3 Barang yang Wajib Ada Saat Isoman

3 Barang yang Wajib Ada Saat Isoman di Rumah


Assalamualaikum...

Hari ini saya akan bahas mengenai isoman. Isoman itu apa sih? Isoman itu singkatan dari isolasi mandiri, guys! Isolasi di sini maksudnya bukan isolasi lakban yang untuk bungkus paket, ya. Hahaha.


Apakah Isoman Aman untuk Penderita Covid-19?

Meningkatnya angka penderita Covid-19 di negara kita saat ini, membuat kebanyakan RS dan pusat pelayanan kesehatan kewalahan menerima pasien Covid-19. Antrean di IGD semakin mengular dan tak terelakkan. Hingga membuat pasokan tabung oksigen mulai kehabisan di banyak tempat.


Oleh karena itu, pemerintah menghimbau kepada pasien Covid-19 yang tanpa gejala atau gejala ringan, untuk melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing. Hal ini agar RS lebih fokus pada penanganan pasien Covid-19 dengan gejala sedang sampai berat dan atau kondisi kritis.


Nah, isolasi mandiri di rumah yang aman dan benar sesuai ketentuan itu membutuhkan beberapa peralatan yang wajib tersedia, demi kenyamanan pasien dan agar lebih waspada dengan kondisi pasien. Apa saja peralatannya? Berikut penjelasannya:


1. Thermometer


Thermometer ini penting banget, guys! Meski kalian tidak sedang isoman, ada baiknya memiliki thermometer di rumah. Apalagi jika ada bayi/balita di rumah, wajib punya thermometer!


Thermometer merupakan alat untuk mengetahui suhu tubuh secara akurat. Jangan hanya mengandalkan hasil mengukur suhu dari telapak tangan yang ditempelkan ke dahi/leher, ya. Cara seperti ini tidak valid, karena banyak faktor yang membuat hasil pengukurannya bias. Misalnya, menempelkan telapak tangan di dahi, padahal baru selesai cuci tangan. Ya, pastinya akan terasa dingin/normal, hehe. Makanya, mengukur suhu tubuh yang valid, ya dengan thermometer


Jenis-jenis Thermometer


Thermometer ada beberapa jenis, di antaranya:


a. Thermometer Air Raksa

Ini jenis thermometer yang paling jadoel dan tergolong manual. Tampilannya berupa tabung kaca dengan angka2 sebagai penunjuk suhu di dindingnya dan berisi cairan berwarna perak yaitu air raksa.


Cara kerjanya, suhu panas yang terdeteksi oleh dinding tabung, membuat air raksa di dalam tabung naik dan menunjukkan angka tertentu. Nah, itulah angka hasil pengukuran suhu tubuhnya.


Saat ini, penggunaan thermometer air raksa ini sudah tidak disarankan, karena kurang praktis dan berisiko pecah. Jika sampai pecah, air raksa di dalamnya berpotensi menimbulkan keracunan saat menguap dan terhirup.


b. Thermometer Digital

Nah, thermometer yang sudah banyak digunakan dan tidak berisiko pecah, salah satunya thermometer digital ini. Thermometer digital terbuat dari plastik dengan ujung lentur, untuk memudahkan proses pengukuran.


Cara kerja thermometer digital ini melalui sensor panas elektronik di bagian ujungnya yang dapat merekam panas tubuh. Tiga lokasi pengukuran suhu tubuh yang cukup akurat, yaitu mulut, ketiak, dan dubur.


Seiring perkembangan zaman, thermometer digital memiliki bentuk yang cukup bervariasi. Ada thermometer yang berbentuk dot/empeng. Biasanya digunakan pada bayi dan balita. Ada yang berbentuk seperti pensil biasa dengan ujung runcing dan lentur. Ada yang berbentuk mainan/boneka, tentunya untuk memudahkan jika melakukan pengukuran suhu pada anak.


c. Thermometer Infrared

Thermometer infrared merupakan thermometer yang saat ini banyak digunakan di tempat-tempat umum sebagai bentuk skrining tahap awal pada Covid-19. Cara kerjanya dengan memancarkan sensor infrared yang nantinya dapat mendeteksi suhu dan ditampilkan dalam angka-angka tertentu. Thermometer infrared ini tidak perlu menempel pada objek yang diukur, sehingga cukup praktis dan aman dalam kondisi pandemi saat ini.


Thermometer infrared ini ada 2 jenis, yaitu:

  • Thermometer dahi: mengukur suhu tubuh melalui sensor infrared yang dipancarkan ke arah dahi.
  • Thermometer telinga: mengukur suhu tubuh melalui sensor infrared yang dipancarkan ke arah liang telinga/gendang telinga. Thermometer telinga ini dapat mengalami bias pengukuran jika di dalam liang telinga terdapat kotoran telinga yang menghalangi pancaran sensor infrared tersebut.

Nah, mengapa saat isoman wajib ada thermometer? Agar kita waspada jika mengalami demam. Perlu diingat, Covid-19 ini kan virus dan ciri khas pada infeksi virus adalah terjadi demam tinggi. Kategori demam tinggi itu jika suhu mencapai >38 derajat Celcius.


2. Oximeter


Oximeter itu apa sih?

Oximeter adalah alat untuk mengukur kadar oksigen di dalam darah. Dalam dunia medis, untuk pengukuran yang akurat seharusnya menggunakan analisis gas darah melalui laboratorium. Namun, di masa pandemi tentunya membutuhkan pengukuran yang lebih cepat dan praktis agar penanganan dapat lebih cepat jika terjadi kegawatdaruratan. Makanya digunakan pulse oximeter untuk memantau.


Prinsip kerja pulse oximeter ini berdasarkan kemampuannya dalam mengenali cahaya red (R) dan cahaya near-infrared (IR) pada komponen dalam darah kita yaitu hemoglobin. Begini mekanismenya...


Darah dari pembuluh nadi banyak mengandung oksigen karena beredar dari jantung ke seluruh sel tubuh, disebut Oksihemoglobin (O2Hb). Oksihemoglobin ini berwarna merah cerah, karena mengandung banyak oksigen. Karakteristik oksihemoglobin ini dapat menyerap lebih banyak cahaya near-infrared (IR).


Sedangkan darah dari pembuluh vena yang mengalir dari seluruh tubuh menuju jantung berwarna merah pucat karena sedikit kandungan oksigennya, sehingga disebut deoksihemoglobin (HHb). Karakteristik deoksihemoglobin ini lebih banyak menyerap cahaya red (R).


Dengan memanfaatkan karakteristik oksihemoglobin dan deoksihemoglobin di atas itulah cara kerja alat oximeter dibuat. Pulse oximeter berbentuk seperti penjepit yang mengapit ujung jari tangan, dengan dua sisi dinding sebagai pengapit jari. 


Satu sisi dinding merupakan dioda pemancar cahaya. Dioda tersebut dapat memancarkan cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda, yaitu cahaya red (R) dan cahaya near-infrared (IR). Sementara sisi lain merupakan sensor cahaya untuk mendeteksi cahaya mana saja yang sudah melewati ujung jari tersebut.


Prinsip Kerja Pulse Oximeter

Nah, dengan mekanisme di atas, dapat diketahui berapa banyak perbandingan oksihemoglobin dan deoksihemoglobin yang melintas di dalam ujung jari tangan kita. Itulah yang keluar sebagai angka saturasi oksigen.


Saturasi oksigen pada orang sehat normalnya 95-100%. Jadi, ketika saturasi oksigen <95% sebaiknya mulai waspada adanya gangguan pernapasan, yang terlihat dari munculnya gejala sesak napas atau napas pendek-pendek dan bersuara (mengi).


Memantau saturasi oksigen pada penderita Covid-19 saat isoman sangat penting karena salah satu gejala Covid-19 adalah gangguan pernapasan. Gangguan napas ini merupakan masalah vital, karena sering tidak disadari dan dapat memburuk dalam waktu cepat jika tidak segera diatasi.


Jika saturasi oksigen terpantau, maka sebelum kondisi memburuk kita dapat mengusahakan penanganan yang lebih baik. Misalnya, jika saturasi oksigen sedikit turun dan kondisi pasien sesak napas ringan, maka dapat dibantu dengan perubahan posisi (proning/semi fowler) dan penguapan (nebulizer). 


Namun, jika saturasi oksigen turun drastis dan pasien tampak sesak napas berat, maka sudah termasuk kondisi kegawatdaruratan. Segera bawa pasien ke RS untuk penanganan yang lebih intensif.


3. Tensimeter


Mengapa tensimeter penting saat isoman?

Karena salah satu faktor komorbid (penyakit yang berbahaya dan dapat memperburuk kondisi pasien) pada Covid-19 adalah hipertensi. Hipertensi ini merupakan silent killer, karena biasanya tanpa gejala dan meningkatkan risiko terjadi serangan jantung, stroke, dan penyakit gangguan pembuluh darah lainnya.


Jenis Tensimeter

Tensimeter ini cukup bervariasi bentuknya. Beberapa model tensimeter di antaranya yaitu:


a. Tensimeter Raksa

Sama seperti thermometer raksa di atas tadi. Tensimeter yang berisi air raksa (cairan berwarna perak) ini merupakan tensimeter konvensional. Tensimeter ini membutuhkan stetoskop sebagai alat bantu untuk mendengarkan denyut nadi. Penggunaan tensimeter raksa ini mulai banyak ditinggalkan karena alasan keamanan pada cairan raksanya yang berpotensi racun jika pecah dan terhirup. Namun, keakuratan tensimeter raksa ini malah yang paling tinggi di antara jenis tensimeter lainnya.


b. Tensimeter Aneroid

Berbeda dengan tensimeter raksa, tensimeter aneroid ini sudah menggunakan jarum mekanik sebagai penunjuk angkanya. Bentuknya pun lebih kecil jika dibanding tensimeter raksa tadi, jadi cukup praktis dibawa ke mana pun. Namun, tetap saja membutuhkan stetoskop sebagai alat bantu untuk mendengarkan denyut nadi secara akurat.


c. Tensimeter Digital

Nah, di era modern saat ini, tensimeter digital inilah yang banyak digunakan. Dengan banyaknya kemudahan dan kepraktisan yang ditawarkan tensimeter digital, membuatnya populer di kalangan masyarakat medis maupun non-medis.


Penggunaan tensimeter digital ini sangat mudah. Semua orang dapat menggunakannya, bahkan untuk mengukur tekanan darah diri sendiri hanya dalam hitungan detik.


Memantau tekanan darah dan detak jantung (heart rate) selama proses isoman sangat penting dilakukan, agar dapat waspada jika terjadi perubahan drastis atau sewaktu-waktu kondisi pasien memburuk. 


Kesimpulan


Nah, itulah ketiga alat yang wajib ada saat pasien Covid-19 menjalani isolasi mandiri di rumah. Harapannya, dengan pemantauan tanda vital tubuh (suhu, saturasi oksigen, tekanan darah) melalui ketiga alat tersebut, kita dapat mengantisipasi dan bertindak lebih cepat dan tepat jika sewaktu-waktu terjadi kondisi kegawatdaruratan medis saat isoman di rumah. 




Kupas Tuntas Google Analytics dan Google Search Console

 Kupas Tuntas Google Analytics dan Google Search Console


Assalamualaikum Sobat Bunda...

Di bulan Juni ini saya dapat rezeki nomplok yang tak terduga, yaitu bisa bergabung di Kelas Gratis BRT-SEO. Kebayang dong gimana happy-nya, Emak macam saya yang buta coding ini masuk di kelas yang isinya kebanyakan orang yang paham coding. Tentu saja saya tertatih mengikuti pembahasannya. Namun, cukup memotivasi dan bikin penasaran. Ibarat manusia, saya masih di tahap bayi yang belajar merangkak di dunia blogger dan SEO.


BRT-SEO Class

Kalian tahu apa itu BRT-SEO Class? BRT-SEO Class itu salah satu kelas bikinan BRT Network. Oiya, kepanjangan BRT itu Blogger Ruang Tunggu. Kenapa harus di ruang tunggu? Saya juga gak ngerti. Hehe. Kalau mau kepoin, silakan main ke markasnya.


BRT-SEO Class ini merupakan kelas yang membahas tentang cara-cara memperbaiki dan meningkatkan performa blog melalui SEO. Kelas ini berlangsung selama sebulan penuh dengan metode belajar yang cukup unik.


Uniknya di mana?

Peserta tidak melulu dicekoki/disuapi materi dari para pengajar. Namun, peserta dibiarkan bebas menangkap sendiri semua ilmu yang bertebaran di kelas, yaitu obrolan di WAG dan diskusi saat GMeet. Peserta hanya diberi kisi-kisi materi yang menggiring ke tujuan, misalnya memperbaiki performa blog melalui perbaikan robots.txt, mengecek performa blog melalui Meta SEO Inspector, proses menanam link, dll. Sukses atau tidaknya, semua bergantung pada seberapa keras usaha masing-masing peserta.


BRT-SEO Class kali ini digawangi oleh 5 blogger mastah sebagai pengajar yang sudah tidak diragukan lagi keahliannya di bidang SEO. Mereka adalah Mas Pewe, Mbak Monica, Mbak Gilang, Mas Aldhi Fajar, dan Mas Priyo Harjiyono. Terima kasih banyak untuk sharing ilmu dan pengalaman para mastah semua. Semoga menjadi amal jariyah yang membawa pada surga-Nya kelak. Aamiin Yaa Rabb.


Rangkaian BRT-SEO Class ini juga mencakup Webinar setiap Sabtu malam melalui kanal GMeet yang tema bahasannya berbeda-beda. Nah, di Sabtu ke-3 Webinar GMeet membahas tentang Google Analytics dan Google Search Console.


Pemateri kali ini adalah Mas Priyo Harjiyono. Beliau adalah seorang guru di SMK Swasta Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan. Selain itu, beliau juga pengajar di salah satu universitas di Yogyakarta pada bidang praktikum kuliah mikrokontroller dan pembelajaran berbasis multimedia. Jadi, sudah tidak diragukan lagi keahliannya, kan!


Audit Web on BRT-SEO Class
Webinar Week 3 @BRT-CEO Class 


Dalam sharing tersebut, Mas Priyo menjelaskan materi bagaimana menggunakan tools audit untuk mengecek performa blog. Nah, kedua tools yang dimaksud adalah Google Analytics (selanjutnya akan disebut GA) dan Google Search Console (selanjutnya akan saya sebut GSC).



Google Analytics (GA)

GA ini merupakan salah satu tool milik Google yang berfungsi untuk mengetahui performa blog kita di mata pengunjung/pembaca/users. Nah, di GA ini kita akan mendapat berbagai data yang dapat dimanfaatkan untuk kemajuan performa blog kita. Sebelum mengulik lebih jauh, ada beberapa istilah dalam GA yang harus kita ketahui, di antaranya:


Users

User di sini maksudnya pembaca/pengguna/pengunjung blog kita. Siapa pun yang pernah mengunjungi blog kita, meski hanya 1x, maka dianggap users. Biasanya users diidentifikasi dari IP address yang kita gunakan. Jadi, meski kita mengunjungi sebuah blog berkali-kali, maka tetap dianggap 1 user, karena identitas kita dikenali 1x.


Sessions

Sessions artinya koneksi yang dilakukan users ketika dia mengakses sebuah halaman web dalam rentang waktu tertentu. Ketika menjelaskan sessions ini, Mas Priyo menggunakan contoh pada situs mobile banking.


Saat membuka situs mobile banking, jika dalam sekian menit kita tidak melakukan aktivitas apa pun, maka aplikasi akan otomatis logout atau memutus session, demi keamanan data pengguna. Session expired, begitu biasanya notifikasi yang akan muncul dan kita wajib login ulang jika ingin masuk kembali.


Pada blog, session dihitung dalam rentang waktu 30 menit. Begini ilustrasinya, saya membuka blog, saat sedang asyik scroll, tiba-tiba harus menemani anak balita saya ke toilet selama 30 menit. Setelah selesai dari toilet, saya kembali ke depan laptop (sudah cuci tangan tentunya, ya, hehe) dan membuka blog yang sama tadi. Maka interaksi saya dengan blog sudah terhitung 2 sessions, karena lebih dari 30 menit baru ada aktivitas kembali di blog tersebut.


Bagaimana jika setelah 30 menit, saya buka blog yang tadi, kemudian me-refresh halaman tersebut dan scroll sana sini. Maka tidak hanya sessions yang bertambah, page views pun terhitung bertambah 1 lagi. Alhamdulillah, dong ya!


Namun, jangan sampai saat kalian gabut (gak ada kerjaan lagi) lalu standby depan laptop dan bolak-balik refresh halaman blog kalian, biar page views naik. Don't try this at home! Ora ilok jenenge. Hahaha.


Page Views

Setiap halaman web yang kita kunjungi itu disebut page views. Ketika saya berkunjung ke sebuah website. Masuk di homepage, kemudian scroll dan dapat judul artikel yang menarik, masuklah saya ke artikel A.


Kemudian di artikel A isinya kurang seru, maka saya balik lagi ke homepage. Tak lama scroll di homepage saya menemukan artikel lain yang menarik, maka masuklah saya ke artikel B.


Di dalam artikel B saya menemukan link ke artikel C. Masuklah saya ke artikel C. Setelah selesai, saya berhenti membaca karena harus segera salat Dzuhur.


Maka interaksi saya dengan website tersebut:

Homepage - Artikel A - Homepage - Artikel B - Artikel C = terhitung 5 page views.

Jika 5 page views itu saya lakukan dalam waktu 20 menit, maka terhitung 1 session.


Bounce Rate

Bounce rate itu persentase seberapa banyak pengunjung yang masuk ke blog kita, tetapi hanya membuka 1 halaman saja, tak lama kemudian keluar. Ibarat bola basket, setelah kita lempar ke tanah, maka 1x mendarat di tanah, kemudian naik memantul ke udara lagi. Kalau bola sepak beda lagi ya, tidak akan memantul, makanya saya pakai contoh bola basket saja, sudah jangan protes, hahaha.


Bounce rate dihitung dengan rumus jumlah kunjungan yang hanya membuka 1 page, dibagi total kunjungan, kemudian kali 100%. Jadi, jika dalam 100 kunjungan, hanya 20 pengunjung yang buka 1 page saja terus keluar, maka bounce rate = 20% (ngarep banget bisa turun jadi segitu, ya kan! Haha).


Semakin kecil nilai bounce rate, maka semakin baik performa blog kita. Artinya pengunjung betah berinteraksi dengan blog kita!


Namun, jangan terlalu ngebet juga ingin bounce rate-nya turun, ya. Secara default memang bounce rate itu tinggi, karena dihitung dari berapa kali blog kita mengirim data baru ke GA. Misal kita scroll, mengisi form email, klik internal link, itu dianggap tidak bouncing, kan kita berinteraksi dengan page tersebut. Tidak hanya buka page terus ditinggal tidur, ya.


Dalam menyikapi tingginya nilai bounce rate ini, jika memang susah diturunkan, lalu apa yang bisa kita maksimalkan untuk mengimbanginya? Ya maksimalkan di artikel. Misal kita menulis artikel yang topiknya sangat dibutuhkan, dibuat saling berkaitan dengan artikel lain di blog kita sehingga memungkinkan pembaca untuk klik internal link, kemudian menyediakan widget menarik atau program Call to Action yang menarik sehingga pembaca penasaran untuk mencobanya, dll. Intinya buatlah pembaca tertarik dan betah berlama-lama di blog kita.


Nah, setelah paham beberapa istilah dalam GA di atas, kita bisa dengan mudah membaca dan menginterpretasikan data-data yang kita lihat di GA.


Menu dalam Google Analytics

Jika membuka GA, maka akan tampak menu berbaris rapi ke bawah. Ketika klik salah satunya, maka ada sub-menu yang terlihat dan klik lagi untuk menampilkan data yang lebih detail. Berikut menu dan kegunaannya:


Real time

Menu real time ini menunjukkan berapa banyak pengunjung yang sedang mengakses blog kita saat ini. Jika kita membuka menu real time ini tetapi angkanya menunjukkan 0 (nol), padahal kita sedang membuka blog tersebut di tab lain, maka berarti ID property yang kita masukkan tidak tepat. Cek lagi apakah sudah benar setting ID property tersebut mengarah ke blog kita.


Selain menunjukkan jumlah pengunjung saat ini, menu real time juga menunjukkan halaman mana saja yang sedang mereka akses, dari mana lokasi pengunjung, dan jalur mana yang mereka tempuh hingga terdampar di blog kita. Bisa dari jalur referral atau organic.


Audience

Menu audience ini menurut saya merupakan menu paling banyak manfaatnya. Apalagi jika dapat mengunakannya dengan optimal untuk meningkatkan engagement dengan pengunjung blog. Wah, hasilnya bakalan mantap!


Di menu audience ini kita bisa tahu seberapa banyak users baru dan users lama yang kembali lagi mengunjungi blog tersebut. Selain itu, kita juga bisa tahu performa blog kita melalui jumlah sessionpage views, bounce rate, dll.


Hal yang tak kalah penting dapat kita ketahui dari GA melalui menu audience ini adalah karakteristik pengunjung blog kita. Mulai dari lokasi, hobi, perilaku, hingga teknologi dan perangkat/gadget yang digunakan ketika mengakses blog kita. Semua dapat terdeteksi secara jelas.


Nah, apa yang bisa kita lakukan?

Tentu saja kita bisa mengoptimalkan penggunaan data tersebut dengan cara menyediakan/membuat isi blog kita sesuai dengan karakteristik audience. Memenuhi ekspektasi audience blog akan membuat pengunjung semakin betah berlama-lama mengeksplorasi blog kita.


Misalnya data dari GA menunjukkan bahwa audience kita kebanyakan wanita berusia 24-35 tahun dengan kebiasaan belanja di marketplace dan hobi memasak. Maka kita bisa membuat artikel-artikel seputar resep masakan, review peralatan masak, review tempat kuliner, dan hal-hal lain yang masih berhubungan dengan karakteristik audience tadi. Mudah, kan?

 

Acquisition

Menu acquisition ini menunjukkan dari mana pengunjung blog kita datang. Bukan lokasi kota atau negaranya, ya. Namun, jalur datangnya pengunjung tersebut hingga membuat mereka terdampar di blog kita.


Ada 4 jalur yang terdeteksi di menu acquisition ini, yaitu:

  1. Direct : pengunjung langsung mengetik alamat blog kita atau dari koneksi private. Link yang kita peroleh dari WhatsApp termasuk ke jalur direct ini.
  2. Organic search : pengunjung menemukan blog kita dari mengetikkan keyword tertentu di mesin pencari Google. Kemudian pengunjung menemukan blog kita di deretan web yang disarankan oleh Google. Syukur-syukur blog kita ada di page one ya, hahaha ngarep banget.
  3. Referral : biasanya berasal dari link yang kita tanam di website lain. Jika ada users yang klik link kita dan mengarah masuk ke blog, maka akan terhitung sebagai kunjungan melalui jalur referral.
  4. Social : kunjungan melalui kanal sosial ini biasanya berasal dari link blog yang kita promosikan di medsos.

Behaviour

Behaviour flow di sini berbeda dengan behaviour pada menu audience di atas tadi, ya. Behaviour flow ini lebih mengarah pada tiap halaman di blog kita.


Misalnya setelah membaca postingan A, biasanya pengunjung akan beralih ke postingan C, karena masih 1 tema dengan postingan A tadi. Jadi, alurnya akan terlihat. Di sini kita bisa memanfaatkannya dengan cara menempatkan internal link yang berkualitas dan masih "nyambung" dengan tema postingan.


Di menu ini juga kita bisa mendapat insights, kira-kira halaman mana saja yang kecepatannya sudah baik, mana yang belum. Kemudian halaman mana yang lebih disukai pengunjung, dan lain sebagainya. Kemudian gunakan insights tersebut untuk membuat artikel-artikel baru yang sesuai agar performa blog kita meningkat.


Conversions

Menu conversions ini menurut saya lebih banyak bermanfaat jika blog kita difungsikan sebagai online shop. Menu conversions ini memungkinkan kita untuk menentukan tujuan/sasaran/goals dari setiap postingan yang kita buat.


Jika berbicara mengenai online shop, maka goals akhir pastilah adanya pengunjung yang memasukkan barang ke keranjang kemudian mengklik tombol 'buy'. Jika blog kita bukan online shop, kita bisa memanfaatkannya untuk menjaring data pengunjung, misal mendapatkan emailnya, membuat pengunjung mengklik download dari file yang kita bagi, mengetahui jumlah pengunjung, dan sebagainya.


Nah, itulah sekelumit ilmu tentang Google Analytics yang berhasil nyangkut di kepala saya ketika ikut Webinar Week 3 @BRT-SEO Class bersama Mas Priyo. Setelah ini, kita lihat seberapa banyak ilmu tentang GSC yang nyangkut di kepala saya, ya!


Google Search Console (GSC)


Apa sih GSC itu? Dan gimana cara pakenya? Biasanya itu yang pertama kali ditanyakan oleh blogger newbie macam saya.


Nah, menurut Mas Priyo, kalau tadi GA untuk mengecek performa blog kita di mata pembaca, sedangkan GSC ini untuk mengecek performa blog kita di mata mesin pencari Google.


Masih serupa dengan GA tadi, GSC juga merupakan tool bikinan Google yang gratis dan dapat diakses siapa saja yang terhubung dengan Google.
GSC terdiri dari beberapa menu dan sub-menu, di antaranya:


Overview

Overview ini berisi rangkuman semua data yang biasanya ditampilkan oleh GSC. Namanya juga rangkuman, jadi yang ditampilkan secara singkat saja, tidak terlalu mendetail.


Performance

Performance ini menunjukkan kinerja blog kita, salah satunya terkait dengan queries misalnya. Keyword apa saja yang biasanya dicari pengunjung melalui mesin pencari Google, kemudian membuat pengunjung terdampar di blog kita. Termasuk halaman apa saja di blog kita yang biasanya dibuka pengunjung berdasarkan saran dari mesin pencari Google.


Selain itu, negara asal pengunjung dan jenis device yang digunakan juga terlihat di menu performance ini. Jenis device dibagi ke dalam 3 macam yaitu desktop, tablet, dan mobile. Jadi, jangan khawatir, merk device kalian gak akan ketahuan, kok. Tenang aja! Hehe.


Performance ini menampilkan beberapa hal, di antaranya:

Total Clicks

Total clicks ini menunjukkan berapa banyak total pengunjung yang mengklik alamat blog kita hingga mereka sampai masuk ke homepage/artikel blog kita.


Total Impressions

Jika total clicks tadi pengunjung sudah mengklik, maka lain halnya dengan total impressions ini. Total impressions ini seberapa banyak blog kita ditampilkan oleh Google.


Jadi saat ada yang mencari keyword 'gizi' misalnya, maka blog saya mungkin akan ditampilkan. Namun, belum tentu diklik oleh calon pembaca, kan! Jadi, banyak-banyaklah berdoa dan beberes performa blog juga, biar calon pembaca tertarik untuk klik blog kita. Gak cuma ditayangkan, doang! Hahaha.


CTR (Clicks Through Rate)

CTR ini masih berhubungan dengan klik-klik di atas tadi. Jadi CTR itu merupakan persentase total clicks dibagi total impressions.


Average Position

Nah, ini nih angka yang menunjukkan di mana posisi kita ketika ditampilkan di Google. Apakah di page one dengan nomor urut 1 (ngarep!) atau nomor urut ke sekian dan page ke sekian? Hal itu tergantung keberuntungan dan kerja keras dalam memperbaiki performa blog, ya! Hahaha.


URL Inspection

Fitur ini berfungsi untuk mengecek apakah URL tulisan di blog kita sudah ter-index oleh Google atau belum. Jika memang belum ter-index, maka kita bisa mengklik request indexing pada Google. Kemudian Google akan mulai crawling URL tersebut di blog kita.


Queries

Queries ini semacam keyword atau sekelompok kata yang biasanya digunakan pengunjung di mesin pencari Google, yang akhirnya membawa pengunjung masuk ke blog kita.


Dari menu queries ini, kita bisa mempelajari kira-kira keyword apa saja yang diminati pengunjung. Kemudian kita bisa memperbanyak artikel mengenai keyword tersebut. Harapannya seperti yang di atas saya jelaskan tadi, pengunjung betah berlama-lama mengeksplorasi isi blog kita.


Kesimpulan

Jadi, dari penjelasan saya di atas tadi, dapat disimpulkan bahwa:


Google Analytics (GA) itu tool untuk mengetahui performa blog kita di mata pengunjung. Data yang disajikan GA dapat dimanfaatkan untuk membuat artikel-artikel yang sesuai dengan karakteristik audience.


Google Search Console (GSC) itu tool untuk mengetahui performa blog kita di mata mesin pencari Google. Data dari GSC ini pun dapat kita manfaatkan untuk memenuhi ekspektasi pengunjung, dari segi memperhatikan keyword yang paling banyak dicari, halaman yang paling banyak dikunjungi, kecepatan halaman yang disukai pengunjung, dll.


Dari optimasi GA dan GSC itu, semuanya bermuara pada membuat blog kita tampil awesome di mata pembaca maupun mesin pencari, membuat pembaca betah berlama-lama di blog kita, serta Google pun senang menampilkan blog kita di halaman pencariannya. Ngarep Page One, dong! 


Alhamdulillah, akhirnya selesai juga tulisan marathon kali ini, hahaha. Memang pejuang deadline garis keras. Semoga informasi ini bermanfaat untuk sesama blogger pemula seperti saya. Jika ada informasi yang kurang tepat, mohon sampaikan di comments, agar bisa diperbaiki. Terima kasih.


Semoga barokah dan bermanfaat!







Custom Post Signature