Yuk, Belajar dari Pengalaman Orang Lain


Assalamualaikum Sobat Bunda,

Hari ini saya ingin sharing tentang pengalaman pijat, mumpung belum terlalu lama berlalu, jadi belum lupa, hehe.

Beberapa hari yang lalu, suami saya mengeluh leher kaku dan pegal-pegal, mungkin karena terlalu lama duduk di depan laptop atau menyetir. Akhirnya diputuskan semalam suami saya ingin pijat menggunakan jasa tukang pijat yang dapat dipanggil ke rumah. Kebetulan, masih 1 kompleks dengan tempat tinggal kami, ada sebuah penyedia jasa pijat tuna netra, namanya Enzo Klinik Pijat. Selain lokasinya yang sangat dekat, pemesanannya juga mudah, hanya melalui pesan Whatsapp. Sangat praktis untuk era zaman now yang serba online. Ini kali kedua suami saya memesan jasa pijat tuna netra dari Enzo. Yang pertama sekitar 2 bulan lalu, dan kami cukup puas dengan kualitas pelayanannya.

Kemarin, kami memesan jasa pijat sport massage. Pada kesempatan pertama dulu, kami memesan jenis shiatshu massage. Entahlah apa bedanya, suami saya yang tahu, hehe.
Semalam kami memesan sore hari, untuk waktu pemijatan setelah maghrib. Di Enzo ini cukup disiplin dalam hal waktu, lho. Jam 18.15 WIB pemijat sudah hadir di depan pagar dengan 1 tas peralatan lengkap dan diantar pihak manajemen Enzo tentunya, karena pemijatnya kan tuna netra.

Oiya sebelumnya sekilas saya jelaskan tentang Enzo, ya. Enzo ini diprakarsai oleh beberapa mahasiswa Unpad yang sedang membuat program usaha (mungkin awalnya tugas dari dosen, kemudian dikerjakan dengan serius dan profesional akhirnya menjadi usaha Enzo Klinik Pijat ini). Tujuan utama usaha tersebut untuk memberdayakan saudara-saudara kita yang tuna netra. Mulia sekali niatnya, lho!

Setelah bertemu pelanggan, maka pihak pengantar (manajemen Enzo) akan menjelaskan segala ketentuannya, termasuk memberikan semacam kartu pelanggan, ada stempel kecil di kolom tertentu setiap kita memesan jasa pijat tersebut. Nantinya kartu ini berfungsi semacam loyalty card member (keren kan, kayak belanja di mall2 dan mart2 kekinian itu, hahaha), yang akan memberikan benefit berupa promo, diskon, dan segala kemudahan lainnya.

Kemudian, setelah berbasa-basi sejenak, sambil Bapak Pemijat menyiapkan peralatan, dimulailah waktu pijat, dan sebelum memulai Bapak Pemijat akan mengucap bismillah, kemudian mengaktifkan semacam alarm di ponselnya, untuk menentukan durasi waktu pemijatan yang akan berlangsung. Untuk sport massage, durasinya 90 menit. Semalam, suami mulai dipijat jam 18.30 dan berakhir jam 20.00.

Peralatan yang dibawa Bapak Pemijat cukup lengkap, lho. Alas perlak berukuran 2 m x 60 cm, pas untuk rebahan ukuran 1 badan. Menurut Bapak Pemijat, alas perlak ini untuk melindungi seprai/kasur tempat pijat dari tumpahan minyak pijat. Meski minyak pijat yang digunakan sudah didesain agar tidak mudah tumpah, yaitu minyak di dalam botol spray. Namun pihak manajemen tetap mengantisipasinya dengan membawakan alas perlak tersebut. Selain minyak dan perlak, Bapak Pemijat juga dibekali handuk kecil, tissue basah, dan alat aromaterapi elektrik. Handuk kecil dan tissue basah digunakan untuk mengusap badan setelah proses pemijatan selesai. Aromaterapi elektrik, diisi essential oil yang wanginya membuat badan lebih relaks dan menenangkan. Lengkap dan mantap, kan!

Saat memulai proses pemijatan, Bapak Pemijat akan menanyakan terlebih dahulu keluhan yang dirasakan pelanggan, semacam anamnesa kalau di dunia kedokteran yak, hihihi... Setelah diketahui keluhannya, bagian mana yang sakit atau pegal, dll kemudian Bapak Pemijat akan mencoba memijat bagian betis terlebih dahulu, sambil menanyakan pada pelanggan, apakah tekanan pijatnya sudah cukup, terlalu keras, atau kurang terasa tekanannya. Semua tergantung selera pelanggan. Keren banget, kan!

Semalam, kebetulan suami saya pijatnya di ruang keluarga, di depan TV. Karena memang di situ sudah ada kasur kecil yang biasa digunakan anak-anak saat menonton TV. Selain itu, juga untuk memudahkan Bapak Pemijat, agar tidak perlu naik ke kamar tidur di lantai 2.

Ruang keluarga atau ruang TV kami yang agak menyatu dengan ruang makan, membuat sebagian besar aktivitas kami berpusat di situ. Jadi, suami saya dipijat sambil dikelilingi suara meriah duo bocah yang lagi makan, sambil ngobrol, dan pake acara rebutan pula, hahaha. Rumah kami Alhamdulillah selalu dimeriahkan dengan celoteh lucu duo bocah dengan apapun yang bisa jadi medan perebutan, termasuk bundanya juga sering jadi rebutan, hwkwkwkkk.

Sambil menyuapi anak-anak, saya mendengarkan dan sesekali ikut nimbrung obrolan suami dengan Bapak Pemijat. Dia bercerita tentang awal mula mengalami kebutaan hingga segala aktivitasnya saat ini. Dari segi usia, Bapak Pemijat ini masih cukup belia. Tebakanku, mungkin dia berusia sekitar 20-an akhir. Masih muda kan, setidaknya dibanding kami berdua yang berusia pertengahan 30 dan sudah mendapati beberapa helai rambut ajaib berwarna nyentrik alias uban, hahaha.

Bapak ini mengalami kebutaan saat berusia 19 tahun. Menurut ceritanya, pada saat itu dia sedang belajar di sebuah pondok pesantren. Waktu itu dia mengalami demam hingga kejang/step. Setelah kejang demam berlalu, dia anggap itu demam biasa saja. Namun, tidak lama kemudian perlahan penglihatannya menurun dan akhirnya mengalami kebutaan. Entah diagnosa dokter apa, dan proses terjadinya kebutaan bagaimana, dia tidak menceritakan secara detail.

Dia menceritakan bagaimana dia merasa terpuruk dan sempat putus asa di awal masa mengalami kebutaan. Saya yang mendengar ceritanya seolah ikut hanyut merasakan kesedihannya, hingga tak terasa mata ini berkaca-kaca. Setelah fase putus asa itu, akhirnya dia sadar dan bangkit. Pernyataannya yang membuat saya terharu, "Allah memberikan kekurangan, pasti juga memberikan kelebihan". Dia sangat yakin itu. Mungkin kalimat tersebut terdengar klise dan biasa saja bagi kita yang tidak mengalaminya, tetapi bagi dia, kalimat itu menjadi semacam mantra penyemangat untuk lepas dari keterpurukan dan mulai menerima kondisi kebutaannya.

Saat ini, selain aktif menjadi mitra kerja Enzo Klinik Pijat, dia juga aktif di pesantren dan masjid-masjid untuk mengajar tahsin. Kemudian juga ikut komunitas semacam nasyid, gambus, atau band islami (entahlah apa namanya), dia sebagai vokalisnya. Masya Allah, dia benar-benar mengeksplorasi bakat dan minatnya sebagai anak muda dan tidak merasa terhalang sedikit pun dengan keterbatasan fisiknya. Termasuk belajar ilmu memijat di sebuah tempat kursus. Dia menekuni semua aktivitasnya dengan semangat, rajin, dan penuh rasa syukur. Barakallah Bapak Pemijat.

Dari kisah Bapak Pemijat tersebut, banyak pelajaran yang dapat dipetik. Salah satunya adalah dia begitu ikhlas menjalani segala ketentuan Allah dengan penuh rasa syukur.

Malu rasanya diri ini, Ampuni kami Ya Allah...
Dengan segala karunia, fasilitas, serta kemudahan dari Allah, kadang masih saja mengeluh dan kurang bersyukur. Sementara hamba Allah yang lain, di tengah keterbatasannya masih bisa bersyukur bahkan menebar manfaat untuk orang di sekelilingnya. Masya Allah.

Setelah proses pijat selesai dan Bapak Pemijat sudah dijemput manajemen Enzo, kami sekeluarga mulai sesi bercerita pada duo bocah. Kami menceritakan kembali kisah Bapak Pemijat tadi dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak. Sekaligus kami beri pemaknaan yang sesuai untuk usia mereka dan mengajarkan bagaimana akhlak yang baik jika bertemu saudara-saudara yang tuna netra. Harapannya, duo bocah menjadi anak-anak yang berempati dan peka serta berakhlak baik terhadap orang-orang yang tidak seberuntung mereka.

Akhir kata, terima kasih Bapak Pemijat, darimu kami belajar banyak hal, begitu pula anak-anak kami. Apapun dan siapa pun di sekitar kita, bisa menjadi media pembelajaran untuk diri sendiri maupun anak-anak kita. Tidak ada yang sia-sia di dunia ini. Semua memiliki peran dan kontribusi masing-masing bagi dunia bahkan untuk tabungan di akhirat kelak.

Share this:

ABOUT THE AUTHOR

Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible

2 comments:

  1. Iya mba, kita yang bisa melihat, malah lebih sering mengeluh, jadi belajar dari pengalaman orang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mbak... Sebagai pengingat saya pribadi, agar tidak mudah mengeluh dan menyerah.... Makasih sudah mampir mbak :)

      Hapus