Cintai Cagar Budaya, Cintai Negerimu!


Assalamualaikum wr wb.


Kali ini saya ingin membahas tentang sebuah buku, judulnya "AKU dan CAGAR BUDAYA, Masa Lalu yang Melebur dalam Kekinian". Buku ini lahir atas kerja sama Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Indscript Creative. Dimulai pengerjaannya pada medio 2018 lalu.

Yang menarik dari proses kelahiran buku ini, adalah dampaknya bagi saya pribadi dan mungkin juga sebagian teman yang bersama-sama terlibat dalam penggarapan buku tersebut. FYI, saya bukan penulis buku ini lho ya, saya hanya salah satu editor yang kebetulan beruntung diajak untuk membantu kelahiran buku tersebut.

Sekitar bulan Agustus 2018, saya dihubungi seorang chief editor, diajak untuk kerja sama editing sebuah buku proyek antara Kemendikbud dan Indscript Creative ini. Setelah tahu bahwa buku ini merupakan proyek antologi, saya sanggupi tawaran kerja sama editing tersebut. Mengapa? Karena seumur-umur saya belum pernah mengerjakan proyek antologi. Biasanya naskah buku atau jurnal yang saya edit berasal dari 1-3 orang penulis, bukan keroyokan seperti antologi ini. Saya sempat surprise saat tahu penulis buku ini sebanyak 30 orang. Saat mengedit buku solo atau duo, saya harus berdiskusi dengan 2-3 orang selama proses editing berlangsung. Nah, apa kabarnya kalau saya harus berdiskusi dengan 30 orang penulis plus 5 orang editor lain? Hahaha. Jadi, di situlah saya merasa tertantang untuk menerima tawaran editing buku tersebut.

Waktu pun berjalan tanpa bisa dicegah (cieeee...), pada awalnya, 30 naskah dari 30 penulis itu dibagi kepada 5 orang editor. Jadi setiap editor mendapat tugas mengedit 6 naskah. Wah ternyata tidak terlalu berat, pikir saya waktu itu. Setelah proses editing berjalan, meski banyak aral melintang dalam proses diskusi dan editing, akhirnya selesai juga.

Setelah sampai pada waktu untuk mengkompilasi seluruh hasil editing dari kelima editor, ternyata saya lah yang "beruntung" mendapat tugas mengerjakannya. Twawawaww!!! Membaca 30 naskah (meski pendek, hanya 6-7 halaman per naskah), namun tiap penulis memiliki kekhasan dan gaya menulis masing-masing yang menurut saya cukup unik. Karena jujur saja, kualitas ke-30 penulis itu tidaklah seragam, namun sangatlah beragam. Jadi, dari kualitas penulis pemula hingga penulis ahli, semua ada, komplit. Termasuk gaya menulis yang sangat beragam pula. Dari gaya penulisan buku diary, novel, jurnal, sampai buku nonfiksi level best seller, semua ada di situ. Bisa dibayangkan gimana saya review-nya? Jungkir balik, (lebay deh). Hahaha. Terlepas dari suka duka perjuangan dalam membidani lahirnya buku tersebut, (termasuk adanya musibah file dalam proses itu), akhirnya Alhamdulillah beres juga. Dan terbit.

Yang ingin saya sampaikan di sini adalah kesan saya setelah selesai mengedit buku tersebut. Setelah membaca semua kisah di dalamnya, saya jadi merasa upgrade ilmu tentang 30 situs cagar budaya. Selain upgrade ilmu, saya juga merasa bertambah kecintaan saya terhadap warisan budaya tersebut.

Hal ini sesuai dengan pepatah "tak kenal, maka tak sayang". Setelah saya mengenal situs cagar budaya, (meski hanya lewat bacaan di buku), saya jadi lebih mencintai situs cagar budaya tersebut. Berawal dari mengagumi keindahannya dari foto, kemudian setelah mengetahui cerita yang melatarbelakangi pembangunan situs cagar budaya tersebut, jadi mengagumi pula pesan moral yang terkandung dalam ceritanya. Hal ini membuat saya semakin bersyukur dilahirkan di Indonesia dengan kekayaan budaya yang sungguh berlimpah. Alhamdulillah.

Tahap selanjutnya setelah saya mengagumi dan lebih mencintai cagar budaya, saya ingin menularkannya kepada orang-orang yang saya cintai. Setelah proses editing itu, saya membuat program untuk keluarga kecil saya di rumah. Minimal sebulan sekali harus mengunjungi museum, situs cagar budaya, atau berwisata edukasi bersama suami dan anak-anak. Saking semangatnya, saya ingin segera memperkenalkan pada anak-anak bahwa Indonesia itu kaya akan budaya. Hehe.

Sebagai langkah awal program mencintai situs cagar budaya ini kami wujudkan dengan mengunjungi beberapa museum yang memiliki lokasi terdekat lebih dahulu. Salah satunya mengunjungi Museum Geologi, pernah saya bahas di sini. Kemudian, museum gedung sate (belum saya tulis, hehe), dan museum pos Indonesia. Ketiga museum tersebut tempatnya sangat berdekatan, tapi kami mengunjunginya di waktu yang berbeda-beda meski berdekatan. Karena objek yang akan dikunjungi memiliki area yang luas dan koleksi benda yang dipamerkan cukup banyak, jadi gak cukup sehari kelilingnya, bisa gempor guys! Haha.

Saat mengunjungi museum dan situs cagar budaya, tak lupa kami menceritakan pula kisah yang melatarbelakangi pembangunan situs cagar budaya tersebut. Atau menceritakan kisah dibalik koleksi-koleksi di museum. Tentunya kami menceritakan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami anak sesuai usianya ya. Setelah sampai rumah, anak-anak kami minta untuk menggambar atau menulis cerita yang berhubungan dengan objek yang baru saja kami kunjungi. Harapannya, selain anak-anak mencintai kebudayaan negeri ini, mereka juga dapat mengasah kemampuannya untuk menulis, menggambar, dan menceritakan kembali kunjungan tersebut, bagian mana yang paling disukai, apa kesannya terhadap situs cagar budaya atau museum yang sudah dikunjungi tersebut.

Nah, sekian dulu sharing kali ini. Semoga ke depannya, saya dan keluarga tetap istiqomah untuk mencintai dan mengapresiasi cagar budaya di negeri ini melalui program kunjungan ke museum dan situs cagar budaya. Kalau bukan kita yang mencintai dan mengapresiasi, siapa lagi?

Tulisan ini diikutsertakan dalam Challenge SETIP with Estrilook #day3

Share this:

ABOUT THE AUTHOR

Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible

0 comments:

Posting Komentar

Silakan tinggalkan jejak melalui komentar di sini yaaa.
Terima kasih sudah mampir di Bundamami Story.