Kalimat Efektif dalam Penyuntingan Buku

Kalimat Efektif dalam Penyuntingan Buku


Hai halooo...

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya yang membahas mulai dari sejarah penyuntingan, kemudian proses penyuntingan buku. Dan yang terkini di tulisan kemarin, saya membahas tentang teks eksplanasi dan syarat kalimat efektif. Untuk syarat kalimat efektif ini baru dibahas 1 bagian yang terdiri dari 4 poin penting beserta contohnya. Masih ada 4 bagian lagi (total ada 5 bagian).


Nah, di sini saya akan lanjutkan untuk syarat yang nomor 2 dan seterusnya. Jadi, pembahasan sekarang langsung dimulai dari nomor 2 ya Gaesss ya.... Are you ready, Gaess? Yuk, gassskeun!



2. Bentuk Paralel

Sebuah kalimat disebut efektif jika struktur di dalamnya sejajar/sepadan. Jika di bagian awal kalimat menggunakan bentuk kata kerja aktif, maka bagian selanjutnya (di tengah maupun akhir) juga harus menggunakan kata kerja bentuk aktif. Yuk, saya beri contohnya biar lebih jelas dan paham.


Contoh:

- Tahap untuk menerbitkan buku itu sudah hampir selesai, tinggal beberapa proses seperti: melakukan proofreading, pencetakan dummy, kemudian terbit. 

- Tahap untuk menerbitkan buku itu sudah hampir selesai, tinggal beberapa proses seperti: melakukan proofreading, mencetak dummy, dan menerbitkan. 


Kalimat yang bisa disebut efektif dan memiliki bentuk paralel adalah yang memiliki bentuk sama/sepadan. Pada contoh di atas, unsur pemerian menggunakan kata kerja aktif, maka seluruhnya harus mengikuti pakai kata kerja aktif, misalnya melakukan, mencetak, menerbitkan. 


Kalimat Efektif dalam Penyuntingan Buku


3. Hemat Kata

Kalimat yang efektif adalah kalimat yang to the point, tidak bertele-tele, tidak menggunakan banyak kata yang tanpa makna. Standar jumlah kata dalam sebuah kalimat adalah 8-17 kata. Jika di luar interval jumlah tersebut, maka bisa dipastikan kalimat menjadi tidak efektif. 


Kadang memang kita perlu beberapa kosakata untuk menjelaskan suatu hal agar lebih mudah dipahami. Namun, jangan sampai berlebihan, ya. Beberapa tips yang dapat digunakan untuk merangkai kalimat agar hemat kata, yaitu: 


a. Subjek cukup 1x saja

Kalimat yang bertele-tele biasanya karena terlalu banyak menyebut subjek dalam satu kalimat. Jika ada 2 atau 3 subjek, maka hapus dan sisakan hanya 1 subjek. Dengan begitu kalimat akan terbaca simple dan mudah dipahami.


Contoh: 

- Saya tidak tahu ada webinar itu, maka saya tidak hadir di webinar itu. 

- Karena tidak tahu ada webinar itu, maka saya tidak hadir. 


b. Hindari sinonim

Cukup gunakan satu kata yang mewakili satu makna. Jika ada 2 kata dengan makna yang sama/mirip, maka gunakan salah satu saja. Hal ini dapat membuat kalimat lebih sederhana dan layak baca. 


Contoh:

- Sejak dari semalam dia belum makan sepotong roti pun. 

- Sejak semalam dia belum makan sepotong roti pun. 


Kata "sejak" dan "dari" memiliki fungsi dan makna yang sama, yakni menegaskan hierarki waktu. Maka cukup gunakan salah satu saja, agar kalimat menjadi efektif.


c. Waspada dengan kata jamak

Jika menggunakan kata jamak dalam suatu kalimat, maka tidak perlu lagi menggunakan kata lain yang bermakna jamak pula. Kata jamak yang diikuti kata lain dg makna jamak, dapat membuat kalimat terkesan membosankan dan berlebihan. 


Contoh:

- Hadirin sekalian yang berbahagia, dimohon kesediaannya untuk masuk ke dalam ruangan.

- Hadirin yang berbahagia dimohon kesediaannya untuk masuk ke ruangan. 


Pada contoh di atas, kata "sekalian" dan "hadirin" memiliki makna jamak. Maka, cukup gunakan salah satu saja. 


Begitu pula dengan penegasan "masuk ke dalam ruangan" sebenarnya berlebihan. Maka, cukup "masuk ke ruangan" saja.


d. Hindari superordinat dan hiponimi

Sebisa mungkin menghindari penggunaan superordinat dan hiponimi. Hanya boleh memakai satu hiponimi dalam satu kalimat. Hal ini karena kalimat yang menggunakan hiponimi lebih dari satu, akan membuat kalimat terkesan berputar-putar atau tidak mengena ke sasaran. 


Contoh:

- Dalam acara itu, Ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan mengenakan seragam berwarna krem. 

- Dalam acara itu, Ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan mengenakan seragam krem. 


Syarat Kalimat Efektif



4. Nalar yang Cermat

Cermat dalam menggunakan penalaran ini penting agar tidak terjadi kesalahpahaman atau makna ganda (ambiguitas). Di tulisan sebelumnya yang membahas mengenai syarat kalimat efektif dalam teks eksplanasi, sudah sempat disinggung juga tentang ambiguitas ini. 


Seorang penulis harus piawai menggunakan diksi/pilihan kata yang cocok untuk menjabarkan gagasannya, agar lebih mudah dipahami dan tidak menimbulkan makna ganda. 


Contoh:

- Tempat pembuangan sampah yang jaraknya jauh dari daerah pasar, mengakibatkan sampah tidak terangkut semua. 

- Tempat pembuangan sampah yang berjarak cukup jauh dari pasar, mengakibatkan tidak semua sampah dapat terangkut. 


Dari contoh di atas, kita jadi bingung yang dimaksud penulis itu sampahnya benar-benar tidak terangkut sama sekali atau tidak terangkut sebagian? Nah, di sinilah dibutuhkan nalar yang cermat dalam merangkai kalimat efektif. 



5. Bahasa yang Logis

Bahasa yang logis ini berarti bahwa ide/gagasan yang disampaikan dalam kalimat tersebut masuk di akal atau masuk secara logika. Kelogisan ini sering menjadi kesalahan yang tidak disadari oleh kebanyakan penulis/pembicara pemula. 


Contoh:

- Sambutan pertama dari Ibu Ketua. Waktu dan tempat kami persilakan. 

- Sambutan pertama dari Ibu Ketua. Kepada Ibu Ketua kami persilakan. 


Dari contoh di atas, dapat kita lihat, pada kalimat pertama (yang bertanda x merah), yang dipersilakan untuk memberi sambutan pertama adalah si waktu dan tempat, bukan Ibu Ketuanya. Hehehe



Penutup

Nah, akhirnya selesai juga seri pembahasan tentang penyuntingan dan kalimat efektif. Dari apa yang sudah saya tulis ini, meski sedikit, semoga dapat bermanfaat untuk pembaca. Thank you for reading!




Be First to Post Comment!

Post a Comment

Silakan tinggalkan jejak melalui komentar di sini yaaa.
Terima kasih sudah mampir di Bundamami Story.

Custom Post Signature