3 Barang yang Wajib Ada Saat Isoman

3 Barang yang Wajib Ada Saat Isoman di Rumah


Assalamualaikum...

Hari ini saya akan bahas mengenai isoman. Isoman itu apa sih? Isoman itu singkatan dari isolasi mandiri, guys! Isolasi di sini maksudnya bukan isolasi lakban yang untuk bungkus paket, ya. Hahaha.


Apakah Isoman Aman untuk Penderita Covid-19?

Meningkatnya angka penderita Covid-19 di negara kita saat ini, membuat kebanyakan RS dan pusat pelayanan kesehatan kewalahan menerima pasien Covid-19. Antrean di IGD semakin mengular dan tak terelakkan. Hingga membuat pasokan tabung oksigen mulai kehabisan di banyak tempat.


Oleh karena itu, pemerintah menghimbau kepada pasien Covid-19 yang tanpa gejala atau gejala ringan, untuk melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing. Hal ini agar RS lebih fokus pada penanganan pasien Covid-19 dengan gejala sedang sampai berat dan atau kondisi kritis.


Nah, isolasi mandiri di rumah yang aman dan benar sesuai ketentuan itu membutuhkan beberapa peralatan yang wajib tersedia, demi kenyamanan pasien dan agar lebih waspada dengan kondisi pasien. Apa saja peralatannya? Berikut penjelasannya:


1. Thermometer


Thermometer ini penting banget, guys! Meski kalian tidak sedang isoman, ada baiknya memiliki thermometer di rumah. Apalagi jika ada bayi/balita di rumah, wajib punya thermometer!


Thermometer merupakan alat untuk mengetahui suhu tubuh secara akurat. Jangan hanya mengandalkan hasil mengukur suhu dari telapak tangan yang ditempelkan ke dahi/leher, ya. Cara seperti ini tidak valid, karena banyak faktor yang membuat hasil pengukurannya bias. Misalnya, menempelkan telapak tangan di dahi, padahal baru selesai cuci tangan. Ya, pastinya akan terasa dingin/normal, hehe. Makanya, mengukur suhu tubuh yang valid, ya dengan thermometer


Jenis-jenis Thermometer


Thermometer ada beberapa jenis, di antaranya:


a. Thermometer Air Raksa

Ini jenis thermometer yang paling jadoel dan tergolong manual. Tampilannya berupa tabung kaca dengan angka2 sebagai penunjuk suhu di dindingnya dan berisi cairan berwarna perak yaitu air raksa.


Cara kerjanya, suhu panas yang terdeteksi oleh dinding tabung, membuat air raksa di dalam tabung naik dan menunjukkan angka tertentu. Nah, itulah angka hasil pengukuran suhu tubuhnya.


Saat ini, penggunaan thermometer air raksa ini sudah tidak disarankan, karena kurang praktis dan berisiko pecah. Jika sampai pecah, air raksa di dalamnya berpotensi menimbulkan keracunan saat menguap dan terhirup.


b. Thermometer Digital

Nah, thermometer yang sudah banyak digunakan dan tidak berisiko pecah, salah satunya thermometer digital ini. Thermometer digital terbuat dari plastik dengan ujung lentur, untuk memudahkan proses pengukuran.


Cara kerja thermometer digital ini melalui sensor panas elektronik di bagian ujungnya yang dapat merekam panas tubuh. Tiga lokasi pengukuran suhu tubuh yang cukup akurat, yaitu mulut, ketiak, dan dubur.


Seiring perkembangan zaman, thermometer digital memiliki bentuk yang cukup bervariasi. Ada thermometer yang berbentuk dot/empeng. Biasanya digunakan pada bayi dan balita. Ada yang berbentuk seperti pensil biasa dengan ujung runcing dan lentur. Ada yang berbentuk mainan/boneka, tentunya untuk memudahkan jika melakukan pengukuran suhu pada anak.


c. Thermometer Infrared

Thermometer infrared merupakan thermometer yang saat ini banyak digunakan di tempat-tempat umum sebagai bentuk skrining tahap awal pada Covid-19. Cara kerjanya dengan memancarkan sensor infrared yang nantinya dapat mendeteksi suhu dan ditampilkan dalam angka-angka tertentu. Thermometer infrared ini tidak perlu menempel pada objek yang diukur, sehingga cukup praktis dan aman dalam kondisi pandemi saat ini.


Thermometer infrared ini ada 2 jenis, yaitu:

  • Thermometer dahi: mengukur suhu tubuh melalui sensor infrared yang dipancarkan ke arah dahi.
  • Thermometer telinga: mengukur suhu tubuh melalui sensor infrared yang dipancarkan ke arah liang telinga/gendang telinga. Thermometer telinga ini dapat mengalami bias pengukuran jika di dalam liang telinga terdapat kotoran telinga yang menghalangi pancaran sensor infrared tersebut.

Nah, mengapa saat isoman wajib ada thermometer? Agar kita waspada jika mengalami demam. Perlu diingat, Covid-19 ini kan virus dan ciri khas pada infeksi virus adalah terjadi demam tinggi. Kategori demam tinggi itu jika suhu mencapai >38 derajat Celcius.


2. Oximeter


Oximeter itu apa sih?

Oximeter adalah alat untuk mengukur kadar oksigen di dalam darah. Dalam dunia medis, untuk pengukuran yang akurat seharusnya menggunakan analisis gas darah melalui laboratorium. Namun, di masa pandemi tentunya membutuhkan pengukuran yang lebih cepat dan praktis agar penanganan dapat lebih cepat jika terjadi kegawatdaruratan. Makanya digunakan pulse oximeter untuk memantau.


Prinsip kerja pulse oximeter ini berdasarkan kemampuannya dalam mengenali cahaya red (R) dan cahaya near-infrared (IR) pada komponen dalam darah kita yaitu hemoglobin. Begini mekanismenya...


Darah dari pembuluh nadi banyak mengandung oksigen karena beredar dari jantung ke seluruh sel tubuh, disebut Oksihemoglobin (O2Hb). Oksihemoglobin ini berwarna merah cerah, karena mengandung banyak oksigen. Karakteristik oksihemoglobin ini dapat menyerap lebih banyak cahaya near-infrared (IR).


Sedangkan darah dari pembuluh vena yang mengalir dari seluruh tubuh menuju jantung berwarna merah pucat karena sedikit kandungan oksigennya, sehingga disebut deoksihemoglobin (HHb). Karakteristik deoksihemoglobin ini lebih banyak menyerap cahaya red (R).


Dengan memanfaatkan karakteristik oksihemoglobin dan deoksihemoglobin di atas itulah cara kerja alat oximeter dibuat. Pulse oximeter berbentuk seperti penjepit yang mengapit ujung jari tangan, dengan dua sisi dinding sebagai pengapit jari. 


Satu sisi dinding merupakan dioda pemancar cahaya. Dioda tersebut dapat memancarkan cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda, yaitu cahaya red (R) dan cahaya near-infrared (IR). Sementara sisi lain merupakan sensor cahaya untuk mendeteksi cahaya mana saja yang sudah melewati ujung jari tersebut.


Prinsip Kerja Pulse Oximeter

Nah, dengan mekanisme di atas, dapat diketahui berapa banyak perbandingan oksihemoglobin dan deoksihemoglobin yang melintas di dalam ujung jari tangan kita. Itulah yang keluar sebagai angka saturasi oksigen.


Saturasi oksigen pada orang sehat normalnya 95-100%. Jadi, ketika saturasi oksigen <95% sebaiknya mulai waspada adanya gangguan pernapasan, yang terlihat dari munculnya gejala sesak napas atau napas pendek-pendek dan bersuara (mengi).


Memantau saturasi oksigen pada penderita Covid-19 saat isoman sangat penting karena salah satu gejala Covid-19 adalah gangguan pernapasan. Gangguan napas ini merupakan masalah vital, karena sering tidak disadari dan dapat memburuk dalam waktu cepat jika tidak segera diatasi.


Jika saturasi oksigen terpantau, maka sebelum kondisi memburuk kita dapat mengusahakan penanganan yang lebih baik. Misalnya, jika saturasi oksigen sedikit turun dan kondisi pasien sesak napas ringan, maka dapat dibantu dengan perubahan posisi (proning/semi fowler) dan penguapan (nebulizer). 


Namun, jika saturasi oksigen turun drastis dan pasien tampak sesak napas berat, maka sudah termasuk kondisi kegawatdaruratan. Segera bawa pasien ke RS untuk penanganan yang lebih intensif.


3. Tensimeter


Mengapa tensimeter penting saat isoman?

Karena salah satu faktor komorbid (penyakit yang berbahaya dan dapat memperburuk kondisi pasien) pada Covid-19 adalah hipertensi. Hipertensi ini merupakan silent killer, karena biasanya tanpa gejala dan meningkatkan risiko terjadi serangan jantung, stroke, dan penyakit gangguan pembuluh darah lainnya.


Jenis Tensimeter

Tensimeter ini cukup bervariasi bentuknya. Beberapa model tensimeter di antaranya yaitu:


a. Tensimeter Raksa

Sama seperti thermometer raksa di atas tadi. Tensimeter yang berisi air raksa (cairan berwarna perak) ini merupakan tensimeter konvensional. Tensimeter ini membutuhkan stetoskop sebagai alat bantu untuk mendengarkan denyut nadi. Penggunaan tensimeter raksa ini mulai banyak ditinggalkan karena alasan keamanan pada cairan raksanya yang berpotensi racun jika pecah dan terhirup. Namun, keakuratan tensimeter raksa ini malah yang paling tinggi di antara jenis tensimeter lainnya.


b. Tensimeter Aneroid

Berbeda dengan tensimeter raksa, tensimeter aneroid ini sudah menggunakan jarum mekanik sebagai penunjuk angkanya. Bentuknya pun lebih kecil jika dibanding tensimeter raksa tadi, jadi cukup praktis dibawa ke mana pun. Namun, tetap saja membutuhkan stetoskop sebagai alat bantu untuk mendengarkan denyut nadi secara akurat.


c. Tensimeter Digital

Nah, di era modern saat ini, tensimeter digital inilah yang banyak digunakan. Dengan banyaknya kemudahan dan kepraktisan yang ditawarkan tensimeter digital, membuatnya populer di kalangan masyarakat medis maupun non-medis.


Penggunaan tensimeter digital ini sangat mudah. Semua orang dapat menggunakannya, bahkan untuk mengukur tekanan darah diri sendiri hanya dalam hitungan detik.


Memantau tekanan darah dan detak jantung (heart rate) selama proses isoman sangat penting dilakukan, agar dapat waspada jika terjadi perubahan drastis atau sewaktu-waktu kondisi pasien memburuk. 


Kesimpulan


Nah, itulah ketiga alat yang wajib ada saat pasien Covid-19 menjalani isolasi mandiri di rumah. Harapannya, dengan pemantauan tanda vital tubuh (suhu, saturasi oksigen, tekanan darah) melalui ketiga alat tersebut, kita dapat mengantisipasi dan bertindak lebih cepat dan tepat jika sewaktu-waktu terjadi kondisi kegawatdaruratan medis saat isoman di rumah. 




4 comments on "3 Barang yang Wajib Ada Saat Isoman"

  1. Liat artikel ini bisa dishare ke yang lain, untuk persiapan bila ada anggota keluarga yang isoman dirumah. Soalnya aku pernah baca disalah satu berita ada yang sampai antri berjam jam lamanya untuk membeli tabung oksigen.

    ReplyDelete
  2. Kalau aku yang penting makanan kali ya, hihihi. Ah becanda mbak biar ga stres karena sejujurnya saya pun mikir di saat pandemi ini. Memang tensimeter dan oxymeter ini perlu ada ya mbak

    ReplyDelete
  3. Ya ampuuuun harus disiapkan juga ya oximeter baru tau loh kak btw stay safe ya sehat semuanya aamiin

    ReplyDelete
  4. Wah, bener banget Mba. Aku dan keluargaku waktu awal-awal sudah merasakan isoman. Dua alat di atas stand by di rumah. Cuma Odometer yang gak ada. Semoga sehat-sehat Senantiasa ya Mba.

    ReplyDelete

Silakan tinggalkan jejak melalui komentar di sini yaaa.
Terima kasih sudah mampir di Bundamami Story.

Custom Post Signature