Australia. Camping bersama balita itu seru, lho. Apalagi camping ground yang kami pilih di Noosa Beach, salah satu pantai keren di Brisbane, Australia, dengan fasilitas yang jauh lebih keren jika dibanding camping ground di Indonesia pada umumnya. Insya Allah, kapan-kapan saya tulis kisahnya di blog ini, ya.

Balik lagi ke topik utama, yuk! Bagaimana mempersiapkan anak untuk lebih mandiri mengikuti camping pertama kali tanpa ortu? Kepoin nih beberapa tips nya. Cekidot!

1. Persiapkan Mental Anak

Mempersiapkan mental anak ini bukan hanya 1-2 hari sebelum berangkat camping lho, ya. Saya dan suami mempersiapkan mental anak mbarep untuk berangkat camping Ujian Fisik Mental Taekwondo ini setidaknya sejak 3 bulan sebelumnya. Mengapa? Karena menurut saya, menanamkan suatu pemahaman pada anak itu tidak bisa instan. Butuh waktu dan pembiasaan serta konsistensi dari lingkungan sekelilingnya.

Saya memilih untuk menanamkan pada anak bahwa 3 bulan lagi dia akan mengikuti perkemahan tanpa ditemani ortu. Saya ceritakan gambaran besar kegiatan yang kira-kira akan dia lakukan di sana. Tiap hari dan terus-menerus saya selipkan dalam aktivitas dan obrolan keseharian kami di rumah. Perlu diingat juga, saya hanya menceritakan kegiatan yang seru dan happy ya. Karena, jika saya ceritakan kesusahan dan kisah horor saat camping, khawatir anak saya keburu takut ikut camping. Saya pikir, biarlah kisah susah, berat, capek, dan horornya camping tetap jadi kejutan bagi anak saya

Harapannya, secara tidak langsung akan tertanam dalam alam bawah sadarnya dan akan membentuk pola pikir anak untuk menghadapinya. Misalnya, saat sedang santai di rumah, saya ajak berlatih melipat sleeping bag. Bisa dibayangkan betapa ribetnya untuk anak usia 8 tahun berbadan mungil ini untuk melipat sleeping bag berukuran segede 2x lipat badan tuh bocah, hehehe. Perlu minimal 5x bongkar pasang sleeping bag, sampai benar-benar rapi dan bisa masuk ke sarung/tasnya. Sampai berkeringat dia. Kasihan sih, tapi ini demi kemandirian dia nantinya.

2. Persiapkan Mental Ortu Juga

Ternyata jadi ortu itu tidak mudah, Ferguso! Hahaha, begitulah kira-kira kalau diungkapkan sesuai dengan guyonan zaman now yang lagi ngeHITS itu. Memang benar adanya, jadi ortu itu tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu banyak belajar dari berbagai sumber, perlu banyak bermuhasabah, perlu banyak iringan doa, dan perlu banyak bersabar yang paling penting.

Jangan dikira kalau camping gini yang mellow cuma si anak. Ternyata ortunya ikutan mellow marshmallow guys. Hahaha. Iya lah mellow, soalnya sejak anak lahir sampai usia 8 tahun ini, saya belum pernah berpisah lebih dari 24 jam dengan anak-anak. Jadi, wajar kalau Bundamami mellow ingin ikut camping menemani anak mbarep, kayak emak-emak lainnya. Sebenarnya ortu boleh ikut menemani, namun berada di penginapan yang berbeda, tetep aja gak bisa ketemu anak saat ikut Uji Fisik Mental itu. Jadi, ya sama aja dong! Menurut saya, mending gak usah ikut sekalian, nunggu di rumah aja, lebih irit pula. Ingat! Yang menarik bagi emak-emak tipe ekonomis macem Bundamami, adalah kata irit, hemat, dan semacamnya, hehehe. Begitu membayangkan bakalan lebih hemat kalo ortu gak ikutan camping, langsung memutuskan yaudah gak usah ikut aja. Itung-itung berlatih untuk anak dan ortu agar lebih tegar saat berpisah satu sama lain, ya kan.

Oiya, mempersiapkan mental ortu ini berlaku untuk ayah maupun bunda, ya. Selama ini ayahpapi selalu menguatkan dan mengingatkan bahwa saya harus mulai belajar melepaskan anak, karena sudah mulai gede, jangan dikekepin mulu. Saya pikir ayahpapi akan kuat menghadapi berpisah dengan anak saat camping. Kan, ayahpapi udah sering banget berpisah dengan anak, bahkan sampai berhari-hari pula, kalau lagi dinas luar kota. Sudah teruji pokoknya.

Tapi ternyata saya salah Ferguso! Hahaha. Di balik ketangguhan dan kekuatan seorang ayah, ternyata akan mellow juga pada waktunya saat ditinggal anak camping. Hehehe... Saya sadar, ketegaran dan ketangguhan seorang ayah pun ada batasnya. Saat anak berangkat camping, Bundamami yang mellow berkaca-kaca melepas keberangkatan anak sambil dadah-dadah dekat jendela kaca bus. Ayahpapi terus menguatkan Bundamami dan meyakinkan bahwa ini hanya camping sehari semalam dan insya Allah akan bermanfaat untuk anak agar menjadi lebih tangguh dan mandiri. Oke, akhirnya kami pulang dan Bundamami mulai beraktivitas seperti biasa, berharap untuk membuat waktu terasa lebih cepat sehingga tidak perlu berlarut-larut mellow ingat anak lagi ngapain di bus, lagi ngapain di tempat camping, dan sebagainya.

Ketika malam tiba dan belum ada kabar atau sepotong foto pun di grup WA ortu, ayahpapi mulai bingung. Biasanya kan, kalau ada kegiatan apa pun, pihak guru/panitia kegiatan akan share foto kegiatan sebanyak mungkin yang bikin ortu jadi tenang, adem, ayem, tuh. Lah ini, sampai hampir jam 9 malam belum ada satu pun foto kegiatan yang diunggah oleh guru/panitia. Mulai deh, ayahpapi meminta bundamami untuk menghubungi jaringan emak-emak yang kebetulan ikut menginap di lokasi camping. Kesimpulan saya, setegar-tegarnya seorang ayah, pasti akan mellow juga ketika gak ada kabar dari anak yang lagi camping. Hahaha.

Mempersiapkan mental ortu saat anak camping ini juga bermanfaat bagi ortu sendiri untuk menghadapi hari tua kelak. Anak tidak selamanya akan berada di sisi ortu, kan. Ketika dewasa dan mulai membentuk keluarga sendiri tentunya anak akan berpisah atau jauh dari ortu. Nah, inilah saatnya ortu mulai berlatih jauh dari anak. Titipkan dan pasrahkan anak pada penjagaan Allah SWT Sang Pemilik Hidup. Yakinkan diri bahwa Allah SWT akan menjaga anak kita, bahwa Allah SWT akan menjamin segala keperluan anak kita, yakinkan itu dalam hati dan pikiran ayah bunda semua. Jangan lupa untuk selalu menyelipkan doa-doa terbaik untuk ananda semua dalam setiap sujud dan dzikir ayah bunda. Insya Allah semua akan berjalan baik dan lancar.

3. Hindari Terlalu Sering Membantu Anak

Ayah Bunda sering menjadi 'superhero' bagi anak? Segera hentikan atau minimal kurangi sedikit. Cukup marvel yang mencetak superhero aja, ayah bunda jangan ikutan, hahaha.
Maksudnya, jika selama ini ayah bunda sering banget menjadi dewa penolong atau superhero atau apalah namanya bagi anak, tolong segera dikurangi. Pasalnya, anak yang terlalu sering mendapat pertolongan atau bantuan dari orang sekitarnya akan lebih rentan mengalami stres dan mudah putus asa ketika dewasa. Kok bisa, sih?
Logikanya begini, ketika saat kecil si anak terlalu sering mendapat bantuan atau pertolongan melakukan apapun aktivitas hariannya, maka anak tersebut menjadi berkurang kesempatannya dalam berlatih menghadapi dan menyelesaikan masalah.

Ketika dewasa kelak, belum tentu ortu selalu ada di sampingnya untuk membantu, kan? Maka anak dituntut untuk mengolah akal pikirannya sendiri dalam mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi. Ketika anak terlalu sering dibantu, otaknya tidak terlatih mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi. Ketika otaknya tidak terlatih mencari solusi, semua masalah terasa sangat berat dan membuat anak mudah stres dan putus asa.

Sebenarnya, tugas harian dengan segala tantangan dan kerumitannya itu adalah wahana bagi anak untuk berlatih menjadi mandiri dan lebih tangguh. Jadi, jika si kecil bersusah payah menyeret kursi untuk jadi pijakan ketika akan mengambil barang di rak/lemari yang jauh lebih tinggi, jangan buru-buru dilarang atau dibantu, ya. Selama kondisinya masih terhitung aman dan tidak mengkhawatirkan, biarkan anak melakukannya sendiri. Ayah bunda cukup mengawasinya dan tetap waspada untuk memperhitungkan bahwa ayah bunda siap bergerak cepat menolong jika sekiranya ada gangguan atau kecelakaan yang dialami anak. Tapi jika kegiatan yang dilakukan anak terhitung masih aman, ayah bunda cukup sebagai pengawas dari kejauhan saja.

Menghindari terlalu banyak membantu anak juga akan menumbuhkan jiwa dan semangat pantang menyerah dalam diri anak, karena anak-anak jadi terbiasa menghadapi tantangan dan bersemangat untuk mencari solusinya sendiri. Jika anak berhasil melewati tantangan/ menyelesaikan masalahnya, anak akan merasa puas dan lebih percaya diri.

Oiya, menumbuhkan jiwa yang pantang menyerah pada anak sangat bermanfaat untuk masa depannya, lho. Karena di era zaman now, mulai bermunculan fenomena bunuh diri di kalangan ABG. Jika ditilik dari rentang usia, memang masa ABG merupakan episode hidup yang cukup berat dan terbilang sulit bagi seorang anak. Untuk itulah, perhatian, sumber daya, dan pengetahuan para ortu menjadi bekal yang penting untuk mendampingi anak di masa-masa sulitnya ini. Kembali ke fenomena bunuh diri di kalangan ABG, memang banyak faktor yang menjadi pemicu terjadinya kasus bunuh diri tersebut, tetapi sebagian besar bermuara pada kondisi jiwa dan mental anak yang rentan stres dan mudah putus asa. Dan pembentukan mental ini adalah tanggung jawab ortu sejak anak baru lahir.

Jadi, sebagai ortu kita harus pintar-pintar menahan diri dan memilah jika akan membantu anak. Mana hal yang harus dibantu dan mana hal yang tidak butuh dibantu, semua bergantung pada kepekaan ortu dan situasi kondisi anak serta keluarga masing-masing.

4. Ajari Anak untuk Membuat Keputusan

Terdengar klise dan sepele, ya? Memang sih, tapi butuh tekad dan semangat untuk mewujudkannya. Mengajari anak untuk membuat keputusan ini sangat penting pula untuk tumbuh kembang anak. Dan, bisa jadi dampaknya baru akan terlihat ketika anak dewasa. Anak akan lebih mantap dan percaya diri dalam menghadapi persoalan hidupnya jika dihadapkan pada suatu pilihan-pilihan yang rumit.

Mulailah dari hal-hal yang sepele dan sederhana, misalnya mengajari anak untuk memutuskan baju apa yang akan dia gunakan pada kesempatan tertentu, mengajari anak untuk memutuskan makanan apa yang akan dikonsumsi, dan sebagainya.

Pada kasus camping anak mbarep, saya menerapkannya dalam hal memilih tas. Di info perlengkapan yang harus dibawa, anak wajib membawa sleeping bag. Nah, setelah berlatih melipat sleeping bag yang saya ceritakan di atas, hal selanjutnya adalah memutuskan akan menggunakan tas apa untuk membawa sleeping bag tersebut. Sleeping bag segede itu, jelas tidak muat jika masuk di tas sekolahnya, kan. Kami sebagai ortu hanya memberi opsi membawa koper atau ransel, tentunya disertai dengan penjelasan plus minus dari masing-masing opsi tersebut. Kami membiarkan anak memutuskan sendiri dia akan menggunakan yang mana. Kami ceritakan semua aspek dan konsekuensi jika memilih opsi-opsi tersebut. Selain itu, kami juga meminta pada anak, bahwa dia harus mampu menjelaskan alasan mengapa dia memilih opsi tersebut.

Dan, hingga sehari sebelum keberangkatan, anak saya masih galau akan menggunakan koper atau ransel, hahaha. Akhirnya kami memberi tenggat waktu, jika sampai malam sebelum keberangkatan dia belum memutuskan, maka kami yang akan memutuskan. Alhamdulillah malam hari sebelum berangkat, dia memutuskan, akhirnya dia memilih menggunakan koper. Alasannya, karena hanya naik bis kemudian barang-barang akan diletakkan di penginapan, selama kegiatan tidak harus membawa barang-barangnya, jadi dia memilih koper biar mudah diseret dan gak terlalu capek. Menurut anak saya, jika dia harus membawa-bawa barangnya selama kegiatan outdoor berlangsung, maka dia akan memilih menggunakan ransel karena lebih mudah berpindah tempat di medan jalanan yang bervariasi. Alhamdulillah, sebagai ortu kami cukup puas dengan pilihan dan logika alasan yang anak kami kemukakan di usianya yang baru 8 tahun itu.

Jadi, mengajari anak untuk membuat keputusan sendiri memang perlu dilatih sejak kecil, lho. Dalam mengajari anak membuat keputusan, ayah bunda juga perlu mengajarkan bagaimana mengkaji aspek plus dan minus dalam setiap keputusan yang akan diambil. Ajarkan juga anak untuk melakukan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, Threats) secara sederhana sesuai tahapan usianya. Memang tidak mudah ya, tapi ortu harus melatihnya sejak dini. Gunakan bahasa sederhana sesuai tahap pemahaman anak, misal untuk strength, kita bisa menyebutkan pada anak, bahwa sebagai manusia kita semua dikaruniai kelebihan akal pikiran yang cerdas, itulah kekuatan kita sehingga dapat berpikir mencari solusi, bernegosiasi, atau mencari pertolongan orang sekitar jika sedang dalam bahaya. Pada weakness, misalnya kita sebutkan kelemahannya apa saja, dan bagaimana dia mengatasinya dengan cara optimalkan kelebihan-kelebihan lain, dan masih banyak lagi kata-kata yang dapat kita tanamkan pada anak dalam rangka memperkaya pola pikirnya sehingga anak percaya diri untuk membuat keputusan yang tepat.

5. Biasakan Anak untuk Disiplin Mematuhi Aturan dan Mengucapkan 3 Kata Ajaib

Lagi-lagi terdengar klise banget ya? Hehehe memang sih. Disiplin mematuhi aturan di mana pun kita berada insya Allah akan membuat lancar dan sukses apa pun yang sedang kita lakukan. Jika anak sudah terbiasa disiplin mematuhi aturan di rumah, maka saat berada di luar rumah (misalnya saat camping), anak akan lebih mandiri mengikuti kegiatan di luar sana. Karena biasanya setiap kegiatan akan memiliki panitia dan aturan-aturan tertentu. Jika anak kita patuh dan menjalankan segala sesuatunya sesuai prosedur, insya Allah semuanya berjalan lancar dan kita akan lebih tenang serta percaya diri melepas anak untuk berkegiatan positif di luar lingkungan rumah.

Selanjutnya, mengucapkan 3 kata ajaib. Ini aturan pertama dan utama yang harus diterapkan di rumah sejak anak berusia dini. Ketiga kata ajaib tersebut adalah maaf, tolong, dan terima kasih. Seluruh bangsa dan agama di dunia ini pasti menganjurkan untuk berbuat kebaikan, salah satunya melalui ketiga kata ajaib tersebut. Dengan 3 kata ajaib itu, orang yang berinteraksi dengan kita akan merasa dihargai dan dapat menghadapi segala kondisi dan dinamika kehidupan dengan lebih menyenangkan dan damai.

Hal ini berlaku pula dengan anak kita. Jika seorang anak terbiasa disiplin mematuhi aturan dan mengucapkan ketiga kata ajaib tersebut dalam interaksi hariannya, maka anak akan mudah membangun kemandirian dan kebiasaan-kebiasaan baik lainnya dalam setiap tahap perkembangan usianya.

Finally, itulah 5 tips untuk membuat anak kita lebih mandiri ketika berinteraksi dalam lingkungan dan pergaulannya. Semoga bermanfaat.
Jadi, ayah bunda sudah menerapkan yang nomor berapa aja?
Yuk, share ceritamu di kolom komentar yaaaa...

Review: Novel Perempuan Penyulam Sabar, Mengajarkan Arti Sabar dan Syukur yang Sesungguhnya

Assalamualaikum Sobat Bunda...
Wah, gak terasa 4 bulan lamanya blog ini tak terjamah. Dengan alasan kesibukan yang meningkat dan segala printhilan alasan lain, sukses membuat blog ini terasing di belantara digital. Upss istilahnya lebay yak, hehehe. Intinya cuma mau bilang, selama 4 bulan ini blog gak keurus, hikss... Setelah sekian lama gak nulis di sini, akhirnya muncul juga kerinduan untuk menumpahkan segala curhatan di blog, hahaha. Nah, hari ini kangen nulis, makanya buru-buru tengokin blog yang sudah mulai dihuni sarang laba-laba.

Hari ini Bundamami mau nulis tentang review novel, yang berjudul Perempuan Penyulam Sabar. Baca novel ini, sukses bikin aku butuh tissue dan nangis bombay di beberapa bagian. Bagaimana tidak, perasaan pembaca dicampur aduk bak naik rollercoaster (saya agak lebay sih, haha), lalu dengan ending yang sama sekali di luar dugaan.

Awalnya aku menemukan novel ini di FB. Saat itu sodara sepupuku menulis status tentang novel ini. Dari baca status sodara sepupuku inilah, aku tertarik membaca novel tersebut. Akhirnya dapatlah gratisan, karena dibeliin sodara sepupuku, hehehe (malakin sodara sendiri gapapa ya kan, hahaha). Ternyata, penulis novel tersebut adalah adik dari teman sepupuku itu. Takjub aku dibuatnya, ada orang dari kampung halamanku (sesama dari Situbondo) yang jadi penulis novel sekeren ini?!? Jadi ikutan bangga, nih.

Novel ini bercerita tentang seorang wanita yang menurutku, objek penderita banget. Pokoknya segala macam masalah dan ujian datang silih berganti. Buku ini terdiri dari 4 Bab. Pada 3 Bab pertama, masing-masing bab memiliki fokus tokoh seorang wanita yang berbeda. Dan, di bab terakhir barulah ketiga tokoh wanita tersebut menjadi 1 kesatuan cerita dan konflik yang utuh, dengan satu tokoh utama yaitu wanita bernama Mutiara.

Dikisahkan, Mutiara adalah seoang wanita tangguh yang dengan tegar menghadapi satu-persatu ujian hidup yang menghampiri. Tak melulu soal percintaan, tapi juga mengangkat eksotisme kecantikan alam beberapa kota di Indonesia dan Singapura. Cinta, pengorbanan, dan pengabdian pada keluarga serta dibalut untaian kalimat sistematis nan indah membuat novel ini layak bersaing dengan jajaran novel-novel keren di toko buku sana.

Sayang sekali, karena diterbitkan secara indie dan dengan kualitas penerbit indie yang kurang mumpuni, ada kesalahan-kesalahan kecil yang menghampiri di beberapa bagian. Maaf, ini penyakit editor, kalo baca buku gini ini, malah matanya sambil ngedit, perhatikan typo dan kesalahan-kesalahan yang lolos, trus gemes sendiri, hahaha.

Selain ide dan jalan cerita yang menurutku menarik, novel ini juga menampilkan kepiawaian penulis yaitu Puspa Seruni dalam merangkai untaian kalimat yang menurutku cukup efektif, sistematis, tapi tetap indah. Keterampilan yang cukup sulit dan butuh jam terbang menulis yang tinggi lho. Karena menurut saya, banyak penulis novel lain yang tulisannya puitis banget tapi malah membuat inti cerita gak jelas dan terkesan muter-muter doang. Namun, berbeda dengan karya Puspa Seruni yang satu ini. Puspa Seruni sangat cermat meletakkan kalimat per kalimat hingga membentuk kesatuan cerita yang cukup 'bernyawa'. Ini saya cuplik sedikit kalimatnya di halaman persembahan.

Kupersembahkan karya ini... Untuk para perempuan yang berjuang menegakkan kepala dan mengusap air matanya sendiri. Untuk para perempuan yang sepenuh hati belajar ridho atas ketidaknyamanan takdir yang kerap datang bertandang. Untuk sumber kekuatanku, Rania dan Tita, yang menjadi pelecut semangat bagiku terus belajar tentang sabar dan syukur. Juga untukmu, seseorang yang kusebut dalam hening malam dan kesendirianku, yang kepada-Nya kupinta segala kebaikan bagimu dan juga bagiku. -Puspa Seruni-

Buat saya, novel ini mengajarkan arti sabar dan syukur yang sesungguhnya. Hidup itu simple aja, cukup sabar dan syukur, insya Allah kehidupan akan selalu on the track sesuai dengan tujuan awal manusia diciptakan, yaitu untuk beribadah, seperti yang termaktub dalam Al Quran.

 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz Dzariyat: 56)

Gimana, penasaran dengan cerita keseluruhan? Saya gak akan ceritain di sini. Silakan beli bukunya langsung ke Mbak Puspa Seruni (Cari di FB ya). Bukan ke saya lho, karena saya cuma review, bukan jualan, hahaha.

Oke, see u next time sobat Bundamami semua...

Wassalamualaikum

#AyoHijrah Jauhi Riba Hidup Berkah Bersama Bank Muamalat Indonesia

Assalamualaikum wr. wrb.
Hai hai sobat Bunda, kali ini saya ingin membahas mengenai pengalaman menggunakan layanan perbankan dari sebuah bank syariah terkemuka di Indonesia. Bank mana, tuh? Pastinya hanya Bank Muamalat Indonesia, bank yang pertama kali menerapkan sistem murni syariah di Indonesia. Sejak didirikan pada 1992, PT. Bank Muamalat Indonesia, Tbk. berkomitmen untuk menjadi bank syariah terbaik dan termasuk dalam 10 besar bank di Indonesia yang eksistensinya diakui di tingkat regional.

Pertama kali menggunakan layanan perbankan dari Bank Muamalat Indonesia ini, saat saya akan membuka tabungan haji. Berbeda dengan suami saya, yang sudah menjadi nasabah Bank Muamalat Indonesia sejak masih kuliah, sudah lama banget, dong. Pelayanan di Bank Muamalat Indonesia ini memang benar-benar kualitas premium menurut saya. Petugasnya ramah dan sopan banget. Gak jutek sama sekali. Produk layanannya juga sangat beragam dan mampu memenuhi kebutuhan semua segmentasi masyarakat. Dari mulai tabungan biasa, tabungan pendidikan, deposito, hingga untuk keperluan ibadah. Komplit banget.

Kisah di balik upaya kami untuk menggenapi tabungan haji agar bisa mencapai nominal 25 juta/orang sehingga dapat diajukan untuk memperoleh nomor antrian keberangkatan di Departemen Agama, sungguh bukanlah sesuatu yang mudah. Kami mengumpulkannya sedikit demi sedikit dari penghasilan dengan berhemat di sana-sini dan sekuat tenaga menahan diri dari segala godaan belanja yang terkutuk, hehehe.

Kami juga meningkatkan porsi sedekah dan ibadah kami. Menurut beberapa ustadz yang terkenal di TV itu, jika ingin doa kita lebih cepat dikabulkan oleh Allah, maka tambah lagi sedekahnya. Awalnya sih saya tidak 100% percaya, (ya iyalah, kita gak boleh percaya sama ustadz, kita hanya boleh 100% percaya pada Allah dan rasulNYA, hehe). Menurut saya itu mungkin hanya berlaku untuk para ustadz dan alim ulama, yang ilmu agama serta kualitas ibadahnya sudah tingkat tinggi, yang sudah sangat dekat dengan Allah. Wah, kalau begitu apa kabar dengan saya, yang ibadahnya pas-pasan gini, ustadzah bukan, alim ulama juga bukan. Apa iya bisa mengikuti anjuran mereka untuk bersedekah dengan jumlah yang fantastis agar doanya cepat terkabul? Kayaknya gak mungkin deh. Tapi, rasa penasaran itu ada.

Penasaran ingin membuktikan validitas ceramah para ustadz tentang sedekah itu, perlahan kami tambah pos-pos sedekah. Meski tidak banyak (bahkan terbilang sangat kecil), tapi kami usahakan konsisten jumlah dan waktunya. Sambil terus berdoa tanpa kenal lelah. Kemudian kami juga berusaha mendirikan shalat tepat waktu. Meski cukup sulit di awal adaptasi, namun akhirnya bisa terbiasa. Dan juga 1 hal yang paling kami hindari yaitu riba.

Jika kami ingin membeli barang, kami memilih untuk menabung terlebih dahulu, setelah dirasa dananya cukup di tabungan, kami baru membeli secara cash. Bahkan, untuk mobil yang saat itu memang kami butuhkan, karena cuaca di daerah kami cukup anomali kadang hujan dan tiba-tiba panas kembali, sementara jika kami berkendara dengan sepeda motor sudah tidak memungkinkan lagi, (naik motor sekeluarga yang cuma 4 orang ini sudah berasa kayak beruang sirkus naik sepeda roda 1, belum lagi kalau tiba-tiba hujan, semakin bikin ngakak tuh beruang sirkus, hahaha).

Saat itu, kami sudah cukup bahagia dengan membeli mobil bekas, karena dana yang ada saat itu memang cukup untuk sebuah mobil bekas nan imut. Gapapalah bekas, tapi kondisi masih mulus karena memang baru 1 tahun dipakai oleh pemilik yang pertama, semua masih berfungsi optimal, dan yang terpenting kami tidak terlilit hutang riba, karena kami sungguh ngeri membaca efek dari riba tersebut. Menurut ceramah para ustadz di TV dan youtube, riba itu diharamkan bahkan sejak dahulu sebelum islam hadir.

Allah SWT berfirman, “Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya.” (QS. An Nisaa’: 161).  Maksudnya adalah riba ini sudah dilarang sejak dahulu pada syari’at sebelum Islam. (Mughnil Muhtaj, 6/309)

Sudah banyak ulama yang menyerukan untuk menghindari riba, karena dosa riba itu sungguh tidak main-main pembalasannya. Beneran ngeRIBAnget, lho.
Rasulullah SAW bersabda, yang artinya:
“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Bahkan yang menurut saya paling ngeRIBAnget itu, jika praktik riba sudah merajalela di suatu negeri, maka secara tersirat negeri tersebut layak mendapat azab dari Allah. Ya ampun, naudzubillahimindzalik. Semoga Indonesia bukan termasuk negeri yang layak diazab. Aamiiin.

Rasulullah SAW bersabda, yang artinya:
“Apabila telah marak perzinaan dan praktek ribawi di suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan diri mereka untuk diazab oleh Allah.” (HR. Al-Hakim. Beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Imam Adz-Dzahabi mengatakan, hadits ini shahih. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi, sebagaimana disebut dalam Shahih At-Targhib wa Tarhib, no. 1859)

Sejak 2 tahun lalu, dengan segala daya upaya mendekatkan diri pada Allah dan menjauhi riba, akhirnya saya dan suami mempunyai tabungan haji di Bank Muamalat Indonesia. Sudah terdaftar ke Departemen Agama dan mendapat nomor antrian keberangkatan pula. Meski keberangkatannya masih beberapa tahun lagi (masih lama banget), namun kami sudah cukup bahagia dengan hal ini. Setidaknya kami sudah berusaha melangkah mempersiapkan dan memantaskan diri untuk menjadi tamu di Baitullah.

Mengapa harus Bank Muamalat, sih?
Untuk keperluan menabung, mendaftar haji dan deposito, sengaja saya pilih bank syariah yang sudah terbukti kualitas pelayanannya, yaitu Bank Muamalat Indonesia. Kan, banyak tuh bank-bank syariah sekarang ini, lantas mengapa harus Bank Muamalat, sih? Karena:

Bank Muamalat merupakan bank pertama yang murni syariah di Indonesia.
Bank Muamalat tidak menginduk dari bank konvensional lain, jadi sudah terjamin kemurnian sistem syariah yang digunakan.
Pengelolaan dana di Bank Muamalat ini didasarkan pada prinsip ekonomi syariah yang diawasi langsung oleh Dewan Pengawas Syariah.
Bank Muamalat memiliki produk dan layanan keuangan cukup lengkap dan ditunjang berbagai fasilitas canggih hingga ke luar negeri. Fasilitas tersebut antara lain: Mobile Banking, Internet Banking, jaringan ATM, dan kantor cabang yang tersebar di banyak daerah di Indonesia.

#AyoHijrah Berani Lebih Baik
Pada Oktober 2018 lalu, Bank Muamalat meluncurkan kampanye #AyoHijrah. Dalam kampanye tersebut, Bank Muamalat Indonesia mengajak masyarakat Indonesia untuk berubah menjadi lebih baik dalam menjalankan ajaran Islam yang sempurna dan menyeluruh (kaffah). Berhijrah di sini maksudnya tidak hanya aktivitas yang menyangkut ibadah lho. Tetapi juga aktivitas keseharian lainnya, termasuk pengelolaan keuangan, khususnya dalam layanan perbankan.

Hijrah itu memiliki makna berpindah, dengan tujuan untuk menjadi lebih baik tentunya. Hijrah bisa diterapkan pada segala sesuatu yang lebih luas maknanya. Mulai dari menghijrahkan diri secara lahir maupun batin. Misalnya secara lahir, dari yang tak berjilbab berhijrah menjadi berjilbab. Secara batin, dari yang suka gosipin orang, berhijrah lebih menahan diri tidak berghibah, memanfaatkan waktunya untuk fokus pada hal-hal yang lebih produktif sehingga tidak sempat memikirkan untuk menggunjingkan orang lain, dan masih banyak lagi. Dalam dunia perbankan, juga dikenal hijrah dengan beralih menggunakan jasa layanan perbankan yang menggunakan sistem syariah, seperti yang sedang dikampanyekan oleh Bank Muamalat Indonesia itu.

Kampanye #AyoHijrah ini bentuknya apa saja sih?
Bank Muamalat Indonesia itu kreatif banget lho mengemas pesan kampanye #AyoHijrah dalam kegiatan-kegiatan yang menarik. Misalnya seminar dan edukasi mengenai perbankan syariah, membuka booth di tempat-tempat acara yang melibatkan masyarakat luas, mengadakan kajian islami dengan para ulama sebagai narasumbernya, membantu memberdayakan masjid-masjid untuk menjadi agen perbankan syariah, dan masih banyak lagi.

Selain mengadakan kegiatan-kegiatan tersebut di atas, Bank Muamalat juga melengkapi kampanye #AyoHijrah ini dengan berbagai perubahan layanan yang insya Allah akan lebih berkah dan produktif. Benar-benar totalitas yang patut ditiru kampanye #AyoHijrah ini. Perubahan layanan itu berhubungan dengan beberapa nama layanannya, misalnya: tabungan iB Hijrah, tabungan iB Hijrah Haji dan Umrah, tabungan iB Hijrah Rencana, tabungan iB Hijah Prima, tabungan iB Hijrah Prima Berhadiah, Deposito iB Hijrah, Giro iB Hijrah, dan Pembiayaan Rumah iB Hijrah. Tambah keren kan nama-nama produk Bank Muamalat Indonesia kini?!?

Meski hanya penambahan kata "Hijrah" pada semua nama layanannya, namun tidak menampik bahwa perubahan nama itu juga diikuti peningkatan kualitas layanan serta memberi efek positif bagi nasabahnya. Setidaknya jadi lebih tenang dan tentram di hati, karena sudah berusaha berhijrah melalui penggunaan layanan perbankan syariah ini.

Dengan kampanye #AyoHijrah ini, Bank Muamalat Indonesia bercita-cita menjadi pusat Ekosistem Ekonomi Syariah dan turut serta membangun industri halal di Indonesia melalui pemanfaatan teknologi terkini. Semoga segera terwujud. Aamiiin.

Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai program #AyoHijrah ini, kalian bisa berkunjung ke sini, atau ke Media sosialnya di Facebook, Instagram, Twitter, Youtube.

Jika kalian sudah ada niat untuk berhijrah, (berhijrah dalam hal apapun itu, termasuk untuk layanan perbankan), maka segerakanlah. Jangan menunggu lagi. Karena yakinlah Allah akan menyertai, membimbing, dan menolong jika niat kalian murni karena Allah. Jangan patah semangat jika di tengah proses berhijrah Allah mengujimu dengan berbagai cobaan. Mungkin Allah ingin membersihkan dirimu dari dosa-dosa terdahulu. Jadi ketika kamu sudah mantap di jalan hijrah, kamu akan memasuki kehidupan baru yang berkah, tentram, dan tidak lagi bergelimang dosa. Insya Allah.

Semangat #AyoHijrah, Berani Lebih Baik, Jauhi Riba, Hidup Berkah!

Wassalamualaikum wr. wb.



Sumber ayat dan hadist: www.rumaysho.com

Review Buku: Agar Suami Tak Mendua


Assalamualaikum Sobat Bunda,

Malam ini, saya pengen me-review sebuah buku. Kenapa? Karena saya sedang membaca sebuah buku yang, menurut saya, isinya sarat manfaat dan insya Allah membawa berkah bagi siapapun yang membaca dan menyerap serta mempraktikkan ilmu di dalamnya. Saking pengennya ilmu di dalam buku tersebut tidak hanya bermanfaat untuk saya pribadi, tetapi juga untuk saudara saya tercinta. Akhirnya saya terpikir menjadikannya kado di hari ulang tahun pernikahan mbak ipar saya. Alhamdulillah mbak ipar saya hepi banget menerimanya. Selain karena pengemasan kadonya yang cantik (ini saya minta tolong seorang sahabat yang baik hati dan berdomisili sama dengan rumah mbak ipar saya, untuk membelikan buku tersebut kemudian dikemas cantik beserta buket bunga segar dan dikirim ke rumah mbak ipar saya), juga karena isinya yang Masya Allah menginspirasi banget.
Jadi penasaran sama bukunya, kan?

Buku ini berjudul "Agar Suami Tak Mendua", ditulis oleh Mbak Muyassaroh, pemilik blog muyass.com dan sekaligus founder Estrilook, sebuah laman kece yang berisi artikel berbagai tema khusus wanita.
Saat pertama kali membaca judulnya, jujur saya sempat mengernyitkan kening. Kok judulnya gitu banget, sih? Jadi ingat ketika saya masih bekerja sebagai editor di sebuah penerbit di Jogja. Setiap ada buku yang akan naik cetak, pasti kami para editor diminta mengkritisi dan mencari judul yang pas serta memiliki segmen jangkauan pembaca yang seluas-luasnya.
Menurut saya pribadi, judul "Agar Suami Tak Mendua" sudah cukup 'eye catching' ya. Menarik dan bikin penasaran. Tapiiiii, sayang sekali judul tersebut memiliki jangkauan segmen pembaca yang terbatas. Di situ menyebut kata suami, berarti target pembaca untuk wanita yang sudah menikah atau memiliki suami. Padahal, jika dilihat lebih jauh ke dalam isinya, buku tersebut tidak hanya cocok dibaca oleh wanita yang sudah bersuami. Buku tersebut juga perlu dan sangat bermanfaat jika dibaca oleh calon pengantin wanita dan semua wanita yang sudah berniat untuk menikah. Mengapa? Karena isi bukunya mengajarkan banyak ilmu yang bisa dipraktikkan dalam bahtera rumah tangga. Jika sebelum memasuki jenjang pernikahan calon mempelai wanita sudah membekali diri dengan aneka ilmu di dalam buku ini, tentunya dia akan memasuki gerbang pernikahan dengan mantap, penuh percaya diri, dan insya Allah akan lebih terarah dalam menjalani setiap fase pernikahannya. Itu dari segi judul ya... 

Next, dari segi layout isi. Nah, setelah kening saya mengernyit saat membaca judul. Saat membuka bagian isi, saya tersenyum bahagia. Hepi banget lihatnya. Layout isinya benar-benar cantik dan memanjakan mata. Saya paling suka pemilihan font/jenis hurufnya. Sampai-sampai saya menanyakan pada penulisnya, "Itu pakai font apa ya, mbak?" Dan penulisnya pun gak tau itu font apa. Oke, gapapa, emang font itu urusan layouter dan editor, sih. Hehehe.

Selain layout yang rapi dan nyaman dibaca, gaya menulis dan pola isinya juga sangat menarik, gak bikin bosan. Buku-buku tentang pernikahan yang ada selama ini kebanyakan agak membosankan. Beda banget dengan Agar Suami Tak Mendua (ASTM). ASTM ini menurut saya 2in1 (macam iklan sampo aja ya, hehe). Iya bener 2in1, fiksi dan nonfiksi bergabung menjadi satu. Ada penggalan kisah fiksi yang menginspirasi dan bikin penasaran ending-nya, tapi juga disertai bagian nonfiksi yang sarat ilmu (bahkan beberapa bagian dilengkapi dengan rujukan penggalan ayat dan hadist shahih) yang mudah dipahami bahasanya dan tidak terkesan menggurui.

Topik bahasan sangat lengkap dan gaya bahasanya mengalir banget. Di sini, sengaja saya tidak membahas detail isi atau spoiler ya, biar kalian penasaran dan membaca sendiri bukunya. Saya jamin, tidak akan menyesal beli dan baca buku ini.

Akhirnya, semoga buku ini dapat menebar manfaat sebanyak-banyaknya dan membuat keluarga Indonesia semakin sakinah mawaddah warahmah. Insya Allah yang nantinya akan berefek pada kemampuan mencetak generasi penerus Indonesia yang berakhlak mulia, berprestasi, dan percaya diri, semuanya dimulai dari keluarga-keluarga sakinah itu tadi.
Aamiin.

Wassalamu'alaikum. Selamat membaca bukunya yaaa... Oiya, buku ini bisa kalian beli di seluruh cabang Toko Buku Gramedia. Harganya cukup terjangkau, jika dibanding dengan manfaatnya yang luar biasa besar. So, cusss beli bukunya dan segera serap semua ilmu di dalamnya.

Custom Post Signature