Mangut Lele Khas Jogja ala Bundamami

Desember 06, 2018 17 Comments
Sumber foto: dokumentasi pribadi



Assalamualaikum...

Lagi di meja makan mikir mau masak apa, tiba-tiba ingat Jogja dan Mangut Lele. Terus lanjut buka freezer, eh Alhamdulillah ada fillet Lele 2 bungkus. Gak pake lama, langsung eksekusi deh...

Oiya sedikit cerita dulu ya, hehe. Mangut Lele ini makanan khas Jogja. Berhubung suami saya kelahiran Jogja, dan saya sendiri juga pernah tinggal di Jogja sejak SMP sampai usia 25 tahun, maka kami sama-sama menggemari menu masakan yang satu ini. Menurut saya, Mangut Lele ini rasanya cukup komplit, ngangenin, dan pedasnya bikin boros nasi (bisa hampir sebakul, hihihii).

Sekilas penampakan masakannya mirip dengan Gulai Kepala Kakap khas Padang, cuma beda sedikit bahan dan membuat ciri khas rasa tertentu yang berbeda pula. Kalau Gulai Kepala Kakap ada daun kunyit yang membuat rasa khas Padang banget. Nah Mangut Lele ini tidak menggunakan daun kunyit, jadi tetap khas rasa masakan Jogja.

Terus terang saya belum tahu asal muasal masakan ini. Menurut beberapa informasi yang saya baca, Mangut Lele merupakan makanan khas daerah "Mataraman" yaitu wilayah sekitar Kerajaan Mataram pada zaman dahulu, antara lain: Jogja, Solo, Semarang, dan Kendal. Sesuai dengan namanya, Mangut Lele, ya bahan utamanya ikan Lele. Ada 2 macam cara mengolah lelenya, yakni digoreng atau diasap. Setelah itu baru Lele dimasukkan ke tumisan bumbu mangut, kemudian dimasak hingga bumbu meresap. Terdengar simple, kan!

Tapi percayalah, menurut saya masih lebih simple masak sayur tumis, (sayur tumis adalah masakan andalan di rumah ketika bahan, waktu, dan tenaga sedang mepet/dilanda krisis karena malas belanja dan malas masak, please don't try this at home ya, hahahahaaa). Mulai ngelantur, mending langsung aja ke resep yuk.

Resep Mangut Lele ala Bundamami

Bahan:
1 kg Lele (menurut saya lebih enak Lele yang kecil-kecil, lebih crunchy)
1 buah Jeruk nipis, cuci bersih dan belah 2, peras dan ambil airnya untuk melumuri Lele.
1 ikat Daun Kemangi, ambil daunnya saja, kemudian cuci bersih.
1 buah Tomat, cuci bersih dan potong dadu (sesuai selera).
Minyak goreng secukupnya
100 ml Santan kental. Karena ingin praktis, saya menggunakan santan instan bubuk yang dilarutkan dengan air hangat dengan kekentalan sesuai petunjuk di kemasannya. 
Cabe rawit utuh (tergantung selera, kebetulan saya tidak menggunakan cabe rawit agar anak saya, yang juga penggemar Mangut Lele bisa ikut makan tanpa merasa kepedesan).

Bumbu yang Dihaluskan:
5 siung bawang merah
4 siung bawang putih
3 butir kemiri
1 sdt ketumbar bubuk (boleh pake ketumbar butir, tergantung selera)
Merica bubuk secukupnya (boleh pakai merica butir, tergantung selera)
Gula secukupnya
Garam secukupnya

Bumbu Rempah Tambahan:
Lengkuas sebesar ibu jari, digeprek
Daun jeruk secukupnya
Daun salam secukupnya
2 Batang serai digeprek

Sumber foto: dokumentasi pribadi


Cara Membuat:


  1. Bersihkan lele, buang isi perutnya, cuci hingga bersih. Karena agak geli dan takut pegang Lele yang masih utuh dengan kepalanya, saya menggunakan fillet Lele yang masih ada kulitnya. (Saya pesan fillet Lele di Fish Ekspress, bisa delivery order sampai depan rumah, praktis dan terjangkau harganya, lhaaa kok malah review Fish Ekspress, maap hehe).
  2. Kemudian lumuri lele yang sudah bersih dengan air perasan jeruk nipis. Diamkan di wadah tertutup dan simpan dalam kulkas.
  3. Haluskan bumbu, bisa dengan cara diulek, bisa juga diblender. Lagi-lagi karena saya ingin praktis (praktis apa males ya?!?! upsss...), saya gunakan blender bumbu. Hanya dengan menjentikkan jari, bumbu halus sempurna. Thanks to penemu listrik dan blender.
  4. Ambil Lele yang sudah di kulkas tadi, kemudian digoreng/diasap di atas bara api hingga setengah matang. Nah, karena ala Bundamami, jadi sesuai cara yang menurut saya praktis dong (lagi-lagi praktis atau males sih? haha). Saya tidak suka menggoreng ikan, karena kandungan minyak yang bikin kalori nambah, dan juga karena letupan minyaknya kemana-mana dan membuat dapur kotor serta tangan saya kepanasan (nggaya banget, haha). Kalo mau diasap menggunakan bara api, repot ngidupin dan harus mengipas arang, kotor, serta asap kemana-mana (lebay deh). Akhirnya saya pilih grill aja menggunakan grillpan. Praktis, cepat, dan efeknya bagi dapur lebih bersih.
  5. Panaskan sedikit minyak goreng, kemudian tumis bumbu halus sampai wangi. Tambahkan lengkuas, daun jeruk, daun salam, dan batang serai. Lanjutkan menumis hingga bumbu matang dan semakin wangi semerbak sedapur (mau nunggu sampai wangi serumah, se-RT, se-RW, se-kompleks juga boleh, hahaha).
  6. Masukkan Lele yang sudah di-grill tadi. Aduk rata sampai Lele terendam bumbu. Tambahkan sedikit air. Sedikit lho ya, jangan sampai kayak berkuah, karena pada dasarnya Mangut Lele ini masakan dengan kuah sedikit atau nyemek (dalam bahasa Jawanya). Masak hingga bumbu meresap.
  7. Ketika bumbu sudah tampak meresap ke dalam si Lele, kemudian tambahkan santan kental, potongan tomat, dan daun kemangi. Masak hingga bumbu meresap lagi. Oiya, jika menghendaki rasa pedas, tambahkan cabe rawit utuh saat menjelang diangkat dari api ya.
  8. Koreksi rasa, tambahkan gula dan garam jika dibutuhkan.
  9. Setelah yakin rasa dan teksturnya oke, maknyuss, serta sesuai keinginan. Matikan kompornya. Mangut Lele ready to serve.
  10. Mangut Lele boleh dipindah ke piring saji atau tetap di wajannya juga boleh. Terserah deh. Yang penting siapkan nasi sebakul, haha.

Nah, Mangut Lele ala bundamami ini sudah teruji dan mendapat predikat enak banget. Siapa yang menilai dan menguji? Ya orang serumah saya pastinya, hwkwkwkwkwkkk... Belum diuji dan dinilai sampai tingkat RT, RW, apalagi Kelurahan, hahaha. Tapi lumayan sudah bikin hepi orang serumah dan bikin nasi cepet habis.


Untuk mengikuti sebuah resep milik orang lain, kita butuh banyak faktor yang memengaruhi. Misalnya feeling, ukuran anggota tubuh, situasi dapur, serta kondisi pemasaknya sendiri. Bayangkan kalo di resep ada keterangan "secukupnya" itu kan relatif banget, tergantung feeling pemasaknya. Kalo pemasak lagi meriang dan pandangan mata sedang buram, niatnya naruh garam tapi yang keambil malah gula dan nuangnya sambil sedikit pusing jadi goyang-goyang, hasilnya jadi beda, kanBelum lagi kalo berdasar ukuran anggota tubuh, misal "jahe sebesar ibu jari". Ibu jari tiap orang kan beda-beda, bisa aja ibu jari saya seukuran dengan kelingking sampeyan, iya to?!?
Maka dari itu, saya tekankan bahwa, resep ini sudah diuji dan berhasil di rumah saya, belum tentu juga berhasil diterapkan di rumah Anda dan sesuai dengan selera keluarga Anda. Jadi, selalu sesuaikan segala sesuatunya dengan fakta dan realita di lapangan ya, guys (apaan sih, kok kayak berita aja, hahaha).
Selamat mencoba!

Next time, tunggu resep-resep hasil gubahan bundamami selanjutnya yaaa...



Situbondo, East Side of Paradise in Wonderful Indonesia

November 26, 2018 23 Comments

Sumber: www.balurannationalpark.web.id & www.lelungan.net


Suka travelling dan kerap mengunjungi Pulau Bali lewat jalur darat dari arah barat? Pasti kalian pernah singgah atau setidaknya melewati sebuah kota kecil bernama Situbondo. Ya, Situbondo terletak di jalur utama Surabaya-Banyuwangi. Situbondo dengan segala potensi wisatanya sering disebut East Side of Paradise.
Situbondo adalah kota kelahiranku, kota kecil dengan potensi wisata yang besar dan menarik untuk dieksplorasi, namun belum banyak diberitakan oleh media Nasional dan Internasional. Sebagai orang asli Situbondo, aku ingin Situbondo dikenal akan keindahan alamnya lebih luas lagi bahkan hingga ke mancanegara.
Sejak lahir hingga SMP aku tinggal di kota ini, banyak kenangan tersimpan. Misalnya beberapa tempat wisata yang pernah dikunjungi bersama keluarga, lezatnya makanan khas Situbondo yang sukses menggoyang lidah, hingga aneka permainan tradisional semasa kecil, yang dapat membangkitkan memori bahagia.
Kota yang mendapat predikat Kota Santri ini, selain memiliki banyak pesantren, ternyata juga mempunyai destinasi wisata yang tidak kalah indah dibanding kota wisata lainnya. Tiga lokasi wisata yang sangat indah tersebut, antara lain:

Sumber: www.ulinulin.com & www.yukpigi.com

     Taman Nasional Baluran

Taman Nasional Baluran terletak di Jalan Raya Situbondo-Banyuwangi, Desa Wonorejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo. Satu-satunya Taman Nasional di Indonesia yang memiliki julukan Little Africa in Java ini merupakan kawasan pelestarian alam dengan ekosistem yang masih asli. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 Pasal 1 Ayat 14, Taman Nasional Baluran ini dikelola berdasarkan sistem zonasi, dengan tujuan untuk kepentingan budidaya flora dan fauna, penelitian ilmu pengetahuan, pendidikan, serta pariwisata.
Di Taman Nasional Baluran ini, kalian bisa menikmati Padang Savana Bekol, Evergreen Forest, keindahan alam bawah laut Pantai Bama, Goa Jepang, Curah Tangis, Sumur Tua, Dermaga, dan lain-lain.
Taman Nasional Baluran memadukan beberapa tipe hutan di Indonesia dalam satu lokasi. Koleksi flora dan fauna Baluran meliputi, 444 jenis flora khas Baluran yang mampu bertahan dalam kondisi cuaca sangat kering. Selain itu, ada sekitar 26 spesies satwa, antara lain Banteng (ikon khas Baluran), Merak, Kerbau Liar, Kancil, Rusa, Kijang, Kucing Bakau, Macan Tutul dan juga 155 jenis spesies burung.
Taman nasional ini memiliki kegiatan tahunan yaitu Lomba Bird Watching (mengamati jenis burung). Selain itu, ada waktu tertentu yang sangat tepat untuk mengamati spesies satwa tertentu pula, misalnya musim kawin Rusa sekitar bulan Juni-Juli, musim kawin Merak bulan Agustus-September. Nah, pada saat itulah hewan tersebut akan sering terlihat di area Savana, sehingga pengunjung lebih mudah untuk mengamati, bahkan mengabadikan gambarnya. 


Sumber: www.lelungan.net

Pantai Pasir Putih Situbondo

Pantai Pasir Putih adalah tempat wisata di Situbondo yang paling ramai dikunjungi. Selain karena letaknya yang strategis, yakni di jalur utama Surabaya-Banyuwangi, juga karena keindahan alam bawah laut dan pasirnya yang putih bersih sesuai namanya. Pantai Pasir Putih ini dapat dijangkau dalam 4 jam berkendara dari Surabaya atau 30 menit jika dari arah pusat Kota Situbondo.
Kecamatan Bungatan, tempat Pantai Pasir Putih ini berada terbilang unik, di sisi utara terdapat hamparan pasir putih disertai pantai yang melengkung landai ke arah Laut Jawa. Sementara di sisi selatan, terdapat hutan rimbun yang dihuni oleh beberapa Harimau (menurut penduduk sekitar) dan kawanan Kera Hitam yang tidak segan berinteraksi dengan manusia.
Setiap tahun selalu ada acara yang diadakan oleh nelayan setempat, antara lain lomba perahu layar, memancing, selancar, sampai konser musik juga ada. Khusus bulan Oktober, diselenggarakan Upacara Petik Laut. Dalam upacara ini, nelayan melarung aneka jenis makanan dan kepala Sapi ke tengah laut. Hal ini dipercaya sebagai cara untuk mendapat berkah berupa hasil laut yang melimpah dari Tuhan. Selain itu, Upacara Petik Laut juga menyuguhkan hiburan pentas musik Gandrung, musik khas Banyuwangi, tetangga sebelah timur Situbondo.
Apa saja yang bisa dilakukan di Pantai Pasir Putih? Bersantai menikmati keindahan pantai saat sunrise maupun sunset, berenang, berlayar, dan snorkeling. Kamu bahkan dapat menikmati keindahan alam bawah laut seperti melakukan snorkeling tanpa harus berbasah-basah nyemplung ke air, lho. Pasalnya, beberapa perahu nelayan yang disewakan di Pantai Pasir Putih ini dilengkapi dengan landasan kaca (glass bottom boat). Kalaupun kalian menyewa perahu jadoel yang kebetulan tidak dilengkapi landasan kaca, pihak pengelola melengkapinya dengan alat tradisional, yakni semacam kotak berkerangka kayu dengan dinding kaca pada ke-5 sisinya (jadi hanya 1 sisi yang terbuka tanpa kaca). Cukup celupkan dan tekan kotak tersebut ke air laut, voila! Pemandangan alam bawah laut nan indah akan tampak jelas seketika. Penasaran mencoba?


Sumber: www.anekawisataseru.net

Kebun Kopi Kayumas

Siapa mengira, kota kecil dan sepi seperti Situbondo ini ternyata salah satu penghasil kopi terbaik di Indonesia. Perkebunan Kopi Kayumas terletak di Kecamatan Arjasa, Kabupaten Situbondo, tepatnya sekitar 47 km ke arah timur dari pusat Kota Situbondo. Perkebunan Kopi Kayumas berada di ketinggian 760 sampai 1550 meter di atas permukaan laut. Sejarah perkebunan ini dimulai pada tahun 1886 dengan tanaman Kina dan kopi Arabica sebagai permulaan. Menggunakan nama pemberian jaman kolonial, yakni NV Mijt & Van Landem Kajumas, perkebunan ini beroperasi hingga 1957. Setahun kemudian, perkebunan ini dinasionalisasi dan resmi berubah nama menjadi Pusat Perkebunan Negara. Kemudian pada tahun 1996, barulah perusahaan direstrukturisasi menjadi PT. Perkebunan Nusantara XII (PTPN XII).
Kopi Arabika dengan merk “Java Coffee Kayumas” produk dari PTPN XII ini cukup berkibar namanya di kalangan pecinta kopi nusantara bahkan di dunia. Salah satu contohnya, Juara 1 Tingkat Nasional dalam Festival Kopi Arabika Indonesia pada tahun 2010, Juara 1 Kopi Luwak Tingkat Dunia tahun 2016, serta Juara 1 Kopi Robusta Tingkat Nasional tahun 2017. Update terkini, pada Festival Kopi di Bali, Java Coffee Kayumas ini menyabet Juara Dunia kembali. Jadi, penasaran gimana enaknya Java Coffee Kayumas, guys?


Nah, itulah 3 destinasi wisata andalan Situbondo East Side of Paradise in Wonderful Indonesia. Selain ketiga tempat tersebut, masih banyak tempat wisata lain yang tak kalah menarik di Situbondo. Jika kalian menyebut diri sebagai traveller sejati dan cukup bangga menjelajahi kota wisata di luar negeri, belum afdal rasanya jika belum menjelajahi kota-kota kecil nan indah di dalam negeri seperti Situbondo ini. Indonesia memiliki ribuan lokasi wisata yang luar biasa keindahan alamnya, pantaslah jika negeri kita tercinta ini disebut #Wonderful Indonesia.
Jelajahi keindahan alam bumi pertiwi mulai dari Wonderful Indonesia, yukJika kalian mengagumi Indonesia dengan segala keanekaragaman budaya dan keindahan alamnya, sebarkan semangat positif untuk senantiasa mengapresiasi dan menggali potensi wisata di Indonesia melalui Wonderful Indonesia Blog Competition 2018.

Sumber: www.indonesia.travel








Tulisan ini diikutsertakan dalam "Wonderful Indonesia Blog Competition 2018"
#wonderfulindonesia


3 Cara Sehat ala Bundamami di Hari Kesehatan Nasional 2018

November 20, 2018 2 Comments


Assalamualaikum....

Awali hari ini dengan semangat, setuju?!?!? Ayo buktikan semangatmu dengan mulai olah raga pemanasan dulu. Lho?!?
Pepatah mengatakan, dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat dan kuat pula. Nah, berhubung beberapa hari lalu 12 November, bertepatan dengan Hari Kesehatan Nasional ke-54. Ayo kita isi dengan hal-hal yang bermanfaat untuk kesehatan. Salah satunya yaitu olah raga itu tadi. Senada dengan gambarnya sepatu kan, berarti kita dianjurkan sering-sering pakai sepatu (lhoh?!?!). Nggak dong, gambar ini menyiratkan agar kita semakin giat dan rutin berolah raga. Salah satu olah raga yang menggunakan sepatu, praktis, dan murah ya jogging jawabnya.

Oiya, Hari Kesehatan Nasional tahun ini mengambil tema "Aku Cinta Sehat", dan sub tema "Ayo hidup sehat, mulai dari kita". Terdengar simple ya 'kan?!? Tapi implementasinya tidak semudah kedengarannya lho. Membiasakan hidup sehat ini butuh kerja keras dan komitmen yang tinggi dari para pelakunya.

Ibarat kata pepatah, "Jalan ke neraka itu mudah, menyenangkan, dan tampak sangat menarik, sebaliknya jalan menuju surga itu penuh liku dan butuh perjuangan keras dan komitmen untuk mencapainya". Sama halnya dengan kesehatan ini. Jalan yang dapat memicu munculnya berbagai penyakit tampak sangat mudah dan menarik, (misalnya mengonsumsi makanan tinggi gula, tinggi lemak, rendah serat, pola hidup kurang gerak, jarang banget berolah raga, pikiran stres, mengonsumsi obat-obatan yang berlebih dan tidak tepat sasaran, dan masih banyak lagi perilaku yang mudah sekali mengarah pada timbulnya aneka macam penyakit), tetapi jalan menuju kesehatan yang ideal selalu butuh perjuangan dan komitmen kuat, (misalnya menjaga pola makan dengan gizi seimbang, gemar mengonsumsi sayur dan buah, rutin berolah raga, senantiasa berpikir positif dan giat beribadah untuk mencegah timbulnya stres, dan lain-lain). Tampak perbedaannya, 'kan?!?

Menjaga kesehatan juga merupakan salah satu bentuk mensyukuri nikmat Tuhan lho. Tuhan pasti senang dengan hambaNYA yang senantiasa bersyukur dengan cara menjaga dan merawat ciptaanNYA, yaitu jiwa dan raga yang telah Tuhan anugerahkan.

Di Hari Kesehatan Nasional ini, saya ingin berbagi sedikit informasi, mengenai 3 tips praktis hidup sehat ala Bundamami. Check this out! 

Pola Makan Sehat dengan Menu Gizi Seimbang

Sumber: warstek.com

Pola makan sehat dengan menu gizi seimbang. Terdengar klise ya! Tapi memang begitulah adanya. Menu gizi seimbang itu apa sih? Gizi seimbang merupakan susunan makanan harian yang mengandung zat gizi dalam jumlah dan jenis yang sesuai dengan kebutuhan tubuh dengan memerhatikan kondisi kesehatan, aktivitas fisik, dan berat badan masing-masing individu.

Jadi, tubuh itu memerlukan berbagai macam zat gizi untuk mendukung segala proses di dalamnya. Nah dalam satu porsi makan, sebaiknya kita memenuhinya dengan bermacam zat gizi, yang fungsinya saling mendukung satu sama lain. Misalnya karbohidrat didapat dari nasi, protein dari pepes ikan dan tahu goreng, kemudian vitamin dan mineral diperoleh sari sayur asem, selanjutnya buah-buahan dan cukup minum air putih. Cukup bervariasi, 'kan!

Selain jenisnya yang bervariasi tadi, menu gizi seimbang juga harus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing individu dari segi kondisi kesehatan, aktivitas fisik, berat badan, dan keanekaragaman pangan di lingkungan terdekat. Nah, dari sini dibutuhkan pengetahuan gizi yang optimal untuk memenuhi semuanya, misalnya mencari tahu cara menghitung kebutuhan kalori harian tiap orang, mengetahui bahan makanan penukar dan satuannya dalam URT (ukuran rumah tangga). Tapi jangan khawatir, semua itu bisa dipelajari, makanya rajin-rajinlah baca dan googling yaaa... hehehe...

Pengetahuan gizi tidak berbanding lurus dengan tingkat pendidikan. Bisa saja orang dengan tingkat pendidikan tinggi namun tidak memiliki pengetahuan/literasi gizi dengan baik. Atau, sudah memiliki pengetahuan/literasi gizi dengan baik namun enggan menerapkannya karena kondisi harian lingkungan yang tidak memungkinkan. Banyak faktor yang memengaruhinya. Jadi, sebagai generasi muda di era digital ini, ayo tingkatkan pengetahuan/literasi gizi kalian, demi kesehatan diri yang optimal.

Selain literasi gizi, yang juga penting adalah pengendalian dirimu. Ketika kita sudah membekali dengan pengetahuan gizi yang mumpuni, namun gagal mengendalikan keinginan diri saat melihat aneka makanan enak di depan mata, itu sama aja ya guys. Mengendalikan diri perlu dilatih dan bertahap. Mungkin bisa mencoba tips-tips kecil terkait dengan pola makan namun cukup bermanfaat mengurangi porsi makan misalnya, ketika makan di restoran kesayanganmu, jangan lupa minta piring kecil tambahan, untuk apa? Ya untuk makan lah, hehe. Kenapa piring kecil tambahan? Karena biasanya piring dari restoran kan gede dan ceper tuh, dengan piring segede itu kamu tidak akan terasa menghabiskan seluruh isinya dalam sekejap mata. Jika kamu pakai piring kecil, kamu akan makan sebanyak ukuran piringmu. Tapi tetap tahan diri jangan sampai nambah ya, hehe. Kemudian makanlah perlahan, bisa juga sambil baca buku. Dengan makan perlahan, pada 20 menit pertama otak akan mengirimkan sinyal kenyang ke organ pencernaan, sehingga organ pencernaan pun akan berproses melibatkan seluruh saluran cerna termasuk enzim-enzim pencernaannya untuk menyampaikan bahwa tubuhmu sudah kenyang. Dengan begitu, sebelum habis seluruh isi piringmu, kamu sudah merasa kenyang. Jadi pada waktu makan berikutnya kamu dapat mengurangi porsi makanmu hingga setengahnya, tujuan diet jadi tercapai kan guys.

Pola Aktivitas Tinggi

Sumber: pexels.com

Pola aktivitas ini yang sering menjadi kendala di era yang serba maju seperti sekarang ini. Saat ini, orang-orang mulai banyak yang tertarik untuk mempelajari ilmu gizi demi menunjang kesehatan dirinya, namun di sisi lain, orang-orang juga semakin terlena dan termanjakan dengan segala fasilitas modern yang kesemuanya mendukung ke arah sedentary lifestyle atau yang lazim disebut gaya hidup kurang gerak. Gaya hidup seperti ini sangat berbahaya untuk semua kalangan usia, mengapa? Karena berapapun usianya, kamu akan mengalami banyak gangguan kesehatan jika mengikuti gaya hidup seperti ini. Jangan mentang-mentang usia masih muda, lalu kamu malas bergerak dan cenderung banyak bersantai tiap harinya. Don't even think about it, guys!

Dengan pola hidup kurang gerak, namun asupan makan lancar masuk bahkan susah direm, maka akan menyebabkan penumpukan lemak, penumpukan gula, dan kolesterol "jahat" di dalam metabolisme tubuh. Nah, dari penumpukan-penumpukan itulah akan timbul bermacam-macam penyakit seperti hipertensi, jantung koroner, diabetes mellitus, dll.

Gaya hidup kurang gerak itu bisa diminimalisasi dengan perubahan-perubahan kecil yang tampak remeh namun ternyata besar manfaatnya lho. Misalnya, pertama, jika mengunjungi suatu gedung bertingkat pilihlah menggunakan tangga daripada lift, kalau masih lantai 1-5 masih memungkinkan untuk naik tangga dong. Kecuali kamu akan ke lantai 23, nah ini mending pakai lift ya guys biar gak gempor kakimu, hehe. Kedua, jika ke suatu tempat menggunakan kendaraan pribadi, entah itu sepeda motor atau mobil (gak mungkin bawa helikopter pribadi kan, hehe), maka parkirlah kendaraan pribadimu agak sedikit jauh dari tempat yang kamu tuju. Lumayanlah berjalan kaki sekitar 100-500 meter dari gedung yang kamu tuju ke parkiran kendaraanmu, dapat membakar kalori makan siangmu, daripada ditumpuk jadi lemak dan bikin perut bergelambir kayak zuppa soup, ya 'kan. (upsss, takut ada yang tersinggung). 


Pikiran yang Positif & Optimis

Sumber: pixabay.com
Kenapa pikiran bisa ikut menentukan kesehatan? Karena individu yang senantiasa berpikir positif dan optimis dalam hidupnya akan lebih bahagia. Dengan perasaan bahagia atau happy ini, sistem hormonal dan organ di dalam tubuh merespon sebagai kabar baik, sehingga mengoptimalkan kerja sistem organ dan yang terpenting, otak tidak mengeluarkan hormon stres. Hormon stres ini jika sudah beredar dalam darah, bisa berujung pada banyak penyakit, lho. Senantiasa berpikir positif, buang jauh-jauh pikiran negatif dan prasangka yang tidak jelas pangkal ujungnya, senantiasa ikhlas, dan optimis terhadap segala hal yang kita lakukan, serta tingkatkan ibadah untuk menambah keyakinan kita akan sebuah kekuatan di luar diri kita yang mengatur segala sesuatunya di dunia ini, yakni Tuhan Yang Maha Esa. Dengan begitu, kita dapat menjalani hidup dengan lebih tenang dan tentram, tentunya kesehatan akan mengikuti. Tubuh dan pikiran menjadi lebih fresh and healthy.



Jadi, di hari kesehatan tahun ini, upaya hidup sehat apa saja yang sudah kalian lakukan, guys???




Gizi Penting, Cegah Stunting

November 05, 2018 9 Comments



     Setiap tanggal 25 Januari, negara kita memperingati Hari Gizi Nasional. Nah, di Hari Gizi Nasional tahun 2018 ini, Kemenkes mengusung tema “Membangun Gizi Menuju Bangsa Sehat Berprestasi” dan sub tema “Mewujudkan Kemandirian Keluarga dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) untuk Pencegahan Stunting”. Beberapa lembaga pemerintah maupun nonpemerintah pun ikut menggaungkan slogan 1000 HPK ini dengan berbagai variasi susunan kata namun tetap dengan makna yang sama, salah satu contohnya “1000 Hari Pertama Ananda” dari GNFI (Good News From Indonesia) ini.

Seribu hari pertama ananda ini erat kaitannya dengan perbaikan gizi, khususnya stunting. Di sini saya akan membahas seputar isu stunting. Mengapa? Alasannya pertamakarena perbaikan gizi sangat penting perannya dalam rangka menuju bangsa Indonesia yang sehat berprestasi, seperti tema Hari Gizi Nasional 2018 tadi. Memang terdengar klise. Tetapi tanggung jawab untuk mengantarkan Indonesia menjadi bangsa yang sehat berprestasi memang berada di pundak kita semua, warga Indonesia ini, termasuk saya. Meski saya tidak banyak berperan, tapi setidaknya saya bisa menularkan semangat positif untuk mengedukasi masyarakat sekitar mengenai pemahaman pentingnya mencegah stunting pada 1000 hari pertama ananda.

     Keduakarena sebagian besar masyarakat kita belum menganggap stunting sebagai masalah yang harus dicari solusinya. Sebagian besar orang masih menganggap stunting adalah hal biasa, normal, dan terkait dengan genetik yang tidak dapat diubah. Padahal kita bisa mengupayakan pencegahan stunting ini melalui 1000 Hari Pertama Ananda yang meliputi 3 hal, yakni pola makan, pola asuh, dan sanitasi lingkungan. Ketiga hal tersebut harus dioptimalkan pada 1000 hari pertama ananda. Seribu hari ini terdiri dari 270 hari (9 bulan 10 hari) saat di dalam kandungan dan 730 hari di luar kandungan (usia bayi 0-24 bulan).


Stunting dari segi bahasa bermakna “kerdil”. Sejalan dengan makna itu, menurut WHO, stunting berarti kondisi gagal tumbuh dan berkembang pada anak yang disebabkan oleh kekurangan asupan gizi kronis, infeksi berulang di awal usianya, dan stimulasi psikososial yang kurang memadai. Stunting salah satunya ditandai dengan tinggi badan anak yang cenderung lebih pendek dibanding anak seusianya. Kondisi stunting ini bersifat permanen jika tidak segera diatasi dalam kurun waktu 1000 hari pertama kehidupan. Saat janin kekurangan asupan gizi di dalam kandungan, janin tersebut melakukan upaya adaptasi metabolisme di dalam tubuhnya. Pada tahap selanjutnya (usia 0-24 bulan), bayi tersebut tetap harus mengejar kekurangan asupan gizi yang dialami saat di dalam rahim. Ketika asupan zat gizi saat usia 0-24 bulan belum juga memadai, maka bayi tersebut akan mengalami beberapa keterlambatan tahap tumbuh kembang. Jika tidak segera dilakukan koreksi asupan gizi dan stimulasi psikososial yang optimal, maka mengakibatkan level IQ yang rendah dan penyakit degeneratif di usia dewasanya kelak, yang akhirnya berujung pada kualitas SDM yang berdaya saing rendah pula. Pencegahan stunting pada 1000 hari pertama ananda ini melalui meliputi 3 hal penting, yakni:


Pola Makan

Pola makan di sini meliputi pola makan ibu dan pola makan anak. Pola makan ibu yang harus diperhatikan ini tidak hanya saat hamil saja, namun juga fase sebelum hamil (lazim dikenal sebagai masa prakonsepsi) dan fase sesudah hamil (saat menyusui). Masa prakonsepsi penting dalam mempersiapkan tubuh calon ibu agar siap menerima dan menjaga kehamilan. Pada masa prakonsepsi ini, calon ibu dapat mengonsumsi aneka makanan dengan kandungan tinggi asam folat. Mengapa? Pasalnya, asam folat ini sangat bermanfaat untuk masa sebelum, saat, dan sesudah kehamilan. Misalnya meningkatkan kualitas sel telur dan rahim sehingga lebih siap untuk proses pembuahan, mencegah keguguran dan cacat lahir karena berperan penting dalam pembentukan sel tabung saraf pada tulang belakang dan otak janin, serta membantu perkembangan plasenta, dll. Selain dari suplemen, asam folat juga dapat diperoleh dari bahan makanan alami yang dikonsumsi sehari-hari, misalnya sayuran hijau, buah-buahan, biji-bijian, salmon, daging tanpa lemak, susu, dll. Pola makan saat hamil dan menyusui, tidak jauh berbeda dengan masa prakonsepsi, namun dengan penambahan jumlah kalori yang disesuaikan dengan kebutuhan saat itu.

Selanjutnya pola makan anak. Pada masa 0-24 bulan, bayi mengalami beberapa fase terkait asupan gizinya, antara lain proses IMD, ASI Ekskusif, ASI ditambah MPASI. Pertama, sesaat setelah dilahirkan yaitu proses IMD. IMD (Inisiasi Menyusu Dini) merupakan proses saat bayi mulai menyusu sendiri segera setelah dilahirkan (sebelum bayi dimandikan, tubuh bayi hanya dikeringkan kecuali bagian tangan). Pada 1 jam pertama sejak dilahirkan, bayi harus segera disusukan pada ibunya. Bukan untuk memperoleh nutrisi tetapi lebih kepada pembelajaran atau membiasakan bayi mulai menghisap puting payudara dan juga mempersiapkan tubuh ibu untuk memproduksi kolostrum dan ASI. IMD ini sangat penting, karena sebanyak 22% kematian bayi baru lahir dapat dicegah bila bayi disusukan pada ibunya dalam 1 jam pertama kelahiran.

Kedua, fase usia 0-6 bulan yaitu masa ASI Eksklusif. Definisi ASI Eksklusif (menurut WHO) adalah pemberian ASI saja pada bayi usia 0-6 bulan tanpa tambahan makanan atau cairan apapun lainnya. Pada masa ini bayi mengalami percepatan pertumbuhan yang luar biasa tinggi. Percepatan pertumbuhan ini dapat dipantau melalui berat badan bayi yang dicapai tiap bulannya. Berat badan ideal bayi pada usia 0-12 bulan dapat dihitung melalui rumus: BBI Bayi = (umur (bln) / 2 ) + 4. Pertambahan berat badan setiap bayi berbeda-beda, hal ini sangat bergantung pada asupan nutrisi dan kondisi emosi ibu, frekuensi dan durasi bayi menyusu, proses perlekatan saat menyusu, dan banyak faktor lainnya. Jika berat badan dan perkembangan kemampuan bayi meningkat normal sesuai usianya, berarti proses ASI eksklusif tersebut berhasil dan berjalan lancar.

Ketiga, proses setelah lulus ASI ekskusif (usia 6-24 bulan). Pada usia ini, bayi tetap mendapatkan ASI secara penuh, namun dengan penambahan MPASI (Makanan Pendamping ASI) dengan porsi dan tekstur yang bertahap. Pemberian MPASI dilakukan saat bayi berusia 6 bulan, karena pada usia ini sistem organ dan metabolisme di dalam tubuh bayi telah matang sempurna dan siap menerima asupan dengan tekstur dan variasi bahan makanan yang lebih beragam.

Saat fase pemberian MPASI inilah terkadang beberapa bayi mengalami kendala, misalnya alergi, sembelit, gerakan tutup mulut (GTM), dll. Biasanya pada masa-masa ini pula mulai tumbuhnya gigi si kecil. Pada umumnya, bayi yang sedang tumbuh gigi mengalami rasa tidak nyaman di gusi sehingga kebanyakan menolak untuk makan. Dalam kondisi seperti inilah ASI masih dapat menolong untuk memenuhi asupan gizi bayi. Jangan sampai asupan gizi bayi tidak memadai, karena berakibat pada gagal tumbuh dan berujung pada stunting tadi. Usahakan asupan harian bayi selalu memadai dan sesuai dengan usia, berat badan, serta kebutuhan kalori hariannya.


Pola Asuh

Pola asuh positif juga tak kalah penting dibanding pola makan dalam mencegah terjadinya stunting. Pola asuh yang positif senantiasa menerima apapun kondisi dan minat anak, mendukung anak untuk mengeksplorasi lingkungan sekitar, menstimulasi anak dengan hal-hal yang menyenangkan dan bermanfaat untuk perkembangan kognitif serta motoriknya. Selain itu, jangan lupa untuk lebih sering memeluk dan berinteraksi langsung dengan anak. Di zaman canggih yang serba gadget ini, kebanyakan orang tua mulai menyerahkan pengasuhan pada gadget dan aneka rupa aplikasi. Di satu sisi, kecanggihan itu memang dapat membantu anak mempelajari hal-hal baru, namun di sisi lain kecanggihan aneka gadget tersebut tetap tidak mampu menandingi dahsyatnya manfaat sentuhan dan pelukan orang tua untuk anaknya. Saat orang tua mencurahkan kasih sayang melalui pelukan dan sentuhan lembut pada si kecil, saat itu pula ratusan bahkan jutaan sel saraf akan terhubung dan membuat sinapsis-sinapsis hingga otak anak senantiasa aktif dan membentuk pola-pola berpikir yang sangat bermanfaat untuk perkembangan kognitifnya kelak.


Sanitasi Lingkungan

Aspek yang juga sangat penting untuk mencegah stunting adalah sanitasi lingkungan yang baik. Dengan sanitasi lingkungan yang baik, harapannya anak tidak terpapar virus dan bakteri yang dapat mengakibatkan infeksi berulang di periode awal usianya. Bayi berusia 0-24 bulan masih memiliki sistem imun yang belum sempurna, untuk itulah sanitasi yang baik dan pemberian ASI sangat dibutuhkan sebagai "perisai" tubuh dalam menangkal virus dan bakteri yang akan menyerang. Sanitasi ini meliputi kebiasaan mencuci tangan dengan baik dan benar, kebiasaan ibu dalam membersihkan BAK dan BAB bayi serta aneka peralatan keperluan bayi, kondisi kamar bayi dan rumah yang senantiasa terjaga kebersihannya, serta orang-orang serumah yang selalu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat terutama saat berinteraksi dengan bayi.


#1000HariPertamaAnanda 
#1000HariTerbaik

Museum Geologi Bandung

Oktober 18, 2018 0 Comments



Sabtu kemarin, kami sekeluarga berniat memenuhi request si sulung, untuk mengunjungi museum. Sudah lama sih dia request ke museum, tapi baru sekarang kami bisa mewujudkannya. Selain karena ortunya yang sibuk, anaknya jg gak kalah sibuk. Sibuk maen, sibuk latihan taekwondo, sibuk bobo, dan kesibukan ala bocah lainnya.. hwkwkwwkk...

Sejak dulu sebenarnya kami sudah menjadwalkan, tiap weekend minimal sebulan sekali untuk mengunjungi tempat wisata edukasi, museum salah satunya. Tapi belum terealisasi dengan rutin (maklum lah, banyak faktor yang bikin ortu tampak sok sibuk, hwkwkwkk...)
Dengan rutin menjelajah museum, kami ingin anak-anak mempelajari sejarah dan ilmu-ilmu lainnya dengan suasana yang lebih menyenangkan. Selain itu, kami juga ingin memanfaatkan waktu kebersamaan dengan anak-anak ini, diisi dengan aktivitas yang berkesan dan menyenangkan, mumpung anak-anak masih kecil dan ngekor ortunya kemana-mana.
Kalo sudah gede dan punya seabrek aktivitas sendiri, bisa jadi ortunya yang kesepian karena susah ngajak anak jalan-jalan...

Sejak bangun pagi, sudah dijelaskan pada si sulung, kalo hari ini akan ke museum. Wah, ekspresinya sumringah banget. Soalnya emang dah lama dia pengen ke museum.
Kunjungan kali ini Kami mulai dengan museum yang lokasinya dekat dulu, yaitu Museum Geologi.
Selain itu, beberapa minggu lalu saya sempat ke Museum Geologi ini untuk menghadiri acara soft launching Buku Cagar Budaya Indonesia yang kebetulan saya masuk dalam Tim Editor nya.
Setelah pulang dari acara tersebut, semakin penasaran lah si sulung untuk cepat-cepat ke Museum Geologi. Salah satu penariknya adalah saat itu saya dan si bungsu berfoto dengan background tulang dinosaurus T-Rex.

Ini Tulang T-Rex, roooaaaarrrrr.....
Pagi itu, Kami mulai dengan aktivitas pagi mempersiapkan keberangkatan Kami ke museum, termasuk siapin bekal cemilan kentang goreng dan minum. Setelah semua siap, Kamipun berangkat. Cussss......
Museumnya lagi rame pengunjung. Di belakang itu tulang Gajah dari Blora, ternyata guedeee banget lho!
Sesampainya di Museum Geologi, hari masih pagi, tapi suasana hiruk pikuk museum sudah terasa. Maklum weekend, banyak rombongan tour anak sekolah memanfaatkan libur weekend untuk field trip ke museum ini.

Setelah beli tiket, yang ternyata murah bangettt (gak nyangka semurah itu), Rp 3000 untuk dewasa, dan Rp 2000 untuk anak-anak dan pelajar. Trus, kami masuk deh.

Pertama kali yg terlihat di lobby utama, -selain petugas dan security tentunya-, adalah fosil tulang Gajah Purba dari Blora. Nah, langsung deh,,, klik,,,, foto dengan background tulang gajah, hehehe...

Kemudian kami memutuskan masuk ke ruangan sebelah kiri terlebih dahulu. Yaitu berisi segala hal tentang bumi dan bebatuan di dalamnya. Seru banget di ruangan ini. Di dalam dipajang aneka batuan dalam perut bumi. Proses terbentuknya bumi dalam bentuk poster maupun filmnya, keren lho...

Di sayap kanan dari lobby utama, tersimpan aneka tulang fauna jaman baheula. Si bungsu yang masih berusia 2 tahun, sempat nangis ketakutan saat didekatkan ke arah tulang T-rex. Mungkin seram saking gedenya. Biasanya dia lihat T-Rex di Youtube kan bentuknya gembul-gembul lucu plus sambil nyanyi dan nari itu T-Rex, nah pas di museum kok cuma tulang dan super gede pula. Nangis deh... hwkwkwkkkk....

Puas menjelajah lantai 1, Kami mulai merambah area lantai 2. Di atas terdiri 2 ruangan yaitu satu ruangan yang menjelaskan aneka logam dan batuan (lagi), dan ruangan lain yang isinya menjelaskan aneka rupa bencana geologi, misanya bagaimana tsunami, longsor, dan gempa terjadi...
Pokoknya komplit semua informasi tersaji di museum ini.

Puas berkeliling dan kaki mulai terasa pegal, serta perut mulai protes minta diisi, akhirnya kami sudahi jalan-jalan ke museum kali ini dengan berfoto di studio foto 3D di Geo Museum Store. Lumayan lho, cuma dengan membayar Rp 25.000,- kita sudah mendapatkan foto keluarga bersama Dinosaurus dkk yang unik dan lucu tentunya...

Nah, akhirnya selesai dan tertunai sudah aktivitas weekend ini menjelajah Museum Geologi.

Harapannya, anak-anak Indonesia pada umumnya, (anak-anak Kami khususnya), bisa menikmati dan memanfaatkan aneka museum dan tempat-tempat cagar budaya yang tersebar di seluruh Indonesia, untuk meningkatkan wawasan dan ilmu pengetahuannya, serta untuk menambah kecintaannya akan bumi pertiwi yang ternyata sangat kaya akan budaya ini.

Selamat Menjelajah Museum di Seluruh Indonesia!!!