6c2y5xLulMkOYYgEXrgPjC5Lx3Je6RzEo1m3mFkw

Custom Post Signature

Bookmark

Sampahku, Penggerak Ekonomi Sirkular Indonesia

Bank-Sampah-Rasamala

Hai halo sobat Bundamami,

Lama tak jumpa di blog ini karena kesibukan saya yang makin padat di pekerjaan, di rumah, maupun di organisasi Dharma Wanita. Nah, hari ini saya mau sedikit cerita tentang salah satu aktivitas baru kami sekeluarga, yang ternyata berefek luar biasa sebagai penggerak ekonomi sirkular Indonesia. Apakah itu?

Aktivitas baru yang menarik perhatian kami beberapa bulan ini adalah MEMILAH SAMPAH! Hah, beneran memilah/mengobok-obok sampah, nih? Kayak pemulung, dong!?!

Ya, kalian tidak salah baca, benar memilah sampah, tapi gak sampai mengobok-obok sampah kayak pemulung, sih! Hwkwkwkk... 

Oiya, kalian sudah tahu isu Bandung darurat sampah yang sempat viral beberapa bulan lalu, kan? Awal tahun 2026 ini pengajuan status Bandung Darurat Sampah ternyata tidak disetujui oleh Pemkot. Nah, sebagai warga ber-KTP Bandung, saya tergerak dong, untuk ikut berpikir, minimal berkontribusi kecil, gimana caranya mengurai persoalan sampah ini.

As we know, timbunan sampah di Kota Bandung mencapai 1500 ton per hari. Sementara itu, kuota pembuangan sampah yang diizinkan di TPA Sarimukti untuk Kota Bandung hanya <980 ton per hari. Nah, ini bikin masalah, dong, karena ratusan ton sampah jadi teronggok entah berapa lama, menunggu untuk masuk TPA Sarimukti.

Dari kondisi itu, saya terpikir ingin ikut berkontribusi, minimal dari lingkup paling kecil dulu, yaitu ikut mengurangi sampah di rumah sendiri. Gimana caranya? Tentu, dengan metode Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan), yang sudah digaungkan di Kota Bandung sejak 2018 lalu.

Singkat cerita, saya mencari tempat/vendor yang mau menerima sampah daur ulang yang telah kami pilah di rumah. Ternyata, di lingkungan rumah saya cukup sulit mencari vendor penerima sampah daur ulang ini.

Setelah tanya sana-sini, berbekal networking ala Emak-emak, akhirnya saya dapat info tentang Bank Sampah Rasamala, yang kebetulan lokasinya cukup mudah dijangkau dari rumah dan pengurusnya sudah saya kenal (sesama wali murid di sekolah SD anak saya).

Setiap dua minggu, ada vendor Bank Sampah Unit (BSU) yang akan mengambil sampah ke Bank Sampah Rasamala ini. Sebelum diambil oleh BSU, sampah daur ulang tersebut akan disimpan di kotak-kotak biru seperti di foto, sesuai dengan jenis bahannya. Ada bahan plastik keras, plastik kemasan, logam, kertas, botol kaca, botol plastik, dll. 

 

Bank Sampah Induk Bersinar 

Dari aktivitas memilah sampah ini, tak sengaja saya juga berkenalan dengan Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (YSBI) bersama Bank Sampah Induk Bersinar (BSIB). Ternyata, Bank Sampah Induk Bersinar ini sudah berkontribusi aktif ikut mengurai persoalan sampah di Bandung, hingga berkembang menjadi bagian dari gerakan ekonomi sirkular berbasis masyarakat. MasyaAllah, hebat, ya!

Dari situ, kami sekeluarga jadi bertambah wawasan tentang sampah. Ternyata, sampah itu bernilai ekonomi, bahkan mampu menggerakkan pemberdayaan masyarakat, melalui pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Di tahap awal, masyarakat diberi edukasi lingkungan tentang pentingnya pengelolaan sampah yang tepat. Kemudian, masyarakat juga dimotivasi untuk pro-aktif melakukan pemilahan sampah secara mandiri sejak dari rumah. Tentunya hal ini membutuhkan kolaborasi lingkungan yang solid, mulai dari tingkat terendah, seperti RT, RW, Desa/Kelurahan, sampai organisasi yang lebih kompleks.

 

Berkenalan dengan Founder Bank Sampah Induk Bersinar 

Bank Sampah Induk Bersinar atau yang lebih mudah disingkat BSIB ini merupakan organisasi sosial yang digagas oleh Ibu Fifie Rahardja. Awalnya Ibu Fifie prihatin terhadap sampah yang menumpuk di sungai Citarum dan sering memicu banjir. Bu Fifie pun berpikir keras bagaimana mengurai permasalahan sampah ini agar tidak menimbulkan banjir.

Akhirnya, Ibu Fifie Rahardja menciptakan Bank Sampah Induk Bersinar untuk mengurangi volume sampah. Bank sampah ini menggunakan mekanisme menukar sampah dengan insentif berupa uang. Uniknya, mekanisme ini terinspirasi dari pengalaman masa kecil Bu Fifie sendiri, lho

Di masa kecil, Bu Fifie ingin membeli permen gulali. Namun, karena kondisi keterbatasannya tidak ada uang, maka penjual permen gulali tersebut meminta Bu Fifie menukar permen gulali dagangannya dengan 3 buah botol kaca.

Dari situlah Bu Fifie melihat sampah dari sudut pandang yang berbeda, yakni sampah menjadi sesuatu yang lebih bernilai. Sejak didirikan pada 27 September 2014 itu, Bu Fifie mulai serius mengelola Bank Sampah Induk Bersinar hingga menjadi sebesar sekarang. 

 

Edukasi Pentingnya Mengolah Sampah 

Dari sekian banyak edukasi di lingkungan tempat tinggal saya, edukasi tentang mengolah sampah inilah yang paling masif didengungkan. Kenapa? Pastinya karena pengelolaan sampah yang tepat, akan berdampak positif bagi lingkungan sekitar, bahkan secara global. 

Pengelolaan sampah yang tepat, misalnya dengan metode Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan), dapat menjadi penggerak ekonomi sirkular dalam masyarakat, yang nilainya cukup fantastis, lho.

 

Ekonomi Sirkular Indonesia

Sebenarnya apa sih yang dimaksud ekonomi sirkular Indonesia itu? Yuk, kita bahas satu-persatu, ya. Ekonomi sirkular Indonesia itu salah satu model pembangunan di Indonesia yang fokus pada faktor efisiensi sumber daya sekaligus perlindungan lingkungan sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Kalau dulu kita menggunakan model pembangunan melalui pemanfaatan sumber daya dengan tahap "ambil, produksi, buang". Hasilnya, sampah dan polusi pun membludak di mana-mana. 

Nah, sekarang dengan sistem ekonomi sirkular ini, setiap model pembangunan atau produksi, kita harus membuatnya menjadi siklus yang berkelanjutan. Artinya limbah bekas yang dihasilkan akan diputar untuk diolah kembali menjadi bahan yang bernilai ekonomi.

Salah satu bentuk nyata penggerak ekonomi sirkular ini ya melalui bank sampah. Jadi, YSBI menargetkan pembentukan 1.000 Bank Sampah Unit (BSU) sebagai bagian dari penguatan gerakan ekonomi sirkular berbasis masyarakat. Keren, kan!

Ke depannya, gerakan ekonomi sirkular ini akan mengintegrasikan pengelolaan sampah, edukasi lingkungan, ketahanan pangan, hingga pengembangan ekonomi lokal dalam satu kawasan terpadu. Program ini diharapkan menjadi fondasi pembangunan Living Laboratory Ekonomi Sirkular Indonesia yang akan dikembangkan di kawasan Oxbow, Kabupaten Bandung.

 

Prinsip dan Tujuan Utama Ekonomi Sirkular

Berdasarkan definisi ekonomi sirkular Indonesia di atas, kita jadi tahu prinsip dan tujuan utama yang kita targetkan dalam ekonomi sirkular ini, di antaranya:

  1. Mengurangi limbah. Dalam setiap proses produksi, kita usahakan untuk meminimalkan sampah/polusi yang timbul.
  2. Memperpanjang usia produk. Prinsip ini salah satunya dapat kita terapkan melalui slogan 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Jadi, intinya kita manfaatkan suatu barang/produk sampai titik darah penghabisan, ya!
  3. Memulihkan lingkungan. Prinsip ini semacam rehabilitasi terhadap lingkungan. Semua yang kita ambil dari lingkungan, manfaatnya juga harus kita kembalikan pada lingkungan, sebagai bentuk pemulihan untuk lingkungan yang lebih nyaman. 


Dari sekian banyak program di atas, semua dimulai dari yang simple, yaitu memilah sampah. Jika sobat Bundamami sudah menerapkan pemilahan sampah dari rumah, itu bagus banget. Lanjutkan! 

Setelah itu, tularkan ilmu dan semangat kalian pada orang sekitar. Kemudian, buat kolaborasi aktif untuk membuat gerakan bermanfaat ini lebih banyak dikenal lagi di masyarakat. Gerakan ini merupakan bagian dari upaya membangun ekonomi sirkular Indonesia melalui Pentahelix Indonesia Bersinar.

Seperti sepenggal quote menarik dari Ketua Yayasan Solusi Bersinar Indonesia, Teh Indari Mastuti, "Kami percaya perubahan besar selalu lahir dari kolaborasi. Bersama, kita tidak hanya mengelola sampah, tetapi juga membangun ekosistem yang menghasilkan pendidikan, ketahanan pangan, inovasi, peluang ekonomi, dan masa depan yang lebih berkelanjutan bagi Indonesia." 

Nah, dari cerita saya ini, kira-kira sobat Bundamami tertarik gak untuk ikut berkontribusi nyata mewujudkan lingkungan dan bumi yang lebih sehat dan nyaman dihuni? Kalau gitu, ayo kita mulai pilah sampah! 


#IndonesiaBersinar
#EkonomiSirkularIndonesia
#BankSampahIndukBersinar
#LivingLaboratory
#PentahelixIndonesia
#KelolaSampah


Post a Comment

Post a Comment

Silakan tinggalkan jejak melalui komentar di sini yaaa.
Terima kasih sudah mampir di Bundamami Story.