5 Cara Membuat Anak Lebih Mandiri


Assalamualaikum...
Apa kabar sobat Bunda? Semoga sobat Bunda dalam kondisi yang aman, sejahtera, dan sehat wal afiat semua ya. Hari ini, saya ingin membahas mengenai berpisah dengan anak. Pernah gak sih, para Bunda, mama, dan ibu-ibu merasakan berpisah dengan anak, minimal sehari semalam? Pastinya pernah dong, ya. Mungkin beberapa sobat Bunda menganggap saya aja yang lebay, berpisah dengan anak aja heboh dan dibikin postingan segala. Tapi ya sudahlah, kan ini blog saya, suka-suka saya dong mau nulis apa. Eh, kok saya yang sewot, hahahaha, maaf.

Jadi, postingan ini berisi beberapa tips berdasarkan sekelumit pengalaman pertama saya berpisah dengan anak selama sehari semalam, karena anak saya camping, hahaha. Ceritanya, anak mbarep (anak pertama) saya, harus ikut camping dalam rangka Ujian Fisik Mental dari ekskul taekwondo. Ujian Fismen tahun ini mengambil tempat di sebuah bumi perkemahan di daerah Pengalengan Jawa Barat. Ujian fismen ini diwajibkan bagi anggota club taekwondo yang sudah mengikuti latihan rutin minimal 1 tahun, dalam rangka memperoleh kartu anggota club taekwondo tersebut. Fokus cerita bukan pada kartu anggotanya, ya. Tapi pada bagaimana mempersiapkan anak (secara fisik dan mental) agar anak lebih mandiri dan siap berangkat camping tanpa ortu untuk pertama kalinya. Dan juga mempersiapkan mental ortu untuk berpisah dengan anak, hehehe. Karena yang mellow mau berangkat camping itu gak cuma anaknya, ternyata ortunya juga mewek, hahaha.

Oiya, sebenarnya aktivitas camping sudah bukan hal baru bagi anak-anak saya. Kami sekeluarga memang menyukai aktivitas camping, karena saya dan suami sama-sama jebolan aktivis Pramuka sejak SMA. Kami pun pertama kali bertemu dalam aktivitas Pramuka, hihihi. Saat anak pertama kami berusia 3 tahun, kami pernah camping bersama beberapa keluarga lain, ketika kami masih tinggal di Brisbane, Australia. Camping bersama balita itu seru, lho. Apalagi camping ground yang kami pilih di Noosa Beach, salah satu pantai keren di Brisbane, Australia, dengan fasilitas yang jauh lebih keren jika dibanding camping ground di Indonesia pada umumnya. Insya Allah, kapan-kapan saya tulis kisahnya di blog ini, ya.

Balik lagi ke topik utama, yuk! Bagaimana mempersiapkan anak untuk lebih mandiri mengikuti camping pertama kali tanpa ortu? Kepoin nih beberapa tips nya. Cekidot!

1. Persiapkan Mental Anak

Mempersiapkan mental anak ini bukan hanya 1-2 hari sebelum berangkat camping lho, ya. Saya dan suami mempersiapkan mental anak mbarep untuk berangkat camping Ujian Fisik Mental Taekwondo ini setidaknya sejak 3 bulan sebelumnya. Mengapa? Karena menurut saya, menanamkan suatu pemahaman pada anak itu tidak bisa instan. Butuh waktu dan pembiasaan serta konsistensi dari lingkungan sekelilingnya.

Saya memilih untuk menanamkan pada anak bahwa 3 bulan lagi dia akan mengikuti perkemahan tanpa ditemani ortu. Saya ceritakan gambaran besar kegiatan yang kira-kira akan dia lakukan di sana. Tiap hari dan terus-menerus saya selipkan dalam aktivitas dan obrolan keseharian kami di rumah. Perlu diingat juga, saya hanya menceritakan kegiatan yang seru dan happy ya. Karena, jika saya ceritakan kesusahan dan kisah horor saat camping, khawatir anak saya keburu takut ikut camping. Saya pikir, biarlah kisah susah, berat, capek, dan horornya camping tetap jadi kejutan bagi anak saya

Harapannya, secara tidak langsung akan tertanam dalam alam bawah sadarnya dan akan membentuk pola pikir anak untuk menghadapinya. Misalnya, saat sedang santai di rumah, saya ajak berlatih melipat sleeping bag. Bisa dibayangkan betapa ribetnya untuk anak usia 8 tahun berbadan mungil ini untuk melipat sleeping bag berukuran segede 2x lipat badan tuh bocah, hehehe. Perlu minimal 5x bongkar pasang sleeping bag, sampai benar-benar rapi dan bisa masuk ke sarung/tasnya. Sampai berkeringat dia. Kasihan sih, tapi ini demi kemandirian dia nantinya.

2. Persiapkan Mental Ortu Juga

Ternyata jadi ortu itu tidak mudah, Ferguso! Hahaha, begitulah kira-kira kalau diungkapkan sesuai dengan guyonan zaman now yang lagi ngeHITS itu. Memang benar adanya, jadi ortu itu tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu banyak belajar dari berbagai sumber, perlu banyak bermuhasabah, perlu banyak iringan doa, dan perlu banyak bersabar yang paling penting.

Jangan dikira kalau camping gini yang mellow cuma si anak. Ternyata ortunya ikutan mellow marshmallow guys. Hahaha. Iya lah mellow, soalnya sejak anak lahir sampai usia 8 tahun ini, saya belum pernah berpisah lebih dari 24 jam dengan anak-anak. Jadi, wajar kalau Bundamami mellow ingin ikut camping menemani anak mbarep, kayak emak-emak lainnya. Sebenarnya ortu boleh ikut menemani, namun berada di penginapan yang berbeda, tetep aja gak bisa ketemu anak saat ikut Uji Fisik Mental itu. Jadi, ya sama aja dong! Menurut saya, mending gak usah ikut sekalian, nunggu di rumah aja, lebih irit pula. Ingat! Yang menarik bagi emak-emak tipe ekonomis macem Bundamami, adalah kata irit, hemat, dan semacamnya, hehehe. Begitu membayangkan bakalan lebih hemat kalo ortu gak ikutan camping, langsung memutuskan yaudah gak usah ikut aja. Itung-itung berlatih untuk anak dan ortu agar lebih tegar saat berpisah satu sama lain, ya kan.

Oiya, mempersiapkan mental ortu ini berlaku untuk ayah maupun bunda, ya. Selama ini ayahpapi selalu menguatkan dan mengingatkan bahwa saya harus mulai belajar melepaskan anak, karena sudah mulai gede, jangan dikekepin mulu. Saya pikir ayahpapi akan kuat menghadapi berpisah dengan anak saat camping. Kan, ayahpapi udah sering banget berpisah dengan anak, bahkan sampai berhari-hari pula, kalau lagi dinas luar kota. Sudah teruji pokoknya.

Tapi ternyata saya salah Ferguso! Hahaha. Di balik ketangguhan dan kekuatan seorang ayah, ternyata akan mellow juga pada waktunya saat ditinggal anak camping. Hehehe... Saya sadar, ketegaran dan ketangguhan seorang ayah pun ada batasnya. Saat anak berangkat camping, Bundamami yang mellow berkaca-kaca melepas keberangkatan anak sambil dadah-dadah dekat jendela kaca bus. Ayahpapi terus menguatkan Bundamami dan meyakinkan bahwa ini hanya camping sehari semalam dan insya Allah akan bermanfaat untuk anak agar menjadi lebih tangguh dan mandiri. Oke, akhirnya kami pulang dan Bundamami mulai beraktivitas seperti biasa, berharap untuk membuat waktu terasa lebih cepat sehingga tidak perlu berlarut-larut mellow ingat anak lagi ngapain di bus, lagi ngapain di tempat camping, dan sebagainya.

Ketika malam tiba dan belum ada kabar atau sepotong foto pun di grup WA ortu, ayahpapi mulai bingung. Biasanya kan, kalau ada kegiatan apa pun, pihak guru/panitia kegiatan akan share foto kegiatan sebanyak mungkin yang bikin ortu jadi tenang, adem, ayem, tuh. Lah ini, sampai hampir jam 9 malam belum ada satu pun foto kegiatan yang diunggah oleh guru/panitia. Mulai deh, ayahpapi meminta bundamami untuk menghubungi jaringan emak-emak yang kebetulan ikut menginap di lokasi camping. Kesimpulan saya, setegar-tegarnya seorang ayah, pasti akan mellow juga ketika gak ada kabar dari anak yang lagi camping. Hahaha.

Mempersiapkan mental ortu saat anak camping ini juga bermanfaat bagi ortu sendiri untuk menghadapi hari tua kelak. Anak tidak selamanya akan berada di sisi ortu, kan. Ketika dewasa dan mulai membentuk keluarga sendiri tentunya anak akan berpisah atau jauh dari ortu. Nah, inilah saatnya ortu mulai berlatih jauh dari anak. Titipkan dan pasrahkan anak pada penjagaan Allah SWT Sang Pemilik Hidup. Yakinkan diri bahwa Allah SWT akan menjaga anak kita, bahwa Allah SWT akan menjamin segala keperluan anak kita, yakinkan itu dalam hati dan pikiran ayah bunda semua. Jangan lupa untuk selalu menyelipkan doa-doa terbaik untuk ananda semua dalam setiap sujud dan dzikir ayah bunda. Insya Allah semua akan berjalan baik dan lancar.

3. Hindari Terlalu Sering Membantu Anak

Ayah Bunda sering menjadi 'superhero' bagi anak? Segera hentikan atau minimal kurangi sedikit. Cukup marvel yang mencetak superhero aja, ayah bunda jangan ikutan, hahaha.
Maksudnya, jika selama ini ayah bunda sering banget menjadi dewa penolong atau superhero atau apalah namanya bagi anak, tolong segera dikurangi. Pasalnya, anak yang terlalu sering mendapat pertolongan atau bantuan dari orang sekitarnya akan lebih rentan mengalami stres dan mudah putus asa ketika dewasa. Kok bisa, sih?
Logikanya begini, ketika saat kecil si anak terlalu sering mendapat bantuan atau pertolongan melakukan apapun aktivitas hariannya, maka anak tersebut menjadi berkurang kesempatannya dalam berlatih menghadapi dan menyelesaikan masalah.

Ketika dewasa kelak, belum tentu ortu selalu ada di sampingnya untuk membantu, kan? Maka anak dituntut untuk mengolah akal pikirannya sendiri dalam mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi. Ketika anak terlalu sering dibantu, otaknya tidak terlatih mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi. Ketika otaknya tidak terlatih mencari solusi, semua masalah terasa sangat berat dan membuat anak mudah stres dan putus asa.

Sebenarnya, tugas harian dengan segala tantangan dan kerumitannya itu adalah wahana bagi anak untuk berlatih menjadi mandiri dan lebih tangguh. Jadi, jika si kecil bersusah payah menyeret kursi untuk jadi pijakan ketika akan mengambil barang di rak/lemari yang jauh lebih tinggi, jangan buru-buru dilarang atau dibantu, ya. Selama kondisinya masih terhitung aman dan tidak mengkhawatirkan, biarkan anak melakukannya sendiri. Ayah bunda cukup mengawasinya dan tetap waspada untuk memperhitungkan bahwa ayah bunda siap bergerak cepat menolong jika sekiranya ada gangguan atau kecelakaan yang dialami anak. Tapi jika kegiatan yang dilakukan anak terhitung masih aman, ayah bunda cukup sebagai pengawas dari kejauhan saja.

Menghindari terlalu banyak membantu anak juga akan menumbuhkan jiwa dan semangat pantang menyerah dalam diri anak, karena anak-anak jadi terbiasa menghadapi tantangan dan bersemangat untuk mencari solusinya sendiri. Jika anak berhasil melewati tantangan/ menyelesaikan masalahnya, anak akan merasa puas dan lebih percaya diri.

Oiya, menumbuhkan jiwa yang pantang menyerah pada anak sangat bermanfaat untuk masa depannya, lho. Karena di era zaman now, mulai bermunculan fenomena bunuh diri di kalangan ABG. Jika ditilik dari rentang usia, memang masa ABG merupakan episode hidup yang cukup berat dan terbilang sulit bagi seorang anak. Untuk itulah, perhatian, sumber daya, dan pengetahuan para ortu menjadi bekal yang penting untuk mendampingi anak di masa-masa sulitnya ini. Kembali ke fenomena bunuh diri di kalangan ABG, memang banyak faktor yang menjadi pemicu terjadinya kasus bunuh diri tersebut, tetapi sebagian besar bermuara pada kondisi jiwa dan mental anak yang rentan stres dan mudah putus asa. Dan pembentukan mental ini adalah tanggung jawab ortu sejak anak baru lahir.

Jadi, sebagai ortu kita harus pintar-pintar menahan diri dan memilah jika akan membantu anak. Mana hal yang harus dibantu dan mana hal yang tidak butuh dibantu, semua bergantung pada kepekaan ortu dan situasi kondisi anak serta keluarga masing-masing.

4. Ajari Anak untuk Membuat Keputusan

Terdengar klise dan sepele, ya? Memang sih, tapi butuh tekad dan semangat untuk mewujudkannya. Mengajari anak untuk membuat keputusan ini sangat penting pula untuk tumbuh kembang anak. Dan, bisa jadi dampaknya baru akan terlihat ketika anak dewasa. Anak akan lebih mantap dan percaya diri dalam menghadapi persoalan hidupnya jika dihadapkan pada suatu pilihan-pilihan yang rumit.

Mulailah dari hal-hal yang sepele dan sederhana, misalnya mengajari anak untuk memutuskan baju apa yang akan dia gunakan pada kesempatan tertentu, mengajari anak untuk memutuskan makanan apa yang akan dikonsumsi, dan sebagainya.

Pada kasus camping anak mbarep, saya menerapkannya dalam hal memilih tas. Di info perlengkapan yang harus dibawa, anak wajib membawa sleeping bag. Nah, setelah berlatih melipat sleeping bag yang saya ceritakan di atas, hal selanjutnya adalah memutuskan akan menggunakan tas apa untuk membawa sleeping bag tersebut. Sleeping bag segede itu, jelas tidak muat jika masuk di tas sekolahnya, kan. Kami sebagai ortu hanya memberi opsi membawa koper atau ransel, tentunya disertai dengan penjelasan plus minus dari masing-masing opsi tersebut. Kami membiarkan anak memutuskan sendiri dia akan menggunakan yang mana. Kami ceritakan semua aspek dan konsekuensi jika memilih opsi-opsi tersebut. Selain itu, kami juga meminta pada anak, bahwa dia harus mampu menjelaskan alasan mengapa dia memilih opsi tersebut.

Dan, hingga sehari sebelum keberangkatan, anak saya masih galau akan menggunakan koper atau ransel, hahaha. Akhirnya kami memberi tenggat waktu, jika sampai malam sebelum keberangkatan dia belum memutuskan, maka kami yang akan memutuskan. Alhamdulillah malam hari sebelum berangkat, dia memutuskan, akhirnya dia memilih menggunakan koper. Alasannya, karena hanya naik bis kemudian barang-barang akan diletakkan di penginapan, selama kegiatan tidak harus membawa barang-barangnya, jadi dia memilih koper biar mudah diseret dan gak terlalu capek. Menurut anak saya, jika dia harus membawa-bawa barangnya selama kegiatan outdoor berlangsung, maka dia akan memilih menggunakan ransel karena lebih mudah berpindah tempat di medan jalanan yang bervariasi. Alhamdulillah, sebagai ortu kami cukup puas dengan pilihan dan logika alasan yang anak kami kemukakan di usianya yang baru 8 tahun itu.

Jadi, mengajari anak untuk membuat keputusan sendiri memang perlu dilatih sejak kecil, lho. Dalam mengajari anak membuat keputusan, ayah bunda juga perlu mengajarkan bagaimana mengkaji aspek plus dan minus dalam setiap keputusan yang akan diambil. Ajarkan juga anak untuk melakukan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, Threats) secara sederhana sesuai tahapan usianya. Memang tidak mudah ya, tapi ortu harus melatihnya sejak dini. Gunakan bahasa sederhana sesuai tahap pemahaman anak, misal untuk strength, kita bisa menyebutkan pada anak, bahwa sebagai manusia kita semua dikaruniai kelebihan akal pikiran yang cerdas, itulah kekuatan kita sehingga dapat berpikir mencari solusi, bernegosiasi, atau mencari pertolongan orang sekitar jika sedang dalam bahaya. Pada weakness, misalnya kita sebutkan kelemahannya apa saja, dan bagaimana dia mengatasinya dengan cara optimalkan kelebihan-kelebihan lain, dan masih banyak lagi kata-kata yang dapat kita tanamkan pada anak dalam rangka memperkaya pola pikirnya sehingga anak percaya diri untuk membuat keputusan yang tepat.

5. Biasakan Anak untuk Disiplin Mematuhi Aturan dan Mengucapkan 3 Kata Ajaib

Lagi-lagi terdengar klise banget ya? Hehehe memang sih. Disiplin mematuhi aturan di mana pun kita berada insya Allah akan membuat lancar dan sukses apa pun yang sedang kita lakukan. Jika anak sudah terbiasa disiplin mematuhi aturan di rumah, maka saat berada di luar rumah (misalnya saat camping), anak akan lebih mandiri mengikuti kegiatan di luar sana. Karena biasanya setiap kegiatan akan memiliki panitia dan aturan-aturan tertentu. Jika anak kita patuh dan menjalankan segala sesuatunya sesuai prosedur, insya Allah semuanya berjalan lancar dan kita akan lebih tenang serta percaya diri melepas anak untuk berkegiatan positif di luar lingkungan rumah.

Selanjutnya, mengucapkan 3 kata ajaib. Ini aturan pertama dan utama yang harus diterapkan di rumah sejak anak berusia dini. Ketiga kata ajaib tersebut adalah maaf, tolong, dan terima kasih. Seluruh bangsa dan agama di dunia ini pasti menganjurkan untuk berbuat kebaikan, salah satunya melalui ketiga kata ajaib tersebut. Dengan 3 kata ajaib itu, orang yang berinteraksi dengan kita akan merasa dihargai dan dapat menghadapi segala kondisi dan dinamika kehidupan dengan lebih menyenangkan dan damai.

Hal ini berlaku pula dengan anak kita. Jika seorang anak terbiasa disiplin mematuhi aturan dan mengucapkan ketiga kata ajaib tersebut dalam interaksi hariannya, maka anak akan mudah membangun kemandirian dan kebiasaan-kebiasaan baik lainnya dalam setiap tahap perkembangan usianya.

Finally, itulah 5 tips untuk membuat anak kita lebih mandiri ketika berinteraksi dalam lingkungan dan pergaulannya. Semoga bermanfaat.
Jadi, ayah bunda sudah menerapkan yang nomor berapa aja?
Yuk, share ceritamu di kolom komentar yaaaa...
Be First to Post Comment !
Post a Comment

Silakan tinggalkan jejak melalui komentar di sini yaaa.
Terima kasih sudah mampir di Bundamami Story.

Custom Post Signature