Review: Novel Perempuan Penyulam Sabar, Mengajarkan Arti Sabar dan Syukur yang Sesungguhnya

Assalamualaikum Sobat Bunda...
Wah, gak terasa 4 bulan lamanya blog ini tak terjamah. Dengan alasan kesibukan yang meningkat dan segala printhilan alasan lain, sukses membuat blog ini terasing di belantara digital. Upss istilahnya lebay yak, hwkwkwk. Intinya cuma mau bilang, selama 4 bulan ini blog gak keurus, hikss... Setelah sekian lama gak nulis di sini, akhirnya muncul juga kerinduan untuk menumpahkan segala curhatan di blog, hwkwkwkk. Nah, hari ini kangen nulis, makanya buru-buru tengokin blog yang sudah mulai dihuni sarang laba-laba.
Hari ini Bundamami mau nulis tentang review novel, yang berjudul "Perempuan Penyulam Sabar". Baca novel ini, sukses bikin aku butuh tissue dan nangis bombay di beberapa bagian. Bagaimana tidak, perasaan pembaca dicampur aduk bak naik rollercoaster (agak lebay sih :p), lalu dengan ending yang sama sekali di luar dugaan.
Awalnya aku menemukan novel ini di FB. Saat itu sodara sepupuku menulis status tentang novel ini. Dari baca status sodara sepupuku inilah, aku tertarik membaca novel tersebut. Akhirnya dapatlah gratisan, karena dibeliin sodara sepupuku, hehehe (ngompasin sodara sendiri gapapa ya kan, hwkwkk). Ternyata, penulis novel tersebut adalah adik dari teman sepupuku itu. Takjub aku dibuatnya, ada orang dari kampung halamanku (sesama dari Situbondo) yang jadi penulis novel sekeren ini?!? Jadi ikutan bangga, nih.
Novel ini bercerita tentang seorang wanita yang menurutku, objek penderita banget. Pokoknya segala macam masalah dan ujian datang silih berganti. Buku ini terdiri dari 4 Bab. Pada 3 Bab pertama, masing-masing Bab memiliki fokus tokoh seorang wanita yang berbeda. Dan, di bab terakhir barulah ketiga tokoh wanita tersebut menjadi 1 kesatuan cerita dan konflik yang utuh, dengan satu tokoh utama yaitu wanita bernama Mutiara.  

Dikisahkan, Mutiara adalah seoang wanita tangguh yang dengan tegar menghadapi satu-persatu ujian hidup yang menghampiri. Tak melulu soal percintaan, tapi juga mengangkat eksotisme kecantikan alam beberapa kota di Indonesia dan Singapura. Cinta, pengorbanan, dan pengabdian pada keluarga serta dibalut untaian kalimat sistematis nan indah membuat novel ini layak bersaing dengan jajaran novel-novel keren di toko buku sana.

Sayang sekali, karena diterbitkan secara indie dan dengan kualitas penerbit indie yang kurang mumpuni, ada kesalahan-kesalahan kecil yang menghampiri di beberapa bagian. Maaf, ini penyakit editor, kalo baca buku gini ini, malah matanya sambil ngedit, perhatikan typo dan kesalahan-kesalahan yang lolos, trus gemes sendiri, hwakwkawkawkkk.

Selain ide dan jalan cerita yang menurutku menarik, novel ini juga menampilkan kepiawaian penulis yaitu Puspa Seruni dalam merangkai untaian kalimat yang menurutku cukup efektif, sistematis, tapi tetap indah. Keterampilan yang cukup sulit dan butuh jam terbang menulis yang tinggi lho. Karena menurut saya, banyak penulis novel lain yang tulisannya puitis banget tapi malah membuat inti cerita gak jelas dan terkesan muter-muter doang. Namun, berbeda dengan karya Puspa Seruni yang satu ini. Puspa Seruni sangat cermat meletakkan kalimat per kalimat hingga membentuk kesatuan cerita yang cukup 'bernyawa'. Ini saya cuplik sedikit kalimatnya di halaman persembahan.
Kupersembahkan karya ini...
Untuk para perempuan yang berjuang menegakkan kepala dan mengusap air matanya sendiri.
Untuk para perempuan yang sepenuh hati belajar ridho atas ketidaknyamanan takdir yang kerap datang bertandang.
Untuk sumber kekuatanku, Rania dan Tita, yang menjadi pelecut semangat bagiku terus belajar tentang sabar dan syukur.
Juga untukmu, seseorang yang kusebut dalam hening malam dan kesendirianku, yang kepada-Nya kupinta segala kebaikan bagimu dan juga bagiku.
-Puspa Seruni-

Buat saya, novel ini mengajarkan arti sabar dan syukur yang sesungguhnya. Hidup itu simple aja, cukup sabar dan syukur, insya Allah kehidupan akan selalu on the track sesuai dengan tujuan awal manusia diciptakan, yaitu untuk beribadah, seperti yang termaktub dalam Al Quran.

 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)
Gimana, penasaran dengan cerita keseluruhan? Saya gak akan ceritain di sini. Silakan beli bukunya langsung ke Mbak Puspa Seruni (Cari di FB ya). Bukan ke saya lho, karena saya cuma review, bukan jualan, hahaha.
Oke, see u next time sobat Bundamami semua...
Wassalamualaikum

#AyoHijrah Jauhi Riba Hidup Berkah Bersama Bank Muamalat Indonesia


Assalamualaikum wr. wrb.

Hai hai sobat Bunda, kali ini saya ingin membahas mengenai pengalaman menggunakan layanan perbankan dari sebuah bank syariah terkemuka di Indonesia. Bank mana, tuh? Pastinya hanya Bank Muamalat Indonesia, bank yang pertama kali menerapkan sistem murni syariah di Indonesia. Sejak didirikan pada 1992, PT. Bank Muamalat Indonesia, Tbk. berkomitmen untuk menjadi bank syariah terbaik dan termasuk dalam 10 besar bank di Indonesia yang eksistensinya diakui di tingkat regional.

Pertama kali menggunakan layanan perbankan dari Bank Muamalat Indonesia ini, saat saya akan membuka tabungan haji. Berbeda dengan suami saya, yang sudah menjadi nasabah Bank Muamalat Indonesia sejak masih kuliah, sudah lama banget, dong. Pelayanan di Bank Muamalat Indonesia ini memang benar-benar kualitas premium menurut saya. Petugasnya ramah dan sopan banget. Gak jutek sama sekali. Produk layanannya juga sangat beragam dan mampu memenuhi kebutuhan semua segmentasi masyarakat. Dari mulai tabungan biasa, tabungan pendidikan, deposito, hingga untuk keperluan ibadah. Komplit banget.

Kisah di balik upaya kami untuk menggenapi tabungan haji agar bisa mencapai nominal 25 juta/orang sehingga dapat diajukan untuk memperoleh nomor antrian keberangkatan di Departemen Agama, sungguh bukanlah sesuatu yang mudah. Kami mengumpulkannya sedikit demi sedikit dari penghasilan dengan berhemat di sana-sini dan sekuat tenaga menahan diri dari segala godaan belanja yang terkutuk, hehehe.

Kami juga meningkatkan porsi sedekah dan ibadah kami. Menurut beberapa ustadz yang terkenal di TV itu, jika ingin doa kita lebih cepat dikabulkan oleh Allah, maka tambah lagi sedekahnya. Awalnya sih saya tidak 100% percaya, (ya iyalah, kita gak boleh percaya sama ustadz, kita hanya boleh 100% percaya pada Allah dan rasulNYA, hehe). Menurut saya itu mungkin hanya berlaku untuk para ustadz dan alim ulama, yang ilmu agama serta kualitas ibadahnya sudah tingkat tinggi, yang sudah sangat dekat dengan Allah. Wah, kalau begitu apa kabar dengan saya, yang ibadahnya pas-pasan gini, ustadzah bukan, alim ulama juga bukan. Apa iya bisa mengikuti anjuran mereka untuk bersedekah dengan jumlah yang fantastis agar doanya cepat terkabul? Kayaknya gak mungkin deh. Tapi, rasa penasaran itu ada.

Penasaran ingin membuktikan validitas ceramah para ustadz tentang sedekah itu, perlahan kami tambah pos-pos sedekah. Meski tidak banyak (bahkan terbilang sangat kecil), tapi kami usahakan konsisten jumlah dan waktunya. Sambil terus berdoa tanpa kenal lelah. Kemudian kami juga berusaha mendirikan shalat tepat waktu. Meski cukup sulit di awal adaptasi, namun akhirnya bisa terbiasa. Dan juga 1 hal yang paling kami hindari yaitu riba.

Jika kami ingin membeli barang, kami memilih untuk menabung terlebih dahulu, setelah dirasa dananya cukup di tabungan, kami baru membeli secara cash. Bahkan, untuk mobil yang saat itu memang kami butuhkan, karena cuaca di daerah kami cukup anomali kadang hujan dan tiba-tiba panas kembali, sementara jika kami berkendara dengan sepeda motor sudah tidak memungkinkan lagi, (naik motor sekeluarga yang cuma 4 orang ini sudah berasa kayak beruang sirkus naik sepeda roda 1, belum lagi kalau tiba-tiba hujan, semakin bikin ngakak tuh beruang sirkus, hahaha).
Saat itu, kami sudah cukup bahagia dengan membeli mobil bekas, karena dana yang ada saat itu memang cukup untuk sebuah mobil bekas nan imut. Gapapalah bekas, tapi kondisi masih mulus karena memang baru 1 tahun dipakai oleh pemilik yang pertama, semua masih berfungsi optimal, dan yang terpenting kami tidak terlilit hutang riba, karena kami sungguh ngeri membaca efek dari riba tersebut. Menurut ceramah para ustadz di TV dan youtube, riba itu diharamkan bahkan sejak dahulu sebelum islam hadir. 
Allah SWT berfirman, “Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya.” (QS. An Nisaa’: 161).  Maksudnya adalah riba ini sudah dilarang sejak dahulu pada syari’at sebelum Islam. (Mughnil Muhtaj, 6/309)
Sudah banyak ulama yang menyerukan untuk menghindari riba, karena dosa riba itu sungguh tidak main-main pembalasannya. Beneran ngeRIBAnget, lho.
Rasulullah SAW bersabda,

“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Bahkan yang menurut saya paling ngeRIBAnget itu, jika praktik riba sudah merajalela di suatu negeri, maka secara tersirat negeri tersebut layak mendapat azab dari Allah. Ya ampun, naudzubillahimindzalik. Semoga Indonesia bukan termasuk negeri yang layak diazab. Aamiiin.
Rasulullah SAW bersabda,

Apabila telah marak perzinaan dan praktek ribawi di suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan diri mereka untuk diazab oleh Allah.” (HR. Al-Hakim. Beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Imam Adz-Dzahabi mengatakan, hadits ini shahih. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi, sebagaimana disebut dalam Shahih At-Targhib wa Tarhib, no. 1859)
Sejak 2 tahun lalu, dengan segala daya upaya mendekatkan diri pada Allah dan menjauhi riba, akhirnya saya dan suami mempunyai tabungan haji di Bank Muamalat Indonesia. Sudah terdaftar ke Departemen Agama dan mendapat nomor antrian keberangkatan pula. Meski keberangkatannya masih beberapa tahun lagi (masih lama banget), namun kami sudah cukup bahagia dengan hal ini. Setidaknya kami sudah berusaha melangkah mempersiapkan dan memantaskan diri untuk menjadi tamu di Baitullah.


Mengapa harus Bank Muamalat, sih?

Untuk keperluan menabung, mendaftar haji dan deposito, sengaja saya pilih bank syariah yang sudah terbukti kualitas pelayanannya, yaitu Bank Muamalat Indonesia. Kan, banyak tuh bank-bank syariah sekarang ini, lantas mengapa harus Bank Muamalat, sih? Karena:
  • Bank Muamalat merupakan bank pertama yang murni syariah di Indonesia.
  • Bank Muamalat tidak menginduk dari bank konvensional lain, jadi sudah terjamin kemurnian sistem syariah yang digunakan.
  • Pengelolaan dana di Bank Muamalat ini didasarkan pada prinsip ekonomi syariah yang diawasi langsung oleh Dewan Pengawas Syariah.
  • Bank Muamalat memiliki produk dan layanan keuangan cukup lengkap dan ditunjang berbagai fasilitas canggih hingga ke luar negeri. Fasilitas tersebut antara lain: Mobile Banking, Internet Banking, jaringan ATM, dan kantor cabang yang tersebar di banyak daerah di Indonesia.



#AyoHijrah Berani Lebih Baik


Pada Oktober 2018 lalu, Bank Muamalat meluncurkan kampanye #AyoHijrah. Dalam kampanye tersebut, Bank Muamalat Indonesia mengajak masyarakat Indonesia untuk berubah menjadi lebih baik dalam menjalankan ajaran Islam yang sempurna dan menyeluruh (kaffah). Berhijrah di sini maksudnya tidak hanya aktivitas yang menyangkut ibadah lho. Tetapi juga aktivitas keseharian lainnya, termasuk pengelolaan keuangan, khususnya dalam layanan perbankan.

Hijrah itu memiliki makna berpindah, dengan tujuan untuk menjadi lebih baik tentunya. Hijrah bisa diterapkan pada segala sesuatu yang lebih luas maknanya. Mulai dari menghijrahkan diri secara lahir maupun batin. Misalnya secara lahir, dari yang tak berjilbab berhijrah menjadi berjilbab. Secara batin, dari yang suka gosipin orang, berhijrah lebih menahan diri tidak berghibah, memanfaatkan waktunya untuk fokus pada hal-hal yang lebih produktif sehingga tidak sempat memikirkan untuk menggunjingkan orang lain, dan masih banyak lagi. Dalam dunia perbankan, juga dikenal hijrah dengan beralih menggunakan jasa layanan perbankan yang menggunakan sistem syariah, seperti yang sedang dikampanyekan oleh Bank Muamalat Indonesia itu.


Kampanye #AyoHijrah ini bentuknya apa saja sih?

Bank Muamalat Indonesia itu kreatif banget lho mengemas pesan kampanye #AyoHijrah dalam kegiatan-kegiatan yang menarik. Misalnya seminar dan edukasi mengenai perbankan syariah, membuka booth di tempat-tempat acara yang melibatkan masyarakat luas, mengadakan kajian islami dengan para ulama sebagai narasumbernya, membantu memberdayakan masjid-masjid untuk menjadi agen perbankan syariah, dan masih banyak lagi.

Selain mengadakan kegiatan-kegiatan tersebut di atas, Bank Muamalat juga melengkapi kampanye #AyoHijrah ini dengan berbagai perubahan layanan yang insya Allah akan lebih berkah dan produktif. Benar-benar totalitas yang patut ditiru kampanye #AyoHijrah ini. Perubahan layanan itu berhubungan dengan beberapa nama layanannya, misalnya: tabungan iB Hijrah, tabungan iB Hijrah Haji dan Umrah, tabungan iB Hijrah Rencana, tabungan iB Hijah Prima, tabungan iB Hijrah Prima Berhadiah, Deposito iB Hijrah, Giro iB Hijrah, dan Pembiayaan Rumah iB Hijrah. Tambah keren kan nama-nama produk Bank Muamalat Indonesia kini?!?

Meski hanya penambahan kata "Hijrah" pada semua nama layanannya, namun tidak menampik bahwa perubahan nama itu juga diikuti peningkatan kualitas layanan serta memberi efek positif bagi nasabahnya. Setidaknya jadi lebih tenang dan tentram di hati, karena sudah berusaha berhijrah melalui penggunaan layanan perbankan syariah ini.

Dengan kampanye #AyoHijrah ini, Bank Muamalat Indonesia bercita-cita menjadi pusat Ekosistem Ekonomi Syariah dan turut serta membangun industri halal di Indonesia melalui pemanfaatan teknologi terkini. Semoga segera terwujud. Aamiiin.

Untuk mengetahui lebih lengkap mengenai program #AyoHijrah ini, kalian bisa berkunjung ke sini, atau ke Media sosialnya di FacebookInstagramTwitterYoutube.

Jika kalian sudah ada niat untuk berhijrah, (berhijrah dalam hal apapun itu, termasuk untuk layanan perbankan), maka segerakanlah. Jangan menunggu lagi. Karena yakinlah Allah akan menyertai, membimbing, dan menolong jika niat kalian murni karena Allah. Jangan patah semangat jika di tengah proses berhijrah Allah mengujimu dengan berbagai cobaan. Mungkin Allah ingin membersihkan dirimu dari dosa-dosa terdahulu. Jadi ketika kamu sudah mantap di jalan hijrah, kamu akan memasuki kehidupan baru yang berkah, tentram, dan tidak lagi bergelimang dosa. Insya Allah.

Semangat #AyoHijrah, Berani Lebih Baik, Jauhi Riba, Hidup Berkah!

Wassalamualaikum wr. wb.


Sumber ayat dan hadist: www.rumaysho.com

Review Buku: Agar Suami Tak Mendua


Assalamualaikum Sobat Bunda,
Malam ini, saya pengen me-review sebuah buku. Kenapa? Karena saya sedang membaca sebuah buku yang, menurut saya, isinya sarat manfaat dan insya Allah membawa berkah bagi siapapun yang membaca dan menyerap serta mempraktikkan ilmu di dalamnya.

Saking pengennya ilmu di dalam buku tersebut tidak hanya bermanfaat untuk saya pribadi, tetapi juga untuk saudara saya tercinta. Akhirnya saya terpikir menjadikannya kado di hari ulang tahun pernikahan mbak ipar saya. Alhamdulillah mbak ipar saya hepi banget menerimanya. Selain karena pengemasan kadonya yang cantik (ini saya minta tolong seorang sahabat yang baik hati dan berdomisili sama dengan rumah mbak ipar saya, untuk membelikan buku tersebut kemudian dikemas cantik beserta buket bunga segar dan dikirim ke rumah mbak ipar saya), juga karena isinya yang Masya Allah menginspirasi banget.

Jadi penasaran sama bukunya, kan?
Buku ini berjudul "Agar Suami Tak Mendua", ditulis oleh Mbak Muyassaroh, pemilik blog muyass.com dan sekaligus founder ESTRILOOK, sebuah laman kece yang berisi artikel berbagai tema khusus wanita.

Saat pertama kali membaca judulnya, jujur saya sempat mengernyitkan kening. Kok judulnya gitu banget, sih? Jadi ingat ketika saya masih bekerja sebagai editor di sebuah penerbit di Jogja. Setiap ada buku yang akan naik cetak, pasti kami para editor diminta mengkritisi dan mencari judul yang pas serta memiliki segmen jangkauan pembaca yang seluas-luasnya.

Menurut saya pribadi, judul "Agar Suami Tak Mendua" sudah cukup 'eye catching' ya. Menarik dan bikin penasaran. Tapiiiii, sayang sekali judul tersebut memiliki jangkauan segmen pembaca yang terbatas. Di situ menyebut kata suami, berarti target pembaca untuk wanita yang sudah menikah atau memiliki suami. Padahal, jika dilihat lebih jauh ke dalam isinya, buku tersebut tidak hanya cocok dibaca oleh wanita yang sudah bersuami. Buku tersebut juga perlu dan sangat bermanfaat jika dibaca oleh calon pengantin wanita dan semua wanita yang sudah berniat untuk menikah. Mengapa? Karena isi bukunya mengajarkan buanyak ilmu yang bisa dipraktikkan dalam bahtera rumah tangga. Jika sebelum memasuki jenjang pernikahan calon mempelai wanita sudah membekali diri dengan aneka ilmu di dalam buku ini, tentunya dia akan memasuki gerbang pernikahan dengan mantap, penuh percaya diri, dan insya Allah akan lebih terarah dalam menjalani setiap fase pernikahannya. Itu dari segi judul ya... 

Next..., dari segi layout isi.
Nah, setelah dahi saya mengerut saat membaca judul. Saat membuka bagian isi, saya tersenyum bahagia. Hepi banget lihatnya. Layout isinya benar-benar cantik dan memanjakan mata. Saya paling suka pemilihan jenis hurufnya. Sampai-sampai saya menanyakan pada penulisnya, "Itu pakai font apa ya, mbak?" Dan penulisnya pun gak tau itu font apa. Oke, gapapa, emang font itu urusan layouter dan editor, sih. Hehehe.

Selain layout yang rapi dan nyaman dibaca, gaya menulis dan pola isinya juga sangat menarik, gak bikin bosan. Buku-buku tentang pernikahan yang ada selama ini kebanyakan agak membosankan. Beda banget dengan Agar Suami Tak Mendua (ASTM). ASTM ini menurut saya 2in1 (macam iklan sampo aja ya, hehe). Iya bener 2in1, fiksi dan nonfiksi bergabung menjadi satu. Ada penggalan kisah fiksi yang menginspirasi dan bikin penasaran endingnya, tapi juga disertai bagian nonfiksi yang sarat ilmu (bahkan beberapa bagian dilengkapi dengan rujukan penggalan ayat dan hadist shahih) yang mudah dipahami bahasanya dan tidak terkesan menggurui.

Topik bahasan sangat lengkap dan gaya bahasanya mengalir banget. Di sini, sengaja saya tidak membahas detail isinya atau spoiler ya, biar kalian penasaran dan membaca sendiri bukunya. Saya jamin, tidak akan menyesal beli dan baca buku ini.

Akhirnya, semoga buku ini dapat menebar manfaat sebanyak-banyaknya dan membuat keluarga Indonesia semakin sakinah mawaddah warahmah. Insya Allah yang nantinya akan berefek pada kemampuan mencetak generasi penerus Indonesia yang berakhlak mulia, berprestasi, dan percaya diri, semuanya dimulai dari keluarga-keluarga sakinah itu tadi.
Aamiin.

Wassalamu'alaikum. Selamat membaca bukunya yaaa... Oiya, buku ini bisa kalian beli di seluruh cabang Toko Buku Gramedia. Harganya cukup terjangkau kok, jika dibanding dengan manfaatnya yang luar biasa besar. So, cusss beli bukunya dan mulai serap semua ilmu di dalamnya.

5 Tips Produktif Menulis ala Bundamami


Assalamualaikum Sobat Bunda,

Hari ini saya mau cerita tentang bagaimana cara untuk tetap produktif menulis. Sebenarnya, saya juga belum produktif-produktif amat sih nulisnya, masih sering mepet-mepet jadwal deadline, masih sering menunda-nunda dan lebih suka nongkrongin Asian Food Channel daripada nulis, hwkwkwkk.. dan kegiatan-kegiatan lain yang kadang jadi prioritas lebih utama selain menulis.

Trus, ngapain saya pede banget sharing tips produktif menulis? Kesannya saya sok tau banget yak, bakalan digetok sama blogger dan penulis profesional nih kayaknya... hwkwkwkwkk... Sebenarnya saya menuliskan tips ini, tak lain dan tak bukan untuk pengingat diri saya sendiri. Setelah dipikir lagi, daripada cuma ngendon di pikiran dan lama-kelamaan jadi lupa, lebih baik saya tuliskan di blog. Jika ada teman-teman Sobat Bunda yang merasa tips ini bermanfaat, ya monggo dicoba saja.
Seperti apa tips-nya? Yuk, cekidot Sob!

1. Atur prioritas

Atur prioritas kegiatanmu. Kalo masih anak kuliahan, mungkin prioritasnya urusan kuliah ya. Jadi menulis bisa dikerjakan setelah tugas-tugas kuliah dan aktivitas di kampus beres. Beda lagi jika kita seorang ibu rumah tangga, utamakan mengurus anak dan rumah dulu baru kemudian kerjakan aktivitas menulismu. Setiap tahap usia dan peran kehiudpan masing-masing orang pasti punya prioritas tersendiri. Dan, prioritas ini bisa berubah-ubah, lho. Memang sudah selayaknya prioritas itu ditinjau ulang setiap rentang waktu tertentu.
Jika dulu waktu masih awal menikah, prioritas kita adalah berusaha memiliki momongan dan bekerja lebih giat menyiapkan pundi-pundi tabungan untuk menyambut kelahiran putra pertama, maka pada rentang usia perkawinan selanjutnya prioritas kita tentu berubah, misalnya menjadi lebih fokus mengurus dan memerhatikan tumbuh kembang anak, mulai menyiapkan dana pendidikan anak, kemudian pada tahap selanjutnya mulai menyiapkan dana pensiun, dan sebagainya. Idealnya, minimal setiap tahun kita dapat mengevaluasi prioritas hidup dan kehidupan kita.
Kembali ke produktivitas menulis, atur prioritas maksudnya kita harus bisa menempatkan aktivitas menulis ini di urutan prioritas ke berapa, bergantung pada kondisi kehidupan masing-masing, dan hanya pelaku kehidupan itulah yang bisa menyusun prioritas tersebut. Jadi, pandai-pandailah mengatur prioritas ya Sob. Jika memang menulis merupakan prioritas utamamu, maka kamu akan menempatkannya di atas kegiatan-kegiatan lainnya. Dan, akhirnya kamu akan meluangkan lebih banyak waktu dan perhatian untuk kegiatan menulis tersebut.


2. Kuatkan niat awal

Menukil sebuah hadist yang maknanya bahwa segala amal perbuatan dinilai dari niatnya. Niat awal kamu menulis itu apa? Tanyakan pada dirimu sendiri. Jujurlah pada diri sendiri.
Jika niatmu menulis hanya untuk mengisi waktu luang, maka tentunya kamu akan melakukan aktivitas menulis hanya saat memiliki waktu luang, begitu kan logikanya? Lain halnya jika niatmu menulis adalah untuk menebar kebaikan dan manfaat, menyalurkan hobi dan passion. Jika seperti ini maka kamu akan selalu produktif menghasilkan tulisan, misalnya sesibuk apapun aktivitas harianmu, pasti kamu meluangkan waktu untuk menulis, rajin meng-update ilmu tentang menulis, rajin membaca referensi yang sesuai tema yang sedang kamu tulis, dan sebagainya.
Akan berbeda halnya jika menulis hanya sekedar pengisi waktu luang, atau kamu niatkan sebagai kegiatan sampingan. Kamu mengerjakannya seadanya dan semampunya.
Nah, dari niat itu bisa dibedakan produktivitasnya, kan? Yang memiliki niat baik atau kokoh, serta tekad kuat, pasti melahirkan produktivitas menulis yang tinggi pula.

3. Fokus

Fokus ini memiliki 2 area cakupan yang sedikit berbeda satu sama lain. Pertama, fokus secara fisik dalam arti mengerjakan 1 pekerjaan dengan penuh konsentrasi dan perhatian. Kedua, fokus dalam hal benar-benar menekuni kegiatan tersebut dalam kehidupan hariannya.
Misalnya fokus secara fisik, saat menulis benar-benar full konsentrasi, tidak menghiraukan berbagai gangguan di luar kegiatan menulis saat itu. Contoh fokus kedua, memiliki hobi menulis dan menyanyi, tetapi memilih fokus pada menulis saja, sedangkan hobi menyayi hanya sebagai selingan saat ada waktu luang.
Jika kita fokus menekuni dunia menulis, maka produktivitas akan seiring meningkat. Begitu pula jika saat aktivitas menulis, kita tidak mudah tergoda untuk mengerjakan pekerjaan lainnya, mengecek Hp misalnya, maka pekerjaan menulis kita akan berjalan efektif, dan membuat produktivitas meningkat pula. Naskah tulisan cepat selesai, jadi semakin produkti berkarya, kan?

4. Siapkan referensi memadai

Nah, faktor referensi ini bisa menyebabkan seseorang rajin atau malas menulis. Kelengkapan referensi akan membuat kita lebih rajin menulis. Kita tidak perlu bolak-balik membuka buku atau sumber online untuk mencari referensi tambahan. Dengan kelengkapan referensi pula, tentunya akan membuat hasil tulisan kita lebih "kaya" pembahasan dari berbagai sudut pandang.
Jadi, untuk meningkatkan produktivitas menulis kita harus siap sedia segala macam referensi/bahan tulisan. Lebih baik lagi jika referensi itu sudah tertanam di kepala kita, artinya sudah dibaca dan dipahami oleh penulis, sehingga tinggal proses kreatif dalam mengolah referensi menjadi bahasan-bahasan baru di buku yang akan kita tulis sesuai ciri khas penulisan masing-masing.

5. Siapkan tempat, diri, dan "sesaji"nya

Menyiapkan tempat untuk menulis, akan berefek besar bagi peningkatan produktivitas menulis. Jika tempat menulis kita nyaman, berpenerangan cukup, bersih, sirkulasi udara lancar dan segar, tentunya akan membuat kita betah di tempat tersebut, membuat ide mengalir lancar, dan produktivitas pun seiring meningkat.
Oiya, yang tak kalah penting juga, atur posisi duduk yang benar dan baik untuk kesehatan. Posisi duduk yang benar yakni punggung tegak lurus, dengan pandangan mata juga tegak lurus ke arah layar komputer/laptop. Seperti gambar ini, nih Sob.
sumber: www.dekoruma.com

Jadi, produktivitas itu juga berbanding lurus dengan kesehatan. Jika posisi duduk kita benar, tentunya kesehatan akan terjaga optimal, dan semakin produktif menulis menghasilkan karya-karya selanjutnya.

Selain tempat menulis yang harus memenuhi beberapa persyaratan tadi, yang tak kalah penting juga kondisi badan penulis sendiri. Kondisi tubuh yang bersih, wangi, dan segar tentunya akan membuat nyaman berlama-lama menuangkan ide di depan komputer/laptop, kan?
Jadi, penting untuk diingat, jika ingin produktif menulis, mulailah aktivitas menulismu dalam kondisi badan yang sudah mandi, wangi dan segar, serta berpakaian yang bersih dan nyaman. Gak perlu rapi-rapi amat sih kalau memang nulisnya di rumah, yang penting nyaman. Ingat, tingkat kenyamanan pakaian bagi tiap orang berbeda-beda, lho ya. Kalau saya pribadi sangat nyaman berpakaian yang santai semacam kaos dan celana panjang yang semuanya berbahan katun. Rasanya nyaman banget.
Yang harus diperhatikan selanjutnya adalah "sesaji". Hehehe, maksudnya apaan sih, pakai sesaji segala? Saya nulisnya pakai tanda kutip kan, jadi maksudnya bukan beneran sesaji yang untuk persembahan ritual-ritual mistis gitu, lho. Sesaji di sini maksud saya berupa persediaan makanan dan minuman di samping tempat menulis.
Cemilan dan minuman saat menulis itu penting banget, lho. Kenapa? Karena menulis membutuhkan proses berpikir, dan proses berpikir ini melibatkan otak, yang bahan bakarnya berupa glukosa dan zat-zat gizi lain termasuk air. Jadi, intinya kalau mau konsen menulis, penuhi dulu kebutuhan perut. Setelah kenyang, jangan lupa siapkan snack dan minum di samping komputer/laptop.
Biasanya saat kita sudah asyik menulis, akan malas beranjak ke tempat lain, kalau memang tidak benar-benar darurat, seperti mau ke toilet misalnya.
Untuk menghindari dehidrasi dan menunjang performa berpikir, maka selalu sediakan minimal sebotol air minum dan snack yang jika dimakan tidak menimbulkan banyak remah. Snack yang tidak menimbulkan banyak remah ini tentatif ya. Sesuai selera masing-masing. Kalau saya, sukanya snack yang tidak menimbulkan banyak remah, karena biar remah-remahnya tidak mengotori sela-sela keyboard laptop. Kalau keyboard kalian sudah dilindungi oleh penutup silicon, tidak masalah sih makan snack apapun, kan sudah aman, tidak akan tercecer masuk ke sela-sela keyboard laptop/komputer.

Nah, itu dia 5 tips produktif menulis ala saya. Semuanya kembali pada kebiasaan, kondisi, dan karakter masing-masing orang lho, ya. Jika memang setuju dan cocok diterapkan untuk kalian, monggo silakan dicoba. Selamat mencoba!

Custom Post Signature