Mengenal Profesi Copyeditor

Mengenal Profesi Copyeditor

Tulisan kali ini, masih seputar dunia literasi. Tiga tulisan sebelumnya bisa kalian baca juga di blog ini. Mulai dari sejarah penyuntingan, proses penyuntingan buku, kalimat efektif dalam teks eksplanasi, serta kalimat efektif dalam penyuntingan buku


Sejak 2009 lalu, saya mulai terjun di dunia literasi. Sejak itulah saya aktif sebagai editor maupun copyeditor naskah di sebuah penerbit dan freelance di beberapa instansi penerbitan jurnal ilmiah, bahkan hingga saat ini. FYI, saya membuat wirausaha berlabel Bundamami Writing and Editing Expert yang bisa kalian temukan info lengkapnya di Google Maps. 


Lalu, profesi seperti apa sih editor dan copyeditor ini? Tugas copyeditor itu apa saja? Tarif jasa seorang copyeditor itu berapa? Kenapa profesi ini kurang populer di kalangan anak-anak ketika ditanya tentang cita-citanya? Yuk, dibaca sampai selesai ya Gaesss ya. 


Sebenarnya, editor dan copyeditor ini sangat lazim dalam obrolan di bidang usaha penerbitan buku, media massa, maupun jurnal ilmiah. Untuk profesi editor, saya akan bahas lebih detail di tulisan lain. Nah, untuk copyeditor akan saya bahas sekarang juga di sini. 



Copyeditor

Sebelum membahas tentang copyeditor, sebutan untuk orang yang mengerjakannya, ada baiknya kita bahas dulu mengenai proses kegiatannya, copyediting. Copyediting ini merupakan salah satu tahap yang harus dilalui sebuah naskah dalam proses penerbitan, baik buku, koran, majalah, maupun jurnal ilmiah. 


Copyediting merupakan tahap ketika sebuah naskah mengalami proses penyuntingan secara mekanik. Di tulisan saya sebelumnya, Mengenal Proses Penyuntingan Buku, sudah dibahas sekilas mengenai tahap copyediting ini. 


Proses Copyediting
sumber: Canva Pro


Seorang copyeditor bertanggung jawab pada proses penyuntingan mekanis. Hal ini berarti copyeditor harus fokus meneliti naskah, jika terdapat kesalahan dari segi tata bahasa, kaidah ejaan, dan kesesuaian dengan gaya selingkung masing-masing penerbit. 


Seorang copyeditor biasanya tidak bekerja sendiri. Untuk mencapai hasil kerja yang optimal, copyeditor bekerja dalam satu tim bersama editor, proofreader, dan layouter



Tugas Copyeditor

Tugas seorang copyeditor sebenarnya cukup rumit atau disebut njelimet dalam bahasa Jawa. Seorang copyeditor harus memiliki skill menguasai aturan tata bahasa, pemahaman terhadap EYD/kaidah ejaan yang berlaku, tata kalimat dan paragraf, serta alur tulisan yang nyaman dibaca. 


Penyuntingan Mekanis
sumber: Canva Pro


Copyeditor juga harus memastikan penyajian tulisan memiliki keterbacaan yang layak, serta bebas dari kesalahan seperti typo/salah ketik, penggunaan huruf kapital, tanda baca, dan lain sebagainya. Tahap copyediting ini sangat penting bagi suksesnya sebuah calon naskah untuk terbit. Tanpa hasil kerja copyeditor untuk menyajikan tulisan yang nyaman dan layak baca, sebuah buku tidak dapat mencapai kesuksesannya di kancah dunia literasi. 



Fee Copyeditor

Setelah mengetahui definisi dan pentingnya peran seorang copyeditor, selanjutnya pasti kita penasaran dengan tarif seorang copyeditor, kan? Di Indonesia, memang belum ada aturan resmi tarif seorang copyeditor. 


Baru-baru ini, komunitas Penpro (Penulis Profesional) yang mengusahakan adanya sertifikasi penyunting di BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi), juga mengusahakan terbentuknya daftar tarif resmi untuk copyeditor dan editor. 


Nah, aturan daftar tarif resmi ini masih dikaji sama petinggi Penpro dan BNSP tuh. Jadi, kita tunggu aja info selanjutnya, ya. 


Sebagai freelance editor dan copyeditor, selama ini saya menerapkan tarif sesuai kriteria yang saya buat sendiri. Tentunya dengan mengamati dan berdiskusi dengan sesama editor/copyeditor di beberapa instansi serta penerbit. 


Misalnya untuk editing jurnal ilmiah, maka saya berlakukan tarif sekian rupiah per karakter nonspasi pada naskah mentah yang masuk. Hal ini karena tulisan jurnal ilmiah biasanya kan spasi satu, rapat sekali dan membutuhkan crosscheck ke banyak sumber referensi ilmiah lainnya. Jadi, tarifnya pun menyesuaikan effort yang saya gunakan, dong! 


Sementara untuk naskah buku, saya memberlakukan tarif harga paket. Sebelum muncul harga, saya harus mengecek naskahnya terlebih dahulu. 


Beberapa hal yang saya cek, di antaranya jumlah halaman, tema, tenggat waktu, serta kondisi naskah. Hal ini agar saya dapat menentukan, apakah naskah tersebut butuh penyuntingan ringan, sedang, atau berat. Setelah mengecek semua hal tersebut, barulah bisa muncul harga penyuntingan per paket buku. 



Penutup

Nah, itulah sekilas pengenalan tentang profesi copyeditor. Profesi yang selama ini jarang diminati bocah. Profesi copyeditor merupakan profesi 'behind the scene' terbitnya sebuah buku hingga tersaji cantik di hadapan para pembaca. Buku yang baik serta berpotensi best seller, biasanya lahir dari buah pikir penulis hebat dan campur tangan tim copyeditor dan editor yang tangguh.


Setelah mengenal profesi dan tugas-tugasnya, sekarang kalian juga harus tahu apa persyaratan untuk menjadi seorang editor/copyeditor yang andal dan tangguh. Syarat-syarat tersebut saya bahas di artikel selanjutnya. Thank you for reading! 


Kalimat Efektif dalam Penyuntingan Buku

Kalimat Efektif dalam Penyuntingan Buku


Hai halooo...

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya yang membahas mulai dari sejarah penyuntingan, kemudian proses penyuntingan buku. Dan yang terkini di tulisan kemarin, saya membahas tentang teks eksplanasi dan syarat kalimat efektif. Untuk syarat kalimat efektif ini baru dibahas 1 bagian yang terdiri dari 4 poin penting beserta contohnya. Masih ada 4 bagian lagi (total ada 5 bagian).


Nah, di sini saya akan lanjutkan untuk syarat yang nomor 2 dan seterusnya. Jadi, pembahasan sekarang langsung dimulai dari nomor 2 ya Gaesss ya.... Are you ready, Gaess? Yuk, gassskeun!



2. Bentuk Paralel

Sebuah kalimat disebut efektif jika struktur di dalamnya sejajar/sepadan. Jika di bagian awal kalimat menggunakan bentuk kata kerja aktif, maka bagian selanjutnya (di tengah maupun akhir) juga harus menggunakan kata kerja bentuk aktif. Yuk, saya beri contohnya biar lebih jelas dan paham.


Contoh:

- Tahap untuk menerbitkan buku itu sudah hampir selesai, tinggal beberapa proses seperti: melakukan proofreading, pencetakan dummy, kemudian terbit. 

- Tahap untuk menerbitkan buku itu sudah hampir selesai, tinggal beberapa proses seperti: melakukan proofreading, mencetak dummy, dan menerbitkan. 


Kalimat yang bisa disebut efektif dan memiliki bentuk paralel adalah yang memiliki bentuk sama/sepadan. Pada contoh di atas, unsur pemerian menggunakan kata kerja aktif, maka seluruhnya harus mengikuti pakai kata kerja aktif, misalnya melakukan, mencetak, menerbitkan. 


Kalimat Efektif dalam Penyuntingan Buku


3. Hemat Kata

Kalimat yang efektif adalah kalimat yang to the point, tidak bertele-tele, tidak menggunakan banyak kata yang tanpa makna. Standar jumlah kata dalam sebuah kalimat adalah 8-17 kata. Jika di luar interval jumlah tersebut, maka bisa dipastikan kalimat menjadi tidak efektif. 


Kadang memang kita perlu beberapa kosakata untuk menjelaskan suatu hal agar lebih mudah dipahami. Namun, jangan sampai berlebihan, ya. Beberapa tips yang dapat digunakan untuk merangkai kalimat agar hemat kata, yaitu: 


a. Subjek cukup 1x saja

Kalimat yang bertele-tele biasanya karena terlalu banyak menyebut subjek dalam satu kalimat. Jika ada 2 atau 3 subjek, maka hapus dan sisakan hanya 1 subjek. Dengan begitu kalimat akan terbaca simple dan mudah dipahami.


Contoh: 

- Saya tidak tahu ada webinar itu, maka saya tidak hadir di webinar itu. 

- Karena tidak tahu ada webinar itu, maka saya tidak hadir. 


b. Hindari sinonim

Cukup gunakan satu kata yang mewakili satu makna. Jika ada 2 kata dengan makna yang sama/mirip, maka gunakan salah satu saja. Hal ini dapat membuat kalimat lebih sederhana dan layak baca. 


Contoh:

- Sejak dari semalam dia belum makan sepotong roti pun. 

- Sejak semalam dia belum makan sepotong roti pun. 


Kata "sejak" dan "dari" memiliki fungsi dan makna yang sama, yakni menegaskan hierarki waktu. Maka cukup gunakan salah satu saja, agar kalimat menjadi efektif.


c. Waspada dengan kata jamak

Jika menggunakan kata jamak dalam suatu kalimat, maka tidak perlu lagi menggunakan kata lain yang bermakna jamak pula. Kata jamak yang diikuti kata lain dg makna jamak, dapat membuat kalimat terkesan membosankan dan berlebihan. 


Contoh:

- Hadirin sekalian yang berbahagia, dimohon kesediaannya untuk masuk ke dalam ruangan.

- Hadirin yang berbahagia dimohon kesediaannya untuk masuk ke ruangan. 


Pada contoh di atas, kata "sekalian" dan "hadirin" memiliki makna jamak. Maka, cukup gunakan salah satu saja. 


Begitu pula dengan penegasan "masuk ke dalam ruangan" sebenarnya berlebihan. Maka, cukup "masuk ke ruangan" saja.


d. Hindari superordinat dan hiponimi

Sebisa mungkin menghindari penggunaan superordinat dan hiponimi. Hanya boleh memakai satu hiponimi dalam satu kalimat. Hal ini karena kalimat yang menggunakan hiponimi lebih dari satu, akan membuat kalimat terkesan berputar-putar atau tidak mengena ke sasaran. 


Contoh:

- Dalam acara itu, Ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan mengenakan seragam berwarna krem. 

- Dalam acara itu, Ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan mengenakan seragam krem. 


Syarat Kalimat Efektif



4. Nalar yang Cermat

Cermat dalam menggunakan penalaran ini penting agar tidak terjadi kesalahpahaman atau makna ganda (ambiguitas). Di tulisan sebelumnya yang membahas mengenai syarat kalimat efektif dalam teks eksplanasi, sudah sempat disinggung juga tentang ambiguitas ini. 


Seorang penulis harus piawai menggunakan diksi/pilihan kata yang cocok untuk menjabarkan gagasannya, agar lebih mudah dipahami dan tidak menimbulkan makna ganda. 


Contoh:

- Tempat pembuangan sampah yang jaraknya jauh dari daerah pasar, mengakibatkan sampah tidak terangkut semua. 

- Tempat pembuangan sampah yang berjarak cukup jauh dari pasar, mengakibatkan tidak semua sampah dapat terangkut. 


Dari contoh di atas, kita jadi bingung yang dimaksud penulis itu sampahnya benar-benar tidak terangkut sama sekali atau tidak terangkut sebagian? Nah, di sinilah dibutuhkan nalar yang cermat dalam merangkai kalimat efektif. 



5. Bahasa yang Logis

Bahasa yang logis ini berarti bahwa ide/gagasan yang disampaikan dalam kalimat tersebut masuk di akal atau masuk secara logika. Kelogisan ini sering menjadi kesalahan yang tidak disadari oleh kebanyakan penulis/pembicara pemula. 


Contoh:

- Sambutan pertama dari Ibu Ketua. Waktu dan tempat kami persilakan. 

- Sambutan pertama dari Ibu Ketua. Kepada Ibu Ketua kami persilakan. 


Dari contoh di atas, dapat kita lihat, pada kalimat pertama (yang bertanda x merah), yang dipersilakan untuk memberi sambutan pertama adalah si waktu dan tempat, bukan Ibu Ketuanya. Hehehe



Penutup

Nah, akhirnya selesai juga seri pembahasan tentang penyuntingan dan kalimat efektif. Dari apa yang sudah saya tulis ini, meski sedikit, semoga dapat bermanfaat untuk pembaca. Thank you for reading!




Syarat Kalimat Efektif dalam Teks Eksplanasi

Syarat Kalimat Efektif dalam Teks Eksplanasi


Pada tulisan sebelumnya, saya sudah membahas mengenai sejarah penyuntingan dan proses penyuntingan buku. Nah, di tulisan kali ini saya akan membahas tentang salah satu kesalahan yang kerap muncul dalam job penyuntingan yang saya terima dari klien.


Apakah kesalahan itu? Sudah terlihat dari judul, kan. Ya, kesalahan yang kerap dilakukan para penulis salah satunya, yaitu membuat kalimat yang tidak efektif. Dalam setiap pekerjaan editing yang saya terima dari klien, biasanya saya menemukan beberapa kalimat yang terbaca dan terasa janggal, itulah kalimat tidak efektif. Maka, di situlah jasa saya sebagai editor dibutuhkan. Hehehe. 


Apa saja yang membuat kalimat menjadi tidak efektif? Bagaimana cara memperbaikinya? Apa syarat membuat kalimat efektif? Dan, masih banyak lagi. Semua akan dibahas di sini. Lanjut baca, ya.



Teks Eksplanasi

Sebelum membahas tentang kalimat efektif, kita harus tahu dulu apa itu teks eksplanasi. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), teks eksplanasi merupakan teks yang menerangkan terjadinya proses atau fenomena, yang dirangkai secara berurutan dalam hubungan sebab akibat, berisi informasi yang berdasarkan fakta, biasanya digunakan untuk menjelaskan ilmu pengetahuan, fenomena alam, sosial, atau budaya. 


Dari definisi itu, bisa dipahami apa saja batasan sebuah teks eksplanasi. Jadi, ciri-ciri teks eksplanasi, di antaranya:

  • Menjelaskan terjadinya sebuah proses/fenomena secara sistematis (berurutan).
  • Terdapat hubungan kausalitas (sebab-akibat).
  • Informasi yang disampaikan berisi fakta dan tidak untuk mempengaruhi/mengajak pembaca. 
  • Informasi biasanya seputar fenomena atau ilmu pengetahuan secara ilmiah dan terjadi dalam kehidupan sehari-hari.


Syarat Teks Eksplanasi
Syarat Teks Eksplanasi

Syarat Utama Membuat Teks Eksplanasi

Setelah mengetahui ciri-ciri sebuah teks eksplanasi, maka kita pun jadi paham apa syarat untuk membuat sebuah teks eksplanasi. Tiga syarat utama dalam membuat teks eksplanasi, yaitu: 


1. Logis

Semua informasi dalam teks eksplanasi harus dapat diterima secara logika. Mengingat informasi yang disampaikan berupa fakta dari sebuah fenomena dan ilmu pengetahuan, maka harus masuk akal dan logis.


2. Hemat Kata

Penyampaian informasi fakta penting tentunya harus singkat, padat, dan jelas. Maka, syarat hemat kata ini menjadi penting untuk dipenuhi. Hemat kata berarti teks tersebut berisi kalimat yang langsung mengena pada sasaran dan tidak bertele-tele. 


3. Padu

Mengingat sebuah teks eksplanasi butuh untuk dipahami secara jelas, maka harus memiliki keterpaduan antarkalimat penyusunnya. Berarti, kalimat-kalimat dalam teks eksplanasi harus memiliki hubungan yang erat dan padu satu sama lain. Hal ini agar pembaca mudah memahami ide/gagasan yang disampaikan dalam teks eksplanasi tersebut. 


Kalimat Efektif
Kalimat efektif harus memiliki struktur yang sepadan.


Kalimat Efektif

Nah, untuk menghasilkan teks eksplanasi yang logis, hemat kata, dan padu, maka dibutuhkan kalimat yang efektif dan benar dari segi struktur maupun maknanya. 


Kalimat efektif merupakan sarana untuk menyampaikan ide/gagasan dari penulis kepada pembaca. Tujuan utamanya agar pembaca mudah menangkap dan memahami ide/gagasan tersebut secara tepat. Jadi, salah satu syarat membuat kalimat efektif, yaitu: 


Struktur Sepadan

Kalimat dengan struktur sepadan dapat mengurangi terjadinya kesalahpahaman antara maksud yang ingin disampaikan penulis, dengan makna yang ditangkap oleh pembaca. Untuk membuat kalimat yang memiliki struktur sepadan, maka sebuah kalimat harus memenuhi syarat sebagai berikut: 


a. Subjek dan predikat yang jelas

Kalimat dengan subjek dan predikat yang jelas dapat disusun dengan cara menghindari penggunaan kata depan/preposisi sebelum penulisan subjek. Preposisi yang harus dihindari, yaitu: dalam, di, kepada, bagi, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dll. 


Contoh:

  • Bagi semua murid kelas 6 harus mengikuti upacara bendera. ❌
  • Semua murid kelas 6 harus mengikuti upacara bendera. ✅


b. Menghindari ambiguitas

Kalimat efektif selalu berupaya agar ide/gagasan dapat dipahami secara tepat sasaran. Jadi, jangan sampai terjadi ambiguitas atau makna ganda. Hindari ambiguitas dengan cara menghilangkan subjek ganda. Mengapa? Karena subjek ganda inilah yang dicurigai membuat makna kalimat jadi ambigu. 


Contoh:

  • Penyusunan laporan pertanggungjawaban itu saya dibantu oleh sekretaris dan bendahara. 
  • Dalam menyusun laporan pertanggungjawaban itu, saya dibantu oleh sekretaris dan bendahara. 

c. Hindari kata penghubung

Penggunaan kata penghubung yang berlebihan dan kurang tepat posisinya, dapat membuat kalimat jadi ambigu atau bahkan membingungkan pembaca. Jika memang harus menggunakan kata penghubung, maka pecahlah menjadi dua kalimat.


Contoh:

  • Kami kehujanan siang itu sehingga kami terlambat hadir di rapat karena harus berganti baju terlebih dahulu. 
  • Kami kehujanan siang itu. Oleh karena itu, kami terlambat hadir di rapat karena harus berganti baju terlebih dahulu. 


d. Hindari kata 'yang' sebelum predikat

Mengapa kata 'yang' dilarang mendahului predikat? Karena jika kata 'yang' mendahului predikat, dapat membuat predikat tersebut kehilangan fungsinya. 


Contoh:

  • Rumah Veronica yang berwarna biru dan terletak di sebelah pos ronda. 
  • Rumah Veronica berwarna biru, di sebelah pos ronda. 



Penutup

Nah, itulah salah satu syarat untuk membuat kalimat efektif. Satu syarat saja dapat menjadi 4 pembahasan, ya. Syarat-syarat lainnya insyaAllah akan saya bahas di tulisan selanjutnya, Gaesss. Stay tuned anf thank you for reading!


Manfaat Susu Kambing etawarich untuk Penderita Asma

Manfaat Susu Kambing etawarich untuk Penderita Asma


Sejak akhir Desember lalu, kami serumah bergiliran sakit. Gejalanya klasik sih, demam, batuk, pilek, tapi bukan Covid lho, ya. Saya menduga karena kondisi cuaca sedang galau. Entah ini karena efek pemanasan global yang membuat cuaca ekstrem tak menentu atau memang kondisi tubuh saya saja yang sedang lemah tak berdaya, hehehe



Cuaca Galau, Asma Kambuh

Cuaca galau itu maksudnya kadang tiba-tiba dingin dan hujan deras, kadang lembap dan panas menyengat. Kalau tubuh kita bisa ngomong, mungkin mereka akan protes karena jadi sering meriang. 


Buat orang yang memiliki riwayat penyakit asma seperti saya, kondisi cuaca seperti ini beneran bikin galau karena rentan menyebabkan asma kambuh. Benar saja, sejak awal Januari, sudah 2 minggu ini penyakit asma saya kambuh. Benar-benar menyiksa dan membuat segala hal jadi tertunda karena saya harus banyak beristirahat dan tidak bisa bekerja berat. 



Susu etawarich

Ketika menghadapi kondisi asma yang kambuh, tetiba saya mendapat informasi dari seorang teman, bahwa untuk meringankan asma yang sedang kambuh sekaligus memelihara kesehatan agar tidak kambuh lagi, saya disarankan untuk mengonsumsi susu etawarich, salah satu produk susu kambing etawa dengan segala kebaikan manfaatnya. 


Duh, saya termasuk orang yang tidak suka mengonsumsi susu. Saya merasa mual setiap kali minum susu, mungkin karena saya termasuk intoleransi laktosa. Sementara itu, jika susu berasal dari kambing, saya makin mual karena tidak suka baunya yang prengus khas kambing.  


Saat diberi informasi oleh teman, saya pun mempertanyakan, kenapa harus minum susu kambing etawa? Kenapa harus etawarich? Kandungannya apa saja? Manfaat susu etawa etawarich itu apa saja? Bau prengus enggak? Dan, masih banyak lagi pertanyaan berputar di benak saya. 


Memang saya tuh kadang bersikap skeptis, hehehe. Susah memercayai sesuatu kalau belum mengamati sendiri secara langsung. Apalagi kalo urusan sesuatu yang berkhasiat untuk kesehatan. Akhirnya saya putuskan untuk melakukan riset kecil dengan browsing sejumlah jurnal ilmiah yang membahas tentang susu kambing etawa dan manfaat susu etawa etawarich. 


Dalam pencarian literatur jurnal yang saya lakukan, saya mendapat banyak insight dan informasi seputar manfaat susu kambing etawa. Dari situlah saya mulai mencocokkan informasi dari jurnal dengan klaim produk dan manfaat yang ditawarkan oleh produk susu kambing etawa etawarich. Mau tahu apa saja fakta produk dan manfaat susu kambing etawa etawarich? Yuk, lanjut dibaca, ya! 



Kenapa Pilih Susu Kambing Etawa etawarich?

Susu kambing etawa etawarich ini telah melalui proses spray drying untuk mengubah susu kambing etawa cair yang sarat gizi itu menjadi susu etawarich yang berbentuk bubuk. 


Produsen etawarich mengklaim bahwa dalam 1 box susu etawarich mengandung susu kambing etawa sebanyak 98%. Hal ini berarti nutrisi yang dikandungnya pun mendekati sempurna, dong. Itulah mengapa disebut susu etawarich memiliki kualitas terbaik, dengan kandungan nutrisi 3x lebih tinggi dibanding susu sapi. Bahkan, kandungan gizinya paling mendekati kandungan gizi ASI, lho. 


Selain itu, susu etawarich ini 100% produk organik sehingga aman dikonsumsi oleh orang di segala usia, dari anak-anak hingga lansia. Eits, tentunya untuk bayi 0-2 tahun tetap mengutamakan konsumsi ASI, ya. 



Kandungan Utama Susu etawarich

Kebiasaan saya yang tidak suka bau prengus kambing, membuat saya pun mencari tahu, kenapa produsen etawarich bisa mengklaim susunya bebas bau prengus. Dari beberapa literatur ilmiah yang saya baca, ternyata khasiat susu kambing etawarich ini didukung oleh 6 kandungan utama di dalamnya, yaitu: 


Kandungan Susu Etawa etawarich
Kandungan utama yang membuat etawarich makin juara khasiatnya.


1. Susu kambing etawa

Susu etawarich mengandung susu kambing etawa sebanyak 98%. Kandungan susu etawa ini kaya akan kalsium dan protein. Bahkan jumlahnya lebih tinggi dibanding susu sapi biasa. Pantas saja susu etawarich ini terkenal sebagai susu tulang keropos karena kandungan kalsiumnya mantap.


Menurut jurnal, susu kambing etawa merupakan alternatif terbaik yang dapat menggantikan susu sapi. Mengapa? Karena dalam susu sapi terdapat setidaknya 20 jenis protein yang berpotensi menjadi alergen pada banyak orang. Sedangkan dalam susu kambing etawa, protein tersebut hadir dalam bentuk rantai peptida bioaktif dengan ukuran molekul yang lebih kecil sehingga lebih mudah cerna dan tidak dikenali sebagai alergen oleh sistem pertahanan tubuh manusia. 


Peptida bioaktif dalam kasein susu kambing etawa ini memiliki aktivitas sebagai antimikroba, antibakteri, antioksidan, antihipertensi, antidiabetes, dan antitrombotik. MasyaAllah, ternyata begitu banyak manfaat dalam kasein susu kambing etawa. 


Selain itu, manfaat susu kambing etawa ternyata kaya akan asam lemak tak jenuh rantai pendek. Hal ini berarti nutrisi dalam susu kambing etawa lebih mudah dicerna dan diserap oleh tubuh, serta baik untuk memelihara kolesterol tubuh tetap normal.

 

2. Kayu manis

Bahan dengan nama ilmiah Cinnamomum zelyanicum ini merupakan bumbu tertua yang dipakai umat manusia. Kayu manis berfungsi sebagai bahan aromatik sekaligus menambah khasiat susu kambing etawarich. Bahan inilah yang saya duga membuat susu etawarich bebas dari bau prengus dan makin wangi serta nikmat. 


Terbayang wanginya aroma kayu manis, kan? Nah, dengan proses pengolahan susu yang benar, tentu kayu manis mampu menghilangkan bau prengus khas kambing pada susu etawarich ini. 


Menurut beberapa jurnal kesehatan, selain sebagai bahan aromatik, ternyata kandungan flavonoid dalam kayu manis juga tak kalah juaranya dalam aktivitas sebagai antioksidan dan antiinflamasi (antiradang). 

 

3. Bee pollen

Bee pollen merupakan salah satu produk yang dihasilkan lebah, selain madu. Bee pollen ini berisi campuran serbuk sari, nektar, dan saliva (air liur) lebah yang dikumpulkan oleh para lebah pekerja. 


Bee pollen mengandung setidaknya 250 zat aktif biologis yang dapat bermanfaat untuk kesehatan. Selain itu, zat aktif yang dikandung bee pollen juga dapat berfungsi sebagai antioksidan dan antiinflamasi (antiradang). Hal ini makin melengkapi khasiat susu kambing etawa etawarich. 


4. Gula stevia

Tumbuhan yang memiliki nama ilmiah Stevia rebaudiana ini, dikenal sebagai salah satu pemanis, pengganti gula yang aman dikonsumsi. Di antara 240 spesies yang ada, spesies Stevia rebaudiana inilah yang memiliki tingkat kemanisan paling tinggi (300 kali lebih manis daripada gula tebu biasa) dan paling umum digunakan sebagai pemanis alami. 


Berasal dari dataran tinggi Paraguay dan Brazil, stevia mengandung zat aktif bernama steviol dan isosteviol yang dapat berfungsi sebagai antioksidan, antiinflamasi, dan antikarsinogenik. Gula stevia ini juga baik dikonsumsi oleh penderita diabetes karena tidak menambah kalori sehingga tidak menyebabkan kenaikan kadar glukosa darah yang berlebihan. Kalian juga harus paham bagaimana regulasi penggunaan gula atau glukosa di dalam tubuh, agar dapat mengonsumsi pemanis sesuai kebutuhan.

 

5. Gamat

Gamat/teripang, atau dikenal juga sebagai timun laut. Gamat merupakan hewan invertebrata yang termasuk dalam kelas Holothuroidea. Teripang memiliki spesies hingga ribuan jenis. Teripang memiliki kandungan zat aktif, yaitu kolagen, glukosamin, dan kondroitin, yang berfungsi sebagai antioksidan, antiinflamasi, dan antikarsinogenik. 


Selain itu, teripang/gamat juga dapat membantu mengurangi nyeri sendi, mempercepat penyembuhan luka, dan membantu pertumbuhan tulang rawan di dalam tubuh. Jadi, inilah bahan penting yang membuat susu etawarich disebut sebagai susu nyeri sendi atau susu untuk pengeroposan tulang.


6. Daun sirsak

Daun sirsak ternyata memiliki kandungan flavonoid yang tinggi, seperti vitamin C, folat sebagai zat gizi penting untuk kehamilan, dan beberapa mineral yang efektif sebagai antioksidan. Daun sirsak banyak dipercaya mampu mengobat beberapa penyakit. 



Manfaat Susu etawarich

Nah, dari bukti literatur dan jurnal ilmiah yang saya baca, 6 kandungan utama etawarich yang sudah dijelaskan di atas, tentunya masuk akal jika susu etawarich menawarkan berbagai manfaat yang lengkap paripurna. Beberapa manfaat tersebut di antaranya: 


Khasiat susu kambing etawarich sebagai susu nyeri sendi
Khasiat susu kambing etawarich untuk masa depan sehat dan bahagia.


1. Membantu mengatasi penyakit saluran pernapasan

Inilah salah satu manfaat yang saya butuhkan ketika memilih etawarich. Sebagai penderita asma, saya percaya bahwa dari 6 kandungan utama tadi sebagian besar berfungsi sebagai antioksidan dan antiinflamasi. 


Penderita asma mengalami peradangan di area saluran napas atas sehingga membuatnya kesulitan melakukan inspirasi dan ekspirasi saat proses pernapasan. Dengan khasiat susu kambing etawarich, maka 6 kandungan utama tadi tentunya bersinergi meredakan inflamasi/peradangan di saluran napas atas, sehingga kondisi asma yang terjadi dapat lekas teratasi. 


2. Membantu melancarkan saluran pencernaan

Di atas sudah sempat disinggung, bahwa molekul protein pada susu kambing etawa memiliki ukuran lebih kecil. Hal ini memungkinkan susu etawarich lebih mudah cerna dan mudah diserap tubuh, maka proses pencernaan pun lancar. 


Manfaat untuk melancarkan saluran pencernaan ini sangat penting, terutama untuk memelihara kesehatan pada orang kelompok usia rentan dan berisiko tinggi, seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui. Jadi, buat para lansia, anak-anak, bumil, dan busui tidak perlu ragu lagi untuk mengonsumsi susu kambing etawa etawarich ini, insyaAllah aman.


3. Menjaga kesehatan jantung dan memantau kadar kolesterol tetap normal

Selain ukuran molekul proteinnya, lemak yang dikandung susu etawarich juga memiliki ukuran lebih pendek. Kandungan susu etawa memiliki asam lemak tak jenuh dengan rantai pendek dan sedang. Hal inilah yang dapat membantu memantau kadar kolesterol tubuh tetap normal, dengan cara menurunkan LDL kolesterol dan menaikkan HDL kolesterol. 


4. Membantu mengatasi radang sendi, asam urat, dan pengeroposan tulang

Kandungan daun sirsak dalam etawarich mampu mengatasi asam urat dan peradangan sendi. Dari 6 kandungan susu etawa itu tadi, sebagian besar juga berfungsi sebagai antiinflamasi, yang berarti dapat meredakan radang sendi serta asam urat.


Pada akhirnya, ketika peradangan berhasil diatasi, maka dapat mencegah terjadinya pengeroposan tulang. Jadi, pantas saja susu etawarich selama ini terkenal sebagai susu untuk kesehatan, susu tulang keropos, dan susu nyeri sendi karena dapat mencegah terjadinya pengapuran tulang yang berlebihan. 



Aturan Minum Susu untuk Kesehatan etawarich

Nah, untuk dapat merasakan sekian banyak khasiat susu kambing etawarich, kita harus menyeduhnya dengan takaran yang benar, sesuai petunjuk di kemasan. Berikut ini tata cara penyajian susu etawarich yang benar:

  1. Gunakan cangkir kecil, agar takaran airnya pas.
  2. Tuang 1 sachet susu etawarich ke dalam cangkir kecil tadi.
  3. Tambahkan 120 ml air panas. Ingat ya, ukuran airnya harus pas 120 ml.
  4. Aduk hingga merata dan nikmati khasiatnya bagi kesehatan tubuh.


Aturan minum susu untuk kesehatan etawarich
Patuhi aturan minumnya, agar manfaat makin optimal dan rasa lebih nikmat.


Hal yang perlu diperhatikan adalah ukuran air panas yang digunakan, jangan melebihi tata cara penyajian yang dianjurkan. Mengapa? Tentunya kalian ingin mendapat khasiat dan manfaat susu etawarich secara optimal, kan. Maka, patuhilah aturan penyajian yang disarankan. Selain itu, jika kalian menyeduhnya dengan takaran air panas yang melebihi aturan, maka rasa susu kambing etawa etawarich kalian bisa saja hambar dan kurang nikmat, dong. 



Susu etawarich Beli di Mana?

O iya, kalian bisa membeli susu etawarich dari distributor resmi agar mendapat produk yang asli/original. Jangan sampai membeli produk palsu/tiruan. Distributor resmi produk etawarich bisa diakses melalui e-commerce etawarich official store di Tokopedia, Shopee, Tiktok, dan Whatsapp. Tunggu apa lagi? Cusss checkout susu etawarich sekarang juga, demi masa depan yang lebih sehat dan bahagia. 



Penutup 

Gimana, sudah yakin untuk mengonsumsi susu kambing etawarich? Atau masih galau dan ingin baca lebih banyak info lagi tentang manfaat susu kambing etawa? Kalian bisa mengakses website resmi etawarich untuk mendapatkan berbagai artikel kesehatan yang menarik dan tentunya bermanfaat. 


Website resmi etawarich susu tulang keropos
Berbagai artikel kesehatan bermanfaat di website resmi etawarich.


Masih ragu adanya efek samping setelah minum susu etawarich? Perlu diingat ya, susu kambing etawarich ini aman banget dikonsumsi untuk segala usia, terutama sebagai susu untuk kesehatan atau susu nyeri sendi untuk mengatasi radang sendi yang kerap diderita kaum lansia yang harus dipantau kesehatannya. 


Susu untuk kesehatan ini bagus juga dikonsumsi para remaja jompo. Kenapa ada remaja jompo? Ya, di era digital ini mulai bermunculan remaja jompo, usia muda tapi kondisi kesehatan menyerupai lansia. Semua itu karena orang zaman sekarang terbiasa menjalani sedentary lifestyle, gaya hidup kurang gerak/olahraga. 


Yuk, segera mengonsumsi susu kambing etawarich sebagai antisipasi jika ada pengapuran tulang di masa depan, susu ini juga dikenal sebagai susu untuk pengeroposan tulang. Ingat, mencegah lebih baik daripada mengobati, kan! Thank you for reading! 






Referensi:

-Dewi, Ratnasari. 2018. Analisis Kandungan Zat Gizi dan Total Uji Cemaran Susu Kambing Peranakan Ettawa yang Dikonsumsi oleh Ibu Hamil dan Anak-anak. Jurnal Media Farmasi: Vol. XIV No. 1


-Widodo, Rachmawati, Afina V., Chulaila, Rina., et.al. 2012. Produksi dan Evaluasi Kualitas Susu Bubuk Asal Kambing Peranakan Ettawa. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan: Vol XXIII, No. 2. 


-https://ditjenpkh.pertanian.go.id/berita/63-10-manfaat-super-susu-kambing-etawa-bagi-kesehatan/


Mengenal Proses Penyuntingan Buku

Mengenal Proses Penyuntingan Buku

Hai hai hai, ketemu lagi... Tumben nih, Bundamami sehari bisa terbit 2 tulisan, hehehe. Ini karena Bundamami sedang mengikuti kelas ya Gaes ya... Kelas apa? Ssstt, nanti Bundamami kasih tahu, ya!


Baiklah, tak perlu opening panjang lebar lagi. Sebagai kelanjutan tulisan saya sebelumnya tentang sejarah penyuntingan, maka di tulisan kali ini saya akan membahas tentang proses penyuntingan itu sendiri, dalam konteks penerbitan buku. Are you ready? Cekidot Gaesss! 



Penyuntingan 

Penyuntingan merupakan bagian dari ilmu penerbitan. Sementara itu, penerbitan sendiri adalah cabang ilmu komunikasi. Jadi, ketika kita mendalami ilmu dan konsep penyuntingan, maka kita sedang mempelajari salah satu konsep dalam ilmu komunikasi. 


Proses Penyuntingan
Proses Penyuntingan Tercetak dengan Markah


Dari segi bahasa, penyuntingan berasal dari kata sunting atau menyunting. Menurut KBBI, salah satu makna menyunting adalah menyiapkan naskah agar siap/layak terbit, dengan memperhatikan segi sistematika penyajian, isi, dan tata bahasa (menyangkut ejaan, diksi, dan struktur kalimat). Dari makna ini, kita memiliki sedikit gambaran seperti apa tahap dan proses penyuntingan. 


Seorang editor/penyunting memegang peranan penting agar sebuah buku dapat tersaji apik di hadapan pembaca. Jadi, proses penyuntingan merupakan hal wajib yang harus dilalui sebuah naskah untuk diterbitkan. 



Jenis Penyuntingan

Setelah mengetahui definisi penyuntingan, maka kita dapat beralih ke pembahasan jenis penyuntingan. Secara praktis, terdapat 2 jenis penyuntingan, di antaranya: 


1. Penyuntingan Mekanis

Penyuntingan mekanis meliputi segala hal yang berkaitan dengan penerapan standar dan kaidah ejaan, sesuai tata bahasa dan gaya selingkung tiap penerbit. Dalam tahap ini, penyunting hanya fokus pada kesalahan mekanis, misalnya tidak konsistennya penulisan tanda baca, huruf kapital, dll. Jangan berusaha menulis ulang naskah, tapi cukup diperbaiki saja. 


2. Penyuntingan Materi Substantif

Dalam penyuntingan materi substantif ini, sebenarnya seorang penyunting cukup mengingatkan pada penulis jika ada hal yang kurang sesuai, kemudian penulis yang harus memperbaiki sendiri. Namun, pada kondisi tertentu, tak jarang penyunting harus turun tangan untuk memperbaiki langsung atau bahkan menulis ulang naskah yang kurang sesuai tadi. 


Penyuntingan materi substantif biasanya meliputi: penelusuran sumber, pengurangan bagian materi yang tidak relevan, atau penambahan materi untuk memperkuat alur penulisan. Penyuntingan substantif juga berfokus pada hal-hal yang berkaitan dengan etika dan pelanggaran norma dalam masyarakat. 



Tahapan Proses Penyuntingan

Sementara itu, jika ditilik dari tahap pelaksanaan prosesnya, penyuntingan terbagi dalam 4 tahap yang berurutan, yaitu: 


Tahap Penyuntingan Buku
Empat Tahap Proses Penyuntingan


a. Tahap Prapenyuntingan

Pada tahap awal ini (first reading), penyunting menggunakan teknik membaca cepat dan sistematis untuk memahami maksud, tujuan, serta apa yang ingin disampaikan oleh penulis. Di tahap ini pula penyunting harus mengecek kelengkapan anatomi naskah yang sesuai dengan pedoman penyajian di penerbit tersebut. 


Dalam tahap prapenyuntingan ini, seorang penyunting harus menentukan apakah naskah tersebut membutuhkan proses penyuntingan ringan, sedang, atau berat. Itu artinya penyunting harus paham seberapa banyak kerja keras yang dibutuhkan untuk memoles naskah tersebut hingga layak terbit. Selain itu, penyunting juga harus menandai bagian mana yang menggantung dan butuh perbaikan, bagian mana yang perlu diperkuat, dan sebagainya. 


b. Tahap Penyuntingan Menyeluruh

Pada tahap kedua ini, penyunting harus menggunakan teknik membaca secara analitis. Di sinilah tahap penyuntingan secara menyeluruh dilakukan, berjalan simultan antara membaca analitis dan proses menyunting langsung. 


Pada tahap ini, penyunting berperan sebagai calon pembaca/orang awam yang secara aktif bernalar kritis saat membaca isi naskah. Ajukan berbagai pertanyaan yang sekiranya muncul di benak pembaca awam ketika melihat naskah tersebut untuk pertama kalinya. Jika penjelasan dalam naskah tersebut mampu memuaskan dan menjawab segala keingintahuan penyunting dengan baik dan jelas, maka naskah tersebut tergolong baik. Hal ini berarti tugas penyunting tidak terlalu berat.


Namun jika isi naskah tersebut belum mampu menjawab pertanyaan kritis dari calon pembaca (dalam hal ini penyunting) atau bahkan membingungkan penyunting saat membacanya, maka itu pertanda bahwa penyunting membutuhkan kerja keras untuk memperbaiki alur dan sistematika isi tulisan tersebut. 


Editing dan Proofreading
Proses Editing dan Proofreading


c. Tahap Copyediting

Setelah alur dan sistematika isi naskah cukup rapi, maka saatnya penyunting fokus pada penyajian tata bahasa dan ejaannya. Pada penjelasan di atas, proses ini dikenal dengan penyuntingan mekanis. 


Pada tahap ini, penyunting harus memperhatikan kaidah ejaan dan tata bahasa yang sesuai dengan gaya selingkung masing-masing penerbit. Jadi, penyunting wajib melakukan crosscheck pada pedoman ejaan yang berlaku saat itu. 


d. Tahap Proofreading

Pada tahap akhir, penyunting harus membaca ulang seluruh naskah, untuk memastikan tidak ada kesalahan yang terlewat untuk diperbaiki. Biasanya, untuk meminimalkan kesalahan, proses proofreading ini dilakukan oleh orang yang berbeda dengan penyunting di awal, misalnya penyunting penyelia atau korektor penyunting. 



Penutup

Nah, itulah beberapa tahap proses penyuntingan yang dilakukan di "dapur" sebuah penerbit untuk memastikan sebuah buku layak terbit dan tersaji apik di hadapan para pembacanya. Tahap tersebut dilakukan berlapis atau berjenjang untuk meminimalkan terjadinya kesalahan. Bagaimana, tertarik menjadi penyunting buku di penerbit? 



Referensi:

1. Trim, Bambang. (2022). Taktis Menyunting. Cimahi: Penulis Pro Indonesia. 

2. https://ghostwriterindonesia.com/

Mengenal Sejarah Penyuntingan

Mengenal Sejarah Penyuntingan-Bundamami


Tak terasa kita sudah menapaki tahun 2024. Berarti baru 6 tahun saya menulis di blog ini. Dan, hampir 15 tahun saya menggeluti bidang literasi atau akrab dikenal dunia kepenulisan. 


Sebenarnya, bidang literasi mulai saya lirik sejak SMA. Saat itu saya sudah menyukai dunia menulis. Berlanjut hingga kuliah dengan aktif di publikasi mingguan Science Club. 


Kemudian tepatnya di tahun 2009, saya baru mulai benar-benar terjun di dunia kepenulisan. Bekerja sebagai editor atau penyunting, sebenarnya bukan pekerjaan ideal bagi saya, terutama jika ditilik dari background pendidikan saya. Namun, pekerjaan ini saya pilih karena kecintaan saya akan buku dan dunia kepenulisan. Jadi, saya anggap di sinilah passion saya. 


Saya penasaran, seberapa penting tugas editor dalam sebuah penerbit? Apa saja proses penyuntingan yang harus dilalui sebuah calon buku untuk bisa terbit dan sampai di tangan pembaca? Dan masih banyak lagi pertanyaan berputar di benak saya. 


Saat itulah saya memutuskan untuk menerima tantangan sebagai editor buku kesehatan di Penerbit. Saya memilih tema buku kesehatan karena sesuai dengan background pendidikan saya, yakni ilmu kesehatan. Jadi, sebenarnya apa sih penyuntingan itu? Sebelum membahas penyuntingan, ada baiknya kita bahas dulu sejarah awal mula adanya aktivitas penyuntingan. Baca sampai selesai, ya. 



Sejarah Penyuntingan

Sejarah penyuntingan tentunya bermula sejak adanya penerbitan. Kalau enggak mau diterbitkan, lalu untuk apa capek-capek disunting begitu kan logikanya, ya. Jadi, awal mula adanya penerbitan adalah proses pencetakan manuskrip untuk disebarluaskan. Proses penerbitan atau lebih tepatnya pencetakan ini dimulai sejak manusia menemukan cara memproduksi tulisan secara massal, yakni pada abad ke-15 ketika Gutenberg menemukan mesin cetak pertama kali.



Sejarah Penemuan Mesin Cetak

Berawal pada tahun 1438 di Strasbourg, Perancis. Seorang pengrajin logam bernama Johannes Gutenberg melakukan eksperimen untuk menyalin manuskrip lebih cepat dengan teknik pencetakan menggunakan balok kayu. Namun, cara ini dinilai terlalu lambat. Gutenberg harus mengerjakan pola pencetakan di balok kayu dengan sangat hati-hati sehingga butuh waktu lama. Selain itu, hasil pencetakan balok kayu ini hanya untuk 1 halaman manuskrip saja. Sementara manuskrip yang harus disalin sangat banyak. 


Gutenberg tidak menyerah begitu saja. Ia terus melakukan eksperimen dengan bahan baku lain. Akhirnya Gutenberg mencoba membuat mesin pencetak dari campuran logam, yaitu timbal, timah, dan animon. Ternyata, ide pencetakan dengan campuran logam ini dinilai lebih efektif daripada pencetakan dengan balok kayu. 


Kemudian pada 1448, Johannes Gutenberg pulang ke kampung halamannya di Mainz, Jerman. Di kota kelahirannya inilah Gutenberg menyelesaikan rangkaian eksperimen demi eksperimen, hingga 2 tahun kemudian mesin cetak bergerak (moveable type) pertama hasil karyanya mulai beroperasi di tahun 1450. 


Meski mesin cetak karya Gutenberg ini cukup kecil, tetapi mampu menyalin manuskrip dengan cepat dan dalam jumlah besar untuk disebar di seluruh Eropa saat itu. Selain itu, Gutenberg juga menjadi penemu tinta cetak berbasis minyak yang lebih tahan lama dibanding tinta cetak sebelumnya yang berbasis air. 



Sejarah Penerbitan di Indonesia

Sejarah penerbitan di Indonesia sendiri, sebenarnya sudah berabad yang lalu dilakukan oleh bangsa Belanda dan keturunan Tionghoa. Namun, penerbitan yang khusus diinisiasi oleh orang pribumi asli Indonesia, dimulai sejak berdirinya Commissie voor de Volkslectuur (Komisi Bacaan Rakyat) pada 15 Agustus 1908 di Batavia. 


Komisi Bacaan Rakyat Cikal Bakal Balai Poestaka
D.A. Rinkes dan anggota Komisi Bacaan Rakyat, cikal bakal berdirinya Balai Poestaka.

Komisi ini berfungsi sebagai penasihat bagi Direktur Pendidikan dan Keagamaan di zaman itu, untuk menyeleksi bacaan di sekolah dan bacaan rakyat secara umum. Komisi Bacaan Rakyat ini baru benar-benar aktif dan berfungsi luas pada tahun 1910, di bawah kepemimpinan D.A. Rinkes, dengan menerbitkan bacaan untuk rakyat sebanyak 598 judul buku. 


Untuk menyebarkan buku-buku tersebut ke masyarakat luas, maka Komisi Bacaan Rakyat membangun perpustakaan yang bertajuk "Taman Poestaka" pada 13 Oktober 1910. Selain itu, Komisi Bacaan Rakyat juga menjual buku-buku tersebut melalui toko buku berjalan, berupa truk-truk kecil yang dikelola Depot van Leermiddelen. Truk-truk penjual buku ini tersebar hingga pelosok desa di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Hingga tahun 1930, Taman Poestaka telah berdiri di 2.528 titik area dengan melayani peminjaman hingga 2,7 juta buku. 


Para agen penjual buku terbitan Balai Poestaka
Para agen penjual buku-buku terbitan Balai Poestaka.

Setelah 9 tahun dibentuk, tepatnya pada 22 September 1917, tugas dan fungsi Komisi Bacaan Rakyat dialihkan ke lembaga baru, yakni Kantoor voor de Volkslectuur (Kantor Bacaan Rakyat). Inilah bibit terbentuknya Penerbit Balai Poestaka dan tanggal tersebut diperingati sebagai hari lahir Balai Poestaka.



Balai Poestaka

Kantor Bacaan Rakyat ini bertugas untuk menyeleksi secara ketat bacaan untuk masyarakat di zaman itu. Seleksi ini tentunya membutuhkan aktivitas penyuntingan dalam prosesnya. Jadi, dapat kita lihat bahwa seluruh buku hasil terbitan Balai Poestaka memiliki gaya selingkung tersendiri yang cukup ketat dan seragam. 


Editor dan Staf Balai Pustaka di awal Pendirian
Para editor dan staf Balai Poestaka di masa awal pendiriannya.

Dalam proses seleksi dan penyuntingan tersebut, Balai Poestaka memiliki seorang staf ahli bahasa Melayu berkebangsaan Belanda, yaitu Charles Adriaan van Ophuijsen. Beliaulah yang menyusun pedoman ejaan bahasa Melayu pertama di Indonesia. Kemudian pedoman tersebut dikenal dengan nama Ejaan van Ophuijsen. Pedoman ejaan tersebut memuat bahasa Melayu dengan kategori tinggi. Hal ini membuat buku-buku terbitan Balai Poestaka telah melalui proses penyuntingan dan seleksi yang sangat ketat. 


Balai Poestaka di tahun pertama pendiriannya, telah menerbitkan buku dalam bahasa Melayu sebanyak 31 buku, bahasa Jawa dengan tulisan latin dan arab sebanyak 101 buku, buku berbahasa Sunda sebanyak 67 buku, buku berbahasa Madura 22 buku, buku berbahasa Batak 4 buku, dan buku berbahasa Aceh, Bugis, dan Makassar masing-masing 1 buku. Tema yang diangkat dalam buku-buku terbitan Balai Poestaka seputar pertanian, kesenian, teknik, keterampilan, dan kesehatan. 


Pada masa pendudukan Jepang di tahun 1942, Balai Poestaka berubah nama menjadi Gunseikanbu Kokumin Tosyokyoku, yang artinya Biro Pustaka Rakyat, Pemerintah Militer Jepang. Balai Poestaka pada periode pendudukan Jepang ini berperan penting dalam proses transformasi, yakni penerjemahan bahasa Belanda menjadi bahasa Indonesia. 


Pada masa Agresi Militer I, sebagian besar karyawan Balai Poestaka mogok dan meninggalkan kantor Balai Poestaka. Hal ini karena mereka tidak mau bekerja sama dengan pihak Belanda. Di tahun 1947 itu, pedoman Ejaan Suwandi mulai berlaku dan penulisan nama Balai Poestaka berubah menjadi Balai Pustaka. 



Penutup

Itulah sejarah singkat adanya penyuntingan. Para tokoh pribumi yang menjadi staf redaktur Balai Pustaka sejak didirikan hingga zaman kemerdekaan inilah yang dianggap sebagai founding father dalam konsep ilmu penyuntingan di Indonesia. 


Konsep dan proses penyuntingan tak lepas dari pedoman ejaan. Penggunaan pedoman ejaan ini terus berkembang dan selalu update hingga sekarang. Hal ini dapat kita amati dari KBBI hingga PUEBI atau EYD yang dikeluarkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemdikbud. 


Setelah tahu sejarah penyuntingan, di tulisan selanjutnya, kita akan belajar tentang apa dan bagaimana proses penyuntingan itu. Stay tuned di sini ya... Thank you for reading. 



Referensi:

1. Trim, Bambang. (2022). Taktis Menyunting. Cimahi: Penulis Pro Indonesia. 

2. https://rinkes.nl/genealogie/douwe-adolf-rinkes/balai-poestaka/

3. https://balaipustaka.co.id/


Custom Post Signature